MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 KEBAHAGIAAN KELUARGA


__ADS_3

Dokter keluar, meminta Winda dipindahkan ke ruangan operasi. Bima menggenggam tangan putrinya yang wajahnya pucat.


"Dokter, bagaimana keadaan putri saya?"


"Tenang saja pak Bima, bukan operasi berat. Kita hanya memastikan tidak ada pengumpulan darah karena benturan." Dokter meminta Winda langsung melakukan operasi.


Reva berlari ingin mengikuti Winda, Bima langsung menarik memeluknya erat. Tangan Reva bergetar tidak bisa melihat putrinya, Bima mengusap kepala Reva untuk tenang.


"Sayang, Winda hanya melakukan operasi ringan, dokter hanya ingin memastikan tidak ada pembekuan darah." Bima menakup wajah Reva.


"Winda takut jarum, bagaimana jika rambutnya sampai ada yang rontok sedikit saja dia bisa mengamuk. Operasi kamu bilang Bima, bisa kamu bayangkan jika dia tahu rambutnya dicukur untuk memudahkan operasi." Reva mendorong kuat suaminya.


Air mata terasa kering, Reva memukul kuat pintu operasi langsung membukanya mendengar suara teriakan putrinya yang berteriak histeris.


"Jangan sentuh putriku." Reva langsung berlari memeluk Winda yang menyembunyikan kepalanya.


"Mami rambut Winda mereka apakan?" Winda memeluk Reva erat, Reva melihat jahitan di kepala putrinya.


"Hanya luka kecil sayang, rambut kamu terkena permen karet, jadinya mereka memotongnya sedikit, jangan takut ada Mami di samping Winda, tidak akan membiarkan ada yang menyentuh rambut kamu." Reva menahan air matanya, mengusap punggung putrinya meminta untuk tenang.


"Sepertinya kita tidak harus melakukan operasi, sebaiknya Rontgen kepalanya untuk melihat lebih detail, kita bersyukur dia sudah sadar dan mengingat semuanya berarti sejauh ini tidak ada masalah serius hanya kebanyakan hilang darah." Dokter meminta Winda berbaring untuk pindah ke ruang rawat.


"Steven urus ruang rawat Winda, Papi akan membawa dia untuk Rontgen kepala dan kakinya." Bima menepuk pundak Stev yang langsung melangkah pergi.


Bima masuk mengusap punggung putrinya, langsung menggendongnya, Reva memegang infus Winda yang hanya diam saja melihat Bella, Billa dan Vira masih menangis.


"Winda baik-baik saja, jangan menangis. Winda belum mati, jadi harus tersenyum." Winda menatap tajam tiga sahabatnya yang mengejar mengikuti Winda.


***


Di kamar Windy cukup kaget, ada satu kamar rawat lagi membuat semuanya binggung. Kamar VIP milik keluarga Bramasta, membuat Windy menatap tajam.


"Kamar lain banyak Ay untuk pasien VIP, kenapa harus di sini? siapa yang terluka?" Windy menatap tajam.


Bisma muncul bersama Vira, Bella dan Billa yang menangis ke dalam pelukan Viana dan Jum.


Rama langsung mendekati putrinya, mata Vira bengkak karena terus menangis, mengusap kepala putrinya.


"Apa yang terjadi kepada Winda?" Windy meneteskan air matanya, menatap putranya yang sedang tidur, perasaan sangat sakit tidak melihat adik kecilnya.


"Di mana Winda Ayah?" Wildan melangkah mendekat, Bisma hanya menepuk pundak kembaran Winda yang terlihat langsung khawatir.

__ADS_1


"Sudah Windy sama Wildan tenang, Winda bersama Mami Papinya."


Erik langsung melangkah keluar untuk mencari tahu keadaan Winda, melihat Papi menggendong Winda yang keluar dari ruangan bagian Rontgen.


"Bagaimana keadaan Winda Mami?"


"Kepalanya baik-baik saja, hanya ada jahitan luar dan dalam, kakinya mengalami keretakan hanya butuh pemulihan." Bima tersenyum, Winda juga tersenyum minta digendong oleh Erik yang langsung menyambutnya.


"Gendong Winda, kasihan Papi Winda sudah besar. Keluarga kita juga sedang mengkhawatirkan kak Windy. Bagaimana keadaan baby W?" Winda mengalungkan tangannya yang diinfus ke leher Erik.


