MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
HARGA DIRI


__ADS_3

Steven yang melihat Bima mengabaikannya merasa kesal, dia tahu jika wanita yang bersama Bima seorang desainer dan pemimpin dari VCLO grup. Bima yang Steven ketahui seorang pria yang dingin tapi sangat baik, namanya cukup besar di dunia bisnis, bukan suatu hal yang baru jika dia memiliki banyak pengemar, salah satunya Stevie kakaknya Steven.


Dari kejauhan Bima masih melihat Steven yang menunggunya, sambil menghela nafas Bima mendekati Steven yang memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Sejak kapan kamu di Indonesia?" Bima menatap Steven yang cengengesan.


"Sudah 2minggu kak, jahat sekali kak Bima pura-pura tidak kenal."


"Singkirkan tatapan kamu ke Reva!"


Steven tertawa melihat Bima yang posesif dan mengancamnya. Tidak pernah Steven bayangan seorang Bima bisa juga melirik seorang wanita, dan lebih uniknya lagi, usia mereka yang terpaut jauh.


"Dulu kakak memutuskan kerja sama demi menolak kak Stevie tapi sekarang, demi seorang Reva Pratiwi desainer termuda dan berbakat, menaklukkan cinta Bima Bramasta."


"Apa kak Bim berlebihan, salahkan jika memang benar aku suka dia." Bima menghela nafas melihat wajah Steven yang menahan tawa.


"Kak Reva memiliki banyak pengemar, juga banyak musuh melihat cara kepemimpinan dia yang arogan. Awalnya Steven ingin mengetes saja saat melihat dia tapi sepertinya sifat dia di luar dan di dalam kantor berbeda, kakak tidak salah suka dia maka perjuangkan. Tapi Steven akan menguji hati kakak."


"Menguji!"


"Kalau kakak hanya kesal, berarti perasaan kakak ke Reva biasa saja, tapi jika dada kakak terasa sesak tapi bukan sesak nafas. Steven pastikan kakak mencintai Reva."


"Caranya!" Bima masih binggung melihat Steven yang mirip pakar cinta.


Steven hanya tersenyum, menunggu Reva dan Windy mendekati mereka. Steven mulai beraksi mendekati Reva yang hanya tersenyum tipis. Wajah Bima langsung berubah, Steven juga meminta nomor ponsel Reva dengan alasan bisnis. Reva yang menyadari tatapan Bima dengan sengaja memberikan nomor ponselnya, wajah Bima semakin dingin. Selesai berbasa-basi Steven mencium pipi Reva, membuat Reva menutup mulutnya, dan mata Bima ingin sekali keluar dari tempatnya.


Bima langsung menarik Reva dan mengambil ponsel Steven dan menghapus nomor Reva. Tangan Reva ditarik masuk mobil dengan ekspresinya yang takut Bima salah paham.


"Om bule! Tidak boleh cium Mami, nanti Papi sakit hati." Windy manyun dan melipat kedua tangannya di dada.


"Maaf ya cantik, Om hanya bercanda." Steven mengelus kepala Windy sambil tersenyum.


"Jangan dekati Mami, tunggu Windy 10tahun lagi ya Om." Windy langsung berlari menuju mobil Bima dan masuk sambil tersenyum ke Steven.


"Usiaku 25tahun, menunggu kamu jadi 35tahun. Tua sekali!" Steven tertawa dan melangkah pergi.


Hawa dingin terasa di mobil, Reva tidak berani bicara melihat Bima yang marah. Windy juga sudah tertidur karena lelah. Sepanjang perjalanan Bima hanya diam, tiba di apartemen Reva juga dia langsung membuang wajahnya tidak mau melihat Reva, sakit hatinya. Tangan Bima menggenggam kuat setir mobil.


"Om, lihat Reva, kenapa marahnya sama Reva." Reva menggoyang lengan Bima yang langsung menatapnya.


"Kenapa memberikan nomor ke sembarang orang, Steven playboy. Dia sering gonta-ganti wanita, hatinya tidak pernah menetap."


"Iya Om, Reva memberikan nomor asal-asalan."


"OHH, ya sudah masuklah. Sampai bertemu besok."


"Om tidak mau, membersihkan bekas ciuman di pipi Reva."

__ADS_1


Bima mengambil tisu basah dan membersihkan pipi Reva, jidat Reva langsung berkerut. Dia berharap mendapatkan ciuman balik, tapi ternyata Bima memang sangat polos dan tidak tertarik dengan hal vulgar.


Reva keluar dan masuk ke dalam, Bima tersenyum bukannya dia tidak mengerti maksud Reva tapi terlalu cepat untuknya. Bima ingin menjaga Reva sampai waktunya halal untuk mereka.


***


Braakkkk....


Suara meja dipukul dengan kuat, keadaan rapat menjadi tegang, semuanya diam menundukkan kepala tidak berani menatap mata Reva.


Langkah kaki yang berirama berjalan memasuki ruang rapat, Viana langsung masuk dan duduk disamping Reva yang wajah nya sudah masam. Suasana yang awalnya tegang semakin mencengkram dua pimpinan VCLO mengikuti rapat.


Rapat dimulai kembali, semua yang menyampaikan usulan sangat berhati-hati dengan ucapan, sedikit saja salah siaplah terlempar dari VCLO.


"Berapa lama kita bekerja sama, apa kamu berpikir desain lawan kita jelek!?"


"Karena saya percaya, karya buk Reva lebih luar biasa dari karya mereka."


Viana terkejut melihat buku majalah melayang, Reva lebih kejam dari dirinya. Pantas saja VCLO masih bertahan.


