
Reva duduk termenung bersama Viana dan Jum menatap gaun pengantin berwarna putih, Vi pernah mengenali gaun yang sempat fenomenal pada masa kejayaannya sebagai seorang pebisnis.
"Tema yang menyedihkan." Vi tersenyum melihat gaun indah, tapi terasa kesepian.
Nenek Arum mendekati tri istri yang masih menatap beberapa gaun yang terpajang rapi di depan mata.
"Reva, nenek dengar kamu seorang desainer terkenal."
"Iya, lebih terkenal lagi setelah mengenal Bima, aku hanyalah desainer yang mengejar mimpi, menemukan seseorang yang seharusnya berdiri di posisi aku." Reva tersenyum mempersilahkan nenek Arum duduk.
"Viana pernah melihat gaun ini, sudah cukup lama, tapi sangat aku kenali."
Nenek Arum tersenyum, gaun putih di depan mereka gaun pernikahan Ratu Sinta dan Raja Hanz. Sinta merangkai sendiri gaun untuk dirinya, menggunakan di pelaminan bersama lelaki yang tidak dia cintai.
Kesedihan sangat terasa di lubuk hari terdalam Ratu Sinta dan Raja Hanz. Menikah hanya karena mempertahankan kerajaan, membuat keduanya terpaksa memberikan senyuman palsu.
Nenek Arum membuka sebuah ruangan, tri istri langsung masuk ke dalam melihat banyaknya gaun yang indah, terasa juga kebahagiaan.
Viana terhenti di gaun berwarna merah muda yang sangat cantik, ada selendang juga menutupi kepala.
Nenek Arum menceritakan baju kesayangan Sinta, dia mungkin pernah bermimpi menggunakan gaun saat bisa bersatu bersama Firza, tapi kenyataannya dia harus menyembunyikan baju pengantinnya, menggantinya dengan yang lain.
Air mata nenek Arum menetes, melihat baju gaun kecil yang di buat oleh Sinta untuk putrinya, tapi belum sempat Anna menggunakannya dia sudah menghilang.
"Boleh tidak ini untuk Windy? Windy akan memakaikannya kepada putriku Sinta Arumi Pratiwi." Windy memeluk Maminya.
"Sejak kapan kamu punya anak?" Reva memonyongkan bibirnya.
"Sejak cinta Windy diterima." Windy mencium pipi Reva.
"Pasti kamu sudah tidak ingat kuliah lagi, pikirannya pasti menikah." Reva berbisik menjitak pelan kepala Windy.
Windy tertawa mengeratkan pelukannya, Maminya wanita yang paling pengertian. Wanita yang paling memahami keinginannya.
"Sinta Arumi Pratiwi, kamu tidak ingin meletakkan nama akhir Bramasta dan keluarga Stev?" Reva menatap Windy.
"Kepanjangan Mami."
"Sinta Artiwi Bramasta Alvaro, nama cucuku yang cantik." Reva mengusap gaun cantik untuk cucunya.
"Namanya kebanyakan cowoknya Mami, sudah bagus Sinta Arumi Pratiwi."
Nenek Arum, Viana dan Jum menggelengkan kepalanya melihat ibu sama anak berdebat soal nama anak, cucu.
__ADS_1
"Pertanyaan Jum hanya satu, bapaknya siapa?" Jum menghentikan Reva dan Windy.
"Steven." Windy dan Reva menjawab serentak.
Viana tertawa bersama Jum melihat Reva yang akan menjadi nenek, padahal Reva masih muda.
"Nenek Reva, Jum juga pengen punya cucu."
"Cucu apa Jum, anak juga masih baru tumbuh bulu." Viana memeluk Jum yang bibirnya monyong.
Nenek Arum tersenyum melihat kekompakan para ibu, juga kebersamaan keluarga.
Setelah puas berkeliling kastil Cana, dilanjutkan dengan berbelanja oleh-oleh.
Steven menolak ikut, dia tahu jika wanita sudah berbelanja pasti lupa waktu. Bima sudah melarikan diri membawa Winda yang sudah terlelap, Rama juga membawa Vira yang sudah menguap berkali-kali.
Bisma sudah tidur di mobil bersama kedua anaknya, Wildan juga sudah masuk mobil memejamkan matanya ingin tidur.
Stev kebingungan dia harus melarikan diri ke mana, Viana sudah menarik Ravi untuk menjadi pengawalnya, Jum bersama Tian, Reva bersama Erik, Windy mengulurkan tangannya meminta Stev ikut.
Wajah Steven terlihat lesu, akhirnya menggenggam tangan Windy melangkah ke tempat pusat perbelanjaan.
