MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 PENYUSUP


__ADS_3

Windy diam di dalam kamarnya, Wilo hanya duduk saja binggung harus melakukan apa. Ghina menepuk pundak Windy.


"Perjuangan kalian masih panjang, apapun yang Papi kamu lakukan demi kebaikan kalian."


"Tidak ada hal baik jika harus berpisah." Lukas menatap Windy, menunjukkan kepalanya minta izin masuk.


Windy mempersilakan, Lukas duduk di samping Windy, cinta akan indah jika direstui orang tua. Lukas meminta Windy memikirkan hubungan dengan Steven, Lukas juga mengatakan jika Steven sedang pesta mabuk bersama teman-temannya.


Kepala Windy tertunduk berdiri berjalan menuju ranjang, membaringkan tubuhnya yang lelah. Wilo menatap Lukas tajam, langsung menariknya keluar kamar Windy.


"Gila kamu ya, Windy sangat mencintai Om Stev, sebagai sahabat kita bukan menjatuhkan, tapi mendukung Windy." Wilo menatap tajam.


"Mendukung soal apa Wil? Om Stev hanya akan menyakiti perasaan Windy, dia tidak paham perasaan wanita muda. Lihatlah dia asik minum dan mabuk." Lukas melangkah pergi meninggalkan kediaman Stev.


Wilona menatap tajam, Lukas mulai menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Steven. Ghina memanggil Wilo untuk menemani Windy, dia ingin melihat kebenaran ucapan Lukas.


Secara perlahan Ghina melangkah ke dalam ruangan yang sangat mewah, Ghina tidak mendengar suara siapapun, terlihat semuanya sudah tidak sadarkan diri.


Ghina tidak melihat keberadaan Steven, hanya ada Bagus, Glen dan Vero yang memang tercium bau alkohol.


Sebuah pintu terbuka, Ghina tersenyum langsung melangkah masuk melihat Steven melihat layar, memperlihatkannya keadaan di dalam rumahnya.


"Stev, kamu mabuk seperti yang Lukas katakan?"


"Menurut kamu." Steven berbalik tersenyum melihat Ghina.


"Kenapa kamu berharap Steven mabuk, ingin tidur dengannya." Saka menatap sinis, Ghina mendekati Saka langsung menamparnya dengan kuat.


"Jika kamu mabuk sebaiknya tidur." Ghina mendorong tubuh Saka.


"Dia tidak pernah bisa tidur saat mabuk, kecuali selesai pelepasan. Ghina Saka mengetahui semua yang terjadi diantara kalian berdua." Steven tersenyum langsung melangkah keluar.


Ghina juga langsung keluar, Saka tersenyum melihat bibirnya yang berdarah. Langsung keluar mengikuti Steven dan Ghina.


Steven langsung keluar kembali ke rumah, Ghina juga kembali, Saka memilih untuk tidur di mobil, melihat bayangan gelap sedang melakukan sesuatu di mobil.


"Kejahatan ada di manapun, kepala pusing malas berkelahi besok saja." Saka langsung duduk melihat bulan purnama.


"Kenapa tidak tidur di kamar?" Ghina membantu Saka berdiri, tapi langsung ditolak, Saka menutup mulut Ghina.


"Diam, ada bahaya." Saka melihat ke arah mobil.


Saka meraba ponselnya, tapi tertinggal di dalam ruangan minum. Saka meminjam ponsel Ghina, mengirimkan pesan kepada Windy, ada seorang penyeludup, mungkin hanya dikirim untuk merusak mobil.

__ADS_1


Ghina mengambil ponsel yang Saka berikan, teringat kembali soal kasus Stevie. Mobil yang sudah disabotase, kejadian yang akan terulang kembali, mobil yang diincar milik Vero.


"Mereka ingin membunuh Vero?" Saka menatap Ghina.


"Target mereka Windy, dia orang terakhir yang menggunakan mobil baru Vero." Ghina melihat bayangan hitam menghilang.


"Berarti ...." Saka langsung berdiri melihat keadaan mobil.


"Kenapa tidak dikejar, kita bisa menangkap mereka?"


"Ghina, untuk apa menangkap ikan kecil, jika kita bisa mendapatkan ikan besar." Saka melihat pesan sudah Windy terima, ingin menghubungi Stev, tapi Ghina tidak menyimpan nomor Stev.


"Kenapa kamu tidak mempunyai nomor Stev?"


"Hak aku, ini ponselku." Ghina menatap tajam.


"Kenapa kamu memiliki nomor aku? apa kamu sedang menunggu waktu, jika kamu hamil langsung minta pertanggungjawaban." Saka tersenyum sinis.


