MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
SI KEMBAR


__ADS_3

Awalnya Reva berniat pergi ke rumah orangtuanya, tetapi tidak ingin banyak pertanyaan. Reva memarkirkan mobil di tempat para pedagang kaki lima berjualan, Reva duduk memesan banyak makanan. Seseorang mendekati Reva dan menahan sendok.


"Steven!" Reva menatap kesal, wajah sedih terlihat dari wajah Reva yang murung.


"Jangan sedih, kasihan anak kamu." Steven memberikan sapu tangan.


Reva kembali menangis, meminta Steven memakan semua yang dia pesan. Dengan tersenyum Steven akhirnya memakannya, padahal Steven sosok pria yang menjaga kebugaran tubuhnya, tidak sembarang makan tapi melihat kesedihan Reva membuat Steven tidak tega.


Reva mengelus perut besarnya, hatinya masih merasakan sakit. Kepala Reva juga terbaring di atas meja karena berat sekali untuk mengangkat kepalanya.


"Pulanglah, ini sudah malam. Kak Bima pasti sangat khawatir."


Mendengarkan ceramah Steven, Reva menyerahkan uang dan melangkah pergi. Steven mengirimkan foto Reva kepada Bima, juga mengikutinya atas perintah Bima.


Mobil Reva memang masuk area perumahan mereka, tapi berhenti di depan rumah Jum. Steven mengirimkan foto Reva melangkah masuk, Bima bernafas lega karena Reva masih memikirkan kandungannya.


"Reva, kamu dari mana tadi Bima mencari kamu?" Bisma mengikuti Reva duduk di sofa, Jum mendengarkan suara Bisma langsung keluar.


"Va kamu ada masalah apa sama Bima?" Jum duduk di samping Reva, mengusap punggungnya.


"Boleh menumpang tidur tidak, Reva capek,pengen istirahat." Suara Reva sedang menahan tangisnya, Bima meminta Jum untuk mengantarkan Reva ke ruang tamu.


Bisma menghubungi Bima untuk datang, tapi jangan menemui Reva dulu. Hatinya sedang terluka dan merasakan kecewa.


Cepat Bima berlari masuk ke rumah Bisma yang sengaja menunggu di pintu, Jum keluar mengatakan Reva tidur.


"Jum tidak ingin ikut campur, tapi apapun masalahnya tolong pikirkan kandungan mbak Reva,"


"Semuanya berawal dari makanan, aku menolak memakan jengkol dan meninggalkan Reva makan sendirian."


Bima duduk di sofa mengacak rambutnya, Bisma membawakan minum segar agar Bima lebih tenang.


"Mendingan, aku hanya karena menolak untuk mencuci kaki, semalam dia menangis."


"Aku jemput Windy dulu, malam ini tidur di sini saja." Bisma melangkah keluar, untuk menjemput Windy.


"Kak Bima langsung ke kamar saja, temani mbak Reva yang mungkin dalam mimpi juga menangis, kasihan anak kalian merasakan kesedihan ibunya."


"Iya Jum, terima kasih ya." Bima menarik nafas.


"Jangan banyak bicara, nanti membuat mbak Reva semakin menangis." Jum menghela nafas, pasti di dalam hati Reva juga kecewa terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan diri.

__ADS_1


Bima masuk ke dalam kamar, duduk di pinggir ranjang sambil mengelus perut Reva yang sudah besar. Seharusnya besok menjadi hari bahagia karena bisa melihat baby di dalam tapi mut Reva sedang rusak dan tidak mudah bagi Bima bisa mengembalikannya.


"Maafkan Papi membuat Mami bersedih, seharusnya sekalipun Mami memberikan racun Papi harus tetap meminumnya." Bima mencium perut Reva.


Bima mencium kening Reva, mengusap pipinya, hidung Reva juga merah, kantuk matanya semakin besar karena menangis.


"Maafkan Ayy sayang membuat kamu menangis sesedih itu, kamu boleh pukul Ayy, tapi jangan diamkan Ayy. Aku tidak sanggup Va." Bima mengusap matanya yang mulai mengeluarkan air mata.


Bima tidur sambil duduk di lantai, tangannya menggenggam tangan Reva erat. Sudah waktunya subuh Reva langsung bangun dan melihat Bima yang tertidur, Reva melepaskan tangannya ingin melangkah keluar.


Di depan pintu kamar, Tian dan Windy sudah berdiri. Mata Windy berkaca-kaca langsung memeluk Reva, dan langsung menangis.


