
Penampilan Ar sudah rapi, dia dan Winda akan bergabung dengan acara pameran untuk para pebisnis dalam dan luar negeri.
"Astaghfirullah Al azim, ganti Win tidak rela aku melihat kamu menggunakan baju ini." Ar menggelengkan kepalanya melihat Winda mengunakan baju terlihat lehernya.
"Astaga, ini seksi."
"Gunakan hijab saja, pakai baju sopan." Ar tidak mengizinkan Winda keluar jika menggunakan baju yang membuka aurat.
"Laki-laki gitu, istri dilarang seksi, tapi mata jelalatan melihat yang montok, seksi, dada besar, body semok." Winda menatap tajam.
Ar tetap pada pendiriannya, jika Winda tidak ingin berganti baju lebih baik mereka tidak pergi.
Terpaksa Winda menggunakan hijab, baju tertutup tetapi masih tetap modis. Baju apapun yang Winda gunakan, dirinya tetap cantik.
"Selesai." Winda berputar di depan Ar yang sedang berbicara dibalik telepon.
"Makin cinta jika hijabnya terus digunakan." Ar mencium kening Winda, bersiap untuk pergi.
Di perjalanan mereka melihat indahnya negara Belgia, saat malam sungguh indah melihat lampu kota.
Mobil tiba di tempat pameran, Winda keluar bersama Ar didampingi oleh beberapa staf Ar yang ikut serta.
Kedatangan rombongan disambut baik, langsung berjalan masuk untuk bergabung dengan banyak pengusaha.
Senyuman Winda membuat banyak orang terpesona, wanita cantik dan tampan menjadi pasangan paling serasi.
Pembahasan soal bisnis cukup panjang, Winda mulai merasakan bosan melangkah keluar. Bodyguard Ar langsung mengawasi Winda dari jarak jauh.
Winda berkeliling melihat indahnya lukisan, semua lukisan memiliki harga yang fantastis. Winda membeli beberapa lukisan, meminta dikirim ke Indonesia dan Paris untuk kedua Maminya.
Beberapa wanita dari istri pejabat membicarakan Winda menggunakan bahasa mereka, senyuman Winda terlihat, dia mengerti banyak bahasa, hanya saja tidak tertarik untuk menggunakannya.
Bagi Winda dia cinta negaranya, tidak perduli sebaik apapun negara luar dia tetap cinta lokal.
Baru saja Winda menyentuh lukisan, tubuhnya didorong hampir jatuh. Tangan Winda menahan bodyguard, membiarkan orang kampungan yang mencoba mencari masalah dengannya, belum tahu saja buruknya kepribadian Winda jika diganggu.
"Nona, baik-baik saja."
"Tentu, berjalan di sampingku sebagai teman. Aku takut lepas kendali." Winda tersenyum berjalan santai ke arah tempat lain.
"Nona ini lukisan terbaik."
__ADS_1
"Kamu mengenal pelukisnya? atau kamu yang melukis. Siapa nama kamu?" Winda menatap wanita tinggi berkulit sawo matang di sampingnya.
"Agnes nona."
"Nama yang cantik, panggil saja Winda jangan nona, karena kita tidak bersaudara." Senyuman Winda terlihat, meminta lukisan dibungkus, mengirimkan ke alamat Agnes sebagai kenang-kenangan.
"Terima kasih Winda."
"Iya, apa pelukisnya kekasih kamu. Mencintai memang indah, tapi jika terlalu berlebihan hasilnya tidak baik." Senyuman Winda terlihat, langsung melangkah cepat saat melihat Ar.
Seorang wanita berlari ingin menghalangi jalan Winda, suara terjatuh terdengar kuat, teriakan juga menggema.
Senyuman Winda sinis, dia menendang kuat kaki sampai patah tulang. Agnes langsung merangkul Winda.
"Jangan khawatir, sejak kecil kami sudah diajarkan mandiri. Jangan diganggu jika tidak ingin cacat." Winda melangkah pergi.
Ar langsung mengejar Winda, mengikuti langkah istrinya yang terlihat emosi.
"Maaf jika aku mirip banteng yang keluar kandang, aku sudah berusaha menahan diri, tapi mereka memancing." Winda teriak kuat, membenci kebiasaannya yang emosian.
