
Mobil Reva berhenti di pinggir jalan yang menjual banyak aneka makanan. Reva membuka pintu Windy dan mengandeng nya keluar untuk bersantai.
"Kamu pesan apapun yang kamu mau?" Reva mendekati sebuah meja dan memesan bakso.
Windy hanya berdiri melihat banyak gerobak makanan yang belum pernah dia datangi, Windy mendatangi semua gerobak dan setelah puas langsung duduk di samping Reva.
"Mami sering makan di tempat seperti ini, kita terasa sedang makan di alam. Ada mobil, motor, gerobak banyak juga orang yang belanja." Windy mengomel terus membuat Reva tersenyum.
"Windy kalau kita di alam, pastinya penuh pohon, ada singa, harimau." Reva tertawa.
"Biasanya makan di restoran Mami jadi rasanya kita berada di luar gitu." Windy memeluk Reva dan mencium pipinya.
"Jadi sekarang Windy mau sekolah di mana?"
"Tidak mau sekolah lagi! Windy capek menjadi korban buli." Bibir Windy langsung manyun, matanya berkaca-kaca.
"Papi kamu bisa marah, tidak semua tempat sama sayang, kamu punya Mami yang akan membela kamu. Tidak akan ada yang menyakiti Windy."
"Benar ya Mami! janji!" Windy memasang jari kelingking dan menyatukan dengan jari kelingking Reva.
"Janji sayang," Reva mencium kening Windy penuh kasih sayang.
Tidak jauh dari mereka, mobil ikut terparkir. Bima berlari melihat Windy dan cepat menggendongnya, mengecek tubuh Windy takut ada luka. Dia mendapatkan telpon dari pihak sekolah soal pertengkaran Windy, juga keinginan Reva memindahkan sekolah Windy.
"Ada luka nak, maafkan Papi ya." Bima memeluk Windy dengan nafasnya yang tidak teratur.
Reva hanya diam saja, mengaduk baksonya dan mengunyah perlahan mengabaikan Bima yang baru saja datang.
Banyak makanan yang Windy pesan mulai diletakan di meja, Reva kebinggungan banyak sekali seperti mau makan satu kompleks. Bima ikut duduk dan memandangi meja yang penuh.
"Siapa yang pesan?" Bima menatap Reva dan Windy bergantian.
"Windy Papi."
"Tidak baik Windy memesan makanan sebanyak ini, mubasir. Kamu tidak mungkin mampu menghabiskannya." Bima menghela nafas.
"Hanya penasaran Papi, kalau di bungkus boleh. Kita antarkan ke panti teman Windy Papi ya." Windy tersenyum setelah mendapatkan anggukan dari Bima.
Setelah menghabiskan baksonya, Reva menyerahkan surat Windy pindah sekolah. Reva minta Bima tanda tangan sisanya Reva yang mengurus.
"Aku bisa mengurusnya, terimakasih untuk hari ini." Bima mengambil kertas dan ingin menyimpannya tapi ditahan oleh Reva.
"Aku yang akan mengurusnya!" Reva menyerahkan pulpen ke tangan Bima.
"Windy putriku!"
__ADS_1
"Windy juga putriku!" Reva tetap tidak ingin kalah, perdebatan terjadi. Tapi Reva tetap tidak ingin menatap mata Bima.
"Berarti kita harus menikah!" Bima bicara tegas menatap wajah Reva yang juga menatapnya.
"Windy akan menjadi putriku tanpa harus menikahi kamu." Reva menatap tajam.
Bima terdiam sebentar, sesak sekali dadanya mendengar ucapan Reva. Bahkan keseriusannya ditolak mentah-mentah. Entah sampai kapan Reva akan menatap Bima penuh kebencian, juga amarah.
Mereka bertiga makan dalam diam, hanya Windy yang sesekali berkicau. Terasa canggung melihat Mami dan Papi tiba-tiba saling diam. Windy melihat beberapa wanita memperhatikan Papi dengan tatapan kagum, Windy hanya tersenyum melihat Papi yang penuh pesona, inilah penyebab Mami yang ngambek dan marah.
"Assalamualaikum Bima, benar kamu Bima." Seorang wanita mengulurkan tangannya, Bima hanya tersenyum tipis.
"Tante teman Papi?" Windy menatap wanita seksi yang memandangi Papi nya.
"Iya cantik, boleh aku duduk di samping kamu Bima. Ini soal persidangan?" Thea pengacara Brit sangat mengagumi ketampanan Bima.
