MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 DATANG MEMBAWA LUKA


__ADS_3

Semuanya masuk ke dalam rumah yang tidak kalah dengan mewahnya rumah Steven, sudah banyak maid juga yang akan membantu Can mengurus rumah.


Jum dan Septi langsung ke dapur menyiapkan masakan di bantu para maid, Vero memeluk Steven yang besok langsung pulang ke Indonesia.


"Kak, terima kasih."


"Terima kasih juga sudah menjadi lebih baik, kamu berhasil menjaga perusahaan, juga menaikkan omset memperbesar perusahaan." Steven memukul pelan kepala Vero.


Karena meja makan tidak seluas rumah Stev, jadinya mengelar di bawah jadinya semuanya bisa sarapan bersama.


Wildan berdiri di pintu bersama Vira, menatap wanita tua dan pria tua datang tertatih. Penjaga langsung datang meminta keluar, Wildan melarang mempertanyakan kedatangannya.


"Siapa Kakek dan nenek." Wildan berbicara menggunakan bahasa asli.


Vira tersenyum menatap Wildan yang sangat pintar, bisa berbahasa banyak negara, dia bahasa Inggris saja yes no.


Kening Wildan berkerut mengatakan jika mereka kedua orang tua Can, Vira langsung menatap Wildan, walaupun tidak bisa bicara, tapi Vira sedikit mengerti.


"Kenapa kalian datang setelah melihat aunty Can menemukan kebahagiaan, kalian tidak malu setelah membuang, datang kembali. Vira malu." Vira tersenyum sinis.


Bastian datang menatap dua orang tua, langsung mempersilahkan duduk. Vira melarang bisa saja hanya ingin menipu.


Tian langsung melangkah ke dalam untuk menemui Vero dan Can, melihat kebahagiaan aunty Can, Tian juga ragu merusak senyuman harus berubah menjadi air mata kembali.


Wildan menatap tajam, mengatakan secara pelan. Anak lahir ke dunia ini bisa menjadi rezeki juga ujian dalam hidup, jika lahir aunty Can dilahirkan, dicintai, disayang, diberikan pendidikan yang layak mungkin pantas saja datang setelah membuang. Anggap saja membuang salah satu ungkapan rasa kecewa karena aunty Can sudah melakukan kesalahan.


Walaupun di negara mereka suatu hal yang biasa berhubungan sebelum menikah, tetap saja salah.


"Kalian anak kecil jangan ikut campur, menyingkir!"


"Nenek tua, kamu tidak tahu siapa kami?" Vira menatap tajam.


Langkah kaki Vero dan Can terdengar, Vero melihat dua orang tua yang tidak dia kenali, menatap Can yang langsung meneteskan air matanya.


"Citra, izinkan Papi dan Mami masuk." Ibu Can langsung mendorong Can masuk ke dalam.


Vero langsung tertawa, akhirnya dia bisa bertemu dengan ibu yang melahirkan, tapi seakan-akan Can bukan anaknya.


Vero duduk di depan dua orang tua Can yang menatap rumah Vero dan Can yang sangat mewah.


"Mami ingin tinggal di sini. Pasti anak kita bahagia sekali Pi."


"Silahkan duduk Mami, sayang ayo duduk sini." Vero menggenggam tangan Can.

__ADS_1


"Ternyata kamu kaya Vero."


"Kaya, ini harta milik kakak saja, sudah diwariskan untuk kedua anak kami. Aku dan Can tidak memiliki apapun, kami harus berkerja di bawah pimpinan kak Stev."


"Setidaknya kamu adik seorang pemimpin perusahaan." Papi Can tersenyum licik.


Vero tertawa menganggukkan kepalanya. Viana, Reva dan Jum mengintip dari balik vas bunga, mereka bisa mencium bau busuk orang gila harta.


"Apa yang mereka katakan Mami?" Steven tersenyum.


"Mereka menyukai Vero yang banyak uang, sebentar lagi pasti mengeluh banyak hutang." Reva meremas bunga gemes.


"Can sepertinya takut dengan ibunya, kalau Vi sudah dijambak langsung Vi banting."


"Astaghfirullah kak Vi, anak durhaka membanting ibu." Jum menggelengkan kepalanya.


Reva dan Viana saling tatap, langsung fokus kembali menguping. Rama menghela nafasnya melihat Steven tertawa kecil melihat tri istri.


"Sayang pinggang kamu tidak sakit, duduk seperti itu?"


