MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 SAKITNYA


__ADS_3

Lantai satu rumah sakit ramai, seorang wanita cantik meninggal bunuh diri. Ravi dan Tian melihat darah, langsung melangkah mundur hampir muntah.


"Dia perempuan yang membuat Ar, anak istrinya terluka." Kasih menatap suaminya.


Ravi langsung berlari terduduk lemas, dia tidak bisa melihat darah. Tian tersenyum melihat Ravi sudah tahu orang melompat, tapi dengan semangat dia melihatnya.


Kasih memberikan suaminya minum, berjalan kembali ke dalam rumah sakit.


Kamar Ar langsung dipindahkan karena adegan bunuh diri, tidak tahu motifnya. Erik duduk menatap keadaan Ar, Billa berdiri di samping suaminya.


"Syukurlah Ar sudah sadar." Reva mengusap kepala Ar.


Erik menatap Billa, meminta menjelaskan keadaan Ar kepada keluarga. Tidak ada yang boleh dilewatkan, keluarga harus tahu.


Semuanya diam menunggu Billa angkat bicara, keadaan Ar tidak sebaik yang mereka semua pikirkan. Luka di di bagian kepala sangat rawan. Ar juga tidak bisa bergerak harus dicek bagian tulangnya, berharap Ar tidak lumpuh.


Hal yang paling ditakutin oleh Ar dan Erik, Ar tidak bisa beraktifitas seperti biasanya. Kerja otak Ar akan melambat, mungkin responnya juga akan memburuk meskipun semua masih harus diselidiki.


"Mami tidak perduli, asalkan dia bisa bangun sudah lebih dari cukup."


"Saat ini sebaiknya Ar tidak tahu keadaan Winda, koma Winda bukan karena luka parah, tapi karena terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. Ini akan menjadi hari yang melelahkan, juga menjadi hari yang berat untuk kita semua. Ar belum stabil, Winda keadaannya masih buruk, twins A dan twins V masih belum stabil itu juga sangat berbahaya." Erik menunjuk soal pemeriksaan kepala Ar.


Pintu terbuka, Ravi masuk mengatakan pelaku yang seharusnya dihukum melukai keluarga meninggal bunuh diri.


Bima tidak perduli baginya cukup melihat Winda bangun, Ar pulih lalu membawa cucu-cucu mereka pulang.


Reva setuju dengan Bima, mereka hanya ingin fokus dengan kesehatan anak cucu. Tidak ingin ada saling membalas.


Semuanya melangkah keluar untuk melihat keadaan Winda yang belum bisa ditemani. Kesedihan terlihat dari balik pintu.


"Mami Papi sebaiknya pulang istirahat di rumah, mommy Daddy juga, Bella Tian kalian juga pulang, bayi kalian masih kecil. Di sini cukup kak Stev Windy, Ravi Kasih, Billa Erik. Jika ada sesuatu akan kami kabarin." Ravi meminta semuanya menjaga kesehatan.


Semuanya bagi tugas, Wildan menjaga Vira yang belum sadar setelah operasinya, belum tahu keadaan anaknya.


Stev dan Windy yang akan menjaga twins A dan V agar tidak ada yang mendekati, keamanan mereka juga ketat.

__ADS_1


Ravi Kasih menjaga Winda, sedangkan Ar akan diawasi oleh dua dokter. Di saat seperti ini mereka semua meninggalkan pekerjaan, meninggalkan rumah juga anak-anak yang sudah mengerti.


Kasih melihat Winda meneteskan air matanya, air mata Kasih juga menetes teringat kembali bagaimana lelahnya berbaring selama berbulan-bulan di tempat tidur, bisa merasakan tapi tidak bisa membuka mata dan hati sangat hancur.


"Winda, saat kita mencintai seseorang hal yang sangat ditakuti kehilangan. Aku juga pernah merasakan hancurnya hidup ini, tapi setelah semuanya pulih saat itulah sangat terasa bahagianya sebuah perjuangan." Kasih menggenggam tangan Winda, meminta untuk bangun dan memikirkan anaknya.


Air mata Kasih menetes menceritakan kisah hidupnya yang pernah melihat seseorang yang koma saat hamil, dia koma perutnya rata saat sadar langsung melahirkan, tapi Winda dia tahu sedang hamil, tetapi mendapatkan ujian tidak mengetahui kelahiran anaknya.


