
Steven sudah kembali ke kamarnya, Windy duduk menggenggam tangan Stev meminta maaf karena dirinya Stev terluka.
Tawa Steven terdengar, Windy yang bersedih, Reva yang masih marah, belum lagi si kecil Winda yang mendapatkan teguran.
Bima duduk di depan Winda, menatap putrinya yang baru saja membuat ketiga kakak wanitanya menangis.
"Winda tidak boleh seperti tadi?"
"Mereka yang ingin menangis, Winda hanya membantu."
"Bella tidak ingin menangis, Vira saja yang ingin menangis." Bella mengusap ingus dari hidungnya.
"Winda jahat, lihat jempol Vira hilang satu." Vira menghitung jari kakinya.
"1,2,3 ... itu ada 10, Vira bodoh tidak bisa menghitung." Winda duduk bersama Vira, Bella dan Billa menghitung jarinya.
"Kepala Billa sakit, rasanya rambut Billa rontok."
"Maaf ya kak Bil." Winda memeluk erat Billa.
Reva tersenyum melihat putrinya, mencium ketiga tangan kakak wanitanya meminta maaf, berjanji tidak nakal lagi.
Langkah kaki Reva keluar kamar, duduk di ruang tunggu, air matanya menetes merasakan sesak dadanya.
Windy melangkah keluar berlutut di kaki Reva meletakan kepalanya di paha Maminya. Air mata Windy juga menetes.
"Maafkan Windy Ma, menjadi dewasa ternyata sulit."
Tangan Reva mengusap kepala Windy, tidak ada jawaban dari mulut Reva hanya suara tangisan yang terdengar.
Bima keluar melihat Reva yang menghapus air matanya, duduk di samping Reva mengusap pipi mencium keningnya.
"Maafkan aku Va, terlalu banyak air mata yang kamu keluarkan." Bima memeluk erat Reva memintanya berhenti menangis.
"Ay pasti bosan hidup bersama Reva, karena Reva tidak bisa menjadi wanita impian Ay."
"Kamu tidak perlu menjadi apapun, seperti ini saja sudah menjadi wanita impian dalam hidupku. Va kamu wanita satu-satunya yang aku cintai, apapun kesalahan kamu tidak sedikitpun mengubah rasa cintaku." Bima mencium tangan Reva.
Di kamar Viana, Jum, Rama, Bisma pamitan bersama anak-anak. Steven harus beristirahat, dia masih membutuhkan pemulihan.
Wildan duduk di samping Stev, menatap Steven yang berusaha terlihat kuat.
__ADS_1
"Om Stev, Wildan bisa menyingkirkannya secara halus. Dia membuat Mami Papi bertengkar, membuat air mata kedua orang tua Wildan menangis."
"Siapa yang ingin kamu singkirkan? Lukas."
"Iya,"
"Wil, Om Stev tahu kamu sangat jenius, tapi jangan pernah kamu gunakan kemampuan untuk melakukan kejahatan, hidup normal seperti orang lain, membunuhnya hanya akan menambah musuh. Om Stev minta satu hal dari kamu jaga nama baik keluarga, juga lindungi orang yang kamu cintai, jangan pernah kamu melihat kehebatan seseorang sehingga ingin mengejarnya. Kamu sudah istimewa Wildan." Steven mengusap kepala Wildan.
"Om Stev sudah tua, ucapan Om sama seperti Papi."
Steven tertawa, memeluk Wildan mengacak rambutnya. Stev meminta Wildan bertualang memuaskan dirinya sampai menemukan kepuasan juga kedewasaan, barulah Wildan kembali ke keluarga, juga melanjutkan untuk melindungi keluarga.
Stev sudah banyak melihat anak jenius yang salah arahan, mereka tersandung kasus yang harus Stev luruskan. Wildan spesial karena dia tidak memiliki kekurangan, hanya binggung membawa kemampuannya ke mana.
"Setelah Wildan puas apa yang harus Wildan lakukan?"
"Menikah, Wildan harus menikah agar Mami kamu yang setengah waras bisa menggendong cucu."
"Wildan masih kecil."
"Om tahu, nanti kamu akan mengerti setelah dewasa. Ingat berhati-hati dengan orang di sekitar kamu."
"Om sudah tahu jika sahabat kak Win Lukas orang jahat?"
"Apa tidak berbahaya jika dia dibebaskan?"
