
Pertemuan Windy dengan Lukas membuat Steven tidak tenang, Stev juga tahu jika Lukas sangat mencintai Windy.
"Permisi pak, ini beberapa kasus yang bapak minta." Steven menerima sambil tersenyum.
Stev membaca beberapa berkas kasus yang harus dia pilih, langkah kaki seseorang masuk dan duduk di depan Stev.
"Ada perlu apa kamu datang ke sini?" Steven tidak mengalihkan pandangannya.
"Aku membutuhkan seorang pengacara." Lukas tersenyum menatap Steven yang sangat dingin.
"Cari saja pengacara lain, aku tidak menerima sembarang kasus." Steven mengangkat kepalanya tersenyum melihat Lukas.
"Ini kasus penting Stev, pastinya kamu akan menerima."
"Benarkah, kasus apa?"
"Perceraian."
Steven tertawa, dia tidak tertarik sama sekali banyak kasus yang jauh lebih penting daripada sebuah perceraian.
"Maaf Kas, sepertinyai kamu harus segera pergi." Steven menunjukkan ke arah pintu."
"Aku akan membuat kamu dan Windy bercerai." Lukas langsung melangkah pergi.
Steven meminta Lukas berhenti, mempertanyakan keuntungan bagi Lukas apa jika mereka sampai bercerai.
Berharap Windy akan jatuh cinta, seharusnya Lukas datang saat Windy terpuruk dan membutuhkan sandaran.
"Sekarang kami sudah bahagia, kenapa kamu ingin merusaknya?" Steven menggelengkan kepalanya.
Lukas melangkah pergi meninggalkan Steven, langsung menuju butik menunggu Windy sampai di butik.
Senyuman Lukas terlihat, menatap Windy keluar dari dalam mobil.
"Windy."
"Apa yang kamu lakukan Lukas? Ay Stev tidak suka kita bertemu."
"Kita bisa bersahabat lagi seperti dulu, maafkan aku Win, berikan aku kesempatan satu kali lagi." Lukas menggenggam tangan Windy.
Windy langsung menepis tangannya, menatap tajam Lukas yan yang tidak punya malu.
"Aku sudah menikah, tolong jangan ganggu kebahagiaan aku." Windy langsung melangkah masuk.
Windy masuk ruangannya dengan tatapan kesal, meminta Jeni membawa laporan untuk meeting kerja sama dengan perusahaan Vero.
"Kapan kita meeting?"
"Satu jam lagi Bu, di hotel tidak jauh dari sini."
"Steven pergi tidak ya?"
"Kenapa Bu, kangen dengan pak bos."
"Berisik, kenapa Windy mudah sekali kesal."
Jeni tersenyum memberikan Windy minum, membaca beberapa laporan yang akan di bahas.
Windy berangkat ke hotel bersama Jeni, langsung melangkah ke dalam untuk menemui resepsionis untuk menanyakan ruangan rapat.
"Ini kunci kamar untuk beristirahat dan menunggu."
__ADS_1
"Terima kasih."
"Jeni tolong kamu cek lagi ruangan meeting, aku tunggu di kamar ya." Windy merasakan pusing kembali.
"Baik Bu."
"Maaf kak, ini minum jika kepalanya pusing."
Windy tersenyum langsung mengambilnya, meminumnya sampai hampir habis. Windy masuk lift, Lukas langsung berlari ikut masuk.
"Apa yang kamu lakukan Lukas?"
"Aku ada meeting juga Win." Lukas tersenyum.
Windy merasakan kepalanya semakin pusing, penglihatannya mulai gelap. Lukas memeluk pinggang Windy memintanya bersandar.
"Panas."
"Buka saja kancing baju kamu."
"Aku kenapa?" Windy merasakan aneh pada tubuhnya.
"Sabar Windy, sebentar lagi kita sampai di kamar." Lukas tersenyum licik menatap tubuh Windy penuh *****.
Keluar dari lift, Windy sudah sempoyongan. Lukas membantu Windy berjalan agar bisa seimbang.
"Mommy." Mei tersenyum melihat Windy.
Vero terkejut melihat Windy bersama Lukas langsung berlari menahannya, tapi terlambat pintu sudah ditutup.
"Ada apa sayang?" Can kebingungan melihat Vero menekan bel kamar.
"Windy bersama Lukas, hubungi kak Steven sekarang." Vero menatap Can yang langsung menghubungi Steven.
Vero langsung berlari ke lantai satu, meminta kunci lainnya karena Lukas punya niat jahat.
"Berikan aku kunci kamar."
"Maaf pak, ini privasi."
"Sialan!" Vero teriak kuat.
