
Setelah berbincang banyak hal, Bima pamit undur diri. Dia langsung ke kota, melewati malam yang semakin larut, mata Bima juga sedikit mengantuk. Jika lanjut dia takut akan membahayakan dirinya dan penguna jalan lainnya.
Akhirnya Bima memutuskan untuk beristirahat sebentar ke hotel, mobil Bima berhenti diparkiran. Bima melangkah menuju resepsionis hotel untuk meminta kunci, di saat yang bersamaan Brit melihat Bima yang terlihat sangat lelah, mengikuti Bima masuk untuk masuk ke kamar hotel. Brit membuat video dirinya dan Bima yang di hotel menuju kamar, Bima tidak memperhatikan langkah Brit dan langsung masuk kamar. Selesai membuat video Brit mengirimkan ke Reva, Brit sudah mendapatkan kabar jika hubungan Reva dan Bima sudah mulai serius.
Brit menahan pintu Bima yang membuatnya keheranan, tatapan mata Bima dingin berbeda dengan Brit yang menggoda.
"Bima boleh aku masuk, ada yang ingin aku bicarakan soal Windy."
"Nanti saja, aku tidak punya banyak waktu. Kita bertemu dipersidangan, jangan coba menggoda aku Brit." Bima menutup pintu tidak perduli dengan caci-maki dari Brit.
Reva yang baru saja pulang bekerja melihat ponselnya, dan semakin marah saat melihat video Bima dan Brit bersama di hotel. Ponsel Reva melayang dan pecah berhamburan.
"Aku tidak punya harga diri, apa bedanya dengan kamu Bima. Dasar pria munafik, bersama mantan istri di hotel, kalian menjijikan."
***
Sepulang sekolah, Windy langsung berlari untuk menuju supirnya yang menunggu diparkiran, langkah kaki Windy terhenti. Dua orang anak remaja yang berdiri di depannya dengan tatapan penuh amarah. Windy tidak mengerti dan coba menghindar, semakin dia menghindar semakin kemarahan terlihat.
"Ada masalah apa ya kak?" Windy menatap heran, dia tidak pernah melakukan Kesalahan.
"Kamu putrinya Britania?"
"Iya kak, kenapa bisa mengenal Bunda?" Windy tersenyum.
"Siapa yang tidak mengenalnya, wanita murahan. Bisannya menghancurkan rumah tangga orang lain, tidak tahu malu. Kamu pasti calon penerus ibu kamu yang tidak punya hati."
"Maaf kak, jangan samakan Windy dan Bunda!" Windy mulai marah, dia diajari Papi soal kebaikan, tidak sedikitpun hal buruk Papi ucapkan. Walaupun Bunda tidak menyayanginya, tapi Windy tetap menghormatinya.
__ADS_1
Wajah Windy ditampar, rambutnya di jambak dan diseret ke gudang dan dipukuli. Windy melawan dan tidak terima dengan perlakuan kakak kelasnya yang menghakimi dirinya. Seorang anak kecil lebih muda dari Windy melemparkan batu untuk menolong Windy, setelah mereka pergi Windy menangis sesenggukan. Anak kecil yang menolongnya, hanya diam saja melihat Windy dari jarak yang sedikit jauh.
"Jangan kasihan aku!" Windy menatap adik kelasnya yang baru duduk di bangku kelas dua.
Dia mendekat dan membantu Windy berdiri, langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi.
"Siapa nama kamu? seperti aku pernah melihat kamu."
"Bastian, aku anak panti yang sering kamu dan Papi kamu kunjungi."
"Terimakasih Tian, senang mengenal kamu, jangan ceritakan sama Papi ya." Windy menatap Tian yang lebih mirip adiknya, wajah mereka juga hampir sama.
Tian mengabaikan Windy dan melangkah pergi meninggalkannya, Windy kembali teringat ucapan kakak kelasnya soal bundanya. Air mata Windy kembali menetes.
***
Pagi yang cerah, Reva dengan semangat menuju tempat pameran, untuk melihat kekalahan Ririn alias Mita, Reva sudah menunggu hari ini dengan semangat 45. Dia akan melemparkan bom, dan menyingkirkan Ririn dari dunia bisnis.