"Saya paling benci melihat orang yang bisanya mengkritik tapi tidak mempunyai keahlian, jika produk mereka jelek, mengapa mereka berada diperingkat atas?"


"Apa kamu pikir mereka menggunakan dukun, tukang santet yang bisa menggubah daftar ranking desain terbaik."


"Kita gagal dalam promosi karena kalian tidak bekerja sama, kalian saling menjatuhkan dan menjadi yang terbaik. Padahal kalian semua gagal." Nada bicara Reva tinggi.


"Singkirkan semua proposal kalian, jika dalam 3jam proposal tidak ada dimeja saya, silahkan angkat kaki dari VCLO." Suara Reva kuat membuat hawa sangat dingin.


Semuanya masih diam ditempat karena Viana masih duduk disana. Vi diam menatap satu-persatu karyawan yang masih setia di VCLO.


"Apa kabar kalian semua, pasti sulit bekerja di bawah perintah seorang ABG, Dia masih memiliki ambisi yang sangat kuat, tapi percayalah Reva melakukan semua ini demi kebaikan bersama terutama VCLO." Suara Viana pelan sambil tersenyum.


"Kalian kembalilah ke ruangan Masing-masing, dan kalian berdua tetap disini."


Dua pria paru baya yang ditunjuk Viana saling pandang, tangan mereka dingin wajahnya juga sudah mulai panik, Viana hanya tersenyum sinis.


" Kalian tahu siapa aku?" tatapan Viana penuh amarah.


"Aku tahu kalian dikirim oleh Mitha, kalian pasti kehabisan cara melawan Reva."


"Pergilah dari sini! katakan pada Mitha Viana menerima tantangan nya."


Kedua pria tersebut melangkah dengan cepat, sebuah gelas melayang menghantam kepala, dan juga hp terbang. Mereka berlari terseok-seok menjauhi Viana yang menyeramkan.


Reva mengecek semua data sampai lupa makan, Viana sudah mencoba menegurnya, tapi Reva masih diam. Dia sangat mirip dirinya saat muda dulu yang mempunyai ego yang besar.


"Ririn sialan, pengecut, aku tidak akan kalah dalam pameran kali ini," Reva membuka sketsa gambar yang pernah diukirnya saat dia patah hati Bima bertemu Brit.

__ADS_1


Viana memperhatikan sketsa Reva yang penuh kesedihan, luka, dan rasa tidak bahagia. Viana tersenyum melihat Reva yang mempunyai bakat menggambar sangat luar biasa.


"Kak Vi, Abi memiliki kekuasaan yang besar, tidak mudah masuk ke benteng nya, bisa lakukan sesuatu."


"Apa kamu minta aku melawan Abi Mitha, dan kamu menjatuhkan Mitha dipameran."


"Ya! orang licik harus dibalas licik, aku tidak terima kerja keras VCLO diremehkan, aku percaya kak Vi bisa mengalahkan kekuatan Abi."


"Reva resikonya, aku juga akan Menyingkir LOVER."


"Biarkan saja, LOVER tidak akan bangkrut."


"Nanti Rama menghukum diriku."


***


Hari pameran sisa 1hari, Reva masih dikantornya mengecek semua laporan, Reva membaca dari tamu undangan, lawannya dari negara mana, siapa yang mempunyai kekuatan besar. Dari hal kecil sampai hal besar. Hari sudah larut Reva masih sibuk tidak ingat waktu, kemarahannya karena gagalnya pemasaran yang disebabkan oleh Ririn yang menggantikannya.


Reva melihat jam tangannya dan langsung melotot kaget sudah pukul 01.12 malam, Reva langsung mengambil seluruh berkasnya dan juga tasnya. Sekarang Reva panik karena beberapa kali cerita seram dirasakan di VCLO, Reva langsung membayangkan yang bukan-bukan.


Langkah kaki Reva berlari kecil, Reva merasakan ada yang mengikutinya, membuat Reva panik sampai gemetaran, dia terus berdoa dan beberapa kaki menyebut nama Bima.


Lengan Reva ditarik membuatnya teriak kuat, sambil memukuli tubuh yang menariknya. Bima menahan tangan Reva, Reva langsung melihat wajah Bima dan memeluknya erat.


"Bekerja boleh, tapi ingat waktu, tindakan kamu sangat berbahaya. Bagaimana jika ada laki-laki." Bima cepat menepis pikiran jeleknya.


"Apa om Bima berbahaya untuk Reva,"


"Sudahlah, ayo aku antar pulang," Bima menarik tangan Reva yang membuat Reva tersenyum bahagia.


"Kenapa bisa ada di kantor," Reva asik memandangi wajah Bima dari samping yang masih konsentrasi menyetir.


"Viana yang mengabari, aku sudah lama menunggu kamu,"


Mobil tiba di apartemen Reva, Bima tidak ingin ikut turun tidak enak nanti orang berpikir yang tidak baik.


Reva membuka seat belt tapi kesulitan, dia sengaja memancing Bima mendekati nya, Bima yang diam akhirnya mendekati Reva dan coba membantu. Dengan muda Bima bisa membukanya, tangan Reva sudah dikalungkan di leher Bima diciumnya bibir Bima dengan berani, cepat Bima coba melepaskan tangan Reva, tapi Reva tidak mau berhenti. Bima mulai kesal dan kasar melepaskan tangan Reva.


"Reva kamu tidak punya malu dan harga diri ya," teriak amarah Bima terdengar, terasa menyayat hati Reva. Dia langsung membuka pintu dan berjalan masuk apartemen, Bima menghela nafas dan merasa menyesal bicara kasar.


"Bima! bodoh sekali mulut kamu." Bima mengacak rambutnya.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2