"Sangat baik, dia dari tadi menunggu Aunty kesayangannya. Kak Erik sudah janji akan menjadi orang pertama yang melihat dia. Nanti Winda tidak boleh terluka lagi, jika tidak ingin kak Erik menyuntik kamu." Senyuman Erik terlihat, sangat bersyukur Winda anak yang kuat.


"Takut, Winda tidak akan terluka lagi."Senyuman Winda terlihat, sudah bisa tertawa.


Bima membukakan pintu, semuanya berdiri melihat Winda ada dalam gendongan Erik yang meletakkannya di ranjang, langsung mengambil infus dari Reva.


Membenarkan infus agar tidak membuat Winda takut, senyuman Winda muncul langsung teriak melihat bayi kecil, memintanya tidur di sampingannya.


Steven langsung menggendong Wira, meletakan di samping Winda yang mengagumi ketampanan Wira, Bella Billa dan Vira juga langsung berkeliling melihat Wira.


"Wow, dia pasti nakal. Lihat matanya mengedip kepada Vira, dia pasti genit." Vira bertepuk tangan mengusap wajah Wira.


Reva juga memeluk Wildan, mengusap dada putranya yang memang sejak Windy dilarikan ke rumah sakit sudah merasakan tidak nyaman.


Winda sudah lupa dengan kepala dan kakinya, sibuk mengomel membicarakan Wira bersama Vira, Bella dan Billa. Wira juga tidak terganggu sama sekali dengan tawa keempat wanita yang mengelilinginya.


"Dia punya modal menjadi Playboy seperti kak Stev." Winda tertawa kuat.


"Dia mirip Ayah Win."


"Iya, siapapun yang menjadi Playboy pasti mirip Ayah." Bella tertawa, mengejek Ayahnya sendiri.


"Dasar anak nakal, sudah lupa jika baru saja mereka menangis." Tian tersenyum melihat kebahagiaan keluarga.


Billa meletakan jarinya di bibir Wira, langsung ingin memakannya membuat tawa terdengar.


"Kak Stev sebaiknya diinfus, terus istirahat sebentar lagi pingsan juga." Erik menatap Stev yang setuju Erik memanggil dokter.


Senyuman Erik terlihat, memasang infus membuat semua orang binggung, karena Erik terlihat sangat ahli memasukkan jarum.


"Belajar dari mana kamu Rik?" Stev tersenyum.

__ADS_1


"Hanya belajar dari kegiatan sekolah kak, bukan hal yang hebat."


Viana Rama, Jum Bisma pulang bersama anak-anak. Mereka akan datang kembali lagi, membiarkan Windy, Winda, Steven juga Wira beristirahat.


Bima, Reva dan Wildan yang tetap di ruang sakit, mengawasi Wira yang mungkin saja lapar.


Stev juga sudah tertidur, karena tubuhnya memang sangat lelah.


Winda tidak bisa tidur, meraba-raba kepala yang terasa aneh. Bima setia menunggu di sampingnya sambil tidur, tidak ingin meninggalkan putri bungsunya.


"Kak, tolong Winda." Winda memanggil Wildan yang langsung menggendongnya untuk duduk di kursi roda.


Wildan sangat mengerti Winda tidak bisa diam, senyuman Winda terlihat bisa jalan-jalan malam bersama kakaknya.


"Maafkan kak Wil tidak bisa menjaga kamu dengan baik, ini tidak akan terulang lagi." Wildan menepuk pundak Winda.


"Winda baik-baik saja kak." Winda tersenyum duduk di depan taman melihat bulan Bintang.


"Kamu tunggu di sini, kak Wildan akan mengambil minum." Wildan berlari.


Suara tangisan seorang pemuda terdengar, Wildan menatap punggung yang bergoyang sambil tertunduk sedih.


"Umi maafkan Ar."


"Temuin orangnya, katakan maaf jika salah." Wildan meletakan minuman, menatap seorang pemuda yang sangat Wildan kenal.


Kepala Wildan tertunduk, pandangannya menatap kakak seniornya mengejar sebuah mobil sambil memanggil umi.


"Umi jangan tinggalkan Ar, Umi."


Wildan langsung melangkah pergi, setiap orang memiliki luka dalam hidupnya. Meskipun setiap hari tersenyum, mungkin di dalam lubuk hati terdalam menyimpan kesedihan.


***


CERITA NOVEL WINDA DAN AR AKAN DI PINDAH KE SINI SETELAH WINDY TAMAT LANJUT SEASON 3.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT


FOLLOW IG VHIAAZAIRA

__ADS_1


__ADS_2