MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MBAH JAMBRONG


__ADS_3

Setelah satu Minggu Reva sudah sangat pulih, tapi Bima menolak Reva pulang lebih awal. Rasa khawatirnya sangat tinggi, apalagi melihat Reva yang sangat membencinya. Bima hanya bisa menatap Reva dari pintu kamar, dan masuk saat Reva sedang tertidur. Bima merindukan sosok Reva yang selalu mencarinya, mengejar cintanya. Tapi yang sekarang Reva tidak mengenalnya, bahkan melirik Bima juga Reva enggan.


Bima masuk kamar, meletakan surat dari Windy. Ungkapan maaf dari Windy tulus untuk Reva, bukan hanya Bima yang kehilangan tapi Windy juga.


"Va, sampai kapan kamu melupakan aku, tersenyumlah! walau hanya sekali." Bima duduk di pinggir ranjang Reva, tangannya menyentuh pelan tangan Reva.


"Kenapa Om masih di sini, mulut Reva sudah keluar busa meminta Om keluar. Jangan temui Reva lagi, Reva tidak mengenal Om." Reva menarik tangannya dari genggaman Bima.


"Tidak bisa kita mulai dari awal Va, setidaknya jangan tatap aku dengan kebencian." Bima menundukkan kepalanya, mengacak rambutnya.


"Reva mengerti! Om merasa bersalah karena Reva kecelakaan karena anak Om, tidak masalah Reva ikhlas karena Om juga bertanggung jawab. Tapi berhentilah mendekati Reva."


"Va, apa yang bisa aku lakukan biar kamu kembali, jika kamu ingin aku pergi. Saat kamu keluar rumah sakit aku akan pergi, tapi setidaknya jangan benci aku. Dulu kamu mencintai Om Va." Bima mengusap matanya, rasanya air matanya akan segera keluar. Hal yang akan sangat sulit Bima lakukan untuk melepas Reva, cukup dulu dia melepaskan Viana. Bima tidak akan sanggup lagi untuk kehilangan sekian kalinya.


"Kenapa Reva harus mencintai Om, Reva akui om sangat tampan tapi selera Reva bukan Om." Reva menatap tajam mata Bima yang sekarang juga menatapnya.


Bima berdiri menatap Reva, terlihat wajah kecewanya. Kepercayaan diri Bima benar-benar hancur. Ucapan Reva menjadi tamparan kuat yang membuat Bima terjatuh.


"Apa cinta yang dulu bohong, inilah isi hati kamu yang sesungguhnya. Seharusnya aku tahu diri, tidak mungkin kamu mencintai aku, kamu mendekati aku karena taruhan."


Reva melotot kaget, ingin sekali dia lompat. Reva tidak percaya Bima tahu jika dulu dia melakukan taruhan. Reva melihat kesedihan di mata Bima, tapi Reva masih belum bisa menerima kebenarannya tentang Bima dan Brit. Jika hubungan mereka harus berakhir dengan cara seperti ini, mungkin yang terbaik untuk mereka berdua.


Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran masing-masing, Reva dan Bima. Suara teriakan Viana membuat Bima berdiri dan melangkah keluar pintu.


"Mas Bram, bagaimana keadaan cacing kremi!"


"Bagus Vi, Keadaan Reva terus membaik hanya ingatannya yang batas dia SMA."


Vi menatap kasihan ke Bima yang terlihat sedih dan tidak bersemangat, apalagi Reva tidak mengenalinya lagi, sungguh menyakitkan bagi Bima.


Viana masuk dan melihat Reva yang mengigit buah apel sambil tertawa memainkan handphone nya. Reva nampak terlihat sangat sehat, hanya ada beberapa luka di bagian kepalanya dan tubuh lainnya.


Sebenarnya Reva hanya berpura-pura tertawa, dia hanya sedang menutupi luka. Reva percaya dirinya wanita kuat, dan bisa bertahan seberat apapun ujiannya.


Vi hanya menatap Reva yang asik sendiri, Reva sengaja mengabaikan Viana, ingin tahu reaksi Vi. Tapi respon Viana membuat Reva kesal.


Viana tidak ingin bicara dengan Reva nantinya hanya membuat kesal, Vi melangkah kakinya berjalan keluar sampai Reva memanggilnya.

__ADS_1


"Kak Vi terimakasih kasih darahnya, nanti aku kembalikan dengan darah ayam." Tawa pelan Reva terdengar.


Langkah Viana kembali mendekati Reva yang terlihat mencurigakan.


"Kamu bohong ya Reva jika tidak mengenaliku, awas saja bohong aku kutuk kamu menjadi butiran debu."


"Belum menjawab sudah di ancam." Reva tersenyum melihat Viana yang terlihat sudah kesal.