"Kita sama Win, mereka lahir prematur. Perjuangan memiliki mereka sangat sulit sehingga apapun yang mereka lakukan, baik buruknya ingin marah, tapi teringat sakitnya memperjuangkan mereka. Kamu akan merasakannya Win, semoga Ar cepat sadar, pulih seperti pagi tadi yang masih memeluk kamu." Kasih langsung menangis, memeluk suaminya merasakan sedihnya diposisi Winda dan Ar.


Ravi juga meneteskan air matanya, mengigat wajah Queen dan King yang tidak melihat kedua orangtuanya. Jika dulu Ravi selalu ada untuk melihat anaknya, berbeda dengan mereka.


"Sungguh tega kalian menyakiti bayi yang tidak bersalah, dia masih membutuhkan pelindung, tapi kedua orangtuanya masih tergeletak." Ravi mengusap air matanya.


"Mereka anak yang kuat Aak sekuat Ayahnya, sehebat ibunya. Mereka akan kuat menunggu kedua tangan kedua orangtuanya menyambut." Kasih mengusap dadanya mencoba untuk menutupi kesedihannya.


***


Steven tersenyum melihat bayi sudah bisa minum ASI, berarti keadaan mereka membaik


"Sayang berapa lama mereka di sana?" Steven ingin menyentuhnya.


"Sampai keadaan mereka membaik, karena dari mengalami kecelakaan sehingga banyak dokter yang mengawasi." Windy menggenggam tangan Wira.


"Mommy siapa nama Queen?"


"Belum tahu, pastinya berawal huruf A."


"Namanya Arsyila artinya sempurna, Wira menyukainya." Senyuman Wira terlihat menatap bayi yang baru saja memiliki nama.


"Dia adik kamu bodoh."


"Adik tidak sedarah." Wira tertawa, langsung meminta pengawalnya untuk mengantarnya pulang.


Windy menatap tajam putranya, Stev meminta Windy tidak memikirkan apapun soal ucapan Wira.

__ADS_1


Wildan melihat keadaan putra putrinya yang semakin membaik, tatapan Wildan menatap queen dan king.


"Siapa nama mereka Wil?"


"Belum tahu kak, tunggu Vira saja, jika yang laki-laki namanya Virdan. Wildan tidak menyangka menyambut kehadiran mereka dengan cara seperti ini, seharusnya penuh canda tawa, tapi nyatanya penuh air mata." Wildan menyentuh tabung inkubator, melihat queen.


"Namanya Arsyila, sedangkan satunya Arwin Bramasta."


"Maaf kak Win, mereka keturunan Prasetya." Ravi tersenyum melihat bayi mungil mulai tidur.


"Begini ekspresi mereka di dalam rahim, menunggu waktu lahir, sungguh indahnya." Ravi tersenyum melihat empat bayi mungil.


"Hebat kalian semua memiliki twins, cowok cewek."


"Ini siapa yang anak pertama?" Windy menatap Wildan dan Ravi.


"Bangunlah Winda, aku takut saat Vira bangun mencari kamu, dia pasti akan mengamuk histeris." Wildan memijit pelipisnya.


Suara panggilan Ravi terdengar, Kasih berteriak meminta dokter datang ke dalam ruangan Winda.


Wildan langsung berlari kencang, dia tidak bjsa memikirkan apapun lagi selain rasa khawatir terhadap adiknya.


Ravi juga berlari, Wildan sampai terjatuh menabrak. Ravi langsung membantunya berdiri membuka pintu ruangan Winda.


"Winda, dek kamu kenapa?" Wildan langsung memeluk Winda yang hanya diam seperti patung, tidak ada respon sedikitpun bahkan matanya tidak bergerak.


Dokter berlarian meminta keluarga keluar, Ravi menarik Wildan untuk segera keluar agar Winda bisa diperiksa.


Wildan teriak kuat, memukul dinding kuat bekali-kali sampai tangannya berdarah. Erik keluar dari ruangan Ar melihat Wildan yang meluapkan emosinya, pukulan kuat juga menghantam kepalanya.


Ravi menahan Wildan memintanya untuk tenang, harus yakin besok hari bahagia.


"Kenapa tidak aku saja, melihat istriku masih belum sadar, anakku lahir prematur, sedangkan adikku." Darah menetes di lantai.


***

__ADS_1


__ADS_2