MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 TANGGUNG JAWAB


__ADS_3

Saling menatap tajam terlihat antara Winda dan Josua, keduanya tidak ada yang berkedip seakan berbicara melalui mata.


Senyuman Josua terlihat, Winda juga langsung tertawa. Joseph sampai binggung dua orang beda usia yang memiliki sikap sama gilanya.


"Kak Wil dan Ar sudah memanipulasi semua bukti, mereka orang yang melindungi pelaku. Kenapa?" Winda tertawa lucu, sungguh sulit dipercaya.


"Kamu yakin ingin tahu cerita sebenarnya, tapi saya tidak yakin kamu percaya." Josua memajukan kursi roda, menunjukkan bukti jika dirinya pernah diselidiki polisi, tapi tidak ada bukti yang menyudutkan Josua.


Winda mengerutkan keningnya, langsung menutup buku mengembalikan kepada Josua.


Perlahan Josua mendekati Winda, menepuk pundaknya menceritakan kejadian sepuluh tahun yang lalu, juga awal pertama di bertemu dengan Reva.


Sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, Reva dan Josua kuliah di tempat yang sama, Reva wanita yang sangat ceria, pintar, cerdik juga licik.


Bersama-sama kuliah di bidang desain membuat keduanya sering bertemu, hanya untuk membahas tugas kuliah.


Josua dari kalangan biasa, kuliah karena beasiswa. Sedangkan Reva dia seorang CEO di perusahaan ternama, bahkan perusahannya masuk luar negeri.


Awalnya Josua merasa malu, tapi Reva tidak pernah membedakan siapapun, bahkan membantu Josua membuka bisnis hingga sukses juga mengangkat derajat keluarga.


Perasaan cinta yang sudah tumbuh sejak awal membuat Josua memberanikan diri untuk menyatakan cinta, juga melamar Reva menemui kedua orangtuanya.


Perbedaan agama bukan sebuah penghalang, Josua rela meninggalkan agamanya demi menikahi Reva.


Kenyataannya tidak seindah khayalan, saat mereka tiba Reva sedang melakukan acara pernikahan di gedung yang sangat mewah.


Josua dan kedua orangtuanya menjadi tamu yang tidak diundang, saat melihat suami Reva, Josua langsung melangkah mundur karena Bima pemegang saham di perusahaan kecilnya yang baru mulai bangkit.


Kesialan menimpa Josua dan kedua orangtuanya, mereka mengalami kecelakaan saat kembali ke negara mereka membuat kedua orangtuanya meninggal, sedangkan dirinya cacat seumur hidup.


Josua membawa kedua adiknya Joseph dan Jesica Ranty untuk meninggalkan negara yang menyimpan luka besar, mereka pindah ke negara luar untuk memulai hidup baru.

__ADS_1


Meskipun Josua ada di kursi roda, dia tetap memajukan perusahaan sehingga menjadi perusahaan besar, mampu bersaing dengan perusahaan lainnya.


Josua orang yang memajukan perusahaan, Joseph orang yang mengendalikan. Sejak kuliah Joseph sudah belajar soal perusahan, dan hari paling sial mereka merayakan pesta kelulusan setelah kuliah di negara lain.


Joseph pergi bersama teman-temannya untuk berpesta, melepaskan masa muda mereka untuk memulai dengan masa yang lebih serius.


Tidak tahu pasti apa konflik antara Winda dan Eliza, Joseph meminta seorang wanita yang menemani mereka. Liza datang membawa Winda dengan harga tinggi.


Joseph dan teman-teman dalam keadaan mabuk berat, tidak tahu apapun soal Winda. Secara mendadak keadaan rusuh, ada pembantai yang melibatkan banyak orang yang terbunuh.


Kejadian berada di ruangan VIP yang ada Joseph dan Winda, darah mengalir di lantai. Keadaan semakin kacau saat ada beberapa wanita yang menjadi korban pelecehan secara bruntal.


Liza langsung berlari ke ruangan VIP, melihat Winda yang sedang dikeroyok banyak orang, menariknya keluar dan Liza salah satu korban pelecehan.


"Ada seorang pemuda yang membawa kamu keluar? masih ingat siapa dia?" Josua menatap Winda yang mendengarkan dengan serius.


Joseph juga duduk diam, dia memang tidak mengingat dengan jelas kejadian sepuluh tahun yang lalu.


"Siapa pria yang membawa aku pergi?"


"Ar, suami kamu sendiri. Dia membawa kamu pergi dan meninggalkan ibunya sehingga itu Liza melarikan diri selalu bersembunyi dari Ar, karena rasa malu."


