
Mobil berhenti di restoran mewah, Rama sudah menunggu Bima yang tersenyum melihat Steven acak-acakan, memberikannya baju untuk ganti.
Semuanya mengikuti Bima, Windy berjalan beriringan dengan Rama, lelaki yang sudah seperti kakak, tapi dipanggil Uncle.
"Win, kenyataan memang menyakitkan, genggaman tangan Uncle jangan pernah kamu lepaskan. Dari kamu kecil Uncle menjaga kamu sampai tumbuh besar, proses tumbuh kembang kamu Uncle mengetahuinya.
"Uncel, kedua tangan Windy sudah menggenggam tangan Mami Papi, bisa Uncle pegang tangan Windy, jangan lepaskan Windy Uncle."
Windy melihat kedua tangannya, Rama menggenggam pergelangan tangan Windy, Steven juga muncul menggenggam pergelangan tangan Windy.
"Uncle Rama, Om Stev akan menggenggam tangan kamu." Stev tersenyum.
"Kalian berdua berhati-hatilah, selain Papi kalian, ada Uncle yang akan menolong kalian, selamat berjuang, bukan hanya soal cinta, tapi dalam segala hal." Rama mengusap kepala Windy tersenyum langsung melangkah masuk ke ruang makan.
Reva melipat kedua tangannya menatap Bima cemberut, menunggu Bima bercerita. Senyum Bima terlihat melihat istrinya yang super kepo.
Rama masuk melihat Reva yang menatap tajam, aneh sekali melihat sahabat wanitanya yang kerjaannya hanya ngambek.
Steven masuk merangkul Windy, tidak takut lagi kepada Bima, Reva menahan tawa melihat Bima yang menghembuskan nafasnya.
Steven duduk, Windy juga duduk menunggu makanan. Rama melihat punggung Steven yang berdarah, melihatnya yang membuat Windy juga ingin melihatnya.
"Mau apa Windy? sekalian kamu minta Steven buka baju, biar puas melihatnya." Bima menatap tajam, Windy langsung diam.
Reva sudah tertawa kuat, seandainya ada Viana punya teman untuk tertawa, melihat suaminya yang aneh sekali.
"Stev, apa yang kamu lakukan di danau tengah malam?" Bima menatap tajam, Steven hanya tersenyum.
Stev menceritakan dia memang biasa menenangkan diri di danau, menurut cerita danau yang Stev datangi memiliki mitos, danau patah hati, tidak banyak orang yang datang karena sering ada penampakan.
Malam ini menjadi malam sial untuk Stev, saat tidur dia memang bermimpi seorang wanita, tapi tidak jelas, tapi terbangun karena kehadiran orang mabuk yang kurang waras, dia curhat kisah cintanya, Stev hanya menjadi pendengar yang baik.
Setelah banyak menasehati Steven, dia melangkah pergi, Stev melanjutkan memejamkan matanya.
Pulang dari danau Steven akan tetap memperjuangkan Windy, ucapan pria mabuk benar, perjuangan Steven masih panjang, dia masih harus berjuang, agar bisa memetik hasilnya.
Lama Steven berdiam, tidak menyadari apapun, tapi tiba-tiba suara dentuman air sangat kuat terdengar, tidak jauh dari tempat Stev berbaring.
Karena gelap Stev tidak bisa melihat apapun, ponselnya juga mati, karena penasaran Stevens langsung berlari ke arah mobil untuk menghidupkan lampu.
Steven binggung di mana dia memarkirkan mobilnya, tidak ada pada tempatnya langsung berlari ke pinggir danau, melihat orang gila yang tadi berbicara dengannya keluar dari dalam air dalam keadaan basah kuyup, menepuk pundak Steven, menitipkan botol minumannya.
__ADS_1
"Mobil aku di mana?"
"Ada di sana? tadi ada pencuri jadinya masuk ke dalam danau."
"Ada orang lain di dalam mobil?" Steven kebingungan, nyawa orang tidak bisa main-main.
"Banyak."
"Tolong cari orang untuk meminta bantuan." Steven langsung berlari ke danau, menyelam untuk menuju pintu mobil, Stev sadar dia tidak menguncinya.
Di dalam air Stev mengumpat, dia dipermainkan oleh orang gila, cepat Stev naik daratan, banyak cahaya lampu yang menyinari.