"Apa hubby, niatnya ingin mengejek Vi sudah tua harus sakit pinggang."


Reva dan Jum cekikikan tertawa, Rama dan Viana lanjut berdebat soal pinggang.


Windy berjalan mengantarkan minuman sambil tersenyum, mempersilahkan minum dan memakan cemilan.


"Iya seperti suami anda yang terlalu sering salah kamar, hadeh miris." Windy tersenyum melangkah pergi melenggak-lenggok seksi.


"Pembantu kurang ajar."


"Dia bukan pembantu Mi, putri keluarga Bramasta, calon istri kakaknya Vero."


Mami dan Papi saling pandang, menatap Windy yang melotot ingin memukul kepala ibu Can dengan nampan.


"Apa tujuan Mami Papi datang ke sini?"


"Tujuan? kalian berdua kurang ajar menikah tanpa izin, seharunya kami juga diundang." Papi Can menatap tajam.


"Maafkan kami Papi, soalnya kami pikir sudah putus tali persaudaraan, Papi dan Mami tidak mengenal Can lagi." Vero tersenyum.


"Sudah cukup basa-basi, kami datang butuh uang untuk biaya berobat kakaknya Can."


"Butuh berapa?"

__ADS_1


"Lima milyaran, sekalian untuk bayar hutang. Bulan depan ada keluar mobil baru, kamu bantu bayar Vero."


"Kami tidak punya uang sebanyak itu Mami." Can menetes air matanya, malu terhadap keluarga Vero.


"Biaya pernikahan kalian saja puluhan milyaran, belum lagi mobil mewah di depan, rumah sebesar ini kamu bisa mengatakan tidak punya uang. Jika kalian tidak punya uang, seharusnya menjadi gelandangan." Teriakan Mami Can sangat kuat.


Vero menatap tajam, Can menggoyangkan tangan Vero menangis melalui tatapan meminta Vero mengusir saja.


"Akan aku berikan."


"Tidak kak," Can langsung berdiri.


Mami Can langsung ingin melayangkan tamparan, tangannya langsung ditangkap oleh Windy.


Vero sangat terkejut, Can semakin kuat menangis. Steven langsung melangkah meminta Windy tidak ikut campur biarkan Can dan Vero menyelesaikan.


"Dia ingin menampar Can."


"Ada Vero yang melindunginya Windy, ayo pergi."


"Lima milyaran, Windy akan memberikan satu triliun." Windy menatap tajam.


"Benarkah putri Bramasta, jika kamu memberikannya kami tidak akan meminta uang lagi." Mami Can tersenyum bahagia.


"Tentu kalian tidak akan minta lagi, satu triliun untuk pemakaman kalian." Windy menatap tajam.


"Windy." Steven menarik Windy.


"Windy lahir tanpa melihat ibu Windy, tidak tahu rasanya berada dalam gendongnya. Mendapatkan seorang Bunda sama seperti anda, memukul, mengurung bahkan menenggelamkan kepala di dalam bak mandi, pergi dengan lelaki lain tidak memberikan makan seharian. Wanita seperti anda tidak pantas menjadi ibu, membuang Can saat tidak ada seorangpun disisinya saat melihat dirinya tersenyum bahagia, kalian datang meminta bagian. Manusia jahat!" Windy menghapus air matanya langsung naik ke lantai atas membanting pintu kamar kuat.


Steven menghela nafasnya, meminta Vero bersikap tegas. Ada kalanya kita menghormati orang tua, mengikuti semua keputusannya, tetapi tidak selalu orang tua benar.


Bima menatap Stev untuk menemui Windy, Bima duduk meminta Can berhenti menangis karena air matanya sangat berharga.


Vero akan memberikan uang yang diinginkan, sebagai ucapan sudah melahirkan Can dan membesarkannya, walaupun diperlakukan dengan buruk.


"Sudah Vero transfer lima milyar, terima kasih sudah datang sehingga Vero bisa melihat jika kalian gagal menjadi orang tua. Jangan khawatir, Vero berjanji akan membahagiakan Can, menjadikan Ratu selalu tersenyum bahagia. Vero, Citra dan anak-anak kami akan bahagia." Vero tersenyum, Can menangis dalam pelukan Vero.


Kedua orang tua Can melangkah pergi, Bima mengusap punggung Vero meminta keduanya tetap menghormati orang tua, tidak melupakan mereka. Walaupun kedatangan mereka membawa luka.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***


__ADS_2