MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
DOKTER KANDUNGAN


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Bima keluar mobil dengan perasaannya yang was-was. Reva hanya tersenyum mengandeng tangan Bima menemui Dokter yang sudah membuat janji dengan Bima sebelumnya.


"Ayy, apapun hasilnya jangan kecewaa ya."


"Iya sayang,"


Sesampainya di ruangan Dokter kandungan, Bima dan Reva langsung masuk, seorang Dokter muda dan cantik menyapa Bima dengan senyum manis begitu juga dengan Reva. Dokter ingin menyalami Bima, tapi Bima hanya menudukan kepalanya.


"Ada masalah apa ibu dan bapak?"


"Biasanya orang ke sini mau apa Dok?" Bima menghela nafas.


"Biasanya mengantar surat cinta pak Bima," Dokter Ririn tertawa, dia bisa melihat sosok Bima yang sangat terkenal bisnisnya.


"Sepertinya kami salah masuk ruangan, ayo sayang kita keluar." Bima mengandeng tangan Reva.


Ririn kaget, melihat respon Bima yang memang sangat dingin. Reva juga ikut kesal melihat wanita cantik menggoda pria beristri yang sedang diskusi di samping istrinya.


"Bima tunggu, jangan diambil hati saya hanya bercanda." Ririn menahan tangan Bima.


"Tapi saya tidak bercanda, sejujurnya saya risih melihat wajah anda. Banyak Dokter lain di sini tidak harus dengan anda."


Keluar dari ruangan Dokter Ririn, Bima menendang tempat sampah. Di manapun dia berada pasti ada wanita sejenis Ririn.


"Ayy jangan marah,"


"Aku risih dia tidak menghargai kehadiran kamu, saat pertama kita masuk dia langsung main mata, ingin aku congkel matanya."


Reva tertawa, memeluk lengan suaminya dengan perasaan haru. Suara teguran seseorang membuat Reva dan Bima melihat kearah suara.


"Bisma, Jum." Bima dan Reva mendekat.


"Apa yang kalian berdua lakukan?"


"Antri makanan!" Bisma kesal melihat Bima, wajah kesal Bima juga sudah terbaca oleh Bisma.


Cepat Bisma berdiri meminta Reva duduk, dan dia berdiri bersama Bima karena antrian penuh.


"Kamu tidak membuat janji ya Bisma?"


"Jadwal periksa bulan depan, tapi Jum pagi ini muntah parah, jadinya kita periksa tanpa janjian."


"Kak Bima seperti wanita hamil, marah-marah sampai menendang tempat sampah." Jum nyegir menatap Bima, dan senyumnya dan Reva lebar saat melihat ibu hamil perutnya sudah sangat besar.


"Besar sekali ya kak Jum, tapi mengemaskan."


"Iya Va, Jum juga mau."

__ADS_1


Lama menunggu akhirnya Bima dan Reva ikut Jum dan Bisma masuk. Dokter tersenyum melihat dua pasangan suami-istri masuk bersamaan.


"Hari yang istimewa, kedatangan calon ayah kembar, dengan istrinya yang cantik. Silahkan duduk dua bumil?"


Reva melihat ruangan sangat tenang, bau wangi juga khas bayi. Senyum terukir di bibir Reva.


"Perkenalan saya Dokter Laras, siapa nama kalian kamu?" Dokter Laras menatap Reva.


"Dia Reva dok, kakak ipar saya tapi saya lebih tua dari dia." Jum yang menjawab. Dokter hanya tersenyum dan tertawa kecil.


"Kamu datang ingin memastikan kandungan?"


"Iya Dok, dia tes pakai benda tipis itu garis dua tapi ingin memastikan saja." Bima yang menjawab. Dokter Laras kembali tersenyum.


Dokter meminta Reva tes ulang, Bima menanti dengan wajah cemas, Dokter Laras tersenyum melihat tatapan Bima.


"Dok istri saya hamil tidak?"


"Kamu merasa membuat anak tidak?"


"Iya pasti, setiap malam." Bima langsung menutup mulutnya, Dokter dan Jum tertawa sedangkan Bisma memukul jidat Bima.


Reva keluar sambil tersenyum, menunjukkan kepada Dokter garis dua. Lalu Dokter meminta Reva berbaring membuka sedikit bajunya tapi Bima langsung menahan.


"Bisma balik badan, jangan pernah melihat istriku." Bima memutar tubuh Bisma kearah dinding yang memperlihatkan gambar reproduksi, juga gambar dada wanita.


