MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 BENCI DAN CINTA


__ADS_3

Suasana hening, Winda langsung melangkah ke kamar mandi. Ar masih duduk diam menunggu Winda keluar.


Kepala Winda tertunduk, ragu untuk tidur di samping suaminya.


"Winda, ayo kita lakukan. Minggu depan kita pulang ke Indonesia." Senyuman Ar terlihat, tatapannya sangat serius.


"Kenapa cepat sekali?"


"Urusan aku di sini selesai, seluruh pekerjaan akan aku alihkan ke sana. Ummi juga sudah ada yang menjaganya, tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Ayo kita pulang memulai rumah tangga bahagia." Langkah Ar mendekat, Winda hanya tertunduk diam membiarkan Ar memeluknya.


"Winda boleh tidak?"


"Kamu bersedia menyentuh wanita ...."


"Aku tidak perduli, cukup kita yang tahu dan lupakan saja. Kita fokus ke masa depan, bukan masa lalu." Kedua tangan Ar menakup aja Winda yang tersenyum manis.


Di dalam hati Winda lompat-lompat kesenangan, akhirnya bisa mengerjai pria jenius yang membuat rencananya gagal.


Winda akan diam saja, membiarkan lelaki tidak berpengalaman untuk memulai sendirian. Winda ingin tahu sampai sejauh mana keberanian Ar.


Baru saja Ar ingin mencium bibir Winda, ponselnya sudah berdering. Winda mengutuk siapapun yang menghubungi Ar di tengah malam.


Cukup lama Ar berbicara, Winda sudah lompat-lompat di atas ranjang tidak sabar lagi menunggu.


"Lama sekali." Winda langsung melangkah ke balkon kamar, mendengar Ar sedang tertawa terdengar juga suara wanita membuat Winda panas.


Tatapan Winda tajam, melihat bajunya langsung membuka penutup menyisakan baju satu jari yang hanya menutupi dada sampai atas pahanya.


Pelukan tangan Winda melingkar, Ar melihat ke arah tangan. Konsentrasi Ar langsung buyar, merasakan tangan yang sudah masuk ke baju kaosnya.


Panggilan langsung diakhiri, senyuman Winda terlihat. Mata Ar melotot melihat baju seksi yang Winda gunakan, bahkan dadanya terlihat.


"Siapa yang menghubungi kamu?"


"Ravi, kita sedang membahas pekerjaan di sana."


"Winda mendengar suara perempuan?"


"Kak Ravi menikah dengan siapa?"


"Kak Kasih."


"Kasih jenis kelaminnya apa?"


"Wanita."

__ADS_1


"Perbedaan wanita dan perempuan?"


"Tulisannya."


"Kesamaannya?"


"Sama saja." Winda tertawa langsung memeluk, mengantungkan tangannya di leher lelaki tampan.


Kedua tangan sudah menyentuh pinggang Winda, keduanya berciuman sambil tersenyum. Winda melupakan niatnya yang ingin mengerjai Ar, dia lebih dulu yang ketagihan.


Ar melepaskan ciuman mereka, menarik nafas panjang karena kehabisan nafas. Bibir Winda semakin merah.


Tubuh Winda terangkat, tidak menghentikan bibir keduanya saling bersentuhan. Sampai tiba di atas ranjang keduanya masih belum sadar.


Baju Ar sudah terbuka, tidak tahu sikap liarnya dapat dari mana, hawa ***** mengendalikan membuatnya bisa menyentuh setiap area sensitif Winda.


Suara Winda yang tidak karuan membuat Ar semakin tidak bisa mengontrol dirinya, sentuhan lembut yang membuat Winda semakin terbuai.


Tatapan mata keduanya bertemu, baju Winda sudah lepas, begitupun dengan Ar. Keringat sudah membasahi tubuh keduanya padahal cuaca sedang dingin.


Ar mengusap keringat dari dahi istrinya yang ada di bawah, nafas Winda juga masih naik turun.


"Win, sudah siap belum?"


"Sebentar lagi, Winda sebenarnya ingin digoda bukannya tergoda." Bibir monyong, Ar tertawa mencium bibir yang sangat indah dimatanya.


"Dijebol dulu sayang, baru memikirkan twins." Winda tersenyum melihat Ar tertawa memeluknya erat.


Pelukan paling tenang, rasanya Winda merasakan kehangatan dari pelukan Papinya. Jika saat kecil papinya yang memeluk, setelah menikah suami menjadi pelukan ternyaman.


