
Suara manja Winda terdengar, mencium wajah suaminya.
"Abi, peluk." Tangan Winda menyentuh wajah suaminya.
"Sayang, kita langsung tidur saja. Aku merasa capek. Tidak masalahkan Win?" Ar langsung memejamkan matanya.
Winda menatap tajam, sudah hampir satu minggu dirinya tidak disentuh, Ar selalu mengelus tubuhnya lemas.
Perasaan Winda tidak enak, melihat perubahan suaminya yang tidak seperti biasanya. Winda langsung tidur membelakangi Ar, tidak ingin memeluknya lagi.
Ar meraba tangan Winda, langsung melihat ke belakang langsung memeluk istrinya dari belakang.
Winda tidak bisa tidur, air matanya menetes melihat tangan Ar yang memeluknya erat.
"Winda, kamu kenapa sayang?" Ar membalik tubuh Winda untuk melihat ke arahnya.
"Kenapa menangis? aku minta maaf jika salah." Ar menyentuh air mata, tapi tangannya langsung ditepis kuat.
Sikap kasar Winda kembali, meminta Ar untuk menjauh jangan menyentuh dirinya. Kepala Ar sakit, tubuhnya juga sakit semua.
Karena sudah malam, tidak ingin ada keributan akhirnya Ar menjauh melanjutkan tidurnya. Winda menutup matanya, menghentikan air matanya.
Saat waktu sholat, Winda tidak merespon membuat Ar menghela nafasnya membiarkan Winda.
"Win, jangan egois. Jika ada masalah bicara, jika ada sesuatu yang tidak kamu suka katakan. Aku tidak mengerti jika kamu seperti ini." Ar akhirnya menyerah membiarkan Winda dengan sikap diamnya.
Kepala Ar semakin sakit melihat matahari, tapi pekerjaan menumpuk. Ar langsung bersiap untuk ke kantor mendekati Winda.
Baru saja Ar mendekat ingin mencium, tapi langsung ditepis dengan tangan. Bibir Ar langsung mengeluarkan darah terkena cincin Winda.
Darahnya sampai menetes, Winda langsung mencari tisu untuk menghentikan darah. Kepala Ar semakin sakit, perutnya juga rasanya mual.
"Udah Winda, kamu juga tidak sengaja. Aku pergi kerja dulu, kamu jangan lupa sarapan." Ar melangkah pergi untuk bekerja, sebelum pergi menemui mertuanya terlebih dahulu.
Reva menyentuh wajah Ar, melihat bibirnya yang kulitnya sobek.
"Kenapa bibir kamu?"
"Tidak sengaja jatuh terus kena meja." Ar menutup mulutnya.
"Bohong, ini luka dalam Ar. Bibir kamu bisa bengkak."
"Nanti di kompres saja mam, Ar langsung pergi kerja assalamualaikum." Ar melangkah pergi setelah menyapa Papi.
Reva langsung berjalan ke kamar putrinya, melihat Winda sedang menangis.
"Kenapa? cerita sama Mami."
"Winda tidak sengaja gara-gara cincin ini." Winda memeluk erat Maminya.
"Makanya Win gunakan cincin botak jangan cincin keriting, robek bibir Ar." Reva tertawa mengusap kepala putrinya.
__ADS_1
"Ar marah?"
"Tidak, dia tahu Winda tidak sengaja."
"Lalu kenapa kamu marah?"
"Tidak tahu, beberapa hari ini Ar tidak ingin menyentuh Winda. Dia mulai berubah mami."
Reva langsung tertawa, guling-guling di atas ranjang. Winda memang cerminan dirinya.
"Kamu pasti berpikir Ar berubah, karena kamu belum hamil?"
"Mami tahu?"
"Putriku sayang, Mami pernah muda. Berumah tangga puluhan tahu tentu Mami tahu. Kamu tidak bertanya kenapa alasan dia? mungkin lelah, ada masalah di kantor, tubuhnya sedang tidak sehat. Sebenarnya suami kamu membutuhkan perhatian istrinya. Kita tidak berkewajiban untuk mengurus dia, tapi bukannya pasangan harus saling mengerti." Reva menghapus air mata putrinya.
"Winda tidak tahu, katanya tubuhnya lemas."
"Mungkin dia pegal linu, nyeri sendi, butuh Bodrex." Reva tertawa, lucu melihat putrinya.
"Tidak lucu Mami."
"Jika suami mengeluh sakit carikan obat, pijit tubuhnya, jika tidak mengerti turun ke bawah cari Mami. Kamu punya orang tua Win, bertanya jika tidak tahu. Katanya ingin menjadi ibu, tapi tidak ingin berkorban." Suara Reva sangat lembut mengerti sekali dengan perasaan putrinya.
