
Windy teriak kaget melihat tangan melingkari pinggangnya, mencium pipinya. Windy tersenyum langsung menyatukan bibirnya dengan Steven.
"Baru pulang?"
"Iya sayang, kangen."
"Ayo mandi dulu." Windy tersenyum melihat Steven masuk kamar mandi.
Windy menyiapkan baju santai, melihat layar ponsel Steven yang bersinar. Windy hanya melihat sekilas ada pesan dari Saka mengatakan jika ada kasus yang harus Stev lihat.
"Ay Stev pasti sangat merindukan pekerjaannya." Windy tersenyum.
Selesai mandi Steven langsung memakai baju yang sudah ada di atas ranjang.
"Ay, kapan kita pulang." Windy tersenyum melihat Stev yang kaget.
Tawa Windy langsung pecah melihat wajah suaminya, senyuman Steven terlalu menggoda sehingga membuat Windy ingin mengigit.
"Kamu tidak masalah jika kita tinggal di luar?"
"Selama bersama Ay Windy bahagia, di manapun kita tinggal sama saja di sana dan sini rumah kita." Windy meletakan kepalanya di dada Stev.
"Terima kasih sayang, kita bicara dulu dengan Mami, nanti dia mengamuk mengatakan aku menculik putrinya."
Steven dan Windy bergabung dengan keluarga untuk makan malam, pembicara panjang terdengar setelah makan.
Stev mengutarakan keinginannya untuk pulang bersama Windy, Reva langsung cemberut memeluk putrinya.
Sebelumnya Bima sudah bicara dengan Reva, dia tidak mempermasalahkan jika Windy mengikuti Steven asalkan mereka selalu berkomunikasi, memberikan kabar juga selalu mengunjungi keluarga.
Windy memeluk Maminya berjanji akan memiliki waktu untuk mami, kapanpun Mami ingin Windy pulang dia akan segera berkunjung.
"Ada satu hal lagi Steven yang ingin Papi sampaikan semoga tidak memberatkan kamu." Bima tersenyum menatap Reva.
"Tidak kak Bim, katakan saja."
"Kak Bim." Reva memukul kepala Steven dengan ponselnya.
"AW, Reva." Steven langsung tersenyum memanggil Mami dan Papi.
"Menantu kurang ajar."
"Iya maaf, sudah terbiasa memanggil kak Bim." Steven memonyongkan bibirnya.
"Kak Bim ingin Steven melakukan apa? apapun selain berpisah dengan Windy Steven setuju."
"Papi ingin menitipkan Wildan, dia akan melanjutkan sekolah di sana. Sementara kamu yang mengawasi Steven, meskipun Wildan pintar dia belum berpengalaman tinggal sendiri."
__ADS_1
"Wildan tidak masalah Pi, tapi w satunya tidak ya?" Steven menggaruk kepalanya.
"Winda." Bima tersenyum.
"Jika Winda pergi pastinya Vira, Bella dan Billa juga pergi." Reva tersenyum menatap Steven dan Windy.
"Betul-betul Reva, mati aku." Steven menggaruk kepalanya.
"Gaya kamu Stev, tadi katanya apapun akan dilakukan asalkan bukan berpisah, tapi kenyataannya tidak sanggup mengurus mereka." Reva melotot.
"Aku yang memiliki lima anak, kalian pacaran lagi." Steven menatap Reva kesal.
"Winda tidak Stev, hanya Wildan. Kak Bima menitipkan Wildan karena dia harus mengikuti pendidikan khusus."
"Baiklah Pi, Steven akan menjaga Wildan dengan baik. Dia juga anak yang tenang tidak sulit menjaganya." Stev tersenyum menatap Windy yang menganggukkan kepalanya.
***
Hari keberangkatan Windy, Steven dan Wildan sudah siap, koper mereka bertiga juga sudah dimasukkan ke dalam mobil.
Seluruh keluarga mengantarkan ke bandara. Windy berpamitan dengan kedua orangtuanya, Viana dan Rama, Jum Bisma juga bahkan Ammar dan Septi juga mengantarkan.
Steven juga pamitan kepada semuanya, menatap Windy yang berpelukan dengan Ravi, Tian dan Erik karena Windy terpisah dari mereka karena sudah memiliki keluarga sendiri.
Wildan pamitan langsung melangkah lebih dulu, tangisan Vira terdengar paling kuat, hampir merobohkan bandara.
