MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
KARENA JENGKOL


__ADS_3

Usia kandungan Reva sudah memasuki bulan ke lima, selama hamil Reva tidak banyak menuntut. Bima juga lebih banyak menghabiskan waktu bersama Reva dan Windy, bekerja hanya ketika sedang penting dan tidak bisa ditinggalkan.


Di ruangan tv Reva melihat acara makan, saat melihat Bima turun ke lantai, Reva cepat mematikan tv dan melangkah memeluk Bima.


"Ayy pengen marajengjeng," Reva mencium pipi Bima berkali-kali.


"Apa itu sayang?" Bima mencium balik pipi Reva, sambil memasang jam tangannya.


"Jengkol!"


Kening Bima langsung berkerut, makanan yang paling Bima hindari, bahkan mendengar orang menyebutkannya saja Bima langsung mual. Tapi melihat ekspresi Reva yang memohon, Bima berpikir untuk mengabulkannya. Tapi Bima juga sedang berpikir untuk melarikan diri.


"Jengkol, di mana jualnya?" Bima terpaksa harus menyebutkan namanya, senyuman Reva juga langsung terlihat.


Windy juga langsung keluar dan mengelus perut Reva yang besar, telinga Windy juga ditempelkan untuk merasakan adik bayinya.


Bima sedang mengotak-atik handphone untuk mencari jengkol yang sudah dimasak, Windy sibuk berbicara dengan perut Reva yang sesekali tertawa.


"Ayy, ayo cepat." Reva sudah tidak sabar lagi, dia ingin segera melihat marajengjeng.


"Mami mau apa?"


"Marajengjeng."


"Marajengjeng itu apa Mam?" Windy menatap wajah Reva yang sangat ngiler, dengan makanan khas yang sangat nikmat jika dimasak rendang.


"Nanti Windy makan ya, ini makanan enak sekali." Reva bicara sambil menelan ludahnya, Bima yang mendengar merasakan kepanikan soal makan jengkol.


"Terserah Mami saja, kalau bagi Mami enak berarti makanan ini sangat enak." Windy ikut senang, jika Mami tersenyum bahagia. Kening Windy berkerut melihat Daddy yang meringis dan mual, kepalanya juga menggeleng meminta Windy diam.


Bima akhirnya menemui tempat jengkol terenak, Bima memesan dengan porsi sedang, dalam hati antara berharap cepat datang dan berharap stok habis. Bima benar-benar khawatir jika berurusan dengan jengkol.


Sekitar 30 menit bel berbunyi, satpam melangkah masuk memberikan makanan yang Bima pesan. Reva dengan semangat menyambut bingkisan, Bima langsung ingin berlari ke atas tapi tangannya sudah ditarik oleh Reva, dibawa ke meja makan.


Reva meminta bibi untuk menyiapkannya, Bima dan Windy duduk bersebelahan, kepala Bima berdeyut sampai dia harus memijit pelipisnya. Windy binggung melihat Papi yang keringat dingin, padahal rumah penuh dengan AC.


"Papi, ada apa?" Windy berbisik bicara dengan Bima.

__ADS_1


"Kamu mau tahu makanan yang Mami minta?" Bima bicara dengan mengusap wajahnya.


"marajengjeng." Windy masih mengingat ucapan Mami soal makanan terenak.


"jengkol sayang, marajengjeng itu jengkol."


Windy langsung menutup mulutnya, makanan yang Windy takuti karena baunya, cepat Windy ingin kabur dari duduknya tapi Bima menahannya.


"Mau ke mana temani Papi, nanti Mami ngambek."


"Tidak suka baunya." Windy langsung manyun, suara semangat Reva sudah terdengar dari arah dapur.


"Kita hanya melihat Mami makan, kita bilang saya tidak bisa makan jengkol." Bima menyemangati Windy.


"Kalau Mami minta Papi dan Windy memakannya, bagaimana Pi Windy tidak mau?"


"Tidak, Mami yang akan memakannya."


Reva melangkah mendekati, kursi Bima dan Windy jaraknya sudah sangat jauh dari meja. Bima bisa melihat jengkol yang Reva letakan di piring, tangan Bima menutup mulutnya karena rasanya ingin mual.