"Mami jangan tinggalkan Windy, jika Mami ingin pergi bawa Windy juga. Windy tidak mau kehilangan ibu lagi, maafkan Windy, maaf ya Mami."


Teriakan tangisan Windy membuat dada Reva merasakan sesak, Bima sudah berdiri di belakang Reva. Tian juga melipatkan tangannya membantu Windy meminta maaf.


"Jangan tinggalkan kak Windy Mami, sejak lahir kami tidak diinginkan, baru saja kami merasakan keluarga, jangan berpisah lagi." Tian ikut menangis.


Reva memeluk Windy menghapus air matanya, mengelus kepala Tian dan menghapus air matanya.


"Tidak ada seorang ibu yang ingin meninggalkan anaknya, Mami bisa berpisah dengan Papi tapi tidak akan pernah berpisah dengan Windy. Jadi jangan pernah berpikir, Mami akan meninggalkan kamu, tanpa Bima kamu tetap putriku."


"Kita sholat dulu ya sayang,"


Jum dan Bisma sudah ada di ruangan musholla khusus untuk tempat sholat keluarga kecilnya, Jum sudah menyiapkan tiga mukenah, juga sarung untuk Bima.


Dalam diam semuanya melaksanakan sholat subuh, Bisma yang menjadi imam shalat. Bima tersenyum mendengar suara Bisma seperti saat kecil dulu, ayah mereka harus menyita mainan Bisma agar dia segera sholat.


Selesai sholat dan berdoa, Jum melihat Reva yang matanya masih sayu.


"Va, pengen makan apa, aku masakan. Hari ini kita ke Dokter bersama kak Vi juga untuk melihat jenis kelamin, jangan sedih lagi, kita akan segera mengetahui mereka." Jum menggenggam tangan Reva menguatkannya.


Reva mengelus perutnya, tersenyum sambil memeluknya. Hari yang sudah Reva tunggu, untuk melihat baby saat berusia lima bulan.


"Kembar tidak ya kak Jum?"


"Melihat ukurannya sepertinya kembar Va,"


"Punya kak Jum lebih besar." Reva mengelus perut Jum.


"Kalau cewek namanya adik Tian Bella dan Billa, kami keluarga B." Tian berbaring sambil mengelus perut Jum.

__ADS_1


"Kalau cowok?"


"Emmhhh, B Be Bi Bu." Tian coba memikirkan nama cowok untuk adiknya.


"Bubu dan Bobo!" Windy tertawa, wajah Tian langsung cemberut.


"Akan Tian pikirkan dulu, namanya harus bagus."


"Nama adik Windy, Winda dan Warda tapi kalau cowok Wildan dan Wilson."


"Namanya bagus," Jum suka dengan adik Windy yang inisial W.


"Kalau cowok dan cewek?" Bisma menatap Windy.


"Winda dan Wilda Bramasta." Windy memeluk Reva, mencium adiknya.


"Namanya bagus, Windy pintar mencari nama." Reva setuju dengan nama yang Windy berikan.


"Ayah, nama adiknya Tian kalau cowok siapa ya?" Tian meletakkan kepalanya di pangkuan Bisma.


"Bala-bala, bolo-bolo." Bisma tertawa, diikuti oleh yang lainnya.


"Soal nama nanti Bunda yang memikirkannya, lihat jenis kelamin dulu."


Jum langsung ingin keluar dan memasak, walaupun Jum memiliki asisten tapi dia tetap memantau makanan anak dan suaminya, Jum turun langsung untuk memasak, dan asisten hanya bertugas untuk membantunya saja.


Reva kagum melihat Jum yang juga sangat dekat dengan asistennya.


"Kak Jum kenapa masih memasak?"


"Karena Jum sudah biasa memasak, jadinya susah menghilangkan kebiasaan lama. Lagian Jum happy."


"Kak Jum, Reva pulang ya. Nanti jangan lupa antarkan makanan untuk sarapan, baru kita cek baby sama-sama." Reva melangkah pergi, Jum teriak meminta Reva membayar masakannya.


Di jalan pulang, Bima mengandeng tangan Reva dan Windy. Matahari yang masih baru terbit memperlihatkan seorang bocah laki-laki menggunakan sepatu roda dengan kecepatan tinggi.


"Tian ayo main!" teriak Ravi lewat, dan tidak lama bunyi kuat terdengar. Ravi nyungsep ke dalam semak bunga dan menghilang.


Bima cepat melangkah mencari Ravi, sedangkan Reva dan Windy tertawa terpingkal-pingkal sambil terduduk.


***

__ADS_1


__ADS_2