'Kalian ini keluarga yang lucu." Dokter menunjuk Bima untuk melihat ke depan layar, Jum juga ikut melihat.


"Dok mirip punya Jum ya?"


"Beda sayang, anak kita masa iya kembar dengan anaknya Bima." Bisma menimpali sambil memperhatikan gambar di depannya.


Dokter Laras kembali tertawa, pasangan yang saling melengkapi. Usia kandungan Reva jalan 8 minggu membuat Bima teriak, Bisma cepat dan menoleh.


"Dok kenapa bisa 8 minggu, saya ingin melihat anak saya dari umur satu hari." Bima menghela nafas, dia kelewatan menyapa anaknya. Sedangkan Dokter sudah tertawa.


"Dasar Bima tidak punya otak, delapan Minggu sudah masuk perkiraan. Mana bisa tahu kapan dia munculnya, jadi manusia jangan terlalu polos."


"Memangnya kamu tidak penasaran dengan anak kamu umur satu hari?"


"Iya penasaran, tapi setiap hari kami saling menyapa?"


"Aku juga berarti setiap hari sudah menyapa."


"Maaf ya Dok, kita membuat keributan." Reva tidak enak hati melihat ulah Bima dan Bisma.


"Tidak masalah, saya terhibur."

__ADS_1


Setelah Reva giliran Jum, Reva menatapnya layar juga berpikiran yang sama dengan Jum jika anak mereka sepertinya mirip. Dokter menjelaskan jika semuanya belum terlihat, hanya saja berbentuk kantung. Reva dan Jum mendengar semua penjelasan Dokter dengan seksama.


Keduanya juga mendapatkan vitamin, dan perkiraan Dokter usia kandungan keduanya sama. Reva sangat bahagia dan memeluk perutnya, Jum juga tidak kalah bahagia sambil memeluk Reva.


"Dok ada kemungkinan tidak mereka kembar?"


"Tentu ada, karena kalian memiliki keturunan yang kembar. Ingat resiko hamil kembar cukup berbahaya, jadi berhati-hatilah selalu, untuk suaminya menjadilah lelaki siaga."


Setelah selesai bicara dengan Dokter, Bima meraih tangan Reva dan memeluknya. Seandainya tidak ada Bisma Jum pasti Bima sudah lompat-lompat. Dia sangat bahagia mengetahui istrinya sudah hamil 8minggu, masih tersisa 7bulan lagi untunya bisa melihat anaknya.


"Terima kasih ya sayang, aku mencintai kalian."


Bima Reva keluar sambil bergandengan tangan, Bisma jum juga bergandengan tangan. Betapa bahagianya Bima melihat kebahagiaan Bisma yang sekarang.


"Kak Bim, seperti lucu jika istri kita lahiran barengan." Bisma menoleh melihat Bima yang tersenyum.


"Pasti heboh ini rumah sakit."


Keluar dari rumah dan sakit, Bima dan Bisma menemani kedua bumil untuk mencari makan, melihat Jum dan Reva sangat lahap membuat selera makan Bima menghilang. Bisma lebih lagi, perutnya mual saat melihat dua bumil yang makan dengan porsi banyak.


"Aku rasa hanya alasan saja ibu hamil banyak makan?" Bisma menatap kakaknya.


"Masa iya mereka kelaparan,"


"Menurut aku, mereka sengaja mengikuti nafsu makan yang berlebihan karena semuanya terlihat menggoda."


Uwweee uwweee Reva mual membuat Bima panik, Bisma menatap sambil mundur, Jum juga berhenti makan.


"Kenapa sayang, minum dulu."


"Makannya tidak enak, Reva mual." Reva mendorong piringnya, Bima membersihkan mulut Reva.


'Tidak enak, tapi sudah habis tiga piring." Bisma menggelengkan kepalanya.


Jum ikut mendorong piringnya, barulah Bisma bergerak menatap istrinya yang menatap makanan seakan-akan tidak suka.


"Kenapa sayang, kamu mau minta yang lain." Bisma mengambil tisu membersihkan mulut Jum.


"Makannya tidak enak," Jum merinding, Bisma mengaruk kepalanya, sedangkan Bima sudah menahan tawanya.


Bagi Bima wanita hamil memang aneh, tapi menjadi momen yang spesial melihat keanehan yang jarang terjadi.


****


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2