MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 PULANG BERSAMA


__ADS_3

Steven dibawa masuk ke dalam mobil untuk langsung pulang agar Stev bisa melakukan perawatan, Vero juga satu mobil dengan Stev.


Mei menyentuh mobil yang tidak pernah dia lihat, Mou juga masuk duduk di samping Stev. Vero membukakan pintu meminta Can masuk, tapi Can masih berdiri diam.


"Kamu boleh memarahi aku jika kita sudah sampai rumah. Demi keselamatan anak-anak." Vero menutup pintu setelah Can masuk.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena jalanan yang berliku-liku, Vero menatap Stev yang tatapannya kebingungan.


"Dunia yang sempit, atau takdir yang mempermainkan perasaan. Can menghilang saat hamil, setelah dua tahun menghilang aku kecelakaan hebatnya orang yang menyelamatkan aku wanita yang pernah menghilang. Setelah tiga tahun aku menghilang, anak-anak kesasar di dalam hutan, akhirnya kita semua dipertemukan." Steven tersenyum melihat Mei yang menatapnya.


"Papa maafkan Mei yang punya Papa baru, tapi Mei tetap sayang Papa yang ini juga."


"Panggil Daddy saja Mei, bagaimanapun kamu masih keturunan keluarga kami." Stev mengusap wajah Mei.


Perjalanan yang sangat lama membuat semuanya tertidur, beberapa mobil beriringan.


Hampir subuh baru sampai Mansion, mobil Bima masuk langsung menggendong Winda, Reva membangunkan Wildan.


Mobil Bisma juga sampai, langsung mengendong kedua putrinya yang terlelap tidur.


Bastian yang membawa mobil sendiri juga tiba, Ravi menggendong Windy yang sedang asik tidur mengorok.


Mobil Rama juga sampai, Vira sudah tidur seperti lupa dunia, Rama langsung menggendongnya.


Mobil Vero sampai bersama dengan mobil Saka, langsung membantu Steven berjalan untuk masuk ke dalam Maison, Vero mengendong Mei masuk ke dalam Maison.


Cantika keluar bersama Mou yang berdiri tidak percaya bisa melihat rumah yang sangat besar. Steven meminta Can dan Mou masuk untuk membersihkan diri.


Bagian keamanan Steven menundukkan kepalanya sambil menangis tidak percaya dengan yang dia lihat, jika tuan muda kembali.


Vero membawa Mei ke kamarnya, Can masuk melihat kamar Vero.


"Kamu bisa mandi, nanti aku pinjamkan baju Mami Reva." Vero melangkah keluar.


Steven masuk kamar bersama Mou dan Saka, senyuman Mou terlihat menatap kamar yang sangat besar.


"Mou kamu mandi dulu, ambil baju di lemari sana." Steven tersenyum melihat Mou yang langsung masuk kamar mandi.


Suara berisik terdengar, Saka membuka pintu kamar mandi melihat Mou yang tidak mengerti apapun.


Akhirnya Saka harus mengajarinya untuk mandi, cara memilih air hangat dan dingin, membuka sabun dan sampo.


Setelah Mou mengerti barulah Saka keluar sambil tertawa melihat Steven, Saka menatap Stev yang tidak setampan dulu.


"Stev kamu harus dirawat."


"Iya, aku masih tidak percaya dengan kejutan di depan mata. Kejadian yang sangat cepat membuat aku binggung cara meresponsnya."


"Kamu benar, aku juga tidak menyangka."

__ADS_1


"Saka terima kasih untuk bantuannya."


"Aku yang berterima kasih karena kamu kembali berkumpul bersama kami." Saka memeluk Steven.


Sambil menunggu Mou mandi, Saka menghubungi dokter menjadwalkan pertemuan dengan Steven.


Setelah Mou mandi, Steven langsung mandi membersihkan tubuhnya yang kotor. Bima membuka kamar mandi membantu Steven membersihkan tubuhnya.


"Maafkan Stev kak Bim."


"Kenapa minta maaf, kamu tahu betapa sedihnya kak Bim tidak bisa menemukan kamu, melihat kesedihan Windy, hancur sekali Stev."


"Karena itu Stev minta maaf kak, Steven tidak ingat apapun. Saat sadar melihat Winda ada di depan mata Stev."


