MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENYAPA


__ADS_3

Karena nasi gagal masak, terpaksa ketiganya mengemil ayam goreng juga sayur kangkung. Bima tertawa bersama dengan Reva dan Windy.


Jum menghubungi Reva, jika dirinya akan datang ke rumah bersama Ravi juga Tian. Reva dengan semangat menyambut.


Tidak begitu lama, Jum sekeluarga datang, Bima dan Windy masih asik di dapur mengobrol terus makan ayam goreng. Jum meletakkan makanan ke atas meja, Reva nyegir kuda langsung mengambilnya dan menyiapkan di atas meja.


"Terima kasih kak Jum, makin sayang."


"Lagian kamu kenapa tidak mesan saja Va, tidak harus minta Jum bawa makan dari rumah." Bisma ikut duduk di samping Bima, ikut makan ayam yang sudah di suir.


"Nasi gagal masak, Reva lupa menekan tombol nya."


"Wow Reva kamu sungguh luar biasa." Bisma mengejek, mata Reva langsung melotot.


Teriakan Tian dan Ravi terdengar, langsung ikut duduk dan minta ayam suir. Reva menyiapkan nasi yang di bawa Jum berserta lauk pauknya. Langsung menyerahkan ke Bima untuk segera makan.


"Enak tidak masakan istri gue." Bisma menatap kakaknya yang tersenyum, terus mengunyah makanannya.


"Enak, karena istriku yang menyiapkan."


"Tapi yang masak Jum,"


"Tapi yang menyiapkan Reva."


"Stop! sudah tua berdebat, tidak malu dengan anak-anak." Jum menggeleng kepalanya.


Reva juga menyiapkan makan untuk anak-anak, memberikan piring kepada Jum untuk menyiapkan makan untuk Bisma, dan mereka semua makan bersama.


Suara salam dari luar juga terdengar, Ravi langsung berlari melihat Daddy dan Mommy datang bersama Vira.


"Daddy!" Ravi langsung digendong Rama.


"Wow lagi makan, pas banget sedang lapar."


"Ayo duduk kak Vi, Jum banyak Bawak makanan seperti ada kabar bahagia." Reva menyindir.


"Kenapa Jum yang masak, kenapa tidak kamu Va?"


"Biasalah, nasi gagal masak."


Tawa Viana terdengar, Rama menatapnya. Vi lupa jika dulu dia juga pernah gagal masak karena masakan gosong semua. Dengan terpaksa Rama harus memakannya.


"Vi, jangan menertawakan orang."


"Iya hubby maaf."


"Reva sudah bilang, takut masak."


"Kita senasib Va, aku juga pernah gagal masak karena semuanya gosong."

__ADS_1


"Kalian bukan wanita ya?"


"Kamu bilang apa Bisma, tidak melihat tuyul besar ini, bocah kecil ini. Jika aku bukan wanita dari mana keduanya lahir." Viana melotot.


Akhirnya semuanya diam dan makan bersama, anak-anak asik memakan ayam goreng buatan Reva. Setelah makan semuanya bersantai di ruang tamu, dengan banyaknya kue bawaan Vi.


Jum diam menatap suaminya, senyum manis juga terukir di sana, kabar bahagia yang dia bawa akan dia umumkan di depan semuanya.


"Mas,"


'Iya sayang." Bisma langsung menatap Jum, melihat Jum menunduk membuat Bisma berhenti makan.


"Ada apa sayang?" Bisma langsung berdiri, dan mendekati Jum. Berlutut di depan Jum, untuk menghadapnya terlihat wajah khawatir.


Reva dan Viana saling tatap, senyum keduanya terlihat. Mereka perubahan kondisi Jum, dua suka makan masam, terus kadang tingkahnya aneh. Vi yang sudah pengalaman bisa menebak jika Jum sedang berbadan dua.


"Mas, Jum mau bilang...."


"Kamu sakit, ayo ke rumah sakit sekarang."


"Nanti saja, dengarkan Jum dulu."


"Ya Allah, kalau sakit jangan ditunda. Aku khawatir sama kamu."


"Jum hamil!"


"Astaghfirullah Al azim, ayo ke rumah sakit. Bisma sudah berdiri tapi langsung menatap Jum tajam.


"Tuli, efek tua." Reva mengejek, dan memeluk lengan Bima manja.


"Memangnya Jum tadi bilang apa?" Bima menatap Reva yang tatapannya langsung sinis.


