
Di kediaman Bramasta sudah ramai, Windy sudah keluar dari rumah sakit. Wira juga terlihat sangat sehat dan baik.
Dokter Nana meminta Windy mengobati darah tinggi yang berlebihan agar bisa hamil lagi, Steven menolak ingin menunda terlebih dahulu sampai Wira besar. Stev masih trauma melihat keadaan Windy, memiliki Wira sudah lebih dari cukup.
Windy hanya mengikuti keputusan Steven, dia juga ingin fokus menjaga Wira yang sejak bayi sangat aktif.
Jika kebanyakan orang kesulitan tidur, Windy hanya harus bangun saat Wira lapar, terkadang Stev yang bangun memberi susu ASI melalui botol agar Windy bisa beristirahat.
"Tidak terasa Wira sudah satu bulan lahir ke dunia ini, rasanya bahagia sekali. Keluarga kita terasa lengkap." Reva memeluk Bima yang sedang menggendong Wira, senyuman Bima tidak pernah pudar melihat cucu pertamanya.
Air mata Bima menetes membuat Reva kaget, langsung melihat wajah suaminya.
"Kenapa Ay Bim menangis?" Reva langsung menghapus air mata suaminya.
"Aku bahagia melihat Wira, dia jawaban setiap doa. Sudah lama Windy dan Steven menunggu momen bisa memiliki anak, dengan perjuangan panjang akhirnya lahir. Rasanya masih tidak percaya." Bima mengusap wajah tampan cucunya yang sedang tertidur.
Suara salam terdengar, Reva langsung berteriak membuat Wira langsung bangun menatap wajah Bima yang sama terkejutnya.
"Reva astaghfirullah Al azim, suara kamu kecilkan." Bima memeluk Wira yang melotot.
"Maafkan nenek kamu ya sayang, suaranya memang besar sekali."
Vero tertawa melihat Reva, putri kecilnya langsung menangis dalam gendongan istrinya. Can tersenyum melihat Reva langsung menyambut Sinta mendiamkannya.
"Cucu nek mud datang lagi, kalian tidak boleh pergi lagi. Harus tetap di sini bersama Wira." Reva mencium wajah cantik Sinta yang mirip Vero.
"Assalamualaikum Papi."
"Waalaikum salam Vero, kami sudah lama menunggu kedatangan kamu." Bima langsung tersenyum, Vero langsung menggendong Wira yang tampannya luar biasa.
Air mata Vero langsung menetes, memeluk Wira lembut. Bima mengusap punggung Vero yang tidak bisa menahan kesedihannya juga kebahagiaannya bisa bertemu Wira secara langsung.
Windy tersenyum melihat Vero, air matanya juga menetes melihat Vero menangis mengusap wajah tampan putra kakaknya.
"Terimakasih kamu sudah hadir, Papa tidak pernah mengingkari janji untuk menemukan Daddy kamu." Saka mencium kening Wira yang menunjukkan senyumannya.
Windy langsung memeluk Can, menatap Sinta yang sudah bisa tertawa. Windy tidak kuasa menahan air matanya melihat senyuman Sinta yang membuatnya jatuh cinta.
__ADS_1
"Lucu sekali putri kesayangan Mommy." Windy mencium pipi gembul Sinta berkali-kali.
Senyuman Reva terlihat menatap Mei yang melipat tangannya di dada, melihat Papanya bersama Wira membuatnya tidak suka.
Steven berlari langsung memeluk Mei, suara tangisan Mei langsung terdengar karena cemburu. Stev mencium wajah Mei yang menutup mulutnya.
"Kesayangan Daddy kenapa menangis?"
"Dia, mengambil Papa Mei." Tangisan Mei semakin kuat.
"Subhanallah gemes sekali putri Daddy, tidak ada yang merebut dan direbut. Kalian sama sangat Papa dan Daddy cintai." Steven memeluk Mei yang sangat dia sayangi.
"Ay Stev lihatlah, Sinta cantik sekali." Windy mencium pipi Sinta, langsung mencium pipi Mei yang masih cemburuan.
Teriakkan Viana terdengar, Wira langsung terkejut mengangkat kedua tangannya. Sinta langsung menangis lagi, dia tidak terbiasa dengan suara besar.
"Minggir, mommy ingin menggendong baby gemes." Viana mendorong Vira yang sudah melotot langsung melangkah pulang.
Jum juga langsung mengelilingi Windy yang masih menggendong Sinta, tatapan Stev tertuju kepada Saka yang juga datang berkunjung.
"Selamat ya Win, kamu sudah menjadi mommy sekarang." Ghina meneteskan air matanya, mengusap air mata Windy yang juga menetes.
