
Suara barang dipecahkan terdengar, tatapan tajam seorang pemuda yang menatap foto Winda. Putri Bramasta yang sudah lama ingin dia hancurkan.
Dendam lama keluarga Arlando dengan si cantik Vira Pratiwi, kisah cinta lama yang belum berakhir.
"Bagaimana Ranty bisa koma? rambutnya juga rusak. Putri Reva lebih mengerikan dari ibunya." Suara tawa terdengar lucu sambil menatap foto Reva saat masih kuliah di luar negeri.
"Kak, kita harus memberikan mereka pelajaran. Ranty adik perempuan kita satu-satunya, serahkan Winda kepadaku."
"Joseph Arlando adikku, lihat daftar keluarga besar Bramasta. Sudah dua puluh lima tahun aku mencari celah, tapi tidak memiliki kesempatan untuk menyentuh keluarga ini." Pemuda cacat mendorong kursi rodanya memperlihatkan urutan keluarga Reva Pratiwi.
"Siapa mereka?"
"Bima Bramasta, seorang pengusaha juga mendapatkan julukan raja bisnis, dia memiliki segudang bisnis yang sukses di beberapa negara, dia menikahi Reva dua puluh dua tahun yang lalu. Aku sudah menyiapkan lamaran untuk Reva, tapi dia memilih menikahi pria dewasa." Tatapan kesedihan terlihat memeluk foto Reva yang masih muda.
"Mereka memiliki anak kembar, Wildan dan Winda juga putri dari masa lalu Bima Windy Bramasta. Windy tidak bisa disentuh, dia putri seorang raja, juga istri orang yang memiliki kekuasaan dari keluarga Alvaro." Tatapan tajam melihat foto tiga orang.
"Wow, keluarga Alvaro. Mereka cukup terkenal sepak terjangnya." Joseph memijit pelipisnya, mempertanyakan soal Wildan.
"Dia putra Bima dan Reva yang juga tidak bisa tersentuh, selain jenius dia memiliki banyak bawahan. Kejadian sepuluh tahun yang lalu, kenapa kita tidak bisa menyentuh Winda, karena kakaknya yang sejak kecil sudah bisa memimpin. Jangan pernah terlibat dengan dia, jika tidak ingin semakin jatuh miskin." Mendengar penjelasan kakaknya, Joseph menganggukkan kepalanya.
"Satu hal lagi Joseph, Winda juga wanita yang kuat, lebih kuat lagi setelah dia menikah."
"Menikah? kapan dia menikah? siapa suaminya?"
"Muh. Yusuf dia lebih di kenal Ar."
"CEO Ar, dia pemimpin perusahaan terbesar di negara ini. Bagaimana kita bisa membalaskan dendam? Winda berada dalam pengawasan dia."
__ADS_1
"Ada satu cara untuk menjatuhkan Ar, bunuh ibunya. Dia sangat menyayangi ibunya, tangkap wanita malam itu. Ini akan menjadi kesempatan terakhir kita untuk membuat keluarga Bramasta berduka, jika Ar mulai lengah singkirkan Winda, kamu boleh menyentuhkannya seperti harapan sepuluh tahun yang lalu." Suara tertawa terdengar, menatap wanita cantik yang sedang koma.
Joseph langsung melangkah pergi, menatap para dokter yang mengawasi adiknya di kediaman keluarga Arlando.
Tatapan Joseph tajam, melihat foto kedua orang tuanya yang meninggal, karena mengalami kecelakaan bersama kakaknya saat berniat melamar Reva Pratiwi yang ternyata menerima lamaran pria lain.
"Mereka harus hancur, Joseph akan membuat Winda tergeletak tidak berdaya sama seperti Ranty, mungkin bisa lebih buruk lagi. Kak Josua menderita duduk di kursi roda seumur hidup, tapi kalian hidup bahagia." Joseph langsung melangkah pergi dengan mobil mewahnya.
Air mata Josua menetes, menatap cantiknya Reva yang menikah dengan lelaki sukses sangat berbeda jauh dengan dirinya yang dulunya hidup susah.
