MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Steven kembali ke apartemennya bersama Saka dan Bagus, masuk ke dalam ruangan rahasia. Saka melihat akuarium yang sudah kosong, hanya tersisa air, tapi ikannya sudah mati semua.


Di dalam ruangan Steven mengeluarkan banyak berkas penting, Saka langsung serius melihat banyaknya tumpukan berkas, Bagus melihat beberapa kesamaan hasil penyidikan atasannya.


"Mikel, dia seorang pembisnis yang cukup handal, sampai detik ini, dia sudah menetap di Korea beberapa tahun yang lalu, Stevie kalah dipersidangan melawan Mikel pengacaranya juga seorang yang hebat, juga terkenal." Saka menghembuskan nafasnya, coba berpikir sejenak.


"Pengacara Angela, dia sekarang menjadi istri Mikel setelah mantan istri Mikel meninggal." Bagus menunjukkan sebuah laporan.


Steven langsung menatap Saka dan Bagus bersamaan, pikiran mereka bertiga sama, Renata Putri Angela bersama pria lain. Dia mendapatkan kekuasaan dari Mikel sehingga berkuasa di sekarang, Renata berada dalam lindungan Mikel dan Angela.


"Satu hal yang aneh, identitas Renata tidak ada sangkut pautnya dengan Mikel dan Angela." Steven menunjukkan sebuah laporan.


Jari Steven mengetuk meja, mungkin tidak Bima bermasalah dengan Bima, seseorang meninggal sehingga Bima menuntut, saat itu Stevie yang membantu.


"Berapa umur Bima saat memiliki anak?"


Steven masih diam, Bima menikah muda. Kematian kakaknya bersamaan dengan Windy yang baru berusia beberapa bulan, saat itu Steven sudah remaja, dia melihat kakaknya Stevie membawa seorang bayi kecil, sedangkan kakak iparnya membawa putra mereka.


"Mungkin tidak saat kecelakaan kami, ada satu korban lagi, selain aku, kak Stevie sekeluarga." Steven memegang kepalanya yang terasa sakit.


Bayangan saat kecelakaan muncul, dirinya terlempar keluar. Tidak jauh dari Steven ada balutan kain yang ikut terlempar, mobil seketika meledak bersama kakaknya.


"Stev kamu kenapa?" Saka menyentuh Steven memintanya untuk sadar, berhenti mengigat kejadian saat kecelakaan.


"Win, win, win." Steven mencengkram kuat kepalanya.


"Gus, cari tahu sebenarnya berapa korban yang meninggal?" Steven sudah mandi keringat, ingatan yang Stev lupakan soal bayi.


"Butuh waktu Stev, kasus kecelakaan sudah lama ditutup, penyelidikan terakhir kamu berhenti kepada Vero, berarti sebenarnya semuanya sudah ditutupi dari awal." Bagus langsung diam.


"Satu-satunya orang yang menutupi Bima, dia cukup memiliki nama sejak muda, mungkin Bima hanya dekat dengan Rama keluarga Prasetya, tapi dia juga selalu keluar masuk luar dalam negeri dengan alasan bisnis. Bisa jadi dia juga yang menutup kecelakaan, bukan tidak mungkin dia yang menghilangkan seluruh bukti." Saka menatap Steven.


Bagus langsung menendang kursi Saka, menggeleng kepalanya menatap Saka yang bicara tidak pernah menggunakan rem.


"Stev, jangan berpikir buruk dulu. Kamu harus buktikan, jika tidak ingin terluka lupakan soal kasus kak Stevie." Bagus menepuk pundak Steven.

__ADS_1


"Ucapan Saka benar, tapi aku percaya apapun yang kak Bim lakukan demi kebaikan banyak orang. Dia bukan orang jahat, tidak mungkin melakukan kejahatan." Steven menundukan kepalanya.


Saka menghembuskan nafasnya, melihat Steven yang kehabisan jalan, Bima bukan lawan yang imbang, mungkin rasa penasaran Steven tidak sebesar rasa kagumnya terhadap Bima.


Kesepakatan bersama, Stev akan ikut pergi Minggu depan, dia ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu.


Saka memutuskan untuk kembali, menyelidiki kasus Mikel Steven mencari soal Angela, Bagus yang akan menyelidiki rumah sakit yang menangani.


