
Sesampainya di LN Bima sudah ditunggu mobil yang disiapkan oleh Steven, Windy langsung berlari bersemangat melihat indahnya tempat barunya. Windy tinggal di apartemen yang tidak jauh dari apartemen Steven, lebih tepatnya sebelahan.
Di depan apartemen Steven sudah menunggu, saat melihat mobil sampai langsung bersalaman dengan Bima.
"Apa kabar kak?"
"Alhamdulillah baik, keluarga kamu apa kabar."
"Baik, Windy tidak terasa sudah besar."
"Iya Om, sekarang Om juga sudah tua." Windy menarik kopernya, langsung melangkah masuk.
"Mirip Mami mulutnya pedas." Steven tertawa, langsung membantu Bima membawa barang Windy.
Steven memberikan kunci kepada Windy, langsung masuk ke dalam. Windy membuka jendela melihat pemandangan yang cukup nyaman.
Bima sibuk mengobrol dengan Steven, Windy berkeliling melihat kamarnya. Menyusun kopernya, melihat seisi kamar yang serba baru.
Sebelum Windy datang Steven sudah merapikan, merombak ulang menjadi tempat ciri khas gadis remaja. Windy merasakannya nyaman berada di dalamnya.
"Papi Windy suka berada di sini, nyaman tenang juga bersih."
"Syukurlah kalau Windy suka."
Windy langsung melakukan video bersama Reva yang menangis melihat Windy, Bima merasa lucu melihat Reva yang menangis sampai Windy meneteskan air matanya.
[Steven, jaga anak gue sedikit saja tergores, gue hancurkan hidup Lo.]
[Ngeri banget Mami Reva, tenang saja Windy si sini aman.]
Bima meminta Steven menjadi orang tua untuk Windy, menjaga Windy selama jauh dari Bima dan Reva, Steven menyanggupi menjaga Windy, sebagai balasan akan kebaikan Bima selama ini.
Sebelum pulang, Bima berkali-kali mengingatkan Windy soal pergaulan. Windy hanya mengangguk kepalanya, tanda mengerti dan akan menjaga amanah kedua orangtuanya.
"Ste, jaga putriku dia harta yang sangat berharga bagi aku dan Reva."
"Pasti kak Bim, Windy akan aku jaga dan paling aku prioritaskan."
Bima mencium kening Windy, hanya Steven yang mengantar Bima untuk pulang kembali. Windy langsung masuk ingin menyusun barangnya.
Suara ketukan pintu terdengar, Steven tersenyum menyapa Windy yang membalas senyum.
"Ayo keluar sebentar, aku kenalkan dengan lingkungan sekitar." Steven meminta Windy menggunakan baju yang sopan, berpenampilan biasa saja, Steven tidak suka Windy menunjukkan kemewahan.
__ADS_1
Windy langsung menggagukan kepalanya merasa senang, Windy menggunakan baju panjang, celana panjang dan sepatu kets, rambutnya dikuncir tinggi.
Steven mengeluarkan mobilnya, mengenalkan lingkungan sekitar agar Windy tidak kesulitan jika membutuhkan sesuatu.
"Win, ini nomor om ke manapun kamu pergi harus menghubungi Om."
"Baik Om."
"Ini supermarket terdekat, di sini lengkap jika kamu membutuhkan makanan instan."
"Kalau restoran halal Om, Windy takut kesulitan mencari makanan."
"Kamu tidak bisa masak?"
"Sedikit Om, tapi banyak tidak bisanya." Windy tersenyum, mengaruk tengkuknya.
"Kamu bisa makan di apartemen Om, nanti Om akan memberikan satu kunci, saat lapar kamu bisa mencari makan di kulkas."
"Om bisa masak?"
"Karena kita hidup di negara luar, mencari makanan halal dan tidak berlemak sulit. Om hidup sehat jadi makanan sangat dijaga."
"Baiklah Om. Apa pekerjaan Om masih menjadi pengacara?"
Selesai berkeliling, Steven juga menemani Windy melihat kampusnya. Mereka berputar-putar berkeliling melihat kota indah tempat mereka tinggal. Setelah lelah barulah keduanya pulang.
Windy berlari kecil masuk apartemennya, Steven menghentikan meminta Windy memasukan belanjaan di kulkas Windy.
"Jangan lupa makan malam di apartemen Om."