Ar langsung memeluk erat, Windanya anak baik. Tidak pernah menyakiti orang jika orang tidak menyakitinya.
Jika ada yang terluka karenanya, pasti kesalahan sendiri. Di mata Ar Winda wanita yang tidak mempunyai kelemahan, dia sempurna dalam banyak hal hanya saja banyak orang tidak bisa menerimanya, karena ingin seperti dirinya.
"Dia mendorong Winda, dia juga berniat membuat Winda terjatuh."
"Aku percaya sayang, kamu tidak harus menjelaskan. Aku mengenal baik kamu, jahil, cerewet, ambekkan, manja, tidak ingin kalah." Pelukan Ar erat, mereka langsung berjalan untuk kuliner.
Ar mengirimkan pesan untuk sekretaris, menyelesaikan masalah di pameran.
Winda tersenyum bisa melihat tempat makan halal khas negaranya, Winda langsung makan dengan disuap. Keduanya tidak ada canggung sama sekali menjadi pusat perhatian.
"Besok kita ke mana lagi?"
"Jepang, perjalanan cukup jauh." Ar tersenyum menggenggam tangan Winda, meletakan di pipinya.
Selesai mengisi perut, Winda dan Ar kembali ke hotel, mereka masih harus pergi ke negara lain.
"Malam ini kita harus tidur cepat, besok bangun pagi."
"Kita tidak membuat twins?" Winda menutup mulutnya, kebiasaan sekali mulutnya yang selalu membuat malu.
__ADS_1
Ar tersenyum saja, langsung diam sedangkan Winda memejamkan matanya menahan malu, sungguh harga dirinya hilang.
Sampai di hotel Winda berendam air hangat, Ar masih sibuk membicarakan soal pekerjaannya.
"Winda." Ar membuka pintu tersenyum melihat Winda bermain game.
Winda tidak sadar jika Ar memanggilnya, langsung masuk ke dalam bathtub memeluk Winda.
Tatapan Winda tajam, setelah mendapatkan ciuman langsung tersenyum. Ar melihat Winda yang bermain game bersama Bella, tidak tahu akan menjadi apa anaknya Bella.
"Sini aku yang memainkannya Win." Ar mengambil alih ponsel Winda.
Bella terkenal dengan bisnisnya, dia juga memiliki perusahaan game online yang cukup terkenal, keahlian Bella dalam meretas cukup baik.
Ar tersenyum berhasil mengalahkan Bella, Winda bertepuk tangan karena dia tidak pernah bisa mengalahkan Bella.
Melihat dirinya kalah, Bella menangis histeris membuat Tian binggung. Setelah mendengar cerita langsung tertawa, memeluk istrinya yang sedang hamil besar sangat cengeng.
Bella mengirimkan pesan, mengutuk Ar yang mengalahkannya. Perasaan Ar langsung tidak enak, langsung ingin menghubungi Bella meminta maaf.
Winda tertawa, sudah menjadi kebiasaan mereka saling ejek. Ar jangan mengambil hati apapun yang dikatakan Bella, Vira dan Winda yang hobi mengutuk orang.
"Sayang, jaga ucapan. Nanti kalau twins mendengar bagaimana?"
"Menjadi urusan Abi untuk mengajarinya." Winda tertawa melihat wajah binggung suaminya.
***
Tengah malam Winda terbangun, melihat ranjang sebelahnya kosong mendengar sayup-sayup suara.
Ar masih melakukan panggilan soal pameran, wanita yang tendang patah kaki, bahkan buruknya dia hampir keguguran.
Mungkin memang bukan salah Winda, hanya saja karena masalah ini hampir mencelakai janin yang tidak bersalah.
Air mata Winda menetes, ada rasa bersalah dihatinya seandainya dirinya yang hamil pasti sangat marah.
Ar melihat Winda menyentuh perutnya, pelukan Ar erat meminta Winda tidak memikirkannya.
"Winda tidak pantas menjadi seorang ibu."
"Jangan bicara seperti itu, kamu juga tidak sengaja. Dengarkan aku Winda, semua orang memiliki emosi, tapi cara mereka yang berbeda untuk mengendalikannya. Jika nanti kamu emosi dan marah ingatlah bagaimana lembutnya Papi kepada kamu." Ar memeluk menenangkan Winda dari rasa bersalah.
__ADS_1
***