
Ruang persidangan sudah siap, seorang wanita berjalan bersama seorang anak kecil. Steven tersenyum memeluknya, senyum kecilnya terlihat.
"Papi kapan keluar Paman? Ara rindu."
"Sabar Ara, berdoa kepada Tuhan agar Papi Ara cepat pulang."
"Sudah Paman, Ara sudah melipat kedua tangan Ara berdoa selalu. Ya Tuhan kembalikan Papi Ara, Ara berjanji tidak akan nakal lagi, tidak meminta mainan lagi, Ara hanya ingin selalu bersama Papi."
Steven tersenyum, menahan kesedihan melihat anak kecil berusia lima tahun, hampir menjadi korban seksual lelaki bejat.
Steven langsung pamitan pergi, masuk ke dalam ruangan persidangan yang sudah penuh saksi. Steven tersenyum menyapa pria yang terlihat tenang, karena dia lega putrinya baik-baik saja.
"Apa kabar Stev? bagaimana kabar putriku?"
"Baik pak, Ara juga baik. Bagaimana kabar bapak?" Steven melihat beberapa luka lebam di area tubuh.
Steven tersenyum, begini hukumnya miskin dan kaya, uang bukan hanya bisa membeli kebutuhan, tapi juga bisa membeli kebenaran. Sedangkan yang tidak memiliki uang yang menerima setiap hukuman, hidup sulit semakin sulit.
"Bagaimana jika kita kalah dipersidangan terakhir?' Steven melirik, senyuman terlihat.
"Saya sudah siap, tidak berharap banyak nak."
Steven tersenyum menepuk pelan pundak lelaki hebat yang terlihat tegar, Steven tidak akan membiarkan seorang putri kehilangan seorang Ayah hanya demi menyelamatkan dirinya.
Windy menatap Steven yang terlihat sangat tampan dengan bajunya, senyuman Windy terlihat mengagumi lelaki yang selama ini dicintainya.
"Awas Win, nanti mata kamu bisa lepas. Belum tentu lelaki yang kamu cintai, bisa memenangkan kasus ini." Wilo mengusap wajah Windy.
Seluruh orang masuk, jaksa, hakim sudah berada di tempatnya. Semuanya berdiri memberikan hormat, Steven tersenyum menatap Jaksa cantik yang hampir setiap hari meminta Stev menyerah.
Keluarga korban mulai berteriak marah, saat Steven maju ke depan. Sumpah serapah mencaci maki Stev terdengar, sekalipun coba ditenangkan tetap saja suara tangisan terus terdengar.
"Jika anda tidak bisa menghormati kami yang ada di sini silahkan keluar." Steven menatap tajam.
__ADS_1
"Kamu manusia tidak punya hati, kamu tidak akan hidup lama. Kamu akan mati dengan cara tragis." Teriakan istri korban terdengar sangat kasar, terus menyakiti perasaan Steven.
Steven hanya tersenyum, menggelengkan kepalanya. Stev melihat bapak yang harus dia bela, menghapus air matanya, menatap Steven sambil tersenyum.
"Stev, kamu tidak memilki bukti lagi, sebaiknya kita selesaikan ini secara baik. Jangan karena kamu orang yang berpengaruh kuat di firma hukum bisa memberikan harapan." Jaksa Renata memperingati Steven.
"Rena, aku tidak butuh nasihat." Steven menatap sinis.
Steven berdiri di tengah, mulai membuka map, memberikan kepada hakim. Steven mulai menceritakan kasus sebenarnya yang belum Stev bongkar saat persidangan sebelumnya untuk mengumpulkan bukti lebih.
Penjelasan Steven soal korban meninggal memang karena mengalami penusukan, tapi Steven menyatakan sebuah pembelaan diri. Banyak bukti-bukti yang Steven keluarkan.
Keluarga korban semakin teriak histeris, mengamuk tidak terima dengan semua tuntutan Steven.
"Kamu pengacara sinting!" Steven dilempar dengan menggunakan tas yang cukup berat.
Steven langsung mendekati istri yang mati-matian membela suaminya, Steven menudukan kepalanya meminta maaf.
"Dari mana anda mendapatkan rekaman?"