Steven masih berdiam diri, Saka dan Bagus sudah bergerak, tapi Stev masih diam terdiam tidak tahu harus memulai dari mana.


"Win, tidak mungkin bayi yang terlempar bersama aku Windy, ya Allah kenapa baru sekarang aku mengingat bayi kecil." Steven mengacak rambutnya.


Terlalu lama berdiam di apartemen, membuat Steven lupa waktu. Sampai malam belum juga kembali, Vero menghubungi Steven tapi tidak mendapatkan jawaban.


Di kediaman Windy masih diam menunggu Steven pulang, bahkan makanannya juga tidak tersentuh. Vero bertanya kepada Saka yang mengatakan Steven ada di apartemen.


"Kak Stev, ada di apartemen Win?"


"Biarkan saja, dia sedang tidur bersama pacarnya." Windy melangkah keluar rumah dengan kekecewaan.


Mobil Windy keluar gerbang, menyusuri gelap malam dengan hati yang sedang gelisah. Vero menghubungi Windy tapi terus ditolak.


"Terserah kalian berdua, sebaiknya makan lanjut tidur." Vero mengunyah makanan, tapi langsung berhenti, takutnya Windy terluka, Stev pasti marah besar.


Sedangkan Windy sudah berhenti di pinggir jalan yang cukup ramai, suara langkah kaki berlari terdengar langsung menabrak Windy, teriakan histeris, meminta dilepaskan.


Tangan Windy ditarik kuat untuk berlari, Windy berlari kencang mengimbangi langka wanita di sampingnya, mencari tempat persembunyian untuk menghindari kejaran aparat keamanan.


Setelah aman barulah Windy bisa bernafas lega, wajah Windy kaget melihat wajah dihadapannya.


"kamu wanita asli?"


"Iya, lihat dada Windy baru tumbuh." Windy langsung berdiri, keluar dari persembunyian.


"Kamu masih kecil, jangan berkerja malam, cari bos yang memiliki banyak uang, tidak masalah menjadi simpanan, kerja di sini berat sering banyak razia."

__ADS_1


"Windy wanita normal, juga tidak berkerja malam, Windy turun dari mobil untuk bertanya alamat, Windy nyasar." Windy berjalan, diikuti sampai tiba di mobilnya.


"Nama kakak siapa, Windy antar pulang."


"Nama saya Jeni."


"Malam Jeni siangnya Jono." Windy tersenyum mempersilakan untuk masuk mobil.


"Siang Jeni malam juga Jeni."


Windy tersenyum merasa lucu bisa berkenalan dengan seorang wanita unik, Jeni bisa cepat satu frekuensi dengan Windy, banyak hal yang bisa mereka bahas, dari fashion, make up, bahkan tipe lelaki.


"Win, siang tadi Kak Jen bertemu makhluk tuhan paling seksi, seorang pemuda tampan, cuek, gagah sekali. Jeni langsung jatuh cinta." Jeni tersenyum membayangkan wajah Steven yang dia temukan di lift.


"Windy sedang gelisah, binggung, Kak Jen pantas tidak Windy berjuang untuk cinta, tapi dia tidak berniat memperjuangkan Windy." Wajah Windy berubah sedih.


"Bukan dia tidak ingin berjuang Win, hanya saja kamu masih terlalu kecil untuk jatuh cinta." Jeni menatap Windy tajam, Windy memang cantik, tapi masih terlalu muda.


"Windy sudah sembilan belas tahun kak Jen, sudah kuliah, sudah besar."


"OHH, Kak Jen pikir kamu masih kecil. Mungkin pertumbuhan kamu yang lambat seperti anak baru ABG."


Windy menatap sinis, mengantar Jen pulang. Masuk ke daerah apartemen yang cukup jauh dari keramaian.


Windy melihat di lantai apartemen ada lampu kerlap kerlib, seperti sedang ada pesta. Jeni meminta Windy bergabung tapi langsung menolak secara halus, dia harus segera pulang.


Jeni mengucapkan terima kasih, berharap bertemu Windy kembali. Mereka juga bertukar nomor handphone.


Tatapan mata Windy tajam melihat Saka, Jeni terlihat sedang menggoda Saka, sebuah map jatuh, Saka langsung pergi bersama Jeni untuk masuk ke dalam.


Windy keluar ingin mengambil map ....


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2