
Suara tangisan Winda pecah, Ar melepaskan infusnya langsung mendekati Winda yang menangis histeris.
Wira, Raka, Elang yang tidur satu kamar langsung bangun. Mereka berlari keluar untuk memberitahu keluarga soal keadaan Winda yang menangis histeris.
Suara tangisan Syila terdengar, Arwin yang biasanya diam juga menangis. Winda memeluk lembut Virdan yang menangis.
Ar tidak mengerti apa yang terjadi, tidak ada orang dewasa di dalam ruangannya. Hanya ada anak-anak yang semuanya terbangun.
"Winda ada apa?"
"Aunty Win kenapa?" Asih meneteskan air matanya, mendekati Arwin mengusap wajahnya agar diam.
Ar langsung berusaha menggendong putrinya, wajah Syila merah menangis histeris, tidak ada air mata yang keluar.
Suster berdatangan langsung mengambil Syila, keadaan langsung drop dimasukan ke dalam tabung kembali.
Bulan Bintang juga terbangun, mereka tidak menangis hanya mendengar suara. Kedua orangtuanya juga tidak ada di dalam ruangan.
Wira kembali lagi ke kamar, langsung melihat Winda yang sudah bisa merasakan lebih dulu apa yang terjadi.
"Aunty, Dede Vivi sudah tidak ada." Wira langsung menangis, Em juga langsung menangis adik mata coklatnya tidak bangun lagi.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun." Ar langsung lemas, kepala mengeluarkan darah kembali, suster langsung cepat mengobatinya.
Ponsel Winda berdering, panggilan dari Vira. Winda menangis histeris, Vira lebih kuat dari dirinya, karena Winda belum bertemu dengan Vivi makanya Vira ingin sahabatnya melihat putrinya meskipun sudah tiada.
Winda melihat Vivi dalam pelukan Wildan, Ar juga langsung melihat sambil meneteskan air matanya, suara tangisan terdengar masih memenuhi ruangan Vivi.
[Aunty Win Vivi pergi, maaf belum bisa bertemu. Kirim doa yang banyak.] Vira masih bisa tersenyum meskipun matanya sudah membengkak.
Dokter langsung mengambil Virdan, memasukkan dalam tabung kembali bersama dengan Syila.
Winda menangis menyentuh layar ponselnya, melihat putri kecil sudah tidak ada lagi di sisi mereka.
__ADS_1
"Jangan pergi Vivi, kami sangat menanti kehadiran kamu." Winda langsung jatuh pingsan.
Suara tangisan masih terdengar, anak-anak juga menangis bisa merasakan kesedihan kehilangan keluarga.
Hujan turun dengan derasnya, suara petir bergemuruh di atas langit. Menjadi saksi keluarga besar Bramasta sedang berduka kehilangan satu putri yang baru lahir.
Air mata menetes, Wira duduk menatap hujan dan petir. Merangkul kedua adiknya Asih dan Em yang terus menangis.
Di kamar sedang buruk, Winda bekali-kali pingsan, setiap bangun jatuh pingsan lagi. Anak-anak langsung menyingkir ke luar balkon kamar meskipun sedang hujan deras.
Hujan membuat tangisan duka mereka tidak terdengar, hanya bisa duduk diam tidak membuat masalah.
"Kak Wir, hati Asih sakit."
"Iya sabar, jangan membuat masalah beberapa hari ke depan keluarga kita sedang berduka." Wira mengusap air mata Asih.
"Kak Wir, kenapa Em menangis?" Tangisan Em terdengar kuat.
Wira memeluk adik kecil, mengusap air matanya menunggu orang tua mereka datang. Karena sedang sibuk saling menenangkan.
Melihat kakek neneknya terduduk lemas, Aunty Uncle yang menangis saling berpelukan, melihat bayi kecil dalam pelukan membuat hati Wira hancur.
Sungguh dirinya takut dengan kehilangan, mungkin selama ini tidak pernah tahu bagaimana perjuangan keluarganya.
"Aka, kamu melihat pertama kalinya keluarga kita bersedih, sekarang menjadi penerus yang kuat untuk keluarga Prasetya. Kembalikan senyuman keluarga kita."
