
Suara Steven marah terdengar sampai ke kamar Vero, cepat Vero keluar melihat dari lantai atas, seluruh karyawan mansion dikumpulkan.
Windy juga berlari keluar, mendekati Vero yang tidak berani turun. Tatapan mata Windy penuh tanda tanya.
"Ada apa Ver?" Windy melihat ke lantai bawah, penuh orang yang berkumpul.
"Kak Stev marah, dia paling tidak suka ada wanita masuk ke dalam kamarnya. Seorang maid lancang masuk, kak Stev ternyata menakutkan jika sedang marah." Vero sampai merinding.
Windy langsung melangkah turun, Vero juga langsung ikut turun. Melihat Steven mengecek data karyawan yang keluar masuk Mansion.
"Aku pecat kalian semua?" Steven langsung menghamburkan berkas karyawannya.
"Tuan, saya akan mengaturnya kembali." Seorang Maid yang paling berpengaruh.
Tatapan mata Steven tajam, menghidupkan TV yang cukup besar di ruang tamu. Layar menunjukkan aktivitas yang dilakukan di dalam rumah selama bertahun-tahun Steven jarang pulang.
Rumahnya dijadikan tempat pesta minum dan hubungan terlarang. Steven merasa lebih gila lagi, melihat kamarnya digunakan sembarang orang, masuk secara lancang.
"Kalian semua keterlaluan, menjijikkan." Steven meminta semua orang keluar, hanya menyisakan lima orang yang tetap di tempatnya.
Puluhan karyawan di pecat, Steven duduk memijit pelipisnya. Orang kepercayaannya selama ini merusak rumah yang sudah dia percayakan.
"Ada apa kak?" Vero duduk di dekat Steven.
"Kamar aku dijadikan tempat bercinta para pelayan, bahkan mereka tidak menyadari jika aku sudah kembali." Steven menghela nafasnya.
Vero kaget, dia pikir ada karyawan yang sengaja masuk untuk menggoda, tapi ternyata beberapa maid memang menggunakan kamar Stev menjadi kamar mereka, karena Steven memang jarang kembali, bahkan hampir tidak pernah kembali.
Seorang maid yang sudah cukup tua, memberikan Steven minum. Vero melihat minum, langsung mengambilnya takut Stev diracun.
"Maafkan saya tuan, segala cara sudah saya lakukan untuk menghentikan. Nenek tua seperti saya bisa apa? saya hanya bisa diam Tuan." Kepalanya tertunduk meminta maaf.
"Banyak orang di luar sana yang membutuhkan pekerjaan, aku menggaji orang yang tidak bertanggung jawab."
__ADS_1
"Apa yang harus saya lakukan tuan, saya siap angkat kaki."
"Bersihkan seluruh rumah ini, panggil ahlinya untuk membuang bekas kotor mereka. Rumahku di buat menjadi rumah mereka, sungguh luar biasa." Steven menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Steven minta di ceritakan apa yang terjadi, ternyata selama ini kamar atas terkunci, Nenek menyembunyikan kunci lima kamar utama yang berada di lantai atas, juga satu kunci kamar rahasia Steven yang memang tidak pernah bisa dimasukin, beberapa hari yang lalu, seorang pria, kekasih dari wanita yang menempati kamar Stev mengancam memaksa meminta kunci.
Sekarang Steven mengerti, ada yang berusaha mencari sesuatu di rumahnya, tidak ada yang bisa menemukan apapun di dalam kamarnya.
Hanya tersisa lima karyawan, Steven meminta menambah karyawan baru, dengan mencari orang yang bener-benar membutuhkan pekerjaan, bukan hanya sekedar ingin bekerja.
Steven juga melarang 3 kamar atas di masuki oleh siapapun, kecuali mendapatkan izin dari pemilik kamar, pelayan laki-laki dilarang masuk ke dalam rumah, termasuk supir.
Pelayan laki-laki hanya boleh memasuki area belakang, akan ada maid khusus yang menyediakan kebutuhan mereka. Bukan tanpa alasan, Stev tidak suka ada yang menatap Windy.
Selesai seluruh masalah pelayan selesai, Stev melangkah ke arah dapur, Windy asik makan di ruang makan, tanpa mempedulikan Steven yang sedang marah di ruang tamu.