Winda juga mengagumi cara berpikir Ar, meskipun tahu dirinya tidak bersegel lagi masih bisa tertawa lepas, membayangkan memiliki twins.


Tangan Winda memeluk erat, ada perasaan tidak ingin kehilangan. Winda merasakan takut, ditinggalkan.


"Apa aku mencintai suamiku? apa ini rasanya mencintai seseorang? merasakan kebahagiaan melihat canda tawanya." Batin Winda berbicara, mendengarkan Ar membacakan niat.


Mata Winda terpejam, memeluk erat punggung Ar. Air mata Winda meneteskan merasakan sakit di bagian bawahnya, bibir Winda sampai berdarah merasakan ada yang masuk.


Ar juga terdiam, memeluk erat Winda. Mendengar suara tangisan, membiarkan Winda tenang terlebih dahulu.


"Kenapa kamu bohong Win?" Ar menutup matanya, rasanya Ar ingin menangis mendengar tangisannya Winda pecah.


"Kenapa menangis? apa aku menyakiti kamu?" Ar ingin melepaskan pelukan, tapi Winda terus menahannya sambil menangis kuat.


"Winda takut, selama sepuluh tahun Winda merasa kotor, takut jika ada yang mengambil kehormatan Winda, bagaimana caranya menghadapi suami nanti? bagaimana jika Papi Mami tahu? bagaimana jika keluarga besar tahu? Winda tidak bisa menerima kenyataan itu." Tangisan Winda semakin kuat.

__ADS_1


Ar mengambil selimut menutupi tubuh mereka, melepaskan pelukan, melihat Winda menutup wajahnya sambil menangis.


Ar juga melihat bercak darah, memakai baju mandi langsung keluar mengambil air minum, karena di villa hanya berdua Ar tidak ragu keluar kamar tanpa dalaman.


"Minum dulu Win." Ar membantu Winda minum memeluknya lembut agar tenang.


"Sudah menangis, jadi alasan bohong karena takut."


"Winda takut, bisa dipotong kepala Winda oleh Mami."


"Sekarang sudah lega, hari itu aku membawa kamu keluar menyerahkan kepada Wildan langsung ke rumah sakit. Baju kamu juga masih utuh." Ar menyakinkan, mengusap air mata Winda yang membasahi pipinya.


Ar tidak menyangka malam pertamanya harus mendengar tangisan histeris Winda, biasanya orang hanya rintihan, tapi Winda memang berbeda.


"Kenapa kamu mengambil kehormatan Winda?" Tangan Winda memukul, sedangkan Ar hanya tertawa.


"Karena kamu sudah selesai menjaganya, giliran aku untuk mengambil alih menjaganya." Ar mencium bibir Winda.


Senyuman Winda terlihat, Ar mengambil tisu membersihkan ingus yang keluar dari hidung.


"Sekarang kamu istirahat, sudah puas mengetahui kebenaran jika aku yang sudah mengambilnya." Ar menekan hidung Winda pelan.


"Katanya ingin membuat twins?"


"Ahhh iya, ayo lanjut." Ar memeluk erat, membuka bajunya.


Winda merasakan tenang, bongkahan batu besar yang menghimpit hidupnya sudah disingkirkan.


Jantung Winda berdegup, mendengar suara Ar yang berbisik di telinganya. Winda meringis masih merasakan sakit langsung menutup mulutnya.


"AW sakit."


"Aduh."


"Bisa pelan tidak?"


"Aku belum melakukan apapun Winda." Ar tertawa langsung menutupi mulut Winda, membiarkannya mengomel tanpa suara.


Jika mulut Winda tidak ditutup dengan bibir Ar, dia tidak bisa diam terus mengeluh. Bahkan tubuh Ar perih karena terkena cakaran kuku panjang Winda yang mirip kuntilanak.


Suara Winda sudah hilang tubuhnya terkulai lemas, bahkan mengangkat tangannya saja tidak mampu. Keringat Ar juga menetes ditubuhnya.


"Winda, aku mencintai kamu." Ar membalik tubuh mereka, Winda berada di atas.


"Terima kasih sudah menjaga kehormatan yang sebenarnya memang milik kamu. Winda tidak menyesal dinikahi oleh pria yang pernah Winda benci. Ucapan Mami benar, benci dan cinta beda tipis." Winda memejamkan matanya, tidak punya tenaga lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2