
Hari sudah malam, Reva sudah merasakan sakit yang tidak ada duanya. Bima juga ikut meringis setiap Reva meringis merasakan sakit.
Dokter Laras masih sempat mengobrol bersama Reva, Bima juga tidak pernah melepaskan tangan Reva. Sebenarnya Reva jauh lebih tenang dari Bima, dia sudah sangat menanti hari ini, hari di mana buah cinta mereka lahir, melihat bayi Jum membuat Reva jauh lebih bersemangat.
Khawatirnya Bima berusaha dia tutupi demi bisa terus mendampingi Reva, senyum Bima sangat dipaksakan saat Dokter menjelaskan resiko.
"Ayy tenang saja, kita selama ini sudah berusaha menjaga dan sisanya biarkan Allah yang menentukan." Reva menatap mata Bima yang tersenyum dan mengecup keningnya.
"Va maafkan aku ya jika ada salah, andai aku bisa menggantikan rasa sakitnya aku rela sayang."
"Doakan Reva ya Ayy, biarkan ini menjadi perjuangan seorang ibu."
"Kenapa kamu begitu kuat, aku ingin menangis." Bima menarik Reva ke dalam pelukannya, Reva kembali merasakan sakit, air semakin banyak mengalir sampai Dokter Laras mengatakan sudah waktunya.
Dokter, suster, perawat semuanya sudah bersiap. Bima membaca bismillah, mendekati tubuh Reva yang sudah berbaring, membacakan doa membuat hati Reva sangat tenang, merendahkan rasa sakit.
"Ya Allah, hamba sangat bersyukur diberikan suami yang taat, bacaan ayat sangat menenangkan, jadikan anak-anak hamba menjadi orang yang taat mengikuti jejak ayahnya." Batin Reva mencium tangan Bima.
"Kamu bisa sayang, jika sakit genggam kuat tangan aku. Pindahkan rasa sakitnya kepadaku, biarkan aku ikut merasakan perjuangan kamu."
"Iya Ayy, terima kasih sudah mendampingi Reva."
Dokter Laras meneteskan air matanya, sekian ratus orang yang dia bantu persalinan, hanya segelintir orang yang mempunyai kehebatan seperti sosok Bima, jika orang marah, panik, tapi Bima bicara lembut dan menenangkan, menyerahkan diri kepada yang maha kuasa.
"Dokter dan tim saya ucapku terima kasih, dan tolong bantu Reva berjuang"
Dokter dan tim menggagukan kepala, Reva menggenggam Bima kuat saat sakit menyerang. Tarik nafas buang nafas Reva mengikuti instruksi Dokter. Mata Bima terpejam, tidak sanggup melihat teriak Reva, perlahan air mata Bima menetes mengelus rambut Reva dan mencium keningnya. Tangisan Bima semakin tidak tertahan saat suara tangisan bayi terdengar. Reva juga menangis, menarik nafas pelan coba menenangkan diri, mengatur tenaganya, ada satu lagi yang harus dikeluarkan.
"Astaghfirullah Al azim, Ayy sakitnya datang lagi."
Bima mengelus perut Reva, membisikkan doa yang biasanya dia ajarkan untuk anaknya sebelum tidur, Bima juga menarik nafas dan tidak bisa menghentikan air matanya.
"Ayo Reva, satu kali dorongan kamu bisa." Dokter memberikan instruksi.
Teriakan Reva mengejan untuk mendorong bayi keluar, dengan cengkraman kuat di tangan Bima sampai mengakibatkan luka dan berdarah. Di sambut dengan tangisan bayi yang kedua, Reva langsung menangis, Bima juga menangis memeluk Reva, mencium keningnya, menciumi wajahnya.
"Terima kasih sayang, kamu wanita hebat."
"Terima kasih juga menemani Reva."
__ADS_1
"Aku sangat mencintai kamu Va," Bima menangis di depan tim medis, Bima tidak tahu kapan terakhir menagis saat belum bertemu Reva, tapi sekarang air mata sangat mudah keluar saat melihat istri tercinta berjuang.
"Jangan menangis, Reva juga cinta sama Ayy."
"Ehem..., tidak ingin bertemu baby ya Papi."
Bima menghapus air matanya, Reva juga langsung dibersihkan. Bima mengambil putra pertamanya yang bernama Wildan Bramasta, Bima mengadzani Wildan mencium keningnya.
