MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 ULANG TAHUN PUTRI ANNA


__ADS_3

Tatapan mata Stev tajam melihat empat bocah, Windy memperhatikan Stev. Tawa Steven langsung pecah, mengatakan jika keempat bocah centil mengintip adegan dewasa di kamar Wilona.


Windy langsung menatap Steven ikut tertawa, mendengar cerita Steven menemukan empat bocah mengintip.


"Kita tidak salah kak Win, awalnya kita mencari minum, terus melihat nenek berbicara dengan pangeran, mereka pergi kita keluar melihat kue ulang tahun, langsung mencicipinya, kita pergi melihat kamar, pangeran bertengkar dengan pengawal cantik." Winda menjelaskan yang mereka temukan.


"Setelah mereka bertengkar?" Stev menahan tawa.


"Ciuman seperti Ayah Bunda." Billa memonyongkan bibirnya.


Suara tertawa Windy dan Steven terdengar, Reva dan yang lainnya mencari bocah melihatnya sedang asik tertawa bersama Windy.


"Dari mana saja kalian berempat?"


"Melihat pangeran dan pengawal cantik ciuman." Vira bicara sangat kuat, Raja Hanz sampai melongo.


"Ada kue ulang tahun Putri Anna juga." Winda menatap Windy yang terkejut.


"Winda bisa tidak mulut kamu jangan terlalu jujur." Reva melotot.


"Haduh Winda pusing. Jujur salah tidak jujur salah, lebih baik Winda pergi saja." Kaki Winda menghentak kesal.


"Jangan marah nak, ayo kita makan, sekalian merayakan ulang tahun Putri Anna untuk yang pertama dan terakhir. Boleh tidak Windy?"


"Tentu saja boleh Ayah." Windy tersenyum, menatap Papinya yang menganggukkan kepalanya.


Seluruh hidangan sudah di siapkan, semua orang bergabung tanpa terkecuali. Atha datang menatap Stev yang tersenyum, anak-anak juga memperhatikan Atha.


"Om Atha pacarnya mana?" Vira mencari Wilo.


Viana langsung berdehem, Vira langsung diam Mommy sudah memberikan peringatan untuk dirinya.


Kue ulang tahun di bawa ke depan, kening Windy berkerut melihat kue ada bolongan langsung menatap Bella, Vira dan Winda.


Raja Hanz menatap pelayan, melihat kue yang ada bolongan tapi membuat Windy tertawa. Lilin dihidupkan, Windy berdiri di tengah Raja Hanz dan ibu suri.


Semua orang bernyanyi lagu selamat ulang tahun, senyuman Windy terlihat menyambut hari lahirnya.


Windy menadahkan tangannya, berdoa untuk dirinya diberikan umur yang panjang, kesehatan, juga diberikan kelancaran dalam segala hal.


Senyuman Windy terlihat meniup lilin, semua orang bertepuk tangan mengucapkan selamat ulang tahun. Windy menghidupkan satu lilin.

__ADS_1


"Ibunda, terima kasih sudah melahirkan Anna ke dunia ini. Maafkan Anna yang tidak bersama Bunda selama 17 tahun, Anna bahagia lahir sebagai Putri Bunda Sinta, nama Bunda akan selalu ada di hati Anna sekalipun sekarang Anna adalah Windy. Anna sayang Bunda, semoga Bunda tenang, Windy akan selalu mendoakan Bunda." Windy menghapus air matanya, meniup lilinnya.


"Ayahanda, maafkan Anna yang sudah merampas kebahagiaan Ayah, doa Anna hanya ingin Ayah bahagia selalu, sehat terus, terima kasih sudah menjadi Ayah yang kuat." Windy memeluk Ayahnya mencium pipi.


Raja Hanz menangis, memeluk erat tubuh Windy menciumi kening, wajah. Tangisan Raja Hanz penuh dengan penyesalan.


"Maafkan Ayah Anna, maafkan kebodohan Ayah yang membenci kamu sejak dalam kandungan, Ayah menyesal, maafkan Ayah."


"Ayah jangan diungkit lagi, kita sekarang sudah bahagia, Ayah juga harus bahagia." Windy menghapus air mata Raja Hanz.


Windy memeluk neneknya, menciumnya lama senang bisa berjumpa dengan nenek aslinya. Windy juga memeluk erat Atha kakak kandungnya mengucapkan selamat atas hubungannya dengan Wilo, berdoa semoga Atha naik pelaminan bersama sahabat terbaiknya.