"Kalian menjebak Windy, dia putri pemilik hotel ini, istri dari Steven Alvaro. Jika terjadi sesuatu padanya mati kalian."
Steven masih ada persidangan, dia mungkin akan terlambat mengikuti meeting karena ada keterlambatan.
Kasus yang Steven bela seorang istri yang membunuh suaminya karena membunuh anaknya, wanita yang memiliki trauma karena kehilangan anaknya sehingga melakukan hal nekad.
Hukum tetaplah hukum, Steven hanya bisa membantu meringankan tuntutan agar ibu yang kehilangan tidak terlalu lama mempertanggung jawabkan kesalahannya.
Selama persidangan perasaan Steven gelisah, ada sesuatu yang menganggu pikirnya. Stev berusaha untuk konsentrasi agar bisa memberikan yang terbaik untuk kliennya.
Hampir dua jam persidangan, Steven tersenyum karena perkiraannya salah. Dia bisa pergi ke hotel untuk mengikuti meeting.
Stev mengambil ponselnya, melihat pesan dari Windy jika dia sudah menunggu di hotel, memberi tahu Steven nomor kamarnya.
"Mei-mei, meeting juga harus mengikuti kamu yang memaksa ingin tidur di hotel." Steven tersenyum Vero sangat menyayangi putri kecilnya, sehingga apapun yang Mei inginkan selalu dituruti, Steven juga sama sayangnya dengan keponakan kecilnya.
Mobil Steven melaju dengan kecepatan sedang, panggilan dari Can terlihat. Steven tidak sempat menjawab karena ada panggilan lain.
Setelah selesai baru menjawab panggilan Can yang mungkin bertanya soal meeting.
__ADS_1
[Halo assalamualaikum Can.]
[Waalaikum salam, kak Stev di mana? cepat datang kak.]
[Sudah di jalan, sebentar lagi sampai.]
[Windy masuk kamar bersama seorang pria bernama Lu lupa Can. Kak Stev cepat datang, Windy dalam bahaya. Hati-hati di jalan.]
Panggilan mati, Steven mempercepat laju mobilnya, sudah bisa menduga pasti Lukas yang melakukannya.
"Windy, tunggu aku datang." Steven konsentrasi agar cepat sampai hotel.
Mouza menggedor pintu, menendang kuat. Can juga menggedor pintu meminta Windy keluar. Menunggu Vero lama sekali membuat Mou dan Can panik.
"Mama, bawa Mei menjauh."
Mouza langsung mendobrak pintu, beberapa satpam berdatangan saat melihat Can semuanya mundur.
Tangisan Mei langsung pecah melihat keributan memanggil Mommy.
"Mommy, tolong mommy."
Can langsung memeluk putrinya, menghubungi Vero agar cepat datang.
Vero sudah berkelahi dengan beberapa satpam, tidak perduli menjadi pusat perhatian.
"Hentikan!" Steven langsung melayangkan pukulan.
"Serahkan kunci." Steven menatap tajam.
Resepsionis gemetaran melihat Steven, menyerahkan kunci. Steven dan Vero langsung berlari ke arah lift, langsung cepat naik ke lantai atas.
"Siapa lelakinya Vero?"
"Lukas, pria brengsek."
"Bagaimana keadaan Windy?"
"Dia terlihat sepertinya sangat lemas."
Di dalam kamar Lukas meletakan Windy di atas ranjang yang sudah tidak bisa mengendalikan diri, karena obat yang dimasukkan ke dalam minumannya.
Suara gedoran pintu, bel yang dibunyikan membuat Lukas sangat kesal. Windy masih sadar, berusaha menjauhi Lukas agar tidak menyentuhnya.
"Jangan sentuh aku Lukas, aku mohon."
"Aku sudah lama menahan diri Windy, hanya sebentar saja." Lukas membuka bajunya.
"Tidak! jangan sentuh aku."
"Hanya sebentar, aku ingin mencicipi kamu setelahnya akan aku kembalikan kepada Steven." Lukas tertawa.
"Tolong!" Windy teriak, tapi lehernya dicekik kuat.
"Abaikan bunyi di luar, kita nikmatin permainan kita. Aku pastikan lebih nikmat daripada kamu berhubungan dengan Steven."
Windy menangis, memukul dirinya sendiri agar bisa mengendalikan diri untuk tidak pernah menikmati perbuatan bejat Lukas.
"Ayo sayang, kamu sudah tidak tahan lagi." Lukas mendekati wajah Windy.
"Ay Stev, tolong Windy Ay." Windy meremas rambutnya kuat menahan diri.
__ADS_1
***