
Wajah cantik Windy sudah mulai dipoles, menggunakan baju kebaya berwarna putih, hijab putih membuat Windy sangat cantik.
Viana, Reva secara langsung mengawasi make up Windy. Hari spesial Windy yang sudah bertahun-tahun dia nantikan tidak boleh ada kesalahan sedikitpun.
"Mami, jantung Windy degdegan."
Reva langsung menggenggam tangan Windy, air mata Windy hampir menetes karena rasa haru, juga sedih.
"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, semuanya akan baik-baik saja sayang."
"Mami perasaan Windy tidak nyaman, boleh tidak Windy menghubungi Bunda Brit. Setidaknya Windy ingin memberikan kabar jika Windy akan segera menikah." Windy memeluk pinggang Reva yang berdiri di depan meja rias.
Reva langsung mengambil ponselnya, tidak yakin bisa menghubungi Brit, Viana langsung membantu Reva mencari cara menghubungi Brit.
"Mungkin Ghina bisa membantu." Reva langsung menghubungi Ghina untuk masuk ke kamar hias.
Tidak butuh waktu lama, Britania langsung muncul wajahnya terlihat berantakan juga penampilannya yang tidak secantik dulu.
[Bunda, Windy akan menikah.]
[Aku bukan Bunda kamu, kenapa kamu belum mati juga setelah kehilangan calon suami kamu.]
[Jangan bicara seperti itu Bunda, Windy akan menikah dengan lelaki yang pernah Bunda singkirkan tiga tahun yang lalu, dia kembali dalam keadaan sehat. Kami akan bahagia.]
[Aku tidak perduli.]
[Windy hanya ingin mengabari saja, Bunda jaga kesehatan.]
Panggilan langsung mati, Windy memeluk Reva. Ibu terbaik dalam hidupnya, satu-satunya wanita yang selalu mendukungnya dalam hal apapun.
"Mami, maafkan Windy jika ada salah. Terima kasih Mami sudah menjadi ibu terbaik, Windy sangat mencintai Mami."
"Jangan sedih sayang, Mami sudah berjanji akan menjadi ibu, sahabat bagi kamu. Hubungan kita bukan karena adanya Papi kamu, Mami sangat menyayangi Windy, sangat mencintai Windy melebihi apapun nak." Reva mencium kening putrinya.
"Ayo tersenyum, kita harus bahagia." Viana memeluk Reva dan Windy.
Jum masuk melihat tiga wanita berpelukan, Windy tersenyum menatap Jum mengecek gaun Windy.
"Ada apa Jum?"
"Mungkin saja baju Windy digigit tikus seperti Reva."
Ghina meneteskan air matanya, langsung memeluk Windy memberikan selamat, karena akhirnya penantian panjangnya penuh perjuangan mendapatkan hasil sesuai harapan mereka.
"Kak Ghi, segeralah menerima lamaran si playboy Saka, mungkin dia akan tobat setelah kak Ghina menerimanya." Windy tersenyum menggoda.
***
Di kamar rias pengantin pria Steven tersenyum menggunakan jas putihnya, Vero juga tersenyum menatap kakaknya yang akhirnya akan menikah.
"Kak, Vero bahagia melihat kalian berdua akhirnya bersama."
__ADS_1
"Aku juga bahagia, walaupun kita tidak memiliki keluarga besar setidaknya ada kamu sebagai keluarga."
"Kak Stev lupa jika ada Mou, Mei juga Can sebagai keluarga. Vero juga sedang proses membuat adiknya Mei." Suara Vero tertawa sangat besar.
"Vero Vero aku kasihan melihat Can mempunyai suami mesum seperti kamu."
"Kak Stev jangan bicara seperti itu, belum tahu saja nikmatnya memiliki istri."
Saka langsung masuk, menatap Steven berputar-putar membuat Vero tertawa lucu.
"Aku akui hari ini kamu tampan Stev."
"Setiap hari aku memang tampan, lain kali setiap masuk ketuk dulu pintu."
"Tidak ada tulisan di depan harus diketuk."
Steven menghela nafas melihat Saka dan Vero yang memiliki karakter sama mulai menggodanya soal malam pertama.
"Kalian berdua tidak ada pembicaraan lain, setidaknya menenangkan aku." Steve merapikan bajunya.
"Masalahnya aku tidak tahu cara menghibur orang." Saka tersenyum melihat Steven yang mengerutkan keningnya.
