MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 WANITA KUAT


__ADS_3

Keadaan Windy sudah stabil, Stev menggenggam tangan istrinya yang perlahan bergerak.


Tangan Windy menyentuh perutnya yang masih besar, senyuman Windy terlihat menatap Steven yang hanya tertunduk.


"Ay anak kita baik-baik saja, Windy takut sekali." Senyuman Windy terlihat, menatap wajah suaminya yang terpaksa tersenyum.


Suara ketukan pintu terdengar, dokter Nana masuk tersenyum menyapa Windy yang terlihat sudah jauh lebih baik.


"Bagaimana keadaan kamu Win?"


"Baik dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Windy tersenyum, di dalam hati Windy sudah memiliki perasaan tidak enak.


Dokter Nana tersenyum, mengusap tangan Windy. Perlahan mulai menjelaskan keadaan Windy, juga resiko besar jika dia tetap hamil.


Tanpa keraguan dokter Nana menjelaskan kemungkinan buruknya, juga harapan salah satu selamat sangat kecil.


Air mata Stev menetes, langsung mencium tangan Windy yang hanya menganggukkan kepalanya, tidak menangis sedikitpun.


"Windy, saya tahu ini keputusan yang berat. Tidak mudah menerima kehilangan buah hati, saya akan bantu kamu mengobati sakit kamu sampai sembuh, setelahnya kamu bisa hamil lagi, kita lakukan ini demi keselamatan kamu." Dokter Nana juga sedih, tapi dia harus melihat keputusan Windy.


Senyuman Windy terlihat, masih menarik napas buang napas. Menatap Stev yang menangis tidak kuasa menerima kenyataan soal anak mereka.


"Windy, kita gugurkan ...."


"Tidak dok, jangan katakan soal digugurkan. Seberat apa Windy harus bertahan? apa yang harus Windy lakukan demi dia bisa lahir ke dunia ini. Jika dokter mengatakan harapan kecil, Windy ingin mengambil resiko kecil itu, meskipun kecil, masih ada harapan. Tolong bantu aku mempertahankannya." Tatapan Windy serius, dokter Nana tidak menyangka Windy masih bisa tersenyum.


"Windy resikonya besar."


"Aku tahu. Dokter hal besar apa yang belum Windy hadapi, sejak kecil Windy sudah melihat banyak masalah dalam hidup ini, jika harus diuji lagi Windy jauh lebih kuat. Tolong ... hanya kata tolong yang saat ini Windy inginkan. Jangan katakan jika tidak ada kemungkinan, pasti ada, segala sesuatu pasti ada resikonya." Windy mengusap dadanya, menggenggam tangan Stev.

__ADS_1


"Sayang, aku sangat menginginkan anak ini, tapi aku tidak siap kehilangan kamu. Windy kita bisa memiliki dia suatu hari nanti." Stev tidak kuasa menahan kesedihannya, dia jauh lebih lemah dari Windy.


"Ay kenapa bicara seperti itu? kita di sini berdua Ay, kita bisa saling support, saling menjaga. Windy kuat, karena ada Ay yang akan menjaga kami." Tangan Windy mengusap air mata suaminya, melarang untuk menangis, karena air mata boleh keluar karena terlalu bahagia.


Rasa bahagia terbesar saat kita menetes air mata, Windy tidak ingin menangis. Dia yakin akan ada hikmahnya dari banyaknya masalah.


"Windy tahu Ay sangat menyayangi anak ini, kita berjuang bersama agar dia bisa melihat dunia ini. Jangan khawatirkan Windy, jika kalian kuat, Windy jauh lebih kuat." Windy memeluk Steven yang mengusap punggung istrinya yang sangat hebat.


Bima memeluk Reva erat yang mendengar suara putri mereka, Windy memang wanita tangguh yang tidak pernah mengatakan jika dia menyerah, sejak dulu selalu bangkit berdiri, meskipun berkali-kali dia jatuh.


Windy tersenyum menatap dokter Nana yang mengusap air matanya, duduk mendekati Windy yang terlihat tidak memiliki beban.


"Ibu kamu kuat sekali, kamu juga harus bertahan. Jangan membuat saya sedih, ini pertama kalinya ada dokter menangis terus." Nana mengusap air matanya menyentuh perut Windy.


