
Sampai hampir siang Steven belum juga kembali, semua barang Windy sudah dimasukkan ke dalam mobil.
Mata Windy merah ingin menangis, hanya Vero yang mengantar, kepala Vero juga menunduk sedih.
"Vero, titip salam untuk Steven." Bima menepuk pundak Vero, langsung meminta semuanya masuk mobil melangkah pergi.
Mobil melaju meninggalkan mansion, Windy melihat ke luar jendela membiarkan angin menerpa wajahnya.
"Kak Win boleh Winda meminjam handphone?" Winda menarik pelan baju Windy.
"Boleh sayang, ponselnya di dalam tas."
Winda langsung mengambil ponsel Windy, memainkan sebentar, menunjukkan kepada kakaknya Wildan.
"Apa?" Wildan menatap Winda kesal.
"Kak, ini siapa? mirip Om Stev." Winda menunjukkan foto kecelakaan.
Wildan langsung merampas handphone, melihat rekaman video yang sedang heboh pemberitahuan kecelakaan beruntun.
Tatapan mata Wildan tajam, melihat Winda yang bisa mudah melakukan pengeditan. Wil binggung rencana Winda apa, dia menginginkan apa.
Winda memberikan isyarat agar Wildan yang mengatakan kepada Papinya, Wildan menolak, dia tidak ingin berbohong, apalagi membuat khawatir.
Bibir Winda langsung monyong, kakak lelakinya tidak bisa bekerja sama, Winda diam memikirkan cara kedua agar kepulangan mereka ditunda.
Winda mengangkat panggilan, langsung menangis memanggil nama Stev, hanya mengatakan iya, Windy langsung khawatir, Bima Reva langsung melihat ke kursi belakang.
"Papi ini ada telpon dari kak Wilo, mobil kak Stev masuk danau, dia bunuh diri." Winda bicara kuat, rencananya ingin bohong, tapi terjadi beneran.
Bima meminggirkan mobil, menghubungi orang kepercayaan, tidak butuh waktu lama keberadaan Steven sudah terlacak.
Dia berada di kantor polisi, Bima langsung cepat menuju ke sana, di dalam mobil hening, hanya Wildan dan Winda yang saling tatap, bertengkar melalui tatapan.
Winda yang sudah merasa kalah, langsung memukul Wildan, mencubitnya kuat, Reva langsung membentak, Windy memeluk Winda memintanya berhenti.
Wildan menggelengkan kepalanya, sudah dia peringatan untuk jangan berbohong, karena sama saja sedang berdoa hal buruk.
"Papi kenapa kita ke kantor polisi? bukannya seharusnya rumah sakit?" Windy menatap Papinya.
__ADS_1
"Stev ada di kantor polisi, Glen yang mengurus kasusnya."
"Stev mabuk, masuk danau." Reva menatap Bima.
"Tidak tahu, tidak mungkin Stev mabuk, dia mengharamkan meminum minuman yang memabukkan, tidak mungkin Stev akan melanggar ucapannya."
Semuanya hening, merasakan khawatir kepada Steven, Bima lebih khawatir lagi, tapi percaya Stev anak yang cerdas, sebelum bertindak dia akan memikirkan berkali-kali.
Mobil sampai di kantor polisi, Bima meminta Reva menjaga Wildan dan Winda. Bima melangkah masuk bersama Windy, Glen sudah menunggu menahan tawa.
"Apa yang terjadi Glen?"
"Tuan lihat sendiri."
Bima melihat Steven marah kepada Saka, dia tidak bisa pulang untuk menghentikan Windy. Ponselnya tidak bisa hidup, jadinya tidak bisa menghubungi siapapun.
"Sialan, kak Bim pasti sudah di bandara, di mana Windy tinggal. Aish, kalian mengatakan teman, seharusnya bebaskan aku bodoh." Steven memukul lengan Bagus.
"Ikuti peraturan Stev, kamu seorang pengacara seharunya sudah tahu, sampai kasus selesai kamu ditahan."
"Benar Stev, kita tidak bisa kamu bayar dengan ucapan kamu yang manis, apalagi uang kamu." Saka tertawa melihat wajah Steven kusut.
Steven meletakan kepalanya di meja, mengomel tidak jelas, memukul meja kesal. Langsung berdiri ingin pulang, Stev kaget melihat Bima.
