
Kelahiran dua bayi kembar pengantin, bernama Bintang Bramasta dan Bulan Bramasta. Putra putri dari Bastian dan Bella Bramasta.
"Keluarga B akhirnya lahir ke dunia ini, masih menunggu baby V dan baby A. Keluarga kita ramai sekali, ada W, R, B, E, masih menunggu V dan A." Winda menggendong baby Bulan bersama Ar yang tersenyum sangat bahagia melihat Bulan.
"Siapa saja nama mereka Aunty?" Asih yang duduk diam melihat Bintang sedang menyusu, Bella juga sedang belajar menyusui dibantu oleh Binar dan Billa, ada dokter Nisa juga yang mengakui kehebatan Binar yang sangat tenang menangani bayi kembar.
"Wira, Raka Rasih, Bintang Bulan juga Bening, Elang Embun, dan duanya masih dirahasiakan."
"Kenapa adiknya Ning berbeda?"
"Siapa bilang berbeda, Aditiar masuk keluarga A." Winda menatap Ar yang tersenyum melihat istrinya cepat sekali membalikan fakta.
"Kenapa keluarga W hanya ada satu, sedangkan kalian ramai. Wira butuh pacar."
"Adik." Vira dan Winda berteriak membuat Bulan menangis histeris.
Kepala Ar menggeleng melihat tingkah Vira dan Winda, ditambah lagi tingkah Wira yang selalu membuat kacau.
Erik duduk diam, menidurkan putrinya. Semua orang melihat ke arah Erik yang menjadi jembatan untuk mereka.
"Erik, terima kasih