"Kamu hamil, mas tidak salah dengar. Coba di ulang."


"Iya mas, Jum hamil sudah periksa jalan dua Minggu."


Arrrrrgggghhhhh Bisma teriak kesenangan, dia joget-joget membuat Reva dan Viana geli. Anak-anak juga mengaga melihat Bisma yang mirip orang gila.


"Aku punya anak, yeeeeee akhirnya Bisma junior hadir."


"Uncle kerasukan?" Windy mendekat langsung digendong Bisma dan diciumnya.


"Kamu akan memiliki sepupu lagi,"


"Sepupu itu apa, seperti Ravi sama Vira."


"Bulan sayang, seperti Windy dengan Tian. Mereka sepupu."


"Tian adik Windy Uncle, bukan sepupu." Bisma langsung terdiam, dia tidak tahu dari mana Windy tahu.

__ADS_1


Bima lebih kaget lagi, ingin dia berdiri tapi Reva sudah menahannya. Tatapan Reva tajam melihat Bisma juga Bima serta Jum. Reva sudah lama tahu, tapi mengajari Windy untuk tutup mulutnya soal Tian.


"Selamat ya kak Jum, sehat terus bersama dedeknya."


"Reva Windy tahu dari mana?" Bisma menatap tajam, melihat Windy dan Tian asik bermain.


"Dari mulut kotor kamu, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu tentang Tian dan Windy. Dia mengatakan kepada Reva dan memintanya tutup mulut, sampai hak asuh Tian jatuh ditangan kamu."


"Jadi sekarang Windy juga tahu, kalau hak asuh Tian jatuh ditangan aku."


"Iya, makanya dia sekarang berani bicara."


"Terima kasih sayang, kamu mendidik Windy dengan baik." Bima mencium tangan Reva, senyum manja Reva terlihat menggoda.


"Sayang, kita fokus ke kamu dulu. Kenapa baru bilang sekarang, coba saat kita berduaan jadinya bisa menyapa dede dulu."


"Otak kamu memang kotor Bisma, istri hamil masih mikirin gituan."


"Mas Bisma hanya bilang ingin menyapa Reva, tidak masalah dia ayahnya." Jum menimpali sambil tersenyum.


Reva geleng-geleng kepala, Viana sudah tertawa ngakak. Kepolosan Jum memang tidak ada duanya, dia makhluk tuhan paling polos.


Bisma tersenyum penuh kemenangan, diciumnya tangan Jum penuh kebahagiaan. Rumahnya akan segera ramai, dengan suara Tian juga adiknya.


"Memangnya bisa Bisma menyapa anaknya, diakan belum lahir." Bima menatap heran dengan pembicaraan Bisma dan Reva.


Bibir Reva langsung monyong, Rama tertawa bersama Viana. Bisma nyegir melihat wajah kakaknya yang bodohnya kelewatan.


"Sebenarnya, Bima tahu tidak cara membuat anak." Bisma heran, hal yang seharusnya paling diketahui lelaki, tapi Bima bisa tidak mengerti.


"Jangan ditanya lagi, tidak pernah ada puasnya."


"Reva, tidak boleh bicara seperti itu."


"Iya maaf Ayy."


"Nanti saat Reva hamil, Ayy juga harus menyapa anak kita ya."


"Caranya?" Bima masih belum juga paham, Bisma mendekati Bima langsung berbisik di telinga.


Tawa Bima langsung besar dan berlari menjauh, Bima langsung malu. Ternyata sebutan menyapa sama saja dengan membuatnya, hanya bedanya kalau sudah jadi disebut menyapa."


"Mami tidak menyapa?" Reva semakin menggoda, sambil tertawa gemas melihat suaminya yang sebelah dua belas dengan Jum.


Syukurnya jodoh Bima Reva, kalau sampai Jum tidak tahu akan menjadi apa. Reva hanya tersenyum berharap anak Jum mengikuti jejak Bisma yang ceria dan heboh. Viana juga berharap semoga anak Jum tumbuh sepintar ayahnya juga sebaik ibunya.


"Jum jaga kandungan kamu dengan baik, jangan terlalu capek, paling berat di trimester pertama."


"Bukannya berat kalau sudah besar kak." Jum menatap binggung.

__ADS_1


Viana hanya menghela nafas, Reva mengelus punggung Vi agar sabar menghadapi Jum.


***


__ADS_2