Suara pintu diketuk terdengar, Mou melangkah masuk melihat Steven langsung menundukkan kepalanya.
"Mouza, jangan terlalu sopan anggap Om Stev Daddy kamu." Steven memeluk Mou.
"Daddy selamat untuk pernikahannya, Mou memiliki sesuatu untuk Daddy, tidak ada harganya semoga Daddy suka." Mouza menunjukkan sebuah cincin coupel yang sangat indah, cincin wanitanya memiliki mata putih.
Tiga tahun Mou yang merawat Stev selama koma, banyak jasa yang tidak bisa Steven balas.
"Daddy harus bahagia, selalu tersenyum jangan sakit lagi. Mouza senang melihat Daddy tersenyum terus, kakak cantik bisa mengembalikan kebahagiaan Daddy."
"Panggil Mommy bukan kakak."
"Iya Mommy Windy, Daddy Stev." Mou memeluk erat Steven.
Vero dan Saka tersenyum melihat Steven tersenyum tenang setelah mendapatkan pelukan hangat.
"Sini peluk Papa." Vero meminta Mou memeluknya.
Ketukan pintu kembali terdengar, Bima membuka pintu menatap Steven yang sudah siap.
"Bagaimana Stev sudah siap belum, sudah hafal belum."
"Insyaallah kak Bim, Steven deg-degan."
"Panggil Papi Daddy, Mou panggil kakek."
"Cucu kakek pintar." Bima mengusap kepala Mou.
Steven tarik nafas, menggenggam tangan Mouza yang tertawa melihat Steven gelisah.
__ADS_1
"Ayo Steven, bismillah insyaallah lancar sampai halal." Bima berjalan bersama Steven untuk ke tempat ijab Kabul.
Tiba di bawah Steven melihat seluruh keluarga sudah berkumpul, empat remaja perempuan yang paling nakal di dunia juga menggunakan kebaya gold duduk manis tidak bergerak.
Viana Rama, Jum Bisma, Ammar Septi juga sudah duduk di tempat masing-masing.
Kedua orang tua Reva juga tersenyum menatap Steven menyemangati, Bima meminta Steven duduk.
Windy keluar dari kamarnya berjalan bersama Ravi, Tian, Erik melangkah bersama. Windy tersenyum bahagia memeluk lengan Ravi dan Tian.
"Kak Windy selamat ya, Ravi ikut bahagia. Terima kasih selalu menjadi teman terbaik Ravi sejak kecil."
"Kamu juga harus cepat menyusul."
"Siap gas bosku." Ravi tertawa.
"Kalian harus terus kompak, jangan bertengkar karena wanita, walaupun tidak ada kak Windy kita masih sahabat." Windy meletakan kepada di pundak Tian.
"Kak Windy jangan khawatir, kita akan terus bersama."
"Jaga keluarga Bramasta Tian, jaga adik-adik kita."
"Siap kak, Tian akan menjaga Wildan, Winda, Bella dan Billa."
"Pintar adikku tersayang, kamu juga Erik jangan terlalu nakal."
"Erik anak baik kak Windy, lelaki paling baik."
Windy tertawa bersama, menatap Maminya yang sudah menunggu di depan lift meminta Windy segera datang karena acara ijab kabul akan di mulai.
Jantung Windy langsung berdegup, menatap Steven yang sudah duduk dihadapan penghulu, Bima menatap Windy yang terlihat sangat cantik.
Stev melihat Windy yang memeluk lengan Ravi dan Tian menghela nafasnya, Windy tersenyum melihat Steven yang cemburuan.
"Silahkan mempelai wanita duduk."
Windy duduk di belakang Steven, mendengarkan penghulu berbicara membacakan doa untuk memulai ijab qobul.
Steven mengucapkan bismillah, sebelum melakukan ijab kabul dia membaca surat Ar Rahman terlebih dahulu baru ijab kabul.
Suasana hening mendengarkan bacaan Steven yang menenangkan hati.
"Tidak sia-sia Steven menghafal jus, suara nyanyiannya bagus." Saka tersenyum.
Viana, Jum dan Septi langsung menoleh ke arah Saka, menatap tajam Saka yang membuyarkan konsentrasi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Windy Bramasta ...." Steven menjabat tangan penghulu, mengucapkan ijab Kabul dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah." Jawab semua orang serempak.
__ADS_1
***