"Tenang saja Saka, aku tidak minta pertanggungjawaban kamu, mudah mengugurkan kandungan zaman sekarang."


"Berani kamu mengugurkan anakku, nyawa kamu juga ikut melayang."


***


Windy sedang bercerita dengan Wilo, ponselnya bergetar. Windy langsung menunjukkan pesan kepada Wilo, cepat keduanya melangkah keluar.


Saka meminta kunci mobil Vero, menghidupkan mobil, mencoba menjalankan. Tidak ada masalah sama sekali.


Steven juga keluar, mendengar suara langkah kaki Windy yang berlarian. Menghidupkan seluruh lampu, Wilo juga mengecek satpam yang tertidur dengan pulas.


Ghina melihat telapak tangan ada bekas suntikan, mereka memberikan obat tidur.


"Ada apa Windy?" Steven merangkul Windy.


"Saka melihat seseorang menyabotase mobil baru Vero, sekarang Saka sedang mengetes mobil."


Steven berjalan mendekati area mobil Vero, Saka berhenti mengatakan jika mobil aman. Stev tersenyum meminta Saka keluar.


Stev membuka mesin mobil, di dalamnya asap sudah menggumpal. Steven Saka langsung mundur, kejadian yang sama seperti saat dirinya masih muda.


"Kita lupakan hal ini, mereka hanya memberikan pancingan. Sedang membuyarkan konsentrasi kita." Steven menutup mobil, meminta semuanya masuk dan beristirahat.


Stev menggenggam tangan Windy, berbisik pelan, Stev berjanji akan melindungi Windy. Saka menahan pundak Stev, Windy naik bersama Ghina dan Wilona.

__ADS_1


"Apa?" Steven tersenyum menuju kamarnya, Saka mengikuti.


"Kamu gila mengabaikannya, Vero bisa dalam bahaya." Saka berhenti melihat didinding sudah mendapatkan rekaman yang terjadi.


"Bocah jenius ternyata sedang tidur." Saka menatap Wildan yang terlelap.


Steven sedang menyelidiki orang dalam, tapi ternyata tidak ada pengkhianatan di rumahnya. Pengkhianatan ada di area penjagaan.


"Mereka orang yang sama dengan kasus Kak Stevie?"


"Tidak tahu, tugas kamu yang mencari tahu." Steven tersenyum.


Steven tidak ingin mengambil pusing, dia cukup tahu siapa saja orang yang harus dia awasi. Mencintai ratu ternyata cukup berbahaya, tapi tidak bisa dibandingkan dengan hawa dingin calon Papi mertua.


Steven menyelimuti Wildan, Saka tidur di sofa, Steven lanjut bekerja, dia ada persidangan pagi. Saka menatap Wildan yang juga menatapnya.


"Saat besar nanti, kamu ingin menjadi apa?" Saka mengerakkan alisnya.


"Menjadi pelindung keluarga."


"Superhero."


"Pelindung bukan hanya seorang superhero, dia juga bisa hanya orang biasa, melindungi cukup dengan cinta dan kasih sayang."


"Cinta, kasih sayang." Saka tertawa pelan.


Dia sudah kehilangan cinta dan kasih sayang, sejak dikhianati Saka kehilangan kehidupan normalnya.


"Uncle, Wildan tahu hidup ini sulit, kita baik belum tentu dibalas baik, kita jahat dikucilkan oleh orang baik, tapi menjadi kebanggaan di dunia kejahatan." Wildan memejamkan matanya.


"Wildan, uncle baik tidak?"


"Manusia tidak berhak menilai baik buruknya seseorang, kita hanya perlu memperbaiki diri, tidak perduli banyaknya kejahatan, bertahanlah untuk menegakan kebaikan. Papi selalu mengatakan, ada orang yang membutuhkan pertolongan orang baik, jadi bertahanlah, jangan hancurkan harapan mereka." Wildan tersenyum tanpa membuka matanya.


Steven tersenyum memukul kepala saka dengan Map, bukannya tidur, tapi sibuk mengoceh berbicara dengan bocah.


"Katanya santai saja, sekarang memberikan tugas menyelidiki. Sorry Stev, kamu tidak bisa memberikan perintah, negara yang membayar aku."


"Jangan Lupa Saka, tugas kamu melindungi orang biasa."


"Siapa yang biasa, kamu?"


Saka langsung lompat di atas ranjang, tidur memeluk Wildan, kepala Saka mendapatkan pukulan, Wildan mencium bau minuman keras.

__ADS_1


"Saka, saka." Steven menggelengkan kepalanya.


***


__ADS_2