"Kak, kakek selalu berkata tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk manusia. Di mana ada kehidupan, di sana juga ada kematian. Ada kesedihan juga kebahagiaan. Kehilangan ini bukan yang pertama, hanya saja kita yang pertama merasakannya. Jika kita bersedih, orang tua kita mungkin lebih sedih lagi, Aka percaya mereka orang kuat, juga akan bisa berdiri kembali, berjalan dan saling menguatkan lagi. Kita kirim doa yang banyak untuk Vivi." Aka mengusap air matanya, sejujurnya dadanya juga merasakan sesak.
Pintu balkon terbuka, Karin tersenyum melihat anak-anak saling merangkul. Perut Karin besar, karena sedang mengandung.
"Kalian sedih?"
"Iya Aunty."
__ADS_1
"Jangan berlarut-larut, tidak baik."
"Aunty ceritakan kesedihan yang pernah menimpa keluarga kami?" Asih menatap Karin yang berdiri menatap hujan.
Karin masih mengingat jelas cerita lama saat duka menyelimuti keluarga Rama, dia kehilangan kedua orangtuanya hidup yatim piatu, ada lagi duka saat Viana kehilangan sosok kakak dalam hidupnya.
Duka juga dirasakan oleh Bima dan Bisma saat kehilangan keluarganya, juga saat keluarga Arsen dan Prasetya mendapatkan kabar kecelakaan kedua Oma Viana dan Rama.
"Kalian tahu saat itu keluarga ini belum sebesar yang sekarang, belum ada sahabat, keluarga yang saling menguatkan. Hanya sendiri menguatkan diri sendiri, tapi semuanya mampu dilalui."
"Aunty benar, Wira sudah sering mendengarnya."
"Tangisan kehancuran juga dirasakan oleh Mommy kamu Wira, kehilangan calon suaminya yang jatuh di bawa arus air. Keluarga berduka juga sangat terpukul dan kehilangan. Menunggu sesuatu yang tidak mungkin terjadi, tapi usaha dan doa mengembalikan Daddy kamu setelah bertahun-tahun menghilang dan dikabarkan meninggal. Bukannya keluarga ini sangat kuat." Karin tersenyum melihat anak-anak kembali tersenyum.
"Mungkin hari ini berita duka sedang menyelimuti keluarga ini, tapi kalian sudah menjadi satu untuk saling menguatkan. Aunty Vira dan Uncle Wildan membutuhkan semangat dari keluarga, Dede Vivi membutuhkan doa dan keikhlasan. Sedih boleh, tapi jangan terlalu lama. Ayo bangkit." Karin mengusap air mata Em yang tidak ingin menangis, tapi air matanya keluar.
Tangan Elang menunjuk ke arah langit, Wira langsung berdiri melihat petir yang membentuk tulisan Arab.
"Apa artinya kak Wir? bukannya itu tadi Ar?" Elang langsung menatap kakak sepupunya yang tersenyum.
"Arum, namanya Arum." Wira tersenyum meminta adik-adiknya masuk.
Winda sudah bangun, menatap Virdan dan Syila yang masih di dalam tabung. Ar juga menatap istrinya yang masih menangis.
"Winda ingin memeluk Vira dan kak Wildan, mengucapkan belasungkawa." Winda memeluk suaminya.
Tian masuk melihat putra putrinya yang hanya diam sambil bermain kaki mereka, Ar meminta Tian membawa kedua anaknya ke atas ranjang mereka.
"Kak Tian titip Wildan dan Vira, maafkan kami yang tidak bisa hadir." Ar menundukkan kepalanya, merasakan rasa bersalah.
"Mereka berdua kuat Ar, subuh ini Wildan yang akan menyolatkan anaknya, langsung di makamkan di pemakaman keluarga. Kalian berdua harus kuat, Winda jangan menangis lagi. Kirim doa untuk Vivi." Tian mengusap air mata Winda, mengusap kepalanya.
"Kak, bagaimana keadaan Vira?"
__ADS_1
"Dia kuat, bahkan menguatkan yang lainnya. Vira berpesan titip Virdan, dia memiliki ikatan kuat dengan Vivi, jika menangis peluk dia karena berada dalam pelukan kamu, sama saja memeluk Papinya." Tian menenangkan Winda yang mengangguk kepalanya.
***