Mata Windy berkedip-kedip, tangannya juga di mulut dan hidungnya. Bukan hanya Bima yang keringat, tapi Windy juga ikut berkeringat.


"Kamu saja yang makan sayang," Bima mendorong piringnya menjauh, bibir Reva langsung manyun.


"Windy ayo makan sayang, rasanya enak sekali." Reva menatap Windy, mata Bima melihat ke arah Bima meminta pertolongan.


Bima hanya diam saja membuang pandangannya, Reva menambah isi piring Bima dan kembali mendorongnya mendekati Bima.


"Reva pengen sekali melihat Ayy makan, ayo makan." Reva menopang dagunya dengan kedua tangannya, tatapan matanya sangat berharap Bima memakannya.


"Maaf Va, aku tidak makan jengkol." Bima mendorong kembali, nada bicara Bima sangat sopan tapi tetap membuat Reva kecewa.


Windy juga mendorong piringnya, meminta maaf karena tidak bisa memakan jengkol. Reva tersenyum melihat dua orang dihadapannya menolak keinginan, hati Reva langsung merasakan sesak, sedih dan kecewa dia rasakan. Bima langsung mendapatkan panggilan, dan cepat menjawabnya. Windy juga pergi menjauh karena tidak kuat melihat jengkol.


Melihat keduanya pergi, air mata Reva langsung menetes, diambilnya dua piring sambil terus menangis. Bibi mendekat menghapus air mata Reva.


"bibi temani makan ya Reva."

__ADS_1


"Bibi pulang saja, sudah waktunya pulang Reva ingin sendiri."


Akhirnya bibi memutuskan pulang, Reva menghapus air matanya. Mengambil sendok dan makan sendirian sambil terus menangis sesenggukan, sampai pada suapan terakhir. Reva menghabiskan semuanya, dengan kesedihan yang sangat dalam.


Melihat di tv seorang wanita hamil sedang memandangi suaminya makan apapun yang istrinya inginkan, katanya biar sampai kepada anaknya tapi Bima menolak, jadinya Reva yang makan demi anaknya.


"Ibu Reva mau pulang, Reva mau pulang. Ingin bertemu ibu." Reva langsung berlari menaiki tangga, mengambil tasnya, mencari kunci mobil dan cepat ke garasi mengeluarkan mobil, Satpam sudah menyapa tapi tidak dipedulikannya.


***


Bima yang berada di ruangan karena mendadak ada pekerjaan, melihat jam sebentar karena hampir waktunya sholat Magrib. Bima berteriak memanggil Reva, mencarinya di kamar, dan dapur. Piring jengkol sudah kosong tapi Reva tidak terlihat.


"Windy, di mana Mami sayang?"


"Tadi masih di dapur, makan mungkin Pi."


"Tidak ada Win, piring jengkol juga kosong berarti Mami sudah selesai makan." Bima mulai gelisah, melihat ke taman belakang, Windy juga ikut mencari.


Bima berpikir mungkin ke rumah Jum mengantarkan jengkol, cepet Bima menghubungi telpon rumah Jum tapi Reva tidak ada di sana, Bima juga menghubungi Viana, jawaban yang sama Reva tidak ada berkunjung.


Pikirannya Bima makin panik, cepat Bima melangkah keluar dan bertanya kepada satpam, ternyata Reva keluar menggunakan mobil.


"Kenapa tidak izin, apa ada masalah serius?" Bima langsung menghubungi Reva, nomornya tidak aktif.


Sudah tiba waktunya magrib, Bima sholat terlebih dahulu baru mulai menghubungi Reva kembali.


"Sayang kamu ke mana? besok kita mau cek baby jadi kamu harus istirahat. Tidak biasanya pergi tanpa izin." Bima bicara sendiri.


"Papi Mami marah ya karena kita tidak ingin makan," Windy juga panik karena sudah jam 19.11 Reva belum juga kembali.


Bima langsung berlari mengecek CCTV, layar memperlihatkan Reva yang menangis memakan isi dua piring sampai habis, bibir Reva gemetaran karena terus menangis. Bima memukul keras kepalanya di meja sambil mengacak rambutnya, Reva marah dan kecewa soal makanan.


"Va, kamu di mana sayang?"


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2