
Seluruh orang sudah memegang garpu, Steven memotong kue meletakkan di piring masing-masing, senyum setiap orang terlihat langsung mencoba kue buatan Stev, Windy mengunyah, sampai gigitan terakhir, langsung memberikan piringnya kembali.
"Review dulu Win?"
"Enak enak enak pakai banget." Winda langsung memasukkan seluruh kue ke dalam mulutnya.
Bima tersenyum memakan sedikit, karena Reva yang menyuapinya. Winda sudah berlari membawa semua kue langsung sembunyi di bawah meja makan.
"Winda, Mami masih kurang." Reva teriak kuat, seperti anak kecil yang berebut makanan.
"Kak Windy juga masih kurang." Windy berlari mengejar Winda.
Steven tersenyum melihat ketiga wanita yang menyukai makanannya, senyuman Bima juga terlihat.
"Maaf Stev, Reva memang selalu berebut dengan anaknya. Jika tidak ada keributan di dalam rumah suatu hal yang harus dipertanyakan." Bima tersenyum melihat Winda yang sudah menangis, mulutnya sudah celemotan.
Bima langsung menggendong putrinya yang memeluk lehernya erat, Bima mendudukkan Winda dipangkuan membersihkan bibir Winda penuh kelembutan.
Senyum Steven terlihat, bangga dengan Bima yang hebat bisa menahan diri menghadapi kecerewetan Reva, sikap dingin Wildan, Winda dan Windy yang manja dan suka ngambek.
Steven langsung melangkah melihat Wildan yang masih berada di dalam ruangan rahasianya, Wildan mengumpulkan beberapa buku Stev, tangan kecil Wildan mulai membolak-balik halaman buku.
"Apa yang kamu cari Wil? jika kamu ingin menemukan rekaman kecelakaan di penjara tidak akan menemukannya. Rekaman sudah jatuh ke tangan Vero, dia mencurinya dari Om, membuangnya ke dalam lautan." Steven membuka sebuah server yang cukup besar.
Wildan langsung berdiri melihat server, tersenyum langsung mendekat. Wil menutup gerbang ruang rahasia, melihat beberapa rekaman kejahatan.
"Kenapa Om menyembunyikannya, mereka bandar narkoba terbesar Om?" Wildan menatap Steven.
"Sulit Wil, dia memiliki banyak tangan kanan, bahkan Om kehilangan banyak rekan kerja karena berjuang untuk menangkapnya, sampai saat ini belum memberikan jawaban yang memuaskan." Steven mematikan layar, mengelus kepala Wildan.
"Wil tidak ingin ikut campur, tapi jika menyangkut pautkan dengan kak Win, Wildan tidak akan tinggal diam." Wildan menatap tajam.
__ADS_1
"Windy tidak mengetahui apapun, dia hanya kuliah di sini."
"Om Stev bisa menyembunyikan dari Mami Papi, tapi tidak akan pernah bisa menyembunyikan dari Wildan, rekaman di dalam kamar Om sudah memperjelas hubungan kalian, kak Win suka Om Stev, begitu juga sebaliknya. Kehidupan Om berbahaya, jika tidak bisa melindungi kak Win sebaiknya pergi menjauh." Wildan menatap seperti pria dewasa, pemikiran sudah jauh ke depan.
"Kamu belum mengerti hubungan orang dewasa Wildan, jadi jaga jangkauan kamu, batasi hak yang pantas kamu lihat, dengan yang tidak pantas.
"Lindungi kak Windy Om, perasaan Wildan tidak enak."
***
Steven berada di bandara bersama keluarga Windy, mengantar kepulangan Bima sekeluarga. Wildan menatap dengan tajam, mengingatkan Steven untuk berhati-hati.
Musuh Steven bukan orang sembarangan, dia memiliki kekuasaan di berbagai negara. Memiliki banyak pengikut.
Steven berlutut, memegang pundak Wildan, menatap bocah tampan berwajah bule, mata indahnya bisa membuat semua orang jatuh cinta, tapi cara berbicara Wildan sudah seperti pria usia 20 tahun, pengetahuan luas.
"Om Stev berjanji akan menjaga kak Win, bukan hanya harus melindungi diri ka Stev sendiri, tapi wanita yang kak Stev cintai. Terima kasih Wildan, kamu menyadarkan Om, musuh tidak bisa dijadikan lawan, masalah tidak bisa ditunda. Secepatnya Om akan menyelesaikan semuanya." Stev berbicara pelan, Wildan tersenyum mengagukan kepalanya.
