MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
KELUARGA W


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Bima sudah siap-siap, bahkan matahari belum terbit Bima sudah mengeluarkan mobil. Reva hanya geleng-geleng melihat semangat Bima, Windy tidak kalah heboh ikut bersiap-siap.


"Windy mau ke mana kamu?" Reva menatap Windy menggunakan baju biasa, menyiapkan tas ransel juga beberapa cemilan.


"Ikut ke rumah sakit Mam,"


"Kenapa mirip orang mau piknik?"


"OHH, topi untuk adik nanti biar tidak panas, Snack biar tidak lapar."


Reva tertawa padahal adiknya masih lama lahir, menggunakan topi yang ada juga kepala bayi hilang, Snack mana mungkin bisa memakannya.


"Hari ini Windy sekolah, cepat ganti bajunya."


"Yaaa Mami, Windy mau ikut. Libur ya hari ini saja." Bibir Windy manyun, tangannya memohon.


"Sekolah ya sayang, kamu bisa bertemu adik setiap hari."


"Hmmm, oke Mami. Tapi adiknya Windy namanya W ya Mam."


"W, kenapa harus W?"


"Kalau R sudah milik keluarga Ravi, sedangkan B sudah milik keluarga Bastian, jadi keluarga kita W."


Reva menggagukan kepalanya, Windy langsung berlari untuk siap-siap pergi sekolah. Sebuah tangan memeluk perut Reva menciumi pipinya.


"Keluarga W, berarti nama depan mereka harus W."


"Biarkan saja Ayy, semua yang Windy katakan benar. Adik-adiknya harus memiliki nama depan mengikuti Windy."


"Adik-adiknya, bahkan ada lagi setelah ini ya?" Bima tersenyum memeluk hangat Reva.


"Siapa tahu kembar, seperti Ayy sama Bisma."


"Amin, semoga saja yang sayang, yang terpenting kamu juga kandungan kamu sehat terus."


"Ayy, nanti saat Reva hamil pasti gemuk, terus setelah melahirkan tidak seksi lagi. Reva takut Ayy berpaling."


"Berpaling," pelukan Bima semakin erat, bahkan sudah mencium leher Reva.


"Ayy jawab,"


"Kalau aku bilang tidak mungkin, kamu percaya tidak." Bima membalikkan tubuh Reva, menatap matanya.


"Sayang, Pernikahan itu butuh kepercayaan, kamu harus yakin aku pasti setia, Ayy tidak memiliki alasan untuk berpaling dari kamu, Ayy tidak meminta atau membutuhkan wanita yang lebih dari kamu."


"Reva percaya, tapi tetap saja Reva takut."

__ADS_1


"Va, kamu istimewa untuk aku, tidak ada lelaki yang seberuntung diriku, bahkan aku tidak rela jika mata ini memandang wanita lain, bahkan kalau ketemu Jum di jalan juga aku tidak tahu jika dia istrinya Bisma."


"Ayy bercandanya tidak lucu." Reva tertawa, mencium bibir Bima.


"Hanya ibarat saja sayang, aku tahu tapi tidak memperhatikan."


"Sama Reva tahu tidak,"


"Dalam beberapa bulan ini, aku sudah memperhatikan seorang wanita yang bernama Reva Pratiwi dari ujung kaki sampai ujung rambutnya."


"Hmm, pasti yang paling melekat diotak, hal mesumnya."


Bima tertawa, memeluk Reva mencium keningnya sambil mengelus perut Reva yang masih rata.


"Sayang, jadi pengen menyapa W." Bima cengengesan menggoda Reva.


"Pasti tidak jadi pergi ke Dokter, nanti malam saja." Reva melangkah ke dapur meninggalkan Bima yang langsung duduk di sofa.


Reva melihat bibik sedang meneteskan air matanya, melihat Reva yang datang ke dapur dan langsung memeluk Reva. Tangisannya pecah, Reva hanya menepuk pelan punggung Reva.


"Bibi kenapa?"


"Bibi senang melihat Bima bahagia nyonya, sejak dia kecil Bima jarang tertawa, tapi sekarang dari dapur sudah terdengar tawanya."


"Ternyata bibi mengenal Bima dari kecil."


Sambil tersenyum bibi mengajak Reva duduk, dia menceritakan saat pertama melihat Bima di rumah orangtua Bima, saat itu Bima dan Bisma berusia 5tahun, yang satunya suka bikin masalah dan satunya sangat pendiam. Setiap hari hanya membaca buku, memperhatikan ayahnya bekerja.


"Iya nyonya sangat mirip ayahnya, bibi dulu bekerja sebagai babysister Bima, tapi tidak pernah repot, terasa makan gaji buta, beda dengan adiknya yang setiap minggu ganti babysister."