"Tidak Wil, pukulan dan tendangan Mami kamu sudah menjadi senjata mematikan, membuat trauma yang sangat besar." Stev menggaruk tengkuknya.
Wildan melangkah keluar, Steven sudah tertidur kembali. Saka berjaga bersama Ghina. Sedangkan Bima masih di luar berbicara dengan Raja Hanz.
Raja Hanz mengucapkan selamat datang, meminta maaf karena tidak ada penyambutan. Bima menyambut tangan Raja Hanz memeluknya.
Reva memalingkan wajahnya tidak ingin menyapa Raja Hanz, Bima sudah menegur tapi tetap saja Reva menolak.
Tatapan mata Reva tajam melihat Raja Hanz, banyak sekali caci maki yang ingin Reva utarakan kepada Raja Hanz. Senyum Raja Hanz terlihat meminta Reva boleh memarahinya.
Reva langsung berdiri memukul punggung Raja Hanz, semua orang kaget terutama Windy dan Atha. Viana dan Jum menahan tawa, Bisma dan Rama hanya bisa menghela nafas melihat Reva yang suka main tangan.
Suara teriakan Reva tinggi, memarahi Raja Hanz yang tidak bisa mendidik istrinya. Bentakan Reva juga nyaring terdengar mengatakan Raja Hanz Ayah tidak bertanggung jawab, selama 17 tahun membiarkan Atha terluka, bahkan beraninya Raja Hanz menginginkan Windy kembali.
Seharusnya Raja Hanz malu kepada kedua anaknya, karena Raja Hanz gagal melindungi keluarga juga kerajaan. Selama ini Raja Hanz berpikir dia sudah menyelamatkan ibunya, juga kerajaannya, tapi bagi Reva bahkan Raja Hanz juga gagal menyelamatkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Air mata Raja Hanz menetes mendengar kemarahan Reva, ucapan Reva tidak ada yang salah. Dia memang gagal, tapi setidaknya Raja Hanz ingin sedikit saja diberikan waktu untuk memperbaiki dirinya, juga membanggakan anaknya.
"Maafkan aku, ucapan kamu benar."
"Ayah, Atha bangga kepada Ayah." Athala memeluk Raja Hanz menghapus air matanya.
"Maafkan Ayah Atha, kamu boleh menghukum Ayah. Ucapan Mami Windy benar, hancurnya kalian karena kebodohan Ayah yang dari dulu tidak pernah bisa tegas."
"Tidak Ayah, bagi Atha Ayahanda sudah melakukan yang terbaik."
"Ohhh, berarti kamu mengatakan jika aku salah." Reva melotot menatap Atha.
"Tidak Mami."
"Mami, aku bukan Mami kamu." Reva melotot tajam.
"Mami benar, tapi bagi Atha tidak ada Ayah di dunia ini yang menginginkan kehilangan keluarganya, di sini bukan hanya kak Win, Atha yang terluka, tapi Ayah juga. Mami boleh memarahi Atha."
"Jangan panggil aku Mami."
"Sudah sini jadi anak Bunda saja." Jum mengusap kepala Atha.
"Bunda Jum memang cantik, lembut seperti cerita kak Windy."
"Sekarang kamu mengatakan jika aku jelek." Reva menghentak kakinya.
"Mami cantik sangat cantik, Bunda juga, Mommy Viana juga." Atha tersenyum.
"kamu pintar mengambil hati." Viana tersenyum.
Steven keluar dari kamarnya sudah menggunakan baju biasa, langsung merangkul Windy. Berada di rumah sakit membuat Stev tidak bisa tidur karena suara besar Reva.
"Stev kamu ingin ke mana?"
"Sebaiknya kita kembali, Steven baik-baik saja."
"Yeee kita pulang." Winda, Vira dan Bella Billa tertawa, mereka ingin naik kereta kuda seperti ucapan Steven.
Raja Hanz meminta semua orang menginap di kerajaan, mobil kerajaan akan segera menjemput. Steven membisikan sesuatu kepada Atha, baru menyampaikan kepada Ayahnya.
Senyuman Raja Hanz terlihat menatap empat anak kecil yang sangat bahagia, dia akan mengabulkan keinginan keempat putri Bramasta dan Prasetya sebagai sambutan kedatangan tamu kehormatan.
__ADS_1
***