
Semua orang sedang sibuk di dapur, Boy berjalan sambil menarik kakinya melihat foto kakaknya.
Air mata Stev menetes di bingkai foto, memeluknya lalu tersenyum meletakan kembali.
"Kak Stev pulang, tidak ada yang berubah dari rumah ini, hanya saja usia bertambah, anak-anak sudah tumbuh besar." Stev tersenyum.
"Stevie juga pasti bahagia melihat kamu kembali, jangan menangis lagi. Ganti waktu yang kamu buang menjadi hari-hari penuh kebahagiaan, bangkit kembali mulailah merintis kehidupan." Viana tersenyum berdiri di samping Steven.
"Ada apa di dapur kak Vi?"
"Biasalah, anak-anak lagi makan Vero menabrak meja makan, ayam mereka hilang semua, kamu tahu sendiri cerewetnya Vira, Winda dan Bella.
Di sana juga ada Ravi, Erik lebih lagi ributnya. Kasihan juga melihat Mou, wajah hitamnya menjadi putih karena nasi." Viana tertawa.
Steven juga tertawa, moments yang selalu membuat rusuh juga penuh kebahagiaan.
Stev melihat bibir Winda monyong, menempel didinding, Bima langsung menggendongnya. Suara tangisan Winda langsung terdengar.
Viana dan Stev tertawa, bocah manja yang sudah berusia sepuluh tahun, tapi masih seperti anak usia lima tahun.
"Kenapa Winda Va?"
"Dia mau berenang kak Vi, tidak melihat panasnya matahari." Reva menggelengkan kepalanya.
Windy membawakan Steven makan, menyiapkan air minum. Suara tangisan Vira juga terdengar, Ravi menggendong adiknya yang menangis.
"Kak Stev boleh mandi kolam ya, seperti dulu. Boleh ya?" Billa memohon, tidak tega melihat Winda dan Vira menangis.
"Nanti sore ya sayang, sekarang sudah panas." Steve menangkap wajah Billa.
Billa langsung berlari mengusap punggung Winda dan Vira bergiliran, mengatakan jika sore mereka baru boleh berenang.
Suara kursi dibanting terdengar, teriakan Jum marah kuat. Bisma mengikuti putrinya Bella yang melipat tangannya duduk dipojokkan marah.
"Sebentar lagi menangis." Steven tertawa bersama Windy melihat perlahan air mata Bella tumpah.
"Ayo makan Ay, Windy yang menyuapi."
"Kamu sudah makan belum, makan dulu."
"Makan sepiring berdua boleh?"
Steven tersenyum sambil mengangguk kepalanya, Windy menyuapi Stev juga dirinya. Semuanya sibuk dengan anak masing-masing mengabaikan Stev dan Windy.
__ADS_1
Suara Saka terdengar, datang bersama seorang dokter. Mengecek kaki Steven yang bagian luar kering, tapi bagian dalam masih basah dan membusuk.
"Kalian terlambat mengobatinya, kita lakukan operasi pengorekan saja, kita melakukan pengobatan dalam."
Bima datang mendekat, mendengar penjelasan dokter soal operasi kaki. Sementara dokter memberikan obat, dalam dua hari baru operasi.
Senyuman Windy dan Stev terlihat, Windy tidak mempedulikan keadaan Stev, ingin kakinya seperti apapun Windy akan setia mendampingi, cukup selalu bersama.
Stev menerima saran dokter, dia ingin kembali normal. Steven juga meminta Saka mencari dokter terbaik untuk Windy.
Ghina datang bersama Bib dan Bagus, mengatakan Windy tidak membutuhkan dokter yang hebat, cukup bersama Stev dia pasti baik-baik saja.
"Bib, kenapa bisa ada di sini?" Steven menatap Bagus.
"Makanya Stev jangan menghilang lama-lama, Bagus sebentar lagi menjadi Ayah, kita menjadi Paman." Saka tertawa mengejek Steven.
"Selamat Gus, selamat juga Bib."
"Terima kasih Stev, kamu juga cepat sembuh." Bib tersenyum menatap Stev.
"Kamu kapan Saka?"
Saka tertawa, melotot melihat Ghina. Menaklukan hati Ghina sama saja naik gunung terus terjun, jika belum mati dia belum luluh.