"Aku tidak percaya, kalian pelaku utama."


"Sekarang aku memiliki alasan untuk membunuh kamu, menghancurkan keluarga Bramasta. Kamu lebih dulu membuat Ranty terluka." Tatapan Josua terarah kepada adiknya yang masih terbaring tidak berdaya.


"Kamu boleh mencelakai aku, memotong rambutku sebagai bayaran atas Ranty, tapi soal kecelakaan dia, bukan salah Winda."


Josua menatap mata Winda yang terlihat kecewa, usahanya selama bertahun-tahun tidak membuahkan hasil.


Winda juga membenci perasaannya yang memutuskan untuk menyerah, dia sangat mengenal baik kakaknya yang bisa melakukan segala hal, tapi apapun tujuannya Winda kecewa.

__ADS_1


"Jangan sedih Winda, minta perjelas kepada mereka." Josua menyentuh kepala Winda, melihat mata gadis muda, pemberani membuat Josua bahagia, dia seperti melihat Reva yang tidak mempunyai tempat takut.


"Kamu mirip sekali dengan Mami kamu, kalian berdua sama-sama bisa memberikan ketenangan. Sosok wanita seperti kamu langkah, karena kebencian bisa hilang hanya dengan berdebat." Josua meminta Winda pulang, bertanya kepada suami dan kakaknya.


"Sepuluh orang meninggal, satu orang gila, Winda dan mami mengalami trauma besar karena kejadian ini. Lalu siapa pelakunya?" Winda mengusap wajahnya, menenangkan hatinya agar tidak emosi.


Mobil Ar berhenti di depan rumah Arlando, banyak orang yang menahan Ar agar tidak masuk. Suara tembakan terdengar, jika Winda sedikit saja terluka, Ar tidak akan melepaskan keluarga Arlando.


"Kamu mendengar suara tembakan, aku rasa suami kamu datang. Dia bisa memberikan jawaban atas masalah sepuluh tahun yang lalu." Josua menatap Joseph untuk keluar, menghentikan keributan.


Winda tersenyum, alasan Ar melarangnya untuk mencari tahu karena ada sangkut pautnya dengan mereka. Winda langsung melihat kembali semua bukti yang dia temukan, Wildan sudah menutupi semua kasus agar terlihat semuanya kecelakaan ringan.


"Kenapa Winda bisa menemui bukti kalian pelakunya? padahal kak Wil sudah membereskan semuanya, berarti ada orang yang mengadu domba kita, berharap Winda menghancurkan keluarga Arlando. Kenapa Ranty bisa mendekati Ar? siapa orang dibalik semua ini?" Winda mengacak rambutnya, memikirkan Mami, tapi tidak mungkin Mami yang mengadu domba.


"Riska, dia yang selalu mendukung aku soal kasus ini. Mengapa dia mengatakan Lili gila?" Winda menggaruk kepalanya, Josua hanya tertawa melihat kelucuan Winda yang sedang binggung.


Pintu ruangan terbuka, Ar menatap tajam Josua langsung menarik Winda untuk melangkah keluar.


"Ar, siapa sebenarnya pelaku pembantai juga pelecehan sepuluh tahun yang lalu? Winda mencari sampai ke sini, bukannya seharusnya kamu sudah menyelesaikannya." Senyuman Josua terlihat menatap Ar yang terlihat marah.


"Jangan bermain-main, aku sudah memperingati kamu. Kalian semua licik, membuat Winda menyelediki kasus yang sudah lama selesai, hanya untuk asupan dana perusahaan. Jangan kamu pikir aku tidak tahu pikiran kamu, jika aku ingin hari ini juga perusahaan kamu gulung tikar." Ar membanting vas bunga dengan tatapan marah.


"Bukan aku yang membuatnya datang ke sini, tapi dia sendiri yang datang?"


"Lalu apa tujuan kamu mengirim Ranty?"


"Aku tidak pernah mengirim Ranty, kalian semua yang bodoh bisa dipermainkan oleh wanita asing." Josua tertawa.


"Artinya adik kamu juga sama bodohnya yang termakan hasutan wanita asing, terutama kamu yang paling bodoh." Ar melangkah keluar bersama Winda.


"Tunggu Ar, kalian berdua tidak bisa keluar dari sini secara cuma-cuma, lihat keadaan adikku karena ulah istrimu. Di mana tanggung jawab kamu?"

__ADS_1


***


__ADS_2