Vi sangat bahagia, ternyata Reva masih mengingatnya. Hati Vi sangat sakit, Reva terluka karena kecerobohan Vi.


"Apa rencana kamu?"


"Hanya ingin memberikan om Bima pelajaran, dan juga Reva tidak ingin lagi berjuang mengejarnya, saat nya om Bima yang mengejar cinta Reva."


"Aisshhh, jika mau menguji Bima jangan bawa aku dan Rama, bikin kesal saja." Viana menyesal menangisi Reva karena tidak mengingatnya.


"Maaf kak Vi, dan terima kasih sudah menghukum Ririn untuk Reva.


"Ya sudah lanjutkan saja amnesia kamu, semoga kamu tidak gila, dan menangis batu jika Bima tidak ingin memperjuangkan kamu. Dan memilih pergi!"


"Jahat banget kak Vi! bagaimana dengan Ririn dia akan datang lagi kak."


"Pantas Rama pernah datang dadakan ke VCLO dan memperingatkan aku, ternyata dia tahu jika aku dalam bahaya."


"Ternyata Ravi jauh lebih pintar dari kamu, dia juga tahu ada bodyguard yang mengawasinya."


"Kak Vi! Ravi wajar saja pintar darah Rama yang jenius dan cerdik ada padanya, bersyukur otak kak Vi yang lemot tidak turun padanya." Tawa pelan Reva terdengar.


"Kamu lupa Ravi punya pasukan,"


Reva dan Viana saling pandang dan membayangkan Ravi yang konyol.


"Ular bisa mengeong," ucap Viana dan Reva bersamaan, sambil tertawa pelan agar Bima tidak mendengar.


Pembicaraan Reva dan Viana terhenti karena kehadiran satu wanita astral lainnya. Jum datang bersama Bisma, tapi Bisma hanya menunggu di luar. Jum meletakkan buah-buahan dan menatap Reva aneh.


Tangan Jum nempel di jidat Reva, Viana diam menahan tawa. Reva juga diam ingin mengerjai Jum sang ratu polos.

__ADS_1


"Benar hilang ingatan, seharusnya Jum minta jampi-jampi dari Mbah Jambrong." Jum menghela nafas melihat keadaan Reva.


"Mbah Jambrong siapa Jum?" Viana menatap Reva dan Jum bergantian.


"Mbah yang sering membantu warga melahirkan di kampung Jum."


Viana dan Reva saling tatap, tawa mereka berdua pecah. Tapi dengan sekuat tenaga menutup mulut, agar yang di luar tidak mendengar. Jum juga ikut menutup mulutnya.


"Hawa Jum busuk ya! kenapa kak Vi dan mbak Reva menutup mulut."


"Jum, kamu pikir aku mau melahirkan. Bilangin mbak Jambrong, untuk menjadi dukun beranak kamu."


"Tapi yang mengobati mbak Reva suaminya Mbah Jambrong, dia biasanya mengobati banyak penyakit. Siapa tahu penyakit hilang ingatan juga bisa." Jum dengan polosnya membuat Reva dan Vi terus tertawa.


"Mbak Reva terlihat normal, otaknya sedikit geser. Jum pikir dengan hilang ingatan lebih kalem dan lembut, ternyata sama saja masih berisik." Jum memegang jidat Reva kembali, merasakan suhu panas.


"Jum Reva hanya pura-pura hilang ingatan." Viana berbisik.


"Ada ya kak Vi, orang hilang ingatan pura-pura."


Reva dan Viana kembali tertawa sambil menepuk jidat, kepolosan Jum bisa saja disalahgunakan.


"Kak Vi, mbak Reva! Jum setiap hari berdoa, semoga saja Reva hanya hilang ingatan untuk mengerjai orang tapi ternyata memang hilang."


Arrrrrgggghhhhh Reva teriak nyaring dan mengacak rambutnya, Viana mundur menutup mulutnya ingin tertawa sedangkan Jum berlari menjauh sambil menangis. Bima langsung berlari masuk dan memeluk Reva, menenangkannya yang teriak histeris. Rama sudah merangkul Vi yang tertunduk sambil tertawa, Jum lari ke pelukan Bisma sambil terus menangis.


"Reva bukan hanya hilang ingatan, tapi juga kesurupan." Jum takut melihat Reva.


"Jum telpon Mbah Jambrong!" Viana langsung tertawa dan berlari ke luar kamar.


"Va, kamu kenapa? ada yang sakit." Bima merapikan rambut Reva, mengelus wajahnya dan memberikan ketenangan.


"Bawa keluar wanita polos itu, bisa naik darah Reva."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


***


__ADS_2