"Kak Bim." Stev tersenyum melihat Bima, menggaruk tengkuknya.
Saka dan Bagus sudah tertawa, melihat Stev yang konyol. Langsung duduk lagi bersama Bima, sampai Saka memberikan izin Stev pulang bersama Bima.
Steven mengikuti langkah Bima, melihat Windy menunggu di depan pintu langsung memeluk Stev. Steven mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Bima masuk ke dalam mobil, Reva pindah tempat duduk, Steven nyengir melihat Reva yang melotot tajam.
Tidak ada yang berani mengeluarkan suara, mobil yang dibawa Bima juga tidak tahu ingin melaju ke mana.
Steven diam saja mengingatkan Stev saat pertama kali melihat Bima marah, saat dia merayakan ulang tahun yang ke 17 tahun, Bima memberikan uang jajan, tapi Stev menggunakannya untuk pesta mabuk-mabukan.
Stev tidak tahu jika Bima berkunjung, padahal Bima sudah memperingatinya untuk menjauhi yang namanya obat terlarang, minuman keras, wanita malam.
Saat Bima datang Stev sedang mabuk berat bersama teman-temannya, Bima menghancurkan semua botol minuman, membuat bar tutup untuk selamanya, karena memberikan izin anak yang baru masuk 17, belum mendapatkan kartu sudah diizinkan masuk.
__ADS_1
Bima menarik Steven keluar secara paksa, Stev antara sadar dan tidak. Tangan Bima memang tidak menyakiti, tapi jika dia marah, hawa dingin mencengkram mengerikan.
Stev ingat Bima membawanya ke tempat minum termahal, memaksa Steven minum habis-habisan sampai muntah, Bima tidak mengizinkan Stev berhenti, bukannya mabuk, minuman yang Bima berikan membuatnya tersadar dari mabuk.
Karena terlalu banyak minum, Stev masuk rumah sakit, muntah dan harus dirawat. Stev takut melihat Bima yang diam, tapi bisa kejam jika melanggar larangannya.
Saat muda Stev anak yang egois, nakal, pemberontak, selalu menantang Bima, sudah soal minuman Stev tidak meminta maaf, baginya Bima penyebab dia masuk rumah sakit, hanya selisih satu bulan Steven terlibat perkelahian geng motor.
Kehidupan mewah, masih muda jadi adu hebat. Steven ditahan di kantor polisi, meminta orangnya untuk membebaskan, tapi tidak berani tanpa perintah Bima.
Steven semakin takut Bima datang, tapi berharap juga cepat datang, dia ingin cepat bebas.
Kesedihan Steven menjadi, Bima memang datang, tapi tidak membebaskannya. Teman Stev semuanya keluar hanya Steven yang ditahan, Bima menolak anak yang tidak tahu aturan, menyia-nyiakan masa mudahnya, karena Bima sulit mengatur Steven, Bima memutuskan memasukkan Steven ke pondok pesantren.
Stev langsung berjanji, mengharamkan meminum minuman keras, tidak merusak masa depannya, menjadi anak baik, meninggalkan rokok, meninggalkan pergaulan yang merusaknya.
Stev bebas dengan surat perjanjian, mengikuti semua perintah Bima, kuliah mengambil jurusan hukum, mengejar ketertinggalannya untuk menjadi pengacara.
Steven membuktikan kepada Bima, dia anak yang tepat janji. Stev ingin hidup bebas, membela kebenaran, menjauhi yang merugikannya, mungkin agama Stev tidak sekuat orang lain, tapi dari lubuk hatinya paling dalam dia menghindari segala larangan.
"Lucu." Steven bergumam, Bima menatap sinis.
"Maafkan Stev kak Bim, silahkan hukum Stev."
Bima menarik nafas melihat baju Steven sobek.
"Kamu baik-baik saja?" Bima menyentuh pundak Steven, menepuknya pelan.
"Tidak baik, Stev harus menyelam ke danau, baju ini kering di badan, tidak ada yang berniat menolong memberikan baju." Steven melihat bajunya yang kumel.
"Ini gunakan saja jaket Winda."
Tawa di dalam mobil terdengar, Stev melihat jaket Winda yang hanya bisa menutup kepalanya.
"Bercanda kamu Win." Steve mengembalikan.
"Makanya tidak ada yang memberikan pakaian, jawabannya tidak ada yang muat.
***
__ADS_1