Steven duduk di depan Windy melihat makanan yang dibungkus dari rumah makan Lukas, Windy tidak menatap Stev, tidak menawari sama sekali.
"Win, boleh Om minta?" Steven mengambil sumpit, menunggu jawaban Windy.
"Win, maafkan Om jika salah."
"Jika Om ingin makan langsung dimakan saja, membeli makanan ini menggunakan uang Om, jadi silahkan di makan." Windy memberikan seluruh makanan, langsung melangkah pergi meninggalkan Stev.
Wajah Steve langsung langsung tidak bersahabat, sudah kesal karena asisten rumah tangga, ditambah lagi oleh Windy yang marah.
Steven membiarkan Windy, memberikan waktu untuk menenangkan dirinya. Stev memilih untuk masuk ke dalam perpustakaan, masuk ke dalam ruangan rahasia milik kakaknya yang juga seorang pengacara.
***
Windy sudah terbangun, duduk di ruang makan bersama Vero. Menunggu Steven untuk sarapan pagi, lama keduanya diam menunggu sang pemilik rumah tidak muncul.
"Bik, tuan Stev belum keluar pagi ini? kami harus pergi kuliah, sudah lama menunggu." Vero menatap maid yang menyediakan makan.
__ADS_1
"Tuan Stev tidak ada di rumah tuan muda, kamarnya juga terbuka, siang ini akan dibersihkan."
Windy langsung berdiri dengan tatapan marah, mengambil tasnya langsung berangkat kuliah, Vero teriak meminta Windy sarapan, tapi tetap tidak dihiraukan, Vero terpaksa mengejar Windy.
"Dasar kak Stev, pacar marah bukannya minta maaf, dirayu, tapi dia yang menghilang. Julukan saja playboy, tapi tingkahnya seperti orang yang tidak berpengalaman." Vero melihat Windy berjalan ingin keluar gerbang.
Vero mendekati supir meminjam kunci mobil, supir menyerahkan sebuah mobil yang sudah atas perintah Steven milik Vero.
"Vero ayo cepat, kita bisa terlambat." Windy teriak bercampur dengan marah.
Tombol kunci langsung ditekan untuk mencari mobil yang tersusun rapi, Vero tidak mengerti kakaknya tenyata suka mengoleksi mobil. Wajah Vero lebih kaget lagi, mobil yang dipinjamkan untuknya sebuah mobil Lamborghini terbaru.
Dengan senang hati Vero langsung menggunakannya, mendekati Windy yang sudah jalan kaki ke arah gerbang, Vero berhenti Windy langsung cepat masuk.
Sepanjang perjalanan keduanya diam, Windy berkali-kali menarik nafas, Vero mengerti Windy marah.
"Win, kamu sudah tahu perasaan kak Stev? apa yang akan kamu lakukan?" Vero melirik Windy.
"Banyak sisi baik dan buruk dari Om Stev, salah satu keburukan dia mengabaikan orang yang sedang marah. Dia tidak punya niat untuk membujuk." Windy memukul dasbor mobil, Vero langsung mengelus takut lecet.
"Iya tahu, tapi jangan main pukul. Mungkin kak Stev terlalu dimanjakan oleh para kekasihnya, dia tidak pernah mengejar, tapi dikejar." Vero meletakkan kotak tisu di depan Windy, melindungi mobil.
"Aku juga berpikir hal yang sama, Om Stev terlalu cuek soal hubungan." Windy mengambil kotak tisu memukul ke arah dasbor mobil.
"Kamu terlalu dewasa Win, jika perempuan lain sudah mengamuk. Sudah kita tidak perlu membahas lagi, bisa saja mobil ini lecet jika kita terus mengobrol." Vero mengambil kotak tisu, meletakkannya ke kursi belakang.
Kening Vero berkerut, jika Windy pacarnya sudah lama Vero tendang keluar beraninya melukai mobil keren yang Vero idamkan.
"Om Stev!" Windy teriak kuat, memukul dasbor dengan kedua tangannya, suara sangat kuat, Vero sampai menghentikan mobil, menatap dasbor.
"Ayo jalan Vero, kita sudah terlambat."
"Bisa tidak kamu duduk belakang saja Win." Vero menghela nafasnya.
__ADS_1
***