Winda tersenyum, dia tidak akan mengulanginya lagi, jika suami mengeluh lemas pasti ada rasa tidak nyaman yang dia rasakan.
"Mulai sekarang Winda tidak akan ngambek tanpa alasan. Winda cinta sama Ar, cinta sekali." Winda tertawa bersama Maminya.
***
Ravi tersenyum melihat adiknya yang sangat pintar dalam bisnis, cara Ar berbicara sangat manis sehingga mudah membuat orang takluk.
Penglihatan Ar mulai gelap, tapi masih berusaha fokus untuk menyelesaikan perkejaan sampai usai.
Sampai berjabatan tangan Ar masih bertahan, Ravi dan Tian bertepuk tangan melihat kerja sama berhasil.
"Kenapa kamu Ar, wajah kamu pucat sekali?" Tian langsung merangkul.
Ar langsung muntah, Ravi langsung panik membantu adiknya ke tempat duduk melihat wajah Ar yang merah.
"Minum dulu Ar." Tian membukakan air mineral, mengusap punggungnya.
"Kamu sakit kenapa kerja? bahaya jika terjadi sesuatu." Ravi menatap tajam, dia paling tidak suka mengabaikan soal kesehatan.
Tian langsung minta mobil di siapkan, Ar sebaiknya pulang. Tidak memungkinkan lanjut kerja, karena sehat itu penting.
Penglihatan Ar sudah gelap, mengusap wajahnya bekali-kali, perutnya juga tidak enak, rasanya ingin muntah.
Perlahan kesadaran Ar hilang, Ravi dan Tian masih berbicara tidak menyadari jika Ar sudah jatuh pingsan.
"Ayo ke mobil Ar." Ravi menyentuh wajah Ar, menggoyangkan tubuh Ar.
__ADS_1
"Pingsan Ravi, astaghfirullah. Hubungi Erik kita ke rumah sakit sekarang." Tian langsung meminta bantuan untuk membawa Ar.
Mobil yang Ravi kendarai melaju dengan kecepatan tinggi, Tian memijit kepala Ar mengusap tangannya.
Ponsel Ar berbunyi, panggilan dari Winda. Tian langsung menjawabnya. Suara pelan Winda terdengar.
[Winda ini kak Tian.]
[Di mana Ar?]
Tian menatap Ravi, ragu ingin mengatakan sesuatu kepada Winda soal keadaan suaminya.
[Kak Tian, apa Ar marah? dia tidak ingin bicara dengan Winda?]
[Bukan seperti itu Winda, kamu jangan panik. Kita sekarang menuju rumah sakit, Ar jatuh pingsan, dia juga muntah. Intinya kita ke rumah sakit, jika kamu ingin menyusul gunakan sopir."] Tian menjelaskan kepada Winda yang hanya terdiam, tidak ada jawaban sampai panggilan mati.
Air mata Winda langsung menetes, mengganti bajunya berusaha untuk tenang. Winda langsung melangkah turun mencari Maminya yang ternyata ada di rumah Bundanya.
Winda mengeluarkan mobilnya, melewati jalan maminya yang berjalan penuh kebahagiaan.
"Winda, ada kabar baik."
"Kabar buruk Mi, Ar di rumah sakit." Winda mengusap air matanya merasakan bersalah sudah melukai suaminya.
Di rumah sakit Erik sudah menunggu, menggenggam tangan Ar, merasakan denyut nadinya, melihat mata Ar.
"Dia demam tinggi, muntah, serangan sakit di kepala. Tangani terlebih dahulu baru lakukan pemeriksaan detail." Erik memberikan perintah.
"Kenapa tiba-tiba jatuh pingsan?"
"Namanya juga sakit, pastinya jatuh pingsan." Ravi menatap tajam.
Erik langsung melangkah pergi, bertanya dengan Ravi sama saja bertanya pohon bergoyang.
Langkah kaki Winda terdengar, dia berlari kencang. Ravi langsung berjalan cepat keseimbangan Winda hampir jatuh.
Kaki Winda langsung lemas, tubuhnya terhentak di lantai. Ravi cepat menangkapnya.
"Kak Ravi ...."
"Diam, tenang diri kamu. Ada yang sakit tidak?" Ravi membersihkan kaki Winda yang pastinya yang sudah terjatuh beberapa kali, dengkulnya memar.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG
HARI INI UP 6 EPS, NOVEL SEBELAH 5 EPS AUTHOR GK SANGGUP LAGI.
DI BALIK BAHAGIA KALIAN YANG MEMBACA ADA AUTHOR YANG TERSIKSA 😂
__ADS_1