"Sudah berapa bulan ini? Windy senang melihat kak Ghin sudah hamil." Windy menutup wajahnya sangat bahagia, memeluk Ghina berkali-kali.
"Sudah masuk empat bulan Win, aku juga sangat bahagia secepat ini diberikan kepercayaan sama tuhan." Ghina tersenyum memeluk Windy.
Saka langsung memeluk Steven, mengucapkan selamat kepada sahabatnya yang sudah menjadi Daddy.
Reva meminta Ghina duduk, dia masih hamil muda dilarang banyak gerak. Jum mengusap perut Ghina yang sudah terlihat.
"Pilih cowok atau cewek?" Reva menyentuh perut Ghina.
"Cowok dan cewek sama saja Tante, hadirnya dia sudah menjadi kebahagiaan untuk Ghina."
"Aku yakin dia pasti cowok, panggil Mami jangan Tante. Mami bahagia ingin melihat dia juga." Reva mengusap lembut, mendoakan Ghina sehat selalu.
"Terima kasih Mami, dia juga pasti tidak sabar lagi ingin melihat temannya yang menjadi rebutan." Ghina tersenyum melihat suaminya menggendong Wira.
__ADS_1
Tatapan mata Winda tajam duduk di tangga, jalannya masih menggunakan tongkat mendengar suara berisik membuat kesal.
"Astaghfirullah Al azim, kenapa ratu heboh bisa pincang begini." Vero menutup mulutnya, menatap Winda yang melangkah turun ingin ke rumah Vira.
"Pincang, nanti dipukul dengan tongkat ini bisa benjol." Winda menatap sinis, langsung menatap Wira dan Sinta tajam.
"Ke mana Winda?" Reva menahan tawanya
"Pergi dari rumah ini, Winda tidak disayang lagi." Tatapan Winda tajam, langsung pergi begitu saja.
"Cemburuan Winda mi, kenapa kaki Winda?" Vero menatap Reva yang tertawa.
"Dia sudah bisa berjalan, tapi dasar saja mencari perhatian. Setiap hari mengomeli Wira, marah-marah terus, tapi saat sepi dia yang menidurkan Wira, saat Wira lapar langsung berlari mencari botol susu. Perempuan aneh tidak tahu mirip siapa?" Reva tersenyum heran melihat putrinya.
"Mirip kamu Reva, jangan lupa saat kamu pura-pura hilang ingatan hanya untuk mencari perhatian Bima." Viana melotot, ibu sama anak sikapnya mirip.
"Betul, bilangnya benci waktu dilamar lompat-lompat mengalahkan tingginya kodok." Jum menggelengkan kepalanya.
Reva melotot, Windy, dan dan Ghina tertawa melihat lucunya Reva yang tidak sadar diri.
Bima langsung menggendong Sinta, merasakan pelukan Bima membuatnya langsung tertidur. Senyuman Bima terlihat sangat bahagia melihat Steven dan Vero tertawa bahagia.
"Vie adik-adik kamu sudah bahagia, lihatlah kedua keponakan kamu sangat cantik dan tampan, Sinta sekilas mirip sama kamu, Wira juga sangat mirip Steven. Janji lama sudah aku tepati, bisa melihat mereka hidup bahagia dengan keluarga kecilnya." Bima tersenyum, menahan air matanya.
Rama tersenyum menyapa Vero dan Saka, tersenyum melihat Ghina dan Can langsung duduk di samping Bima.
Tangan Rama mengusap wajah Sinta yang tersenyum sambil tidur, mengagumi kecantikan Sinta yang sejak kecil sudah mempesona.
"Semua orang yang menyentuh tangan kak Bima bisa tidur dengan nyenyak, bahkan Sinta yang baru pertama kali bertemu juga tidur dengan tersenyum." Rama menepuk pundak Bima pelan, senyuman Bima juga terlihat mengingat puluhan tahun yang lalu saat pertama menggendong Rama, pertama kalinya Rama tidur nyenyak berada dalam genggaman Bima.
"Aku sudah tua Rama, sekarang sudah menjadi kakek. Jika masih diberikan umur panjang, aku ingin mengantarkan putri bungsu kepada lelaki yang tepat, jika bisa dia keturunan keluarga kamu." Bima tersenyum bahagia.
"Haruskah kita menjodohkan Ravi dan Winda, Rama sangat menyetujuinya kak."
"Jangan, biarkan Allah yang mengirimkan jodoh." Bima mencium kening Sinta yang masih tertidur, Rama hanya menganggukkan kepalanya.
***
__ADS_1