Windy dan Steven tersenyum, Saka dan Ghina sengaja belum menikah karena menunggu Steven kembali, mereka tidak tega meninggalkan Windy bertahan sendiri. Saka tidak pernah menyetujui jika Windy dan Vero memiliki hubungan.
"Mami jahat." Windy langsung monyong, Reva mencium bibir Windy gemes.
Steven tersenyum melihat seluruh orang menyambut bahagia kepulangannya, tatapan mata anak kecil membuat Bib gemes.
"Daddy, Papa Mei di mana?"
"Siapa Papa?"
"Vero, dia putrinya Vero." Saka mengusap wajah Mei.
"Cantik sekali, wajahnya mirip Vero." Bib dan Ghina gemes melihat kecantikan Mei.
Can langsung melangkah menemui seluruh orang mengatakan jika dia harus pulang sekarang, Mou langsung menggendong Mei.
Steven meminta Can duduk, berharap Can berniat tinggal di kota, demi sekolah Mou dan Mei.
"Terima kasih Stev tawaran, aku nyaman juga tenang di sana, masalah pendidikan Mei dan Mou aku sendiri guru mereka."
__ADS_1
"Can, terima kasih banyak atas bantuan kamu, dibalik musibah Allah memberikan keajaiban kita bisa bertemu. Walaupun aku tidak ingat jelas kecelakaan, bisa ditarik buaya ke tepian, membawa ke aliran sungai kecil sungguh mukjizat Allah yang tidak bisa dipikirkan dengan logika. Aku berharap sekali kamu memikirkan hal yang sama seperti aku, pertemuan kita mungkin jawaban dari sebuah doa." Stev menatap Can yang menundukkan kepalanya.
"Aku harus kembali Stev."
"Baiklah aku tidak bisa memaksa, kamu harus ingat di sini, rumah ini keluarga kamu, anggap aku kakak kamu, Mei dan Mou juga bagian tanggung jawab aku." Stev menepuk pundak Can.
Air mata Can menetes, menatap Steven dan seluruh keluarga. Tidak ada orang yang menghargai dirinya, bahkan menganggapnya aib.
"Satu hal lagi Can, kamu harus berhati-hati. Pria yang mengetahui keberadaan kalian menatap kamu dengan tatapan berbeda. Mou juga harus berhati-hati, jaga Mei dan Mama Can." Steven memeluk Mou.
Mou menganggukkan kepalanya, Mei memeluk Steven. Can berpamitan dengan semua orang mengucapakan terima kasih.
"Papa Mei tidak ikut pulang?" Mei menatap mamanya yang menggeleng.
Steven melihat sekeliling tidak melihat Vero, Windy juga menghubungi Vero mengatakan jika Can ingin pulang.
"Mei." Vero merentangkan tangannya, Mei langsung berlari memeluk Vero.
Vero membelikan Mei boneka, membelikan baju ganti untuk Mei, Mou dan Can.
Mei sangat bahagia, menciumi Vero berkali-kali. Vero juga memberikan baju untuk Mou agar bisa ganti baju.
"Paman sudah waktunya kita pulang." Mou mengembalikan pemberian Vero.
Mata Vero menatap Can, menghela nafasnya. Vero meminta Mou membawa Mei keluar, dia ingin berbicara dengan Mama Can.
"Can, bisa kita bicara berdua?"
"Bicara saja di sini Vero." Stev menatap tajam.
Windy menutup mulutnya menahan tawa, Reva mencubit pelan Windy. Mereka sangat lucu melihat Vero yang takut dengan Steven, padahal besarnya kasih sayang Steven tidak bisa diukur.
"Aku ingin minta maaf Can,"
"Aku sudah memaafkan kamu Vero."
Keheningan terjadi, Saka langsung menutup mulutnya, Ghina menatap Saka tajam. Windy sudah memeluk Reva menahan tawa.
Bisma menghela nafas melihat Vero, merusak nama baik lelaki playboy. Berbicara dengan wanita, tapi binggung ingin mengatakan apa.
"Vero kamu hanya ingin minta maaf? panggil supir untuk mengantar Can." Steven bernada dingin.
"Kak jangan marah, memangnya enak diposisi Vero."
__ADS_1
Bima baru saja ingin berdiri, Bisma lebih dulu berdiri mendekati Can, tidak sanggup menunggu Vero.
***