MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
PERTANYAAN


__ADS_3

Pesta masih terus berlanjut, kedua mempelai sangat bahagia terlihat dari senyuman keduanya.


Tamu undangan terus berdatangan, dari kejauhan Lisa menatap marah melihat tawa Reva yang sangat bahagia bersanding dengan Bima.


Romi datang bersama seorang wanita, Reva menyambut kedatangan Romi dengan kebahagiaan, melihat gadis polos di sisi Romi Reva sudah mengerti jika gadis desa nelayan. Tante Ais juga datang dengan air matanya, langsung memeluk Reva haru.


"Cantik sekali kamu Va, akhirnya kalian dipersatukan."


"Iya Tante, terimakasih karena pernah membuat taruhan, sampai Reva akhirnya jatuh cinta."


"Bima bahagiakan Reva, kalian harus bahagia."


"Iya Tante."


"Selamat ya Va, kamu cantik sekali." Romi tertawa mendengar Bima sudah berdehem.


"Bima ayo foto, kamu gantikan Satya agar formasi kami lengkap." Romi memohon.


Dengan tersenyum Bima setuju, Rama Septi, Ivan juga maju untuk berfoto. Rama berdiri di tengah, Reva kanan, Septi kiri, Ivan di samping Septi, Bima samping Reva sedangkan Romi berbaring miring di depan Rama. Foto saat mereka muda kembali terukir, posisi yang sama.


Lanjut foto pasangan, seluruh pasangan maju juga ikut bergabung. Foto bahagia terlihat, keluarga juga ikut foto menyimpan kenang-kenangan.


"Rama, ayo bernyanyi." Romi yang pintar bernyanyi selalu diiringi Rama.


Keduanya maju ke depan, Reva Bima lanjut menyambut tamu. Reva bahagia melihat sahabatnya menemukan jalan indah dan tertawa. Dulu mereka tidak punya mimpi tapi sekarang, semuanya mencapai mimpi. Sebenarnya mimpi ada hanya keyakinan yang tidak muncul.


"Reva, mau berduet dengan Rama. Sudah lama kalian berdua tidak bernyanyi."


"Boleh Ayy," Reva menatap Bima.


"Boleh asal jangan peluk-peluk."


"iya, ngeri juga kalau Viana mengamuk, bisa langsung keluar Vira."


Dengan tawa Bima memberikan izin, Ivan datang menyambut tangan Reva. Menemaninya melangkah mendekati panggung untuk naik dan berduet dengan Rama.


Rama yang bermain gitar, Reva bernyanyi. Sejak mereka bersahabat, Reva Rama menjadi pasangan couple. Setiap mereka bermain musik selalu mendengar suara Reva dan Rama yang bisa saling mengimbangi.


Reva lirik.


...*Aku merindu, ku yakin kau tahu...


...Tanpa batas waktu, ku terpaku...


...Aku meminta walau tanpa kata...


...Cinta berupaya...


...Engkau jauh di mata tapi dekat di doa...


...Aku merindukanmu*....


Lirik Rama.

__ADS_1


...Aku masih di dunia ini, melihat dirimu dari jauh bersama dia...


...Walau pasti terbakar cemburu...


...Tapi jangan kau kemana-mana....


Lirik Reva Rama.


...Engkau jauh di mata, tapi dekat di doa...


...Aku merindukanmu...


Air mata Reva menetes, Rama juga merasakan harunya. Mengingatkan dirinya yang pernah berpisah. Romi menepis air matanya, merangkul kedua sahabatnya, Septi juga naik memeluk Reva.


"Terimakasih kalian menjadi sahabat terbaikku, jangan pernah berubah. Hari ini esok atau nanti." Reva memeluk Septi yang juga memeluknya dengan erat.


"Kayak lagu Annette, tapi sudahlah kita lagi bahagia. Ini air mata bahagia." Ivan memeluk dua wanita di dalam persahabatan mereka.


"Mungkin ada yang bertanya ke kita, jangan tanyakan saja siapa yang belum nikah. Dari luar sudah terlihat." Romi mengejek dirinya sendiri, Septi langsung mencubit perut karena ikut tersindir."


Viana, Jum, Tya langsung angkat tangan.


"Chintya, gue yakin pasti soal Ivan." Romi tertawa.


"Pernah tidak kalian saling suka, Reva dan Septi sangat cantik tidak mungkin tidak pernah ada rasa." Tya tersenyum memandang suaminya.


"Ayo Van jawab, pertanyaan buat Lo."


"Dari dulu Ivan suka Tya, karena itu dulu pernah cemburu sama aku." Rama menimpali yang langsung disambut Ivan dengan senyuman.


"Kenapa aku tidak tahu? kalian berdua tahu?" Romi menatap dua wanita di sampingnya.


"Tahu setelah mereka menikah, sekarang giliran kamu Rom."