"Haruskah saya membongkar semuanya di sini?" Steven berbicara tegas.
Hakim meminta perdebatan Steven berhenti, meminta Steven duduk kembali. Memberikan kesempatan untuk Jaksa memberikan pembelaan.
Renata menatap tajam Steven yang sudah duduk, mencoret beberapa bagian di dalam kertas. Rena binggung harus memilih maju atau mundur, Stev tidak akan menyerah, atau memberikan kesempatan dirinya untuk mengungkap kebohongan.
"Jika pihak jaksa masih ingin diam, teruslah diam sampai sidang ini selesai. Saya akan memberikan bukti penyerangan terhadap saya, juga beberapa kali ditawarkan uang yang bernilai cukup fantastis." Steven tersenyum, melihat ke atas seorang pria yang menatapnya penuh kebencian.
Steven menyerahkan bukti penyerangan di Restoran, kerusakan mobilnya yang sengaja agar mengalami kecelakaan, beberapa lembar cek meminta Steven mundur.o
Rena memijit pelipisnya, Steven tidak main-main. Setelah sekian lama duduk santai di dalam ruangan, saat keluar langsung meminta seorang pembunuh dibebaskan.
Windy masih terdiam, mulutnya terbuka melihat pria yang dia panggil Om sangat luar biasa, Windy hanya tahu nama, tapi tidak mengetahui sedikitpun sikap dan sifat dari seorang Steven.
__ADS_1
Bukan hanya Windy, Wilona dan Lukas juga terdiam terpesona bukan hanya ketampanan, tapi wibawa nada bicara yang tenang.
Seluruh mahasiswa yang tergabung tersenyum melihat pengacara tampan tidak punya tempat takutnya, bahkan hakim membiarkannya mengungkap secara detail.
"Berapa lama dia menjadi seorang pengacara? sepertinya hakim, Jaksa sangat memahami sikapnya." Lukas menepuk pelan tangannya.
Windy terdiam menghitung berapa lamanya, dia mengingat saat berusaha belasan tahun, Steven menjadi pengacara muda, kasus Papi dan Bunda menjadi kasus pertama Steven.
"Kurang lebih 10 tahun, dia pengacara muda, tampan sangat keren." Windy bicara penuh pujian, membuat Lukas mengerutkan keningnya.
Perdebatan belum selesai, Steven menatap Renata yang tidak terima dengan sikap Steven. Dia terlalu berambisi, bahkan melakukan pembelaan yang belum tentu benar.
Steven bisa melakukan lebih dari yang baru saja dia perbuat, terlalu banyak bukti memojokkan banyak pihak. Steven tidak punya waktu untuk mengurus semuanya, cepat kasus selesai, cepat seorang putri bertemu Papinya.
Tangan Steven digenggam erat, Steven balik membalas genggaman sambil tersenyum.
"Sabar sebentar lagi, aku akan menepati janji kepada seorang putri yang menginginkan Papinya kembali. Jika mereka menolak, Stev akan maju lagi melemparkan lebih banyak bukti sampai bapak bebas."
"Terima kasih Stev, saya tidak ingin di sini, ingin hidup bersama anak dan istri." Tangisan menyayat hati terdengar.
Steven menggagukan kepalanya, menunggu para hakim sedang berdiskusi. Melihat keluarga korban yang tidak punya wajah penyesalan.
Melihat dari tindakan mereka, Steven sudah tahu jiak yang dicari hanyalah harta warisan, memiliki lima istri membuat semuanya memperebutkan harta kekayaan.
Siapa yang paling unggul dalam pembelaan pasti akan memiliki warisan paling banyak. Senyum Steven terlihat, mengaruk keningnya yang merasa lucu.
Hakim meminta perhatian, Steven menatap tajam. Hakim menyatakan kasus pembunuhan pengusaha sukses yang dibunuh supirnya sediri. Pelaku melakukan pembelaan untuk putri kecilnya yang belum mengerti.
Hakim memutuskan untuk memberikan kebebasan tanpa syarat. Teriakan penuh syukur terdengar bersorak.
Tangisan bahagia mulai terdengar, Steven tersenyum melihat Renata, juga hakim yang tersenyum melihat Steven.
***
__ADS_1