MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
KELUARGA BAHAGIA


__ADS_3

Rencana perayaan ulang tahun ke 2 twins W twins B juga Vira akan di adakan di kampung nelayan, tempat pariwisata terbaik juga sudah tersebar ke luar negeri, pengunjung bukan hanya orang dalam tapi penuh dengan para bule.


Bima menyewa tempat khusus untuk perayaan ulang tahun putra dan putrinya, kedua keponakan kembarnya, juga Vira, sekaligus perayaan ulangtahun Pernikahan Reva Bima yang ketiga.


Keluarga Bima pergi lebih dulu untuk bersantai, sambil melihat persiapan yang dia minta. Selama di perjalanan, Reva terus tersenyum dulu dia perna melarikan diri dari Bima dan beberapa sembunyi kampung nelayan, tanpa Reva ketahui Bima menjadi orang yang menjaga ketat pembangunan bersama Romi, kini kampung yang dulunya jauh dari pandangan pemerintah menjadi kebanggaan kota tersebut.


"Ayy, waktu cepat berlalu, hanya hitungan tahun tempat ini menjadi perhatian banyak orang."


"Iya sayang, kita berhasil menaikan perekonomian masyarakat, warga lokal sukses di kampung sendiri."


"Berapa banyak kamu habis uang dalam pembangunan Bima Bramasta?" Reva menatap suaminya, target pembangunan paling cepat 10tahun tapi Bima bisa membuatnya menjadi hanya butuh waktu tiga tahun.


"Tidak terhitung sayang, pembangunan penginapan saja ratusan orang, belum bangun restoran, tempat beribadah, pemandian air hangat, restoran laut, bahkan bangun jembatan saja hampir 300 orang pembangun dengan menggunakan puluhan arsitek."


Reva tersenyum Bima memang jika melakukan sesuatu tidak pernah nanggung, kampung nelayan masih sangat terjaga alamnya bahkan ada area perjalanan bawah laut yang akan dibuka dalam 2tahun.


"Ayy Reva dengar Rama juga menyumbang di sana?"


"Iya, dia menyumbangkan 3 kapal pesiar yang bisa digunakan untuk berlayar bagi pengunjung, Bisma juga menyumbangkan 15 motor boat, sedangkan Ammar menyumbangkan 5 Speed boat."


"Wow, Reva ingin mencoba semuanya."


Dengan perasaan bahagia Reva mencium pipi Bima, Windy yang duduk di tengah kedua adiknya menutup mata dua bocah juga matanya.


"Mami!"


"Iya maaf Windy sayang, mami lupa ada kalian."


"Papi Om bule ikut tidak di acara ulangtahun twins."


"Tidak sayang, dia sedang di LN dan menetap di sana?"


Wajah Windy langsung sedih, Reva melihat kekaguman yang sangat besar di mata Windy untuk Steven. Tapi tidak mungkin Windy menikah dengan lelaki dewasa yang hampir seumuran Maminya.


Sesampainya di kampung nelayan, Reva berlari memeluk Tante Ais. Reva menangis haru melihat Tante Ais bersama anak-anak juga suami barunya yang jauh lebih muda, Tante Ais juga berubah sangat cantik.


"Bagaimana perkembangan penginapan Aunty?"


"Jika ingin penginapan besar letaknya di sana, tapi jika ingin menginap di dekat pantai juga banyak penginapan rumah mini."

__ADS_1


"Penginapannya bagus sekali Papi, rasanya seperti sedang camping tapi di pinggir laut. Tempat ini indah sekali." Windy kagum melihat tempat yang sangat indah, bangunan tersusun rapi.


Tidak lama seseorang melambaikan tangannya, Romi datang menjabat tangan Bima dan Reva, juga terpesona melihat kecantikan Winda yang berada dalam gendongan Windy, sedangkan Wildan di gedong Bima.


"Papi, ada paus." Wildan menunjuk ke arah lautan luas, Bima menatap Romi yang akhirnya bisa melihat paus yang menjadi incaran beberapa pengamat paus, ternyata dia mampir ke kampung nelayan.


Romi langsung menghubungi orang yang meminta bantuan, dengan cepat banyak kapal langsung berlayar mengepung paus, pinggir pantai menjadi ramai tontonan, beberapa hari ini memang ada larangan untuk menyelam karena ada paus yang masuk.


"Mami paus bahaya tidak?"


"Bahaya, dia lebih mematikan dari pada hiu. Paus jenis ini disebut paus pembunuh, habitat sudah berkurang, kelestarian harus di jaga."