Steven memeluk Wildan, mengusap kepalanya. Melihat Windy yang tertawa, memeluk erat Maminya, melihat Winda yang heboh sendiri, sebuah keluarga yang sangat bahagia.
"Stev, kak Bim pulang. Tolong jaga Windy" Bima memeluk Stev, menepuk punggungnya.
"Stev, kak Rev pulang, jaga putriku. Jangan pernah kamu coba-coba membawanya ke dalam kamar, jika sampai menyentuh Putri kecilku, bersiaplah aku keluarkan ginjal kamu." Reva berbicara sangat pelan, agar Bima tidak mendengarnya.
"Bagaimana jika Putri kamu yang masuk?" Steven tersenyum melihat Reva.
"Putriku masih polos, jika kamu mengajari yang baik dia akan menurut, jika kamu mengajari dia sesuatu yang menjamin dia tidak kehilangan kamu, pasti dia akan memberikannya. Aku tahu hubungan kalian, tanpa restu kami kamu bisa apa?"
Steven menatap Reva kaget, ancaman Reva cukup membuat Steven terngiang. Reva tidak akan menyetujui hubungan keduanya, Reva hanya menunggu Windy lebih dewasa, merasakan sakit hati, juga melupakan cinta pertama, sampai menemukan cinta sejati.
Kehidupan bebas Steven tidak mungkin tertarik dengan gadis kecil seperti Windy, dia memang cantik tapi lelaki dewasa tidak buta, Windy masih sangat kecil, sikap manjanya sangat jelas, Steven tidak punya waktu harus meladeni Windy soal cinta.
__ADS_1
"Putriku mengagumi kamu, sedangkan kamu tidak mungkin menyimpan rasa. Jaga dia ingatkan dia sakitnya sakit hati."
"Bagaimana jika aku mencintainya? bisakah aku mendapatkan restu kamu?"
Mendengar ucapan Steven Reva yang langsung terkejut, suatu bayangan yang tidak pernah Reva pikirkan. Steven memiliki banyak pacar, semuanya wanita dewasa, seksi, cantik, tubuh mereka sangat serasi, sedangkan Windy, tubuhnya kecil tidak sesuai dengan usianya yang sudah 19 tahun.
"Apa maksudnya Stev?"
"Aku mencintai dia Reva, berkali-kali aku menepis rasa ini, aku tidak bisa lagi membohongi diri sendiri, aku yang merasakan sakit hati. Mungkin terlihat konyol, pria dewasa jatuh cinta kepada gadis kecil."
"Stev, Bima tidak akan menyetujuinya. Buang jauh-jauh perasaan kamu. Mungkin kamu hanya mengagumi Windy, aku tidak ingin Bima sampai tahu soal ini, kamu juga singkirkan rasa tidak mungkin bersamanya." Reva khawatir sekali, Steven tidak akan pernah mendapatkan restu, sudah pasti akan merusak hubungannya dengan Bima.
"Kak Bim tidak setuju,kami juga tidak setuju. Tenang saja Rev, aku berjanji akan menjaga Windy. Aku tidak akan pernah menyentuhnya mengikuti nafsu." Steven menenangkan kekhawatiran Reva.
"Mami, lama sekali bicaranya. Winda juga ingin pamitan sama Om Bule." Winda menatap Steven minta digendong.
"Sekarang sudah memanggil Om, tidak jadi kakak."
"Akan Winda pikirkan selama pulang, nanti Winda kabarin harus memanggil Om Bule, atau kak Bule." Winda tersenyum memeluk Steven.
"Winda hati-hati ya, sayang. Hubungi Om jika sudah datang, lain kali jika ke sini lagi kita jalan-jalan."
"Siap Om bule, Winda pulang dulu. Maafkan Winda sudah membunuh fish, Winda tidak sengaja"
"Iya Winda cantik." Steven memberikan Winda pada Bima.
Bima langsung mengendong Winda, Reva mencium Windy melangkah pergi mengandeng Wildan. Reva melihat ke belakang melihat Steven dan Windy
yang tersenyum melambaikan tangan.
"Maafkan Mami Windy, kamu tidak mungkin bersatu. Papi kamu tidak akan memberikan restu, mungkin kalian butuh waktu lebih lama lagi." Batin Reva menatap wajah putrinya.
__ADS_1
***