
Suara berisik teriakan terdengar, Reva langsung berlari melihat Windy dan Winda tertawa sambil menari. Windy baru saja mendapatkan surat izin mengemudi, dengan semangat dia mencari Wildan untuk jalan-jalan keliling komplek.
Setelah mendapatkan izin dari Mami Windy langsung membukakan pintu mobil untuk Wildan, sedangkan Winda belum dapat izin sudah di dalam mobil duluan. Windy melihat Bella dan Billa keluar sambil bertengkar, cepat Windy menggendong Billa, Bella langsung ikut masuk.
Melihat Tian juga langsung di dorong masuk, Ravi dan Vira yang baru keluar juga langsung di culik.
"Kak sempit," teriak Vira, Windy langsung menjalankan mobilnya.
Dari jauh melihat Erik yang sedang menarik mobilnya, Vira mengerutkan keningnya pasti Erik juga di culik, tepat dugaan Vira Erik langsung di gendong untuk masuk.
Mobil full dengan anak-anak, semua wajah sudah kesal. Wildan masih asik membaca bukunya, Ravi membuka pintu belakang mobil melihat kompleks sambil tersenyum, Erik juga duduk menikmati sore.
Windy tidak menyadari bagian belakang terbuka, para bocah lelaki sibuk tertawa.
"Kak Windy ingin kuliah di mana?" Wildan buka suara sambil menutup bukunya.
"Luar Negeri, ada seseorang yang ingin kak Windy temui."
"Om Bule ya kak Win? kalau Mami tahu pasti marah." Winda mengingatkan kakaknya.
"Tenang saja sayang, kakak niatnya memang pengen kuliah. Teman-teman Kaka juga banyak di sana."
"Jangan salah pergaulan kak, Tian bertugas menjaga kak Windy."
"Iya dek, kakak janji akan tahu batasan."
Windy berhenti untuk membelikan anak-anak es krim, setelahnya langsung pulang. Mengantar satu persatu bocah yang sudah di cari orang tua masing-masing.
"Astaghfirullah Al azim Erik, tadi bilangnya main mobil, tapi mobilnya ada orangnya hilang."
"Maaf ya Aunty salah Windy yang menculiknya." Windy mengaruk kepalanya.
"Awww! telinga Windy keduanya langsung naik ke atas.
Jum dan Viana menariknya karena Windy pergi tanpa izin, belum lagi membawa muatan yang penuh, bagasi belakang mobil juga terbuka.
"Maaf Mommy Bunda, Windy terlalu senang soalnya sudah dapat izin mengemudi."
Windy tertawa memeluk Viana dan Jum bersama, Reva tersenyum tidak terasa putri kecilnya sudah menjadi gadis cantik yang berusia 17 tahun.
***
__ADS_1
Bima sekeluarga sedang makan malam bersama, Windy menatap kedua orangtuanya untuk mengutarakan keinginannya.
"Mami Papi, boleh tidak Windy kuliah di LN."
"Boleh sayang, Papi sudah meminta bantuan teman Papi untuk mengurus tempat tinggal, dan kuliah kamu."
Jantung Windy berdegup kencang, tidak menyangka Papi mendaftarkan kuliah tanpa bicara dan bertanya Windy ingin di negara mana.
"Papi yakin, dia bisa di percaya. Windy perempuan Papi, Mami ingin dia jaga dengan ketat."
"Tenang saja Mami, Papi tidak akan pernah membiarkan putri kita salah jalan, Windy jauh dan dekat akan tetap Papi awasi."
Windy hanya diam saja, niatnya untuk bertemu Om bule hancur sudah. Niatnya yang buruk ingin mengejar cinta Om Bule gagal total.
Bima menghubungi seseorang, Reva langsung mendekat dan melihat seorang Bule tampan yang wajahnya yang masih sangat terawat.
[Assalamualaikum kak Bim, hai Reva apa kabar kalian semua?"]
[Alhamdulillah baik, kamu sudah melakukan apa yang kak Bim minta.]
Steven memberikan dua jempol, Reva menatap Windy yang sudah berlalu pergi. Reva tahu rencana Windy sama seperti dirinya dulu, tapi Reva tidak akan mempermudah jalan Windy, dia harus merasakan sakit hati agar berhenti dan menyerah.
Windy melangkah dengan langkah malas, tapi saat melihat wajah seseorang tersenyum di layar ponsel, rasanya Windy ingin lompat-lompat kesenangan.