"Dia berbahaya kakak, kenapa harus di jaga?" Winda masih tidak puas, dia kesal melihat paus.


"Karena dia jenis paus yang hampir punah,"


"Papi, paus ini seperti menyasar, dia tidak biasanya berada ditepian pantai."


Bima jika bicara dengan Wildan harus dengan logika, kecerdasan Wildan sangat tinggi sehingga mudah mengerti sesuatu. Rev juga salut dengan putranya, semua jenis pelajaran dia telan.


"Mungkin sayang, Papi bukan pawang paus."


Reva langsung tertawa lepas, melihat Bima yang hanya bisa diam jika putranya sudah bersuara. Paus berhasil di bawa ke laut lepas, berenang bebas tanpa menganggu hewan dan manusia di tepian pantai.


"Papi ada paus lagi?" semuanya orang panik mendengar teriakkan Winda.


"Itu lumba-lumba Winda Bramasta!" Wildan menatap adiknya tajam, Winda langsung menangis memeluk Reva.


"Wildan! tidak boleh bicara dengan nada marah begitu, adik kamu tidak tahu, kamu sebagai kakak harus menjelaskan dengan baik."


"Winda bukan tidak tahu tapi buta Mami, lihat gambar itu bisa bedakan paus dan lumba-lumba."


"Mi mi, Winda tidak tahu ya, dia lompat wi wi tidak melihat jelas."


Reva menghela nafas di usia 2tahun kedua anaknya sudah lancar bicara, karena Bima tidak pernah berhenti mengajak keduanya terus berkomunikasi, baik secara langsung via pendengaran, gerakan tubuh, Bima sangat mengutamakan komunikasi yang baik, bahkan Wildan sudah bisa menggunakan bahasa Inggris dan Arab, Bima juga sudah mengajari kedua anaknya untuk beribadah sejak usia dini.


Wildan sangat cepat menangkap, berbeda dengan Winda yang pemalas tapi bukan berarti dia tidak cerdas. Bima tidak pernah memaksa tubuh kembang mereka.


Bima datang bersama Windy, membawa makanan seafood. Winda masih saja cemberut, melihat gambar jenis hewan laut, belajar membedakan ikan hiu, paus, dan lumba-lumba.

__ADS_1


"Kakak, hiu dan paus berbahaya karena tubuh mereka besar, terus itu ikan kecil kenapa giginya besar." Winda mendekati Wildan yang sedang memakan udang.


"Dia ikan jenis piranha, dia tidak ada di Indonesia, dia jenis ikan yang mematikan, salah satu jenis ikan pemakan daging."


"Dia adanya di mana kak?"


"Amerika,"


Bima tersenyum melihat pengetahuan Wildan yang cepat, walaupun sikapnya dingin kasih sayangnya untuk Winda dan Windy sangat besar, Windy sangat takut mengupas kulit udang, Wildan memberikan piringnya untuk kakaknya.


"Kak ikan piranha pernah memakan orang?"


"Beritanya pernah, dia hidup berkelompok dan menyerang mangsa bersamaan."


"Kalau ikan lele kak?" suara sendok Wildan terbanting, Winda sudah berlari memeluk Bima, sedangkan Windy dan Reva hanya tertawa.


"Apa sangkut pautnya piranha dan ikan lele." Gumam pelan Wildan kesal, otak Winda tidak pernah jalan pada tempatnya.


Keluarga kecil Bima makan bersama menikmati pantai, selesai makan Windy dan Winda bermain kejar-kejaran di pinggir pantai, Wildan hanya berjalan santai sedangkan Reva Bima saling memeluk pinggang.


"Mami Papi ayo kita berfoto," teriak Windy menyusun kedua adiknya.


Tawa bahagia terlihat, Winda tersenyum manis, Windy juga tersenyum bahagia hanya Wildan yang berwajah datar.


"Wildan, ayo senyum." Windy memberikan perintah yang wajib Wildan lakukan.


Lima orang di dalam foto tersenyum bahagia, Bima mencium kening Reva penuh rasa bahagia.


"Terima kasih sudah memberikan Keluarga bahagia," Bima memeluk Reva penuh cinta, Windy memotret kebahagiaan orang tuanya.


"Terima kasih ya Allah atas kebahagiaan ini, Windy beruntung menjadi putri Bima dan Reva menjadi kakak untuk Wildan dan Winda. Biarkan Keluarga kami terus bahagia, berikan kesehatan untuk kedua orang tua kami." Windy memeluk kedua adiknya dengan gemas.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2