"Kalau ibunya bik?" Reva pernah diceritakan Bima tentang keluarganya tapi tidak jelas, karena Reva juga tidak ingin banyak tanya, nanti suaminya semakin sedih.


"Ibunya seorang peneliti, dia sangat cerdas juga bisa mengoperasikan komputer. Bisma lebih mirip ibunya tapi sikap nakalnya tidak tahu mirip siapa?"


Reva tersenyum, tidak heran suaminya sangat cerdas, bisa jadi pembisnis sejak usia muda. Ayahnya juga seorang pembisnis, ibunya sangat cerdas. Bima bibit yang unggul, tapi Reva langsung mengigat sosok Bisma yang menjadi seorang penjahat sampai akhirnya bertemu Viana, mungkin karena kecerdasan Bisma dia tidak mudah ditemukan.


"Nyonya, selamat atas kehamilannya." Bibi mengelus perut Reva lembut.


"Terima kasih Bi, panggil Reva saja."


Suara teriakan Windy memanggil Reva, bibi juga tersenyum melihat Windy yang sekarang selalu tersenyum. Saat ketemu dengan Reva Windy langsung memeluknya manja.


"Mami, nanti jemput Windy ya."


"Kamu punya supir sayang, memangnya ada masalah."


"Tidak Mam, Windy hanya saja tidak nyaman." Windy membisikkan sesuatu ke Reva, senyum Reva terlihat langsung meminta Windy sarapan, Bima juga sudah datang untuk sarapan.

__ADS_1


"Ayy, Windy pergi sekolah barengan kita saja, Mami sudah lama tidak mengantarnya."


"Oke, pulangnya baru di jemput supir."


Selesai sarapan, Bima dan Windy sudah menunggu di dalam mobil, Reva masih repot memperbaikinya dandanannya.


"Lela, bibi Reva pergi dulu ya, jika ada sesuatu langsung hubungi Reva."


Reva langsung melangkah masuk mobil, Bima langsung keluar lagi meminta Reva keluar. High heels Reva dilepas dan dilempar, Bima mengambil sendal biasa yang rata.


'Mulai sekarang tidak boleh menggunakan high heels lagi, bahaya kalau sampai jatuh."


Reva hanya mengaguk kepalanya, larangan Bima demi kebaikan jadi Reva ikut saja. Mobil Bima melaju menuju sekolah Windy.


Selesai mengantarkan putrinya, Reva masuk kembali dan Bima langsung menjalankan mobil ke rumah sakit.


"Ayy, supir lama kita ke mana?"


"Mengundurkan diri satu minggu yang lalu, tapi sekarang ada supir baru."


"Pecat dia Ayy,"


"Harus punya alasan sayang, kesalahannya apa?"


"Dia memberikan contoh yang buruk untuk Windy, aku sudah mengecek rekaman CCTV di dalam mobil setelah makan tadi."


"Apa yang dia lakukan pada Windy, mana videonya."


"Dia tidak menyakiti Windy, tapi memberikan contoh yang buruk Ayy."


Reva melihat rekaman CCTV, mobil yang selalu digunakan untuk antar jemput Windy digunakan untuk berpacaran. Pergi pagi mengantar Windy, bukannya menunggu Windy tapi menjemput pacarnya untuk pacaran, pulangnya menjemput Windy sambil membawa pacarannya."


"Jadi mobil digunakan untuk pacaran, biarkan saja sayang."


"Bukan masalah pacarannya!"


"Mereka berciuman di depan Windy, bahkan ciuman bibir sangat lama, sampai Windy menutup matanya." Bima langsung mengerem kuat mobilnya, langsung menatap Reva yang terlihat kesal.


"Kurang ajar, beraninya mereka mengotori pikiran putriku."


"Windy gadis yang cerdas, dia langsung mengatakannya dan memeringati keduanya untuk menikah baru boleh bersentuhan, seperti Papi dan Maminya."


"Windy memangnya mengerti soal pernikahan?"


"Aku ibunya, sudah waktunya kita mengajari Windy dunia luar, aku tidak ingin terlambat memperingati Windy. Papi Mami nya memang orang terpandang dan bisa melindungi Windy, tapi perlindungan terbaik dia harus melindungi dirinya sendiri."


"kenapa kamu berpikir seperti itu sayang?"

__ADS_1


"Ayy, Windy terlahir, tumbuh dengan segalanya yang sudah tersedia. Dia tidak akan mengerti jika tidak diingatkan dari kecil, karena baginya dia selalu aman. Berbeda dengan Reva yang dulu hidupnya sulit, dari kecil harus mengerti yang namanya bertahan, harus bisa melindungi diri demi adik-adikku." Reva meneteskan air matanya, jika mengingat masalalu selalu membuat Reva sedih, tapi dia tidak pernah menyesal pernah hidup sulit karena menjadi pelajaran terbaik dlama hidupnya.


***


__ADS_2