MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
WILDAN DAN WINDA


__ADS_3

Selesai mandi Reva langsung memakai baju yang sudah dia siapkan, Bima mendekat dan memeluk Reva dari belakang, leher Reva dihisap pelan membuat Reva meremas bajunya merasakan sensasi yang aneh.


"Maafkan Ayy sayang, jangan diam aku takut." Bima terus menenggelamkan wajahnya di leher, sampai Reva mengeluarkan suara yang saat malam mereka lakukan.


Mendengar suara Reva membuat Bima terpancing, Bima membalikkan tubuh Reva menghadapnya, tangan Reva dikalungkan di leher. Keduanya bersatu saling beradu bermain di mulut, baju Reva terangkat, dan Bima langsung melepaskannya.


"Satu kali saja ya." Bima membisikkan doa, langsung menggendong Reva ke atas ranjang.


Satu kali hanya ucapan saja, perut Reva menjadi penghalang Bima untuk berada di atas sampai Reva yang sekarang berada di atas. Suara Reva semakin terdengar, Bima lebih pelan karena memikirkan kondisi kandungan Reva, walaupun tidak ada larangan untuk mereka berhubungan.


Keduanya memejamkan mata karena kelelahan, suara panggilan di luar tidak terdengar dan mendapatkan sahutan. Viana dan Jum mengetuk pintu, tapi tidak terkunci bahkan tidak tertutup rapat.


"Ayo masuk Jum, Reva lama sekali dandannya." Viana langsung membuka pintu, Jum juga melangkah masuk. Melihat baju berhamburan, bahkan pakaian dalam juga tercecer berantakan.


Jum menutup mulutnya, melihat Reva dan Bima tidur di ranjang. Dada Bima terlihat hanya bagian bawah yang tertutup selimut, sedangkan Reva dadanya hampir terlihat.


Viana menahan tawanya, mengambil ponselnya dan siap memotret tapi dihalangi Jum.


"Kak Vi, ayo keluar."


"Bentar dulu Jum, kita sudah menikah tahu rasa enaknya berhubungan." Viana melihat Reva yang sudah membuka matanya, menatap Jum dan Vi.


"Jahil banget!" Reva bukannya bangun tapi langsung memeluk dada Bima erat, membiarkan punggungnya terbuka.


Viana menatap kesal, langsung keluar bersama Jum yang wajahnya sudah berwarna merah.


"Masih lama tidak Bunda, Tian sudah tidak sabar."


"Lama sayang,"


"Uncle Bima masih menyapa dede dulu, sebaiknya kita memesan pizza atau kita bisa pesta dulu baru mereka berdua turun." Vi duduk di samping Rama yang menggendong Vira.


***


Reva turun dan melangkah mendekati rombongannya yang sedang pesta makan, Tian dan Ravi sedang heboh main sepatu roda.


"Lama nya, mata Jum mengantuk."


"Enak melihat adegan 18+?" Reva menyindir Viana dan Jum.


"biasa saja, punya Hubby juga ahh mantap, berotot dan kekar." Viana mengelus dada Rama, kening Rama langsung berkerut.


"Punya Jum juga, sebelum ini besar, Jum biasanya tidur di atasnya."

__ADS_1


Bisma dan Rama hanya saling pandang, melihat tiga wanita sedang membandingkan.


Suara langkah kaki Bima berlari, cepat di meminta tolong untuk mengeluarkan mobilnya.


"Maaf ya lama menunggu."


"Makanya menyapa itu malam saja."


"Kebablasan!" Bima dengan santainya menjawab, langsung menggakat panggilan ponselnya.


Semua orang menatap Bima, sudah banyak sekali perubahan Bima melalui ucapan. Bisma tertawa diikuti oleh Rama.


Mobil melaju menuju rumah sakit, Bima merasa heran untuk melihat bayi saja harus banyak yang datang, keluarga Viana lebih lagi tidak ada sangkut pautnya tapi ingin ikut.


"Kita seperti sedang melaksanakan acara keluarga ya sayang?" Bima menatap Reva sambil melihat dua mobil di depan.


"Iya Ayy untung saja Dokternya baik."


Saat tiba di rumah sakit, Rama hanya duduk di ruang tunggu sambil memangku Vira, Viana yang paling bersemangat untuk melihat.