"Semua wanita sama, mereka hanya mengincar harta. Ketulusan cintaku, kalah dengan kemewahan harta. Putri kamu juga cantik sekali Rev, bahkan dia melebihi kamu. Dulu kita bertemu saat kamu seusia Winda." Josua menatap foto Winda yang sangat cantik.
***
Suara dentuman musik terdengar, Winda yang belum mendapatkan izin keluar rumah hanya bisa menggila di rumah.
Suara langkah kaki orang masuk tidak terdengar, Winda tertawa berjoget bersama Mami yang juga sangat menyukai musik DJ.
"Apa kalian berdua sedang berpesta?" Senyuman Joseph terlihat melihat cantiknya Winda setelah dewasa.
"Wow, gila. Kamu cantik sekali Winda." Joseph menatap dari kaki sampai ke kepalanya.
Winda hanya tertawa, melanjutkan musiknya tidak mempedulikan siapa tamu yang tidak diundang.
Mami kebingungan menepuk pundak Winda yang masih asik bernyanyi dengan suara jeleknya, tidak melihatkan sedikitpun rasa takut.
"Winda tolong Mami."
__ADS_1
Lemparan ponsel kuat menghantam seseorang yang berusaha untuk menarik Mami keluar, Winda menatap kesal.
Mami langsung berlari mendekati Winda, Joseph mengerutkan keningnya melihat Winda yang tidak takut apapun. Lelaki berbadan besar di mata Winda hanyalah semut yang mengigit tubuhnya.
"Kami tidak ada urusan dengan kamu Winda?"
"Tapi aku punya urusan dengan kamu, ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu saat kamu hampir menodai aku menjadi taruhan kelulusan kalian." Winda tertawa lucu, masih mengingat wajah pria brengsek yang tidak tahu malu.
"Tante Liza yang menjual kamu, kami tidak ada sangkut pautkan dengan kejadian di bar." Joseph tertawa menatap wajah cantik Winda.
"Kamu pikir aku bodoh, kalian memiliki dendam dengan keluarga kami. Nenek sihir ini meskipun dia jahat, tidak punya kekuasaan untuk menyentuh putri Bramasta kecuali ada orang besar yang memaksanya." Winda memborgol tangan Joseph bersama dengan tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Joseph melihat tangannya.
"Meminta keadilan, sudah aku katakan suatu hari aku akan membawa kamu ke dalam penjara. Ada sepuluh nyawa yang melayang, ada satu wanita yang gila, juga ada dua wanita yang trauma. Kamu harus bertanggung jawab untuk itu." Tatapan Winda tajam.
"Kamu tidak punya bukti, jangan main-main."
"Perkenalkan nama aku Winda Bramasta, Papi pernah berkata jika kamu salah akui, jika kamu benar diamlah. Mami juga pernah berkata, jangan pulang dengan air mata, wanita tidak terlahir lemah tapi makhluk paling kuat, kak Windy juga berkata orang baik balas baik, orang jahat singkirkan, kak Wil juga pernah berkata kejar apa yang harus kamu kejar sampai ke ujung dunia, sehingga kamu sadar jika semua itu tidak bisa kamu dapatkan. Mental aku sangat kuat, selama masih bernyawa aku akan mengejar kalian." Senyuman Winda terlihat, dia tidak memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan masalah ini. Dia ingin segera mengakhirinya dan kembali ke dalam keluarganya.
"Ayo kita temui kakak kamu, Mami jika Kak Ar pulang, katakan padanya jemput Winda saat matahari terbit. Aku akan menunggu dia di depan pintu keluarga Arlando, jangan lupa bawa polisi." Winda melangkah keluar.
Joseph tidak percaya dengan keberanian Winda, dia bahkan ingin menemui kakaknya. Sekuat apa gadis kecil yang dulunya tergeletak di genangan darah yang mengalir dari pembantaian.
Winda mengaktifkan lokasi agar Ar bisa melacak keberadaannya, Winda tidak bisa melawan rasa penasarannya dengan keluarga yang ingin menyingkirkannya.
Winda ingin tahu, apa yang membuat keluarga Arlando membenci keluarga Bramasta yang hidupnya sangat tenang dengan pimpinan selembut papinya.
__ADS_1
***