Reva keluar dari gedung pameran, masuk ke dalam mobilnya dia tersenyum penuh kemenangan, Ririn kalah dan menyatakan VCLO berada didaftar teratas. Saham VCLO juga naik, Reva juga membawa desain nya sampai keluar negeri yang akan dipasarkan bulan depan.
Sepanjang perjalanan Reva tersenyum, walaupun hatinya sedang terluka, dan bertekad melupakan Bima. Perkejaan menjadi obat terbaik saat patah hati.
Mobil Reva berhenti di depan lampu merah dan melihat Windy berjalan di trotoar sambil menundukkan kepalanya. Reva menghela nafasnya, masalah apalagi yang dilalui gadis kecilnya.
Beberapa anak remaja mengejek Windy membuat nya berlari, Reva melajukan mobilnya dan berhenti coba mengejar Windy yang masih menangis.
"Windy! Ayo ikut tante," Reva menahan bahu Windy untuk melihat kearahnya.
__ADS_1
Windy menggelengkan kepalanya, meminta Reva pergi dan jangan memberitahu Papi nya soal apa yang tadi Reva lihat.
Ririn berada di sana melihat pembicaraan Reva dan Windy sambil tertawa sinis. Dia memang gagal menjatuhkan VCLO, tapi menjatuhkan mental Reva cukup bagus.
"Reva! kamu mencintai Bima tapi sayang kamu tidak akan pernah bersatu. Aku akan membuat Bima membenci kamu, karena anaknya mati."
Reva hanya menghela nafas, dia membiarkan Windy pergi, dan mengikutinya dari belakang, walaupun Reva tidak bisa bersatu dengan Bima, tapi dia tetap menyayangi Windy.
Windy melihat lampu sudah berwarna merah, langsung berlari menyebrang jalan, Ririn menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi untuk menabrak Windy.
Reva melihat Ririn dari kejauhan menatap tajam Windy, Reva sudah menebak pikiran Ririn, tanpa berpikir panjang Reva ikut berlari mengejar Windy dan mendorong tubuh Windy kuat dari pinggir jalan.
Windy yang kaget langsung melihat kearah jalan, Reva sudah terlempar jauh, mobil yang menabraknya melarikan diri.
Bodyguard yang dikirim Rama khusus untuk mengawal Reva kaget, mereka mendampingi Reva dari kejauhan karena Viana yang berulah, memancing amarah Abi, yang mempunyai hubungan dengan dunia kejahatan, Rama mengenal Reva yang sifatnya mirip Viana. Pengawal terbagi dua ada yang menyelamatkan Reva, dan mengejar mobil Ririn.
"Mami maafkan Windy, seharusnya tadi Windy mendengarkan ucapan mami, Papi tolong Mami Reva." Tangisan Windy berteriak kuat memeluk erat Reva yang sudah tidak sadarkan diri. Baju Windy penuh dengan darah dari kepala Reva, tangisan Windy menjadi-jadi, banyak orang yang mengelilinginya.
Tubuh Reva langsung diangkat, untuk segera dilarikan ke RS, Windy ikut menggenggam tangan Reva yang penuh darah.
Bima yang sedang menuju rumah sakit mengantar Ravi sedikit pusing, jantungnya berdegup kencang. Ada perasaan buruk yang terjadi, Bima coba mengecek ponselnya. Pesan dari supir Windy kalau Windy pulang sekolah tapi tidak menemui supir, perasaan Bima semakin kacau. Bisma menatap kakaknya yang gelisah, tapi dia berpikir mungkin Bima mengkhawatirkan Ravi.
***
Rama mendapatkan panggilan dari pengawal Reva soal kecelakaan, Rama melihat wajah Bima yang masih fokus menyetir tapi tidak lama ekspresi khawatir mulai terlihat di wajah Bima, Rama menunda untuk memberitahu karena akan mengacaukan konsentrasi. Biarlah nanti Bima melihat di rumah sakit.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA.
***