
Setelah acara selesai, Reva dan Viana menemui ibunya Jum. Mereka bercerita santai sambil tertawa barulah Reva mengatakan keinginan mereka untuk pulang.
"Bu terimakasih sudah menyambut kita, sekarang kita mau pulang ke kota." Reva yang cempreng bicara lembut dan halus.
Ibunya Jum menangis sesenggukan, Reva memeluk dengan haru. Viana juga ikut memeluk sambil mengelus punggung ibu.
"Terimakasih karena kalian sudah datang, Reva dan Viana wanita hebat. Keluarga ibu sangat beruntung mengenal kalian berdua."
"Kita yang beruntung Bu, kak Jum selalu datang menghapus air mata Reva."
"Iya Bu, Vi juga berutang banyak terimakasih kepada Jum."
Ibu memeluk keduanya, Jum juga ikut mendekat sambil memeluk dari belakang. Suasana haru terasa, bapak Jum juga meneteskan air matanya.
"Mana Bu oleh-oleh Reva?" suasana haru langsung berubah menjadi tawa.
"Astaghfirullah Al azim, masih ingat juga ini anak." Ibu gemas mencubit pipi Reva.
"Reva suka gratisan Bu, kemarin juga kak Vi bilang mau minta sepuluh."
"Bohong Bu, Reva memang suka bikin malu." Viana menarik kuping Reva.
Tawa semua orang akhirnya terdengar, Reva juga menyapa yang lainnya untuk pulang. Mereka datang memberikan Reva beraneka macam makanan khas desa yang tidak ada di kota.
"Ya Allah Reva jadi malu, tapi tidak bisa nolak." Dengan senang hati Reva mengambil oleh-oleh.
"Sering-seringlah main ke sini Reva, kalian belum berkeliling melihat Desa."
"Iya nek, insyaallah ya. Reva juga punya sesuatu untuk nenek." Reva mengeluarkan sebuah kacamata rabun terbaru.
"Ya Allah, mata nenek jelas melihat kamu Reva, ternyata Reva cantik sekali."
"Karena itu Reva memberikan kacamata, biar nenek tahu kalau Reva memang cantik."
Jum meneteskan air matanya, kacamata yang Reva berikan sudah lama Jum mencarinya. Karena sangat sulit pembuatannya yang hanya ada di luar negeri tapi Reva rela terbang ke sana hanya demi mendapatkan kacamata dari perusahaannya langsung.
Dari pojokan tiga bocah saling pandang, mereka binggung melihat tangisan lalu tawa menangis lagi dan tertawa lagi.
Seluruh keluarga Jum mengantar ke depan rumah, Tian berada dalam gendongan Bisma. Ravi juga berada dalam gendongan Bisma hanya Windy yang terlihat cemberut.
"Kenapa si cantik cemberut? belum mau pulang ya Sayang." Bapak Jum mengelus pipi Windy yang langsung berlari ke dalam mobil dan teriak menangis.
__ADS_1
"Maaf ya pak." Bima ingin mendekati mobil tapi ditahan oleh Bisma.
"Biar aku kak, dia cemburu melihat bocah berdua ini." Bisma melepaskan Tian dan Ravi langsung mengetuk pintu mobil.
Bisma membawa Windy dalam pelukannya, tangisan Windy sudah reda tapi kepalanya masih tersimpan dibalik leher Bisma.
"Windy akan tetap menjadi ratu pertama, menjadi kesayangan Uncle. Jangan menangis ya." Windy langsung menggagukan kepalanya, mencium pipi Bisma dan memeluknya.
Melihat Windy Ravi yang dulu selalu dimanja Bisma merasa diduakan, cepat Ravi memanjat Bisma untuk naik dan memeluknya. Bisma hanya bisa membiarkan Ravi yang juga sangat dia sayangi. Sekarang giliran Tian yang cemberut, cepat Bisma menarik Tian dalam pelukannya. Kini ketiganya sudah bergantung sambil tertawa.
Bima langsung mengambil Windy, Rama juga mengambil Ravi. Tian juga diambil oleh kakeknya.
Viana dan Reva memeluk Jum lembut, mereka akan kembali ke kota. Jum dan Bisma akan menyusul minggu depan.
"Kami pamit semuanya, assalamualaikum." Bima menyalami kedua orangtua Jum, dan melambaikan tangan kepada penduduk.