Tri istri masuk bersama ketiga bocah, Dokter menyapa sambil tersenyum melihat banyaknya rombongan.


"Selamat siang Dokter Laras?"


Untuk yang pertama Jum yang diperiksa, Viana memanggil Bisma. Dari balik layar terlihat ada dua janin, benar dugaan Jum dan Bisma bayi mereka kembar.


"Sudah tahu jika di dalam ada dua bayi kembar, keadaan mereka juga sangat sehat, berat badannya juga seimbang dengan berat Bundanya, kedua bayi juga sempurna." Dokter Laras melihat Bisma yang tidak berhenti tersenyum, melihat layar seakan ingin menyentuhnya.


"Jenis kelaminnya Dok?"


Dokter menunjuk jika jenis kelamin bayi Jum dan Bisma keduanya perempuan, Tian juga berdiri di depan Bisma ingin melihat adiknya dan jenis kelaminnya.


"Jadi adik Tian kembar, keduanya perempuan. Namanya Bella dan Billa Bramasta."


Jum meneteskan air matanya, Bisma mencium kening Jum menggendong Tian yang sangat bahagia, dia sangat menginginkan adik perempuan dan di Kasih dua perempuan sekaligus.


Bisma dan Jum dijelaskan banyak hal, Jum sangat mendengarkan Bisma apalagi, dia sangat semangat menyambut dua wanita mengemaskan di dalam perut istrinya, akhirnya hidup Bisma lengkap.


Setelah Jum giliran Reva, Bima yang masuk sambil berdoa. Karena Bima takut soal kejadian kemarin anaknya sedih dan stres.


"Santai saja Bima," Dokter menegur Bima yang memiliki wajah cemas.


"Dok kemarin istri saya menangis, bayinya stres tidak, sedih tidak, dia marah tidak, terluka tidak."

__ADS_1


Dokter menahan tawanya, meletakkan gel di perut Reva. Sebuah alat diarahkan di perut dan muncul sebuah gambar di layar, Bima bisa melihat tapi tidak mengerti, dia mencoba mencari wajah takutnya anaknya sedang menangis.


"Kamu mencari apa?" Dokter melihat Bima.


"Air matanya, Bima ingin melihat dia menangis tidak, Dok mengapa kepalanya ada dua?"


Dokter kembali tertawa, Viana sudah memukul punggung Bima karena kesal.


"Sama dengan punya Jum, berarti kembar juga ya Dok."


"Benar, bayi Reva dan Bima kembar, bayi sangat sehat, tidak ada kelainan, bahkan pembentukan sangat sempurna, dan ada satu hal lagi yang istimewa."


"Adiknya Windy kembar, cowok dan cewek." Windy melihat dekat layar, Bima menatap layar dan melihat Dokter.


"Kakak Windy benar, bayinya kembar cowok dan cewek."


"Alhamdulillah ya Allah, arrrrrgggghhhhh...." Bima teriak membuat yang di luar ikut masuk, Bima menciumi wajah Reva dan perutnya dan menciumi Windy.


"Ada apa?" Bisma dan Rama langsung masuk.


"Bisma, anakku cowok dan cewek." Bima memeluk Bisma.


"Rama, Vira...." Bima memeluk Rama dan mencium pipi Vira.


"Tian Ravi kalian akan segera memiliki teman cowok lagi," saat melihat Jum, Bima juga tersenyum dan menyapa si kembar Bella dan Billa jika keduanya akan memiliki teman.


"Dokter, terima kasih." Bima menjabat tangan Dokter Laras yang tersenyum bahagia, melihat kebahagiaan Bima.


Dokter memberikan hasil gambar bayi Bima dan Bisma, keduanya senyum melihat gambar masing-masing.


"Wildan dan Winda, Papi menanti kalian. Baik-baik di dalam ya nak. Kita bertemu bulan depan, bulan depan lagi, sampai bulan keempat kalian hadir dalam hidup kami." Bima mengelus gambar dan menciumnya.


"Papi adik Windy cantik ya?" Windy memeluk Bima dari belakang yang sedang duduk di ruang tunggu.


"Iya sayang, seperti kamu sangat cantik." Bima mencium wajah Windy yang mengelus gambar kedua adiknya.


"Sehat terus ya adik kecil, kakak Windy menanti kehadiran Wildan dan Winda."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2