
Tubuh Reva langsung terkulai lemas, melihat foto pernikahan putrinya jatuh di lantai dan berhamburan.
Air mata menetes, Bima langsung membantu istrinya berdiri, mereka harus segera ke rumah sakit untuk melihat putri, menantu mereka.
Langka kaki Reva tidak bertenaga lagi, langsung masuk ke dalam mobil, Viana Rama juga sudah masuk mobil dan melangkah pergi.
Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat lama, Bima memeluk istrinya untuk sabar, mereka bisa menghadapi ujian seperti sebelumnya.
Mobil tiba, Bima Reva Rama dan Viana berjalan pelan mereka kehabisan tenaga mendapatkan kabar soal Vira Winda yang sedang hamil.
Wildan, Kasih, Binar juga Wira masih menunggu di ruang tunggu. Wildan melihat orangtuanya langsung menangis sesenggukan, karena bayi harus segera di lahirkan.
Cukup lama menunggu, operasi Vira selesai, Wildan langsung mempertanyakan keadaan istrinya, dokter mengatakan jika Vira baik-baik saja.
Wildan langsung masuk melihat dua bayi kecil berada dalam tabung, tidak bisa mereka sentuh. Air mata Wildan tidak tertahankan, bayi kecil masih harus dirawat intensif. Kondisinya yang masih lemah belum boleh di sentuh kedua orangtuanya.
"Maafkan Papi yang tidak bisa menjaga kalian, harus bertahan ya sayang."
Wildan melihat Vira yang masih belum sadarkan diri, mencium keningnya meminta maaf, karena gagal menjaganya.
Operasi Winda juga selesai, tangisan Reva terdengar kuat saat tahu putri koma. Seketika Reva pingsan, Bima juga hampir jatuh, Rama memeluk Bima agar berdiri untuk tetap kuat..
Viana menangis histeris, Wildan yang mendengarkannya juga langsung menangis, seluruh keluarga menangis.
Dua bayi kembar di keluarkan, Wildan semakin terpukul melihat dua bayi yang langsung dibawa pergi.
Sungguh sedih takdir mereka, lahir secara prematur, ibunya mengalami koma, sedangkan Ayahnya sampai detik ini belum ada kabar.
"Ayo kuat semuanya, kalian ingat saat Kasih koma, kita bisa melewatinya. Semua ini belum apa-apa kita masih harus kuat untuk twins A, juga menyemangati twins V." Ravi merangkul Wildan yang terlihat rapuh.
Wildan menganggukkan kepalanya, dia harus kuat untuk dua keponakannya, menjaganya sampai kedua orang tuanya bangun, bisa memeluk dan merangkul mereka.
__ADS_1
"Karena kita belum tahu nama twins A kita panggil mereka Queen dan king, kita tunggu sampai Winda dan Ar sadar dengan bangga memberikan nama untuk kedua bayi kembar mereka." Ravi mengusap dadanya, Ravi tahu betapa besarnya rasa cinta Ar kepada anaknya.
Setiap hari Ar tersenyum hanya untuk mengatakan perkembangan anaknya, orang yang paling menantikan kehadiran twins, tapi dia juga yang tidak bisa melihatnya.
Steven melihat twins A, langsung mengundangkan azan melihat si mungil yang sangat cantik.
"Kalian berdua harus bertahan, tunggu Umi bangun, terus Abi bangun. Nanti setelah tiga bulan baru kita peluk, anak hebat kuat semangat sayang." Steven memeluk Windy tidak tega melihatnya, Wira juga melihat dari jauh kasihan melihat twins A.
Windy sudah dipindahkan ke ruangan khusus, jika menemuinya juga harus menggunakan baju khusus.
Bima menggenggam erat tangan Winda, berbicara dengan putrinya, menceritakan masa kecil Winda.
"Sayang, kamu harus bangun. Ingat ada anak kamu yang membutuhkan pelukan ibunya, Papi tahu ini berat menerima kenyataan kondisi suami kamu, tapi Winda harus tetap bangkit. Kata Winda saat delapan bulan ingin melihat jenis kelamin, mereka sama seperti kamu satu wanita dan satunya laki-laki. Kalian bahkan belum memberikan mereka nama. Ayo Winda sayang bangun, kamu dengar Papi." Bima mencium kening, wajah, pipi, hidung, dagu, bahkan kedua mata Winda dicium dengan lembut.