"Bantu kami dokter Nana, jika guru pahlawan tanpa jasa, jika dokter pahlawan tanpa pamrih. Sebelum dan sesudah baby ucapan terima kasih." Windy tertawa mengusap perutnya.


Dokter langsung melangkah pergi, memastikan keadaan Windy baru akan memberitahu yang harus mereka lakukan.


Steven mengangkat panggilan Vero jika Ghina melahirkan, senyuman Stev terlihat melihat bayi perempuan yang terlihat sangat sehat.


Vero menatap sedih Windy yang masuk rumah sakit, senyuman kebahagiaan Windy terlihat mencium ponsel Stev melihat bayi cantik.


[Namanya Meyriska Sinta Alvaro, hai cantiknya Mommy sampai bertemu nanti sayang.] Windy mencium gemes bayi kecil yang hanya bisa melihatnya dari ponsel.


[Nama yang cantik sekali Mommy, terima kasih untuk namanya. Sinta menyukainya.] Can tersenyum menatap Windy yang menangis bahagia ingin sekali bertemu.


[Windy selamat berjuang, aku yakin Wira akan lahir ke dunia ini. Ingat janji kita.] Vero tersenyum menyemangati Windy yang tersenyum menganggukkan kepalanya akan berjuang.


[Nanti kita bertemu Mommy, sehat terus Mom.] Can melambaikan tangannya.

__ADS_1


Senyuman kebahagiaan Windy terlihat, menangis karena sangat mengagumi kecantikan Sinta, bayi kecil yang ada dalam bayangannya.


Steven mencium kening Windy yang memutuskan untuk beristirahat kembali, tidak ada lagi yang membahas soal mengugurkan, mereka tidak ingin menentang keputusan Windy.


Suatu anugerah bagi Stev melihat istrinya yang sangat kuat, bahkan dia siap dirawat di rumah sakit sampai waktunya dia melahirkan.


Jika rumah sakit menjadi tempat tinggal selama kehamilannya akan Windy nikmati, tidak ada hal yang paling bahagia selain bisa melihat putranya lahir dalam keadaan sehat, tidak ada kurang apapun.


***


Sudah satu bulan Windy menghabiskan waktunya di rumah sakit, keluarga bergiliran menjenguk dan menyemangati Windy yang terkadang drop, tapi tidak mengurangi sedikitpun semangatnya.


Selama pengobatan, Windy tidak pernah meneteskan air matanya. Hal yang pertama Windy pertanyaan saat sadar keadaan anaknya, hanya soal anaknya.


Dokter Nana selalu meneteskan air matanya setiap kali Windy tersenyum, sehebat itu seorang wanita menutupi rasa sakit dan sedihnya.


Steven juga paling terpukul mentalnya, setiap hari menemani istrinya yang selalu ingin bertahan. Seadanya ada yang bisa melihat betapa hancurnya hati Stev melihat anak istrinya sama-sama berjuang, kehilangan salah satu dari mereka ketakutan terbesar Stev.


Menahan kesedihan setiap harinya, rasa takut, khawatir. Bahkan satu bulan Stev tidak tidur dengan tenang, dia hanya memejamkan matanya, tapi pikirannya terus berjalan dengan perasaan yang terus campur aduk.


Jika air mata yang keluar bisa dikumpulkan, tidak terbayang lagi betapa banyaknya sakit yang mereka tanggung.


"Ya Allah jangan hancurkan harapan kami, semangat kami, izinkan kami melihat hasil memuaskan dari perjalanan panjang ini." Stev menutup matanya menunggu istrinya yang drop kembali, darah Windy naik lagi membuatnya jatuh pingsan lagi.


Tangan Bima mengusap punggung Stev, melihat menantunya yang sangat menderita selalu berdiri, duduk di depan pintu dengan kehancuran hatinya.


"Ini terakhir kalinya Windy berjuang, jika keadaan semakin memburuk kita tidak punya pilihan. Semoga Allah mendengar doa kita semua." Bima mengusap kepala Stev.


Kegagalan kalinya akan menjadi pelajaran lagi bagi Stev dan Windy untuk mencoba lagi memiliki buah hati, berjuang lagi untuk menjadi orang tua.

__ADS_1


***


__ADS_2