"Jangan banyak yang di beli, bawa pulangnya susah." Steven mengingatkan.
Ravi, Tian dan Erik setuju dengan ucapan Steven, tapi para ibu tidak perduli mereka akan membeli apapun yang mereka sukai.
"Reva sepatu ini di tempat kita juga ada, kenapa harus membelinya di sini?"
"Lagi ada diskon 5% lumayan, lagian ada namanya belinya di kerajaan Cana, jadi banyak yang iri." Reva meninggalkan belanjaan di dekat Stev.
Jum membawa banyak sekali baju, meminta bantu Steven menyusunya. Stev menggaruk kepalanya.
"Bunda Jum, baju sebanyak ini untuk siapa?"
"Untuk semua pelayan di rumah, oleh-oleh dari Cana." Jum melangkah pergi.
"Sayang, buat apa sepatu ini. Kamu sudah punya di Mansion." Stev menghentikan Windy.
"Beda warna Yang Stev, lagian di sini lebih murah."
Steven melotot melihat Viana membawa banyak tas, Stev tidak ingin menegur lagi. Melihat Ravi, Erik Tian sudah melarikan diri.
Hampir tiga jam Steven memejamkan matanya menunggu empat wanita berbelanja, Windy menarik hidung Stev memintanya bangun.
__ADS_1
"Sudah selesai, ayo kita pulang."
Reva menyerahkan bill, Steven mengambil menganga melihat jumlah yang harus dibayar. Menatap Reva, Viana, Jum dan Windy tersenyum.
"Ayo cepat bayar Stev, kita masih ingin mencari makanan." Reva menarik Steven dari duduknya, mendorong ke tempat kasir.
Steven menatap sinis, mengeluarkan dompetnya menyerahkan kartunya dengan tatapan sinis ke arah Reva yang sengaja.
"Va, menantu kamu melotot, sepertinya tidak ikhlas." Viana menatap Stev.
"Biarkan saja kak Vi, belum pernah melihat menantu kena azab karena pelit kepada mertua." Reva menahan tawa melihat Steven.
"Bukan masalah bayar bill, aku menunggu kalian belanja membuang waktu 3 jam, seharusnya kalian bawa kartu ini belanja sendiri." Steven menyerahkan kartunya.
"Ohhh tidak bisa, kartu kamu hanya pemilik yang boleh menggunakannya." Reva melangkah pergi meminta Steven mendorong keranjang belanjaan mereka.
Windy membantu, tapi Stev melarangnya. Windy tersenyum menanyakan Stev baik-baik saja, takutnya punggungnya yang baru dijahit sakit lagi.
Steven langsung meringis, Windy langsung panik. Tawa Steven terdengar mengusap kepala Windy, mengatakan jika dia baik-baik saja.
Senyum Steven terlihat saat melihat Saka berjalan merangkul Ghina, Vero juga berjalan di samping Saka bersama Bib.
"Akhirnya korban selanjutnya datang."
Steven meminta Saka meletakan barang ke mobil, jika tidak mereka semua tidak akan pulang. Saka melihat tri istri langsung cepat melangkah pergi bersama Vero membawa belanjaan.
"Steven, kamu bisa juga memanfaatkan orang." Ghina tersenyum.
"Mungkin memanfaatkan Ghin, lelaki seperti mereka pasti takut dengan ibu-ibu yang merepotkan, jadi cari aman saja.
Steven melangkah bersama Windy, merangkulnya memasuki tempat cemilan, sudah terlihat dari kejauhan Mami membawa keranjang dorong yang hampir penuh.
"Reva belum berubah juga masih suka memborong makanan anak-anak, tapi dia jarang memakannya, hanya suka membelinya."
"Begitulah Mami, Mommy dan Bunda. Mereka tiga wanita yang memiliki hobi yang sama." Windy tertawa, megambil banyak jenis cokelat.
Stev memegang coklat pilihan Windy, memasukkan ke dalam keranjang.
Belanja cemilan saja sangat banyak, Stev tidak mengerti misi wanita. Hebatnya seluruh belanja sudah masuk kotak, mengirim langsung pulang ke rumah.
"Tidak Malasah Va semuanya digabungkan?" Stev binggung melihat belanjaan Mommy dan Bunda tidak dipisah.
"Tidak masalah, karena akan di kirim ke rumah utama, nanti ada Septi di sana yang akan memilihnya. Kita lanjut belanja di negara kelahiran kamu Stev." Reva memberikan nota, juga catatan soal pengiriman barang.
__ADS_1
Steven tersenyum melihat calon mertua rasa sahabat yang membuatnya jatuh miskin.
***