"Papi anggap kamu sedang beristirahat, anak Papi jangan nakal kesayangan Papi tidak boleh pergi. Maafkan Papi Winda, karena belum siap kehilangan kamu." Bima terisak langsung melangkah pergi membiarkan Winda beristirahat.
Seluruh keluarga masih menunggu keadaan Ar, operasi selesai, Erik sudah keluar dengan keadaan matanya sayu, Billa juga keluar langsung melangkah pergi.
"Rik, kamu tidak pernah bicara seperti itu, katakan ada kemungkinan seperti biasanya." Ravi memegang pundak Erik , meminta untuk lebih tenang.
"Rav, kasus Ar dengan kasih beda, dia mengalami luka dalam, kepalanya yang terluka. Jikapun keadaan membaik, Erik tidak merekomendasikan Ar tetap bertahan."
"Tidak, jangan katakan sekarang kak, besok kita cek lagi, besoknya lagi, begitupun seterusnya. Winda juga koma, sedangkan twins sudah lahir, mereka belum punya nama, belum bisa bertemu Umi Abinya. Kak Erik tahu betapa kak Ar mencintai anaknya, Winda dan Ar akan bangun. Jika mereka tidak bangun, bagaimana Wildan menghadapi mereka?" Tangisan Wildan pecah, sudah lebih dari dua puluh tahun dia hidup, sulit sekali melihat air mata Wildan, tapi kali ini menangis sepuasnya meluapkan sakit hatinya melihat keponakan.
Erik memeluk Wildan, meminta maaf atas ucapan. Erik pastikan Winda dan Ar akan bangun.
Mereka akan menunggu dan menjaga twins A untuk pulih dan menemui orangtuanya.
Seluruh keluarga melihat empat bayi, dua perempuan dan dua laki-laki. Tidak ada lagi air mata mereka ingin terlihat baik demi twins.
"Cepat pulih, nanti bertemu sama Umi Abi." Reva tersenyum melihat cucunya yang sangat kecil.
__ADS_1
"Siapa pelakunya? kenapa bisa masuk perumahan?" Wildan menatap Tian, tatapan Tian menuju ke satu ruangan.
Tian menjelaskan tidak tahu apa konflik Winda dengan adik dari suaminya Umi Ar. Dia mencintai Ar sempat mengalami kecelakaan sampai akhirnya koma.
"Ohh, Ais. Dia pelakor yang pernah Winda ceritakan. Brengsek perempuan satu itu." Bella langsung melangkah, tapi banyak orang berlarian.
Erik langsung berlari, menuju ruangan Ar takut terjadi sesuatu. Tepat di jendela seorang wanita bunuh diri.
Semuanya saling tatap, melihat ruangan Winda, lalu ruangan Vira. Semuanya aman.
"Siapa yang bunuh diri dari kamar rawat Ar?" Erik berteriak kuat, melihat keadaan Ar.
Tangan Ar bergerak, matanya juga terbuka. Erik teriak kuat tidak perduli siapa yang mati. Gerakan mata Ar melihat sekitar.
"Kak twins A lahir, kak Ar cepat sembuh agar bisa melihat mereka. Kami semua ketakutan kak." Wildan bersyukur, tidak perduli siapa yang lompat.
Air mata Ar menetes, Erik mencari keberadaan istrinya yang mengambil alih operasi, sedangkan Erik yang mengawasi.
Di kamar Winda, Billa menangis menunjukkan foto twins A. Meminta Winda bangun, karena putra putri mereka lahir.
"Win, dulu kamu meminta aku menjadi dokter, aku menjalankan sekarang giliran kamu yang tepat janji, aku pernah mengatakan jika kamu harus menjadi seorang ibu." Billa mengusap rambut Winda, mencium tangannya.
Erik memeluk istrinya dari belakang mengatakan kondisi Ar memburuk. Billa langsung berlari karena dia juga yang memastikan Ar baik-baik saja.
Kamar Ar ramai, di lantai bawah lebih ramai lagi.
"Kak Erik."
"Kamu bohong soal keadaan Ar."
"Siapa suruh seorang dokter yang kerjanya di ruangan operasi bisa terluka."
__ADS_1
***