Steven ditahan karena mabuk, merusak danau karena ulahnya, banyak lampu yang rusak, danau juga rusak karena ada mobil.
Rasanya Steven ingin tertawa kuat, dia mengumpat kasar dituduh sesuatu yang tidak dia lakukan.
"Steven ditahan, dengan tuduhan yang tidak Stev lakukan."
"kamu memang bodoh Stev, bisa-bisa kamu masuk ke dalam danau?" Reva tertawa sambil menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan pikiran Steven.
Saat itu Stev memang tidak berpikir banyak hal, dia hanya tidak ingin ada korban jiwa.
"Va cukup satu kali aku melihat kematian di depan mata, aku tidak ingin saat matahari terbit, ditemukan mayat." Steven menatap Reva yang sudah berhenti tertawa.
"Stev, mungkin dia memang menyelamatkan kamu?" Rama mengaduk minumannya.
"Selidiki Steven, bisa jadi memang ada orang yang sengaja ingin mencelakai."
"Kurang kerjaan dia memasukan mobil ke dalam kolam." Reva coba berpikir.
"Apa mungkin dia sengaja merusak mobil agar Om Stev mengalami kecelakaan." Windy menatap Steven.
Steven tersenyum keluarga yang cerdas, padahal Steven memang sedang menghindari sesuatu, ingin menyelidiki terlebih dahulu.
Sekarang Stev hanya ingin fokus mendapatkan restu, orang yang ingin mencelakai bukan lawan yang imbang, hanya sekelompok orang yang patah hati, sudah resiko Steven yang pernah berurusan dengan banyak wanita, sehingga tidak sedikit banyak yang membencinya.
Windy akan menjadi wanita terakhir dalam hidupnya, tidak peduli sesulit apapun memilikinya.
Stev tersenyum menggenggam tangan Windy, Bima mengerutkan keningnya. Menatap Steven tajam, Stev hanya tersenyum saja.
"Kak Bima, boleh Stev makan." Stev langsung tersenyum, mengunyah makanannya, dari tadi menahan lapar, punya sahabat, bukan memberi makan, tapi menyiksa.
__ADS_1
"Steven di mana tangan kamu satunya?" Bima melihat tangan Steven, Stev mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Windy.
"Emhh, maaf." Steven melepaskan tangannya.
"Windy kamu duduk di samping Papi." Bima menunjukkan ke sebelahnya.
Rama tersenyum melihat Bima yang mendadak posesif, bagi seorang Ayah sangat sulit melepaskan putri tercinta, walaupun bersama lelaki yang mencintainya dan dicintainya.
"Kak Bim, Windy pindah ke mana?"
"kenapa?"
"Steven juga ingin pindah." stev tersenyum melihat Bima yang sudah menatap dingin.
Rama menceritakan Windy tinggal di apartemennya yang baru Rama beli, tapi langsung diserahkan ke Bima.
Steven langsung ingin menyewa juga, Rama tidak keberatan, Rama tidak mengizinkan Stev sewa, tapi Stev bisa menggunakannya sesuka hati, asalkan menjaga kebersihan.
Bima menghembuskan nafasnya, semua orang menatap Bima yang terlihat kesal. Susah payah memindahkan Windy, dengan santai Rama memberikan penawaran.
"Windy kamu balik lagi ke mansion, Wilona juga tinggal di sana, dia akan menjaga kamu dari bule playboy."
"Seriusan Pi." Windy tersenyum bahagia.
"kita mendapatkan restu kak Bim?"
"Steven, jangan kamu sentuh Windy, jika kamu menghormati kak Bima jaga dia dengan melindunginya, bukan menyentuh."
"Stev janji kak, dia akan Steven jaga sebaik-baiknya." Steven tersenyum bahagia.
"Bisa kalian berdua putus saja?"
"Tidak." Steven dan Windy menjawab bersamaan.
"Uncle Rama menikah tanpa pacaran, Papi sama Mami juga, Uncle Bisma aunty Jum langsung cepat menikah." Bima menatap Windy dan Steven.
"Uncel Rama terpaksa, kak Bim sudah terlalu lama jomblo, kalau uncel Bisma, namanya playboy tobat."
"Steven!" Bima melotot.
"Iya kak Bim bercanda."
__ADS_1
***