[Hai Windy, kamu semakin cantik.]
[Terima kasih om.]
Reva menatap wajah Windy, sangat mirip dirinya dulu, Bima tidak menyadari rasa kagum Windy terhadap Steven tulus.
[Stev, kamu lagi bersama pacar atau istri?] Reva menatap Steven yang sedang tersenyum dan meminta seseorang mendekat.
Senyuman Reva muncul melihat seorang wanita Bule cantik, kening Windy berkerut merasakan kecewa. Steven juga memperkenalkan jika wanita yang bersamanya calon istrinya, mereka akan menikah dalam waktu dekat.
[Akhirnya punya niat nikah juga kamu?]
[Pasti kak Bim, selama ini mencari wanita yang tepat untuk ibu anak-anak.]
Bima menyudahi panggilan, karena dia langsung yang akan mengantar Windy. Reva membantu Windy berkemas tapi lebih banyak melamun.
"Mami tahu apa yang ada dalam hati dan pikiran kamu, Windy sayang Steven lelaki dewasa sedangkan Windy bunga yang baru berkembang."
__ADS_1
"Mami tahu, Windy suka Om bule?"
"Apa yang tidak Mami ketahui tentang kamu, tugas Windy sekarang mengejar ilmu, silahkan jika Windy ingin tahu rasanya berjuang dan patah hati, berjanjilah tidak merahasiakan apapun dari Mami."
"Windy berjanji Mam, Windy memang ingin bertemu Om bule, tapi tidak akan menyampingkan keinginan Windy untuk jadi sarjana. Windy juga akan memegang teguh ajaran Mami." Windy memeluk Reva, mencium pipinya.
"Ingat jangan salah pergaulan, hal baik ambil yang buruk tinggalkan. Satu kali Windy salah langkah hidup Windy berantakan, bahkan Mami dan Papi akan hancur."
"Mami, Windy janji akan mengikuti ajaran baik dari Mami, terima kasih tidak pernah membedakan Windy dan anak kandung Mami, sungguh Windy beruntung mendapatkan seorang ibu yang selalu mengerti keinginan Windy."
"Kamu tidak tahu betapa Mami mencintai kamu, kamu putriku, anakku."
Windy menciumi tangan Reva, Windy sangat bergantung dengan Reva di setiap langkahnya. Untuk pertama kalinya Reva membiarkan Windy melangkah untuk terluka. Reva sangat yakin dengan Windy bisa menjaga diri, Bima juga mempercayai Steven, Reva juga akan mengawasi Windy dari jauh.
"Mam, Windy tidak akan menghancurkan cinta Om bule, Windy akan mendukungnya dan fokus kuliah, setidaknya Windy senang bisa melihatnya."
"Bagus sayang ini keputusan pertama kamu melangkah dewasa."
Windy tersenyum, dia ingin mengejar cinta secara baik, jika memang berjodoh Windy yakin perjuangannya akan memberikan hasil tanpa harus menyakiti siapapun. Windy akan menggagap ini menjadi perjalanan hidupnya untuk mengenal cinta.
Winda terus menangis saat melihat Windy melangkah keluar untuk pergi, Bima mengantar Windy secara langsung. Di depan rumah Ravi, Tian, dan Erik menunggu Windy untuk mengucapkan perpisahan.
"Kak Win, jaga diri ya Tian akan terus menghubungi Kaka terus." Tian mengusap matanya memeluk Windy erat.
"Kak, di antara kita kakak wanita satu-satunya yang ingin kami jaga, tapi untuk sementara bisa kakak jaga diri sendiri, tunggu Ravi besar kak."
"Terima kasih Ravi, kakak sayang kalian bertiga, jangan nakal ya." Windy memeluk Ravi, Tian dan Erik yang menangis.
Windy juga berpamitan dengan Bunda Mommy dan Aunty Septi, semaunya berat melepaskan Windy, apalagi Reva yang menangis di dalam rumah.
"Mami," Windy berlari ke dalam mencari Reva dan memeluknya untuk melangkah keluar.
"Kenapa harus pergi, kamu tahu Mami tidak terbiasa tanpa Windy."
"Windy akan setiap hari menghubungi Mami."
"Awas ya bohong, bangun tidur, pengen tidur, saat makan, semuanya Windy harus menghubungi Mami."
"Siap buk boss, I LOVE YOU Mami."
***
__ADS_1