Windy memeluk Wilona mengucapkan terima kasih sudah menjadi sahabat terbaiknya, sudah menjaganya. Windy juga meminta maaf Wilo kehilangan sosok ibu karena dirinya.


"Maafkan aku Wil, kamu harus bahagia."


"Ibu pasti bangga berhasil menyelamatkan kamu, Wilo juga sangat bahagia mengenal Putri Anna." Wilo memeluk erat.


Windy juga menundukkan kepalanya mengucapkan terima kasih kepada Bib yang sudah membesarkan Wilo, Ghina Saka Vero yang sudah ikut berjuang.


"Aku memiliki hutang kepada kalian semua."


"Selamat ulang tahun Putri Anna." Saka tersenyum melihat Windy.


"Mulai hari ini Anna sudah tiada, nama aku Windy Bramasta. Sekalipun Windy tidak tinggal di istana, tempat ini masih ada hak Windy. Keinginan Windy satu, keluarga kerajaan akan menyambut baik kedatangan Windy, keluarga Windy, bahkan keturunan kami selanjutnya." Windy menatap Atha.


"Keturunan kamu juga keturunan kerajaan, kalian bisa datang ke sini sebagai keluarga kerajaan, bukan hanya keturunan kamu, tapi putra putri Bramasta." Atha tersenyum.


"Satu hal lagi usia Windy masuk 19 tahun, tidak akan ada yang berubah. Cukup kita semua yang ada di sini menjadi saksi, datang dan perginya Anna. Sekalian pemberitaan di luar sedang hangat, perlahan semuanya akan kembali tenang."


Raja Hanz menyetujui ucapan Windy, Bima dan Hanz bersalaman sebagai seorang Ayah dan Papi bagi Windy.


"Steven bukan hanya harus menghafal jus, tapi harus tahu cara menggunakan pedang." Saka tersenyum melihat Steven yang melotot.


"Bima, boleh tidak saat Windy menikah aku turut hadir."


"Tentu, kamu Ayah kandungnya, bahkan kamu boleh menjadi walinya."


Reva menatap Steven untuk meminta restu, Stev tidak mengerti isyarat Reva yang melotot seakan-akan sedang marah.


"Bima, kamu memiliki adik yang hebat seperti Steven, saya bangga kepadanya sudah menjaga Windy seperti Putrinya."

__ADS_1


"Putri." Steven kaget.


Bima menghembuskan nafasnya, Raja Hanz kaget mendengar ucapan Bima jika Stev kekasih Windy.


"Steven dan Windy kekasih, kenapa kamu mirip Bunda kamu mencintai lelaki dewasa?" Raja Hanz tersenyum menatap Windy.


Suara pukulan meja terdengar, Reva menatap tajam melihat Raja Hanz yang sudah menundukkan kepalanya.


"Kamu tidak tahu betapa nikmatnya pesona pria dewasa, bukan hanya Ibunda Windy, tapi Maminya juga."


"Lebih nikmat pesona ABG, benar tidak Bima Steven?." Viana tersenyum menatap Rama.


Raja Hanz langsung tertawa, Bima bersahabat dengan Viana, sedangkan suami Viana sahabat Reva, dunia yang sempit.


"Kapan kita bisa makan kue?" Winda menjilati tangannya menyentuh kue Windy.


"Sebaiknya kita potong kue, si cantik empat sudah tidak sabar lagi." Nenek Arum tersenyum mengusap kepala Winda, Vira, Bella Billa.


"Vira yang mana, Winda, Bella Billa?"


"Vira warna merah, semua yang merah punya Vira."


"Winda kuning."


"Bella biru."


"Billa sisanya kak." Billa tersenyum menunjukkan giginya yang rapi.


Windy mengomel seharusnya kue satu warna saja, jangan ada warna-warni, akhirnya kue habis dikuasai oleh empat bocah.


Semua kue habis, Windy memberikan satu-persatu, tatapan mata langsung fokus dengan mahkota.


"Mahkota milik Wildan." Windy yakin pasti ingin rebutan.


Semuanya makan bersama, besok Windy akan berkunjung ke kastil baru kembali pulang, karena malamnya penobatan Raja baru.


***


...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA...


...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...

__ADS_1


***


__ADS_2