Tangisan si bungsu Winda Bramasta terdengar, Bima menggendongnya mengadzani putri kecilnya.
"Selamat datang, putri kecil Papi, jadilah wanita kuat seperti Mami, mandiri, baik hati, dermawan, dan penuh cinta." Bima mencium kening Winda penuh kelembutan.
Perawat mengambil Winda dan membersihkannya, Bima keluar dan melihat keluarga Reva sudah berkumpul. Bima memeluk bapak dan berusaha menahan air matanya karena rasa haru.
"Selamat jadi kakek pak, bayi putra dan putri keduanya sehat, ibunya juga sehat."
"Alhamdulillah ya Allah, engkau mengabulkan doa kami." Semuanya mengucapkan syukur, Windy juga tersenyum dan meneteskan air matanya.
"Windy sini sayang, peluk Papi." Windy langsung berlari dan masuk dalam pelukan Bima, tangisannya pecah Bima juga mengusap matanya.
***
Jam sudah menunjukkan hampir jam dua belas malam, sebenarnya Bima mempunyai rencana di hari satu tahun pernikahan mereka tapi gagal total, Bima yang diberikan kejutan dengan kehadiran kedua buah hatinya.
"Sayang." Bima memberikan bunga mawar merah membuat Reva tersenyum, tidak biasanya Bima romantis di depan banyak orang terutama keluarganya.
"Terima kasih bunga yang cantik."
"Sebenarnya malam ini aku ingin kita berkencan, di tempat kita dulu bersantai tapi Wildan dan Winda ingin segera keluar."
"Dalam rangka acara apa?" Reva mencium Bunga mawar sambil tersenyum.
"Hari ini ulang tahun Vira, kamu ingat kapan Vira lahir?"
"Astaghfirullah, Reva sampai lupa ini hari perayaan satu tahun pernikahan kita." Reva memeluk Bima dan mencium pipinya.
"Luar biasa indahnya hari ini, satu tahun kita, satu tahun Vira, kelahiran Bella dan Billa, juga kelahiran Wildan dan Windy."
"Iya Ayy, sore Bella Billa, malamnya Wildan Winda."
__ADS_1
"Terima kasih untuk hadiah indah hari ini, aku bahagia Va bisa menjadi suami kamu. Sungguh aku sangat mencintai kamu, temani aku sampai maut memisahkan."
"Kita ini mirip nyamuk, tidak terlihat tapi bunyinya terdengar." sindir Ratna adiknya Reva dengan tatapan sinis.
"Nasib jomblo," tawa Reva dan Bima terdengar.
Belum ada yang berkunjung, karena Viana harus pulang kasihan Vira sehingga hanya vc dengan Bima untuk melihat two W. Bisma juga masih menemani Jum dan menunggu mertuanya datang.
Hari semakin larut, Bima menyewa kamar yang hampir seperti rumah untuk keluarga agar nyaman. Wildan dan Winda juga sudah terlelap, Reva juga sudah tidur hanya sisa bina yang masih bergadang, menemani Reva juga kedua buah hatinya.
"Wildan, jadi kakak yang baik ya nak, jaga Kaka Windy dan Winda. Kalian harus harmonis, hidup rukun, taat beribadah, jangan lupa untuk bersyukur."
Reva terbangun dan melihat Bima bicara dengan putranya, Reva tahu Bima sangat mengharapkan seorang putra untuk menjaga para putri. Kini Bima memiliki teman yang akan membantunya menjaga keluarga.
"Papi, Wildan masih kecil tidak mengerti pesan yang Papi katakan, saat besar nanti tolong diulang ya?" Reva tertawa kecil, Bima juga tersenyum mendekati Reva
"Dasar ABG jahil." Bima menarik hidung Reva.
"Dasar Om-om lebay." Reva menjulurkan lidahnya.
"Biar jahil tapi Om cinta,"
"Biarpun lebay, Reva rasa cintanya lebih besar."
"Besar besar Ayy."
"Tapi lebih dulu Reva yang jatuh cinta."
"Tidak diukur siapa yang lebih dulu, tapi kamu harus percaya rasa cinta aku berkali-kali lipat jauh lebih besar dari kamu. Cinta ini tidak bisa diucapkan dengan kata-kata tapi cukup aku buktikan untuk setia dan menjaga kamu untuk selalu disisi Ayy."
Bima mencium kening, kedua mata, hidung pipi sampai bibir Reva tidak lepas dari ciuman.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1