"Baik Om, Windy masuk ya, assalamualaikum Om.* Windy langsung masuk.
Sambil berendam Windy mengigat senyuman Steven yang memukau, Windy senang mendengar suara lembut Steven.
"Ya Allah kenapa Om bule tampan sekali." Windy tersenyum sambil memainkan air.
Sambil bersenandung, Windy menghubungi Reva menceritakan yang dia lakukan bersama Steven, Windy terus mengoceh sambil menyusun bajunya.
Reva hanya tersenyum melihat Windy yang bahagia, Reva mengerti putrinya bisa menahan diri, tapi Windy tidak bisa menyembunyikan perasaannya dari Reva. Rasa kagum Windy berbeda, dia mencintai Steven sangat mengaguminya, Reva berharap Windy bisa melihat keburukan Steven yang bisa membuatnya maju atau mundur.
Selesai melakukan panggilan Windy langsung keluar mengetuk pintu apartemen Steven, pintu terbuka Windy kagum melihat isi kamar Steven yang penuh buku bersih, rapi, dekorasinya bahkan barang yang berada di dalam unik di mata Windy.
"Ayo sini Win makan."
__ADS_1
"Iya Om." Windy tersenyum melihat masakan di atas meja, langsung duduk di depan Steven.
"Semoga suka, kamu tidak perlu sungkan, anggap rumah sendiri."
Windy hanya menggagukan kepalanya, langsung mengambil makanan. Bunyi bel yang berbunyi membuat Windy berhenti makan, tapi Steven masih fokus sambil membaca tabletnya yang berisi beberapa kasus yang harus Steven pecahkan.
Karena Stev tidak bergerak Windy langsung bangkit berdiri, tangannya langsung ditahan untuk duduk lagi.
"Maaf Om ada tamu."
"Biarkan saja, sebaiknya selesaikan makanan kamu." Steven tidak mengalihkan pandangannya dari tablet, Windy masih terdiam karena tangannya masih digenggam.
"Steven buka, aku tahu kamu di dalam." Cristina terus membunyikan bel, memanggil nama Steven.
Windy menghela nafas, dia sangat yakin pasti Steven sedang bertengkar dengan kekasihnya. Tatapan ramah Steven berubah dingin saat mendengar bunyi bel berserta namanya yang di panggil.
"Om maaf Windy lancang, jika ada masalah sebaiknya Om bicara jangan diam dan bersembunyi."
Steven tersenyum menatap mata Windy, melihat senyuman Steven membuat Windy tidak mengerti.
"Kamu tahu apa soal cinta? sudah pernah pacaran?"
Windy hanya menggeleng kepalanya, Steven langsung tertawa mengacak rambut Windy yang menggemaskan.
"Aku tidak sembunyi Windy, bagi aku sebuah hubungan selesai saat kita melibatkan orang ketiga. Cinta menyebalkan Win, orang seperti Om sulit diterima tulus, tapi Om tidak minta jika ingin bertahan oke, jika ingin pergi silahkan."
"Om sudah tua belum menikah juga, teman Om mungkin sudah memiliki banyak anak."
"Emmhhh, namanya juga belum ada jodohnya, menikah bukan hanya untuk dua orang Win tapi dua keluarga. Om bukan hanya mencari seorang istri tapi ibu untuk anak-anak Om, jika hanya untuk kepuasan diri mudah, tapi yang bisa bertahan berjuang bersama, mendidik anak dan menua bersama sulit."
"Windy yakin akan ada saatnya Om mendapatkan pendamping hidup yang siap menua bersama, menerima Om apa adanya."
"Amin, insyaallah kamu juga rajin kuliahnya, jika butuh bantuan jangan sungkan, Om juga minta maaf karena melarang kamu untuk pacaran, di sini pergaulan bebas Win, kamu tanggung jawab Om."
"Terima kasih ya Om, maaf jika nanti Windy akan banyak menyusahkan Om."
Steven tersenyum, dia kagum melihat pikiran dewasa Windy. Bima memang panutan terbaik dirinya, sejak muda Bima selalu mendukung keputusan Steven, membantu bahkan menjadi kakak bagi Steven. Selama hidup Steven, akan terus memiliki banyak hutang yang tidak bisa dibayar kepada keluarga Bramasta.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA
__ADS_1
***