"Iya, kita lupakan saja kejadian yang menyakitkan itu. Hal paling penting kamu sudah kembali."


"Steven hanya menghabiskan waktu beberapa hari tanpa Windy, sedangkan Windy sudah bertahan selama tiga tahun." Steven mengusap matanya.


"Kamu bisa melihat betapa besarnya cinta putriku, dia sama seperti Reva memiliki kesetiaan yang luar biasa." Bima tertawa menggosok punggung Steven, membersihan rambutannya, berhati-hati agar kaki Steven tidak basah.


Bima membantu membersihkan wajah Steven, mencukur kumisnya yang berantakan. Merapikan rambut Steven.


"Alhamdulillah ternyata kamu masih tampan Stev?" Bima tertawa.


"Terima kasih kak Bima."


Reva sudah menunggu di kamar mengobrol bersama Mou, Viana dan Jum juga ada di kamar.


"Perasaan Stev tidak enak jika ada Tri istri." Steven tersenyum menatap Bima.


Reva meminta Stev duduk, dia ingin membersihkan luka kaki Steven yang membusuk.


"Seperti kaki Stev harus dipotong?" Jum menatap ngeri.


"Bunda, Stev hanya membutuhkan operasi, untuk membersihkan lukanya, karena lukanya sangat dalam."


"Mana Jum tahu."


Reva membersikan perlahan, melihat kaki Steven yang seharusnya lumpuh, tapi jeri payah Can sungguh luar biasa.


"Terima kasih masih hidup dan kembali bertemu kami Stev, kami kehilangan harapan setelah berbulan-bulan pencarian kamu, Air mata sudah kering, harapan sudah hilang. Bahkan kami hampir menyetujui keinginan Vero untuk menikahi Windy karena tidak tega melihat Windy berpura-pura kuat."


mereka sudah menikah?"


"Belum bodoh, Windy masih menolak dia terus meminta waktu."


"Windy dan Vero saling menguatkan." Bima menepuk pundak Stev.


Reva melangkah keluar mengetuk ke kamar Vero, melihat Can yang sedang membersihkan tubuh putrinya.

__ADS_1


Tri istri menceritakan perjalanan cinta mereka, Can tersenyum sangat mudah dekat dengan Tri istri. Can juga menceritakan keadaan Steven.


"Can, kamu pasti bahagia saat melihat putrimu berpelukan dengan ayahnya." Viana menyentuh tangan Mei.


"Iya, hanya saja hati aku terluka." Can menatap wajah putrinya.


"Seadanya kamu bisa memutar waktu, apa yang akan kamu lakukan?" Vi menatap Can sambil tersenyum.


"Tetap pergi."


"Kenapa?" Tri istri bertanya serempak.


"Karena perpisahan mungkin lebih baik, dari pada bertahan tapi terluka." Can mencium kening putrinya.


"Kamu beristirahatlah, kami akan menyiapkannya makan karena kalian pasti lelah."


Cantika ingin ikut membantu, tapi Reva melarangnya. Can akhirnya menurut.


***


Windy terbangun melihat matahari bersinar, langsung duduk mengingat mimpinya. Langsung melangkah keluar melihat Mansion yang masih sepi.


"Ay! Windy rindu." Windy teriak kuat.


Reva langsung berlari dari dapur, melihat Windy menangis memeluk foto Steven. Tangisan Windy sangat kuat meluapkan rasa rindunya.


Can keluar sambil menggendong Mei, melihat ke bawah Windy yang menangis histeris. Vero keluar bersama Steven dari dalam kamar melihat Windy.


"Ada apa ini?" Winda keluar sempoyongan.


Semuanya keluar dari kamar, Bima langsung berlari memeluk Windy.


"Papi, Ay kapan pulang. Windy melihatnya di dalam mimpi."


"Windy berhenti menangis."


"Papa, kakak itu kenapa?" Mei ingin digendong Vero.


"Kakak merindukan calon suaminya." Vero mencium Mei.


Steven berjalan tertatih menuruni tangga ingin menemui Windy yang sedang menangis sesenggukan. Suara Winda terdengar, Vira masih berjalan dengan mata terpejam.


"Kak Windy kita pulang, bersama kak Stev." Winda memeluk Windy.


Mata Stev dan Windy bertemu, Stev berjalan pincang ingin memeluk Windy.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***


__ADS_2