"Dasar manusia es, tidak sedikitpun dia merasa kasihan melihat kakak adiknya menangis." Ravi menatap Wildan yang tetap melangkah tidak perduli.
"Otak sama hati Wildan terbuat dari apa?" Erik menatap binggung.
"Sudah menjadi karakter dia sejak kecil, jadi maklum saja." Tian tersenyum.
Wildan menghentikan langkah kakinya, melihat ke arah belakang. Wildan membeli empat bunga dari seorang nenek langsung balik lagi.
"Jangan menangis, aku belum mati." Wildan menyerahkan bunga mawar merah kepada Vira.
Winda mendapatkan mawar kuning, sedangkan Billa mawar pink membuat senyuman Billa terlihat.
Bella langsung tersenyum menerima mawar putih yang sangat cantik.
"Jangan pernah hubungi aku."
Semua orang kaget mendengar ucapan Wildan, tangisan Vira terdengar lagi.
"Kalian boleh menghubungi aku jika salah satu kelompok bunga jatuh, hanya sepuluh menit bicara." Wildan menatap Vira yang tersenyum.
"Bagaimana jika kelopak bunga habis?" Billa tersenyum.
__ADS_1
"Saat kelopak bunga habis, berarti aku pulang." Wildan mengucapkan selamat tinggal, dia hanya ingin menuntut ilmu bukan jalan-jalan.
"Vira tidak bisa hidup tanpa Wildan." Vira memeluk Wildan erat.
"Kamu tidak bisa hidup tanpa bernafas Vira." Wildan menepuk pundaknya agar berhenti menangis.
"Wildan lupa, jika kamu nafas bagi Vira."
Viana mengerutkan keningnya, dapat dari mana putrinya bahasa lebay. Reva hanya menahan tawa melihat putranya dipeluk empat wanita.
"Tolong, kelopak bunga Vira jatuh. Boleh ditempel lagi tidak?" Vira menahan tangisannya.
Wildan hanya menghela nafasnya, berdiri di samping Steven yang merangkulnya.
"Papi, Mami, Bunda, Ayah, Daddy, Mom, Pa Ma kita pergi dulu ya. Do'akan kita selamat sampai tujuan, kita akan meluangkan waktu untuk berkunjung." Steven menundukkan kepalanya.
"Iya Stev, kalian jaga diri."
"Tian, kamu bisa melanjutkan kuliah di luar. kak Stev akan mencarikan kampus terbaik untuk kamu."
"Terima kasih kak Stev, Tian akan berkunjung nanti."
Senyuman semua orang terlihat, melambaikan tangan melihat Steven melangkah menggenggam tangan istrinya.
Air mata Reva langsung menetes, Jum dan Viana langsung merangkulnya menatap punggung putri kesayangannya pergi bersama lelaki yang dicintainya.
"Sedih lihat mereka pergi, Reva sejujurnya tidak siap berpisah dengan Windy." Tangisan Reva langsung kuat, Bima langsung memeluk istrinya yang terlihat sangat kehilangan putri kesayangannya.
"Sayang, kita bisa bertemu mereka kapanpun kita menginginkan, sekarang kita sudah selesai mengantarkan Windy kepada kebahagiaannya. Ingat setiap anak kita suatu hari akan pergi menutut ilmu, juga menikah, kita hanya akan berdua sampai menutup mata." Bima mengusap matanya.
"Ay jangan pernah tinggalkan Reva, temani Reva terus sampai Wildan dan Vira sukses juga memiliki keluarga."
"Aku tidak bisa menjanjikan sampai kapan aku hidup, tapi Ay selalu berdoa untuk menua bersama kamu." Bima mengusap air mata Reva.
Windy juga merasakan kesedihan yang sama, meneteskan air matanya akhirnya berpisah dari Maminya.
Steven menyadari, dibalik kacamata hitam Windy sedang menangis.
"Jangan sedih sayang, kita pulang kapanpun kamu inginkan." Steven memeluk Windy yang akhirnya tangisannya terdengar.
Wildan tersenyum melihat Windy bisa bersama Steven, kisah cinta panjang yang belum selesai.
"Kak Windy jangan sedih, Wildan juga ada bersama kak Win."
"Iya sayang, Kak Windy memiliki kamu dan ay Stev. Nanti kita sering-sering pulang menemui keluarga yang di sini." Windy tersenyum.
***
__ADS_1