Bima membawa mobil Reva bersama Windy, sedangkan Rama bersama Viana dan Ravi.
"Rama, pelan-pelan saja kita bisa berkali-kali istirahat kasihan anak dan istri kamu."
"Iya kak."
Mobil melaju meninggalkan kediaman Jum, perjalanan panjang akan mereka lewati. Windy masih asik melihat ke belakang belum rela untuk pulang.
"Iya sayang,"
"kapan kita tinggal satu rumah sama Mami."
"Secepatnya sayang,"
Di belakang Windy berbaring santai, karena tempatnya duduk sudah mirip tempat tidur agar Windy nyaman. Reva memutuskan tidak tidur agar menemani bina berbicara.
Mereka bercerita soal pekerjaan, Bima yang sudah mundur dari LOVER membuka cabang lagi untuk perusahaannya yang diolah oleh orang kepercayaan.
"Ayy, nanti setelah kita menikah Reva boleh kerja."
"Kalau tidak mau juga lebih baik, fokus sama keluarga tugas mencari uang biar aku."
"Kasus sama Brit, status Windy."
"Mau Brit ataupun ayah kandung Windy, keduanya tidak bisa mengambil Windy lagi. Dia putriku, Bisma juga akan segera mengambil jalur hukum untuk Bastian."
__ADS_1
"Baguslah Ayy, Windy haus kasih sayang, dia ingin dimanja, dicintai, dan memiliki keluarga utuh." Reva menatap Windy yang sudah terlelap tidur dengan nyenyak.
"Iya Va, aku bisa memenuhi materi tapi untuk waktu, aku belum bisa."
"Windy, Ravi juga Bastian memiliki nasib yang sama. Windy kehilangan sosok ibu, tapi ada Papi yang melindunginya, Bastian kehilangan ibu dan ayah tapi memiliki Bisma, Ravi juga pernah kehilangan sosok Daddy tapi memiliki mommy. Reva ingin mereka selalu bahagia Ayy."
Bima menggenggam tangan Reva, menyatukan tangan mereka. Bima menatap Reva sekilas lalu fokus kembali.
"Ravi sudah bahagia bersama kedua orangtuanya, Bastian juga sudah memiliki kedua orangtua, sisa Windy yang masih proses. Kamu mau menjadi ibu untuk Windy, mendampingi aku sampai maut menjadi pemisah." Bima membawa tangan Reva mendekati bibirnya, dan menciumnya.
Bima menahan tawa, kata-kata yang baru saja dia ucapkan naluri dari hatinya. Reva mendekati Bima, memeluk erat lengannya, senyum bahagia Reva rasakan.
Reva mendengarkan ketulusan dari ucapan Bima, terasa dari hati ke hati. Genggaman tangan mereka belum juga terlepas, mata Reva juga masih asik menatap wajah om Duren.
"Kenapa tidak dijawab Va? ada keraguan di hati kamu."
"Om, Reva salah tidak mengejar cinta Om. Reva terlihat murahan tidak, Om pernah membenci Reva." Reva merasakan genggaman tangan Bima semakin erat.
"Terimakasih karena pernah mengejar cinta Om Reva, terimakasih karena bertahun-tahun tidak menyerah. Terimakasih karena sudah membuat seorang Bima jatuh cinta, aku tidak pernah membayangkan bisa jatuh cinta Va. Membenci tidak pernah terlintas dipikiran Om, sejak awal Om merasa terganggu saat kamu mandi hujan dalam pelukan Ivan."
"Seriusan Om!" Reva tersenyum.
"Va, kita pernah bertemu saat kamu kecil."
"Kapan Om?"
"Masih ingat tidak dengan pemuda yang menolong kamu dari kejaran anjing, saat kamu terjatuh."
"Iya Reva ingat, Om bule tampan yang membantu Reva saat lagi jualan kue dikejar anjing. Kue tumpah semua Om itu yang membeli juga mengobati kaki Reva."
"Pria itu aku Va, saat melihat foto masa kecil kamu di rumah orangtua kamu akhirnya aku tahu, kamu gadis kecil itu."
"Takdir mempertemukan kita kembali Om." Reva meneteskan air matanya.
Bima menghapus air mata Reva, sambil tersenyum. Karena si kecil yang dulu sangat kuat sudah tumbuh menjadi bidadari surga yang sangat cantik juga baik hati.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***