"Maaf ya Om Bima, jujur aku suka kamu Va, tapi aku takut jika hubungan kita berakhir, persahabatan ini juga berakhir. Aku takut kehilangan persahabatan kita."


"Terimakasih Romi, kamu juga tahu aku sukanya Rama. Maaf ya kak Vi, jangan marah nanti Vira lahir." Reva tertawa melihat Viana yang sudah menatap sinis.


"Aku tidak pernah punya rasa ke kalian, pernah mengagumi Rama tapi tidak mau bersaing dengan Reva." Septi tersenyum.


"Sudahlah Septi, lagian kita berdua bukan jodohnya." Reva dan Septi tertawa, sekarang giliran Rama yang ditatap.


"Cinta aku milik Viana, tapi pernah mengagumi Reva."


"Seriusan! kalau tahu kita coba pacaran Ram, walaupun tahu tidak berjodoh." Reva menjulurkan lidahnya mengejek Vi, sedangkan Rama hanya menggeleng.


"Lanjut Vi!"


"Pertanyaan sama kayak Tya."


"Lanjut kak Jum."


"Kalian pernah saling iri dengan keberuntungan yang lainnya."

__ADS_1


"Kalau dulu masalahnya kita tidak ada yang beruntung kak, yang adanya sial terus." Ivan tertawa mengigat kesialan mereka.


"Betul, pernah nabrak tukang sayur, ganti rugi mobil, nyasar di kandang bebek, sudah banyak banget. Tapi beruntung kita punya sahabat sultan yang tukang bayar ganti rugi." Romi mengaruk Kepalanya.


"Iri enggak pernah, hanya saja jika melihat Rama kita kayak lagi di bumi sedangkan Rama bulan. Capek ngeliat ke atas, tapi istimewanya Rama setia menyinari kita, bersedia menerima keburukan kita, mengajari banyak hal." Septi menepuk pundak Rama.


"Aku hanya membagi sesuatu yang pernah seseorang ajarkan kepadaku. Kita semua harus berterima kasih kepada kak Bim. Dia guru, kakak, ayah, bos, segalanya untuk Rama." Semuanya mengucapkan terimakasih kepada Bima yang tersenyum.


"Kita tidak pernah menyangka diposisi ini, Septi dengan hobinya, Romi juga, bahkan aku. Kami mengejar mimpi dengan masalah masing-masing. Kejayaan kami sekarang tidak lepas dari tangan orang yang sangat luar biasa juga dengan bantuan doa." Reva menepis air matanya.


"Oke cukup sampai di sini, Reva silahkan temani suami kamu."


"Buka satu aib atau rahasia salah satu dari kalian!" Viana bicara keras membuat Reva tidak jadi turun.


"Aib!" jawab kelimanya.


"rahasia kak Ivan, pernah berciuman dengan sesama jenis." Reva langsung melangkah mendekati Rama untuk berlindung.


"Reva, tidak ada aib lain yang lebih sopan. Bikin malu." Ivan kesal tapi semua orang tertawa.


"Gila Lo Van!"


"Tidak sengaja, lagian gue yang dipaksa, Reva yang berlari tidak niat menolong."


"Rahasia Rama!" Ivan langsung tertawa, Rama mengerutkan keningnya, Viana sudah memincing matanya.


"Rama pernah,"


"Pernah apa?" Rama jadi ikut khawatir, aib yang pernah dia buat.


"Masih ingat tidak saat kita telat masuk kelas terus berlari, saat Rama masuk di sepatunya mengotori lantai, membuat satu kelas muntah keluar." Ivan langsung duduk sambil memegang perutnya, sedangkan Rama sudah menutup mulut Ivan.


"Yang tai guguk itu, dia di suruh membersihkan satu kelas dan tidak jadi belajar." Reva dan Septi sudah terpingkal tertawa.


"Septi, tidak perlu diperjelas!" Rama sangat malu.


"Aib Reva, Pernah mantannya mengirimkan tautan film dewasa dengan marah Reva menghajar habis cowok ini sampai handphone Reva pecah, padahal dia belum lihat isinya. Isi aslinya lamaran tapi langsung gagal karena pacarnya lari ketakutan."


"Masa iya Va, gue pikir pinter dan berpengalaman soal gituan, ternyata emosian juga. Padahal asik!" Romi sebenarnya tahu sifat asli Reva, Rama juga yakin ucapan Septi benar, Reva sangat sensitif dengan pria bermulut kotor.


"Iya geli, tapi Septi yang suka nonton."


"Enggak, cuman lihat sebentar, daripada kamu pikiran suka gituan tapi saat di depan mata takut."


"Sama aja Septi! kalian berdua sama, yang penting bisa jaga diri terutama kamu Septi, Reva sudah punya suami." Ivan mengacak rambut Septi.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2