"Kita bicarakan saat persidangan!" Bima masih bersifat dingin.
"Kamu bisa kalah Bim, Windy anak kandung Brit. Sedangkan dia bukan darah daging kamu."
"Windy kamu masuk mobil sekarang!" mata Bima langsung menatap tajam Thea, Windy sudah berlari ke mobil. Reva hanya diam saja mendengarkan perdebatan keduanya.
"Kenapa aku kalah? Brit setiap hari berganti lelaki, kamu pikir hal yang sulit aku membuktikannya. Bukannya aku tidak tahu, saat terakhir aku ke hotel bertemu dengan Brit dia bersama seorang pengusaha batubara."
"Tapi tetap saja, dia punya hak besar untuk Windy."
"Woww, bapak Bima Bramasta yang terhormat sekarang sudah menggunakan statusnya."
"Jika bersangkutan paut dengan putriku, apapun akan aku lakukan. Jadi berpikirlah dua kali sebelum kita duduk dimeja persidangan."
Thea langsung memukul meja, melangkah pergi meninggalkan Bima yang masih menatap tajam. Reva ingin sekali tertawa melihat wanita yang terlihat wajah patah hatinya. Bima meminta tolong untuk membungkus makanan yang berada diatas meja, masih terlihat wajah kesal dan lelah melihat drama hidupnya.
"Windy, bukan putri kandung Om." Reva menatap Bima, yang juga melihat kearahnya.
"Ceritanya panjang, tapi apapun yang terjadi Windy tetap putriku."
"Om!"
"Iya."
"Jika Om di kasih pilihan, antara Windy dan wanita yang Om cintai. Siapa yang Om pilih?"
Bima tersenyum dan tertawa pelan, diambilnya minuman dan langsung meminumnya. Reva sangat penasaran dengan jawaban Bima, pasti jawabannya memilih putrinya.
"Reva, mereka bukan pilihan. Jika wanita itu mencintai aku, dia harus mencintai putriku. Kalau aku sayang Windy sebesar itu juga aku menyayanginya, mereka berada diposisi yang sama hanya letaknya yang berbeda. Satunya anak dan satunya pendamping hidup."
__ADS_1
"Harus memilih salah satu!" Reva masih nyolot tidak terima dengan jawaban Bima.
"Aku pilih kamu, karena kamu sangat menyayangi Windy melebihi Bunda nya."
"Ihh Om gombal!" Reva tertawa membuat Bima juga bahagia, akhirnya dia bisa melihat senyuman juga tawa Reva.
"Va!"
"Emhhh...."
"Om sayang kamu," Bima mengaruk kepalanya, melihat sekitarnya yang tidak mendukung.
"Sayang, sebagai korban tabrak lari, demi menyelamatkan putri Om."
"Bukan Reva, sayang antara wanita dan laki-laki." Bima binggung cara mengatakannya, dia tidak punya pengalaman sama sekali.
"Seperti Om ke Windy!"
"Ya bukan lah Reva, masa iya saya menganggap kamu anak." Bima mencari sesuatu yang bisa memperkuat ucapnya.
Reva ingin sekali menjitak kepala Bima, mengatakan cinta susah sekali. Tapi jarang sekali melihat seorang Bima yang cuek dan dingin, kehabisan kata-kata.
"Om mau ngomong apa? Reva binggung."
"Nanti saja, kita temui orangtua kamu. Om tidak tahu cara mengatakannya."
"Kenapa Om jadinya kesal?" Reva memukul lengan Bima.
Bima mengacak rambutnya, mengeluarkan dompetnya dan membayar makanan mereka. Reva cengengesan menuju ke mobilnya, melihat Windy yang sudah menunggu dengan wajah manyun.
"Lama sekali Mami, pantat Windy sudah panas."
"Papi kamu yang lama, ngomongnya kayak lagi muter-muter kompleks."
"Papi! ayo cepat." Windy berteriak dengan wajahnya yang kesal.
"Sabar sayang, waktu kita masih banyak."
"Ayo Mami kita berangkat, tinggalkan saja Papi. Nanti diculik sama tante-tante."
"Iya, tante-tante culik Om dong." Reva sama Windy tertawa.
"Memangnya kalian berdua rela, Papi diculik tante-tante." Bima masuk mobil sambil mengejek keduanya yang mendadak manyun.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
***