
Mobil Vero memasuki kawasan Mansion, mobil Windy juga masuk ke dalam Mansion. Senyuman Windy terlihat memeluk Vero, yang mengusap kepalanya.
"Kak, bagaimana hasil kerjasamanya?" Windy berjalan mengandeng lengan Vero masuk ke dalam Mansion.
"Siapa yang berani menolak kerjasama dengan perusahaan Sve, apalagi CEO seganteng Stevero." Vero tertawa melangkah masuk bersama.
"Najis." Windy tersenyum.
"Bagaimana dengan butik kamu?" Vero duduk di ruang tamu, menatap Windy yang cengengesan.
"Kak, bantu Windy bicara dengan Mommy dan Mami, soalnya mereka mengomel Windy menjatuhkan saham perusahaan mereka."
"Kenapa juga kamu berurusan dengan tri istri?"
"Windy tidak sengaja, karena tidak memandang satu dengan yang lain, Windy langsung saja meluncurkan produk baru, ternyata cabang Vclo kalah saing, sahamnya merosot jatuh." Windy tertawa kuat, tidak paham dengan dirinya yang gila kerja.
Vero terdiam menatap foto Steven, sudah tiga tahun berlalu sejak kehilangan Steven. Windy dan Vero menjadi dua orang yang patah hati, mencoba saling memahami berdua, melakukan segala hal bersama.
Vero yang selalu menemani Windy, tertawa, bermain, makan, jalan-jalan, bisnis sampai sejauh ini mereka tidak pernah lepas komunikasi.
Publik mengetahui jika Windy dan Vero pasangan yang komplit, saling melengkapi, sempurna di mata umum. Vero dan Windy tidak memperdulikan ucapan orang, dia hanya akan menjalankan kehidupan sebagaimana yang ingin dia jalani bersama Steven.
"Win sudah tiga tahun berlalu, ingin kamu bawa ke mana hubungan kita?" Vero menatap Windy serius.
"Kenapa bicaranya serius sekali?" Windy menutup ponselnya, balik menatap Vero.
"Kak Vero memang ingin bicara serius, sampai kapan kita menunggu?"
"Jangan mengharapkan cinta Windy kak Vero, rasa cinta sudah mati bersama calon suami Windy."
"Aku tidak minta kamu mencintai aku, kita bisa menikah mengabaikan perasaan, agar kita tetap bisa terus bersama." Vero menundukkan kepalanya.
Windy tertawa melangkah mendekati foto Steven, mengambilnya dan memeluk bingkai foto. Mencium kening Stev."
"Windy bersedia menikah kak Vero dengan satu syarat, Windy juga bersedia mencintai kak Vero melupakan Om Stev."
"Apa yang kamu inginkan Windy?" Vero melangkah mendekati Windy, melihat foto Steven di tangan Windy.
__ADS_1
"Jika Om Stev sudah meninggal, Windy ingin melihat makamnya. Selama Windy tidak melihat jasad, tidak melihat bukti kepergian Om bule berarti selamanya Windy akan menunggu." Windy tersenyum menepuk pundak Vero melangkah naik ke lantai atas.
Vero menghela nafas, menyentuh foto Steven meneteskan air matanya.
"Kak jika masih hidup pulanglah kasihan Vero dan Windy, tapi jika kak Stev sudah tiada tolong beri kami kabar agar tidak terus menunggu." Vero menghapus air matanya.
Suara Windy bernyanyi terdengar, menganti baju kerjaannya menggunakan baju santai, Windy mengambil kacamata hitam berteriak meminta Vero cepat turun.
"Kak Vero, ayo cepat." Windy teriak sampai suaranya habis.
"Sabar Windy sabar ... bisa saja aku keluar tidak menggunakan celana mendengar suara petir kamu." Vero membanting pintu.
Suara tawa di lantai satu terdengar, Windy dan para maid tertawa melihat Vero yang masih saja emosian.
Vero berlari menuruni tangga, menatap tajam Windy, langsung menggunakan kaca mata melangkah keluar.
Windy tertawa masuk ke dalam mobil, Windy mengatakan jika kedua orang tuanya akan berkunjung, mungkin juga Windy akan kembali ke tanah air beberapa hari karena ingin liburan.
Vero hanya menganggukkan kepalanya, meminta Windy berhati-hati mereka akan bertemu di kerajaan Cana untuk menemui Raja Athala dan Ratu Wilona juga putra mahkota Alfaiz.
Mobil Vero berhenti di jembatan, tempat yang selalu Windy dan Vero kunjungi hanya sekedar untuk menyapa Steven.
"Hai om Windy datang, tahu tidak ini hari apa?"
"Ini hari ulang tahun kak Steven." Vero menyentuh jembatan.
Dua mobil juga datang Saka keluar bersama Ghina membawakan bunga mawar merah, Bagus juga keluar bersama seseorang yang Windy kenal, langsung tersenyum memeluk Windy.
"Apa kabar Putri?"
"Baik kak Bib, apa kabar kak Bib?" Windy tersenyum mengusap perut Bib yang sudah besar.
Saka dan Bagus berdiri di jembatan, diam melihat lautan yang luas.
"Stev, selamat ulang tahun. Aku sudah menikah, sebentar lagi kami memiliki anak aku harap kamu yang memberikan dia nama." Bagus mengusap air matanya.
"Namanya Paijo, sangat terkenal di desanya Bunda Jum." Vero tertawa, membuat yang lain juga tersenyum.
__ADS_1
"Happy birthday to you, happy birthday happy birthday happy birthday Om bule. Selamat ulang tahun Ay, sehat selalu di sana cepat pulang. Windy akan selalu menunggu." Windy tersenyum meniup lilin.
"Kak boleh Vero minta izin menikahi Windy?"
"Tidak boleh." Saka menatap tajam Vero.
"Kenapa kak Saka? berikan Vero alasan?"
"Bagaimana jika Stev kembali? Vero jika kalian menikah aku kehilangan harapan Steven akan kembali, aku tahu harapan ini bodoh, tidak sesuai logika, tapi aku ingin percaya saja, walaupun aku sudah membohongi diri sendiri."
"Kak Saka, Vero ingin menjalankan amanah yang pernah kak Stev minta untuk menjaga Windy jika sesuatu terjadi kepadanya. Sebelum kecelakaan kak Stev mengatakan jika perasaannya tidak enak, dia selalu bermimpi dalamnya dasar sungai, juga melihat keluarga menangis, tetapi tidak bisa menyentuhnya. Kak Stev selalu berdoa dalam sholatnya meminta petunjuk, juga melihat dirinya sendiri menggunakan kain kafan ...." Vero menundukkan kepalanya.
"Aku juga pernah memimpikannya." Saka mengusap wajahnya.
"Vero bermimpi Kak Stev minta Vero menjaga Windy hidup bahagia. Kak Stev juga memegang tangan seorang anak lelaki dia memanggil nama Wira, Vero mengambil keputusan untuk menikahi Windy agar kami berhenti menunggu."
Windy menjatuhkan kue ke sungai, air mata Windy menetes langsung duduk di pinggir jembatan. Dia juga pernah bermimpi anak bayi bersama Steven dia bernama Wira.
"Vero pernah mengatakan nama anak kami Wira, mungkin kak Stev ingin aku dan Windy berhenti menunggu, membina rumah tangga memiliki anak menyudahi luka hati kami."
"Vero." Saka mengerutkan keningnya.
"Vero tahu ini egois, tidak berperasaan. Vero tidak memaksa Windy, jujur kasih sayang aku kepada Windy tidak mengharapkan apapun."
"Nama anak kami Sinta bukan Wira." Windy menghapus air matanya, menatap bunga mawar.
"Maafkan kak Vero Windy, anggap saja kak Vero bercanda." Vero mengusap kepala Windy menghapus air matanya.
"Berikan Windy waktu kak Vero."
"Kak Vero akan selalu di sisi Windy, maafkan ucapan kak Vero jika menyakiti kamu."
"Cinta Windy hanya untuk Om Stev, mimpi Windy mengejar cinta Om bule sampai menikah memiliki anak, tapi Windy akan perlahan-lahan melepaskan mimpi Windy, berikan Windy sedikit waktu."
Vero memeluk erat Windy, mengusap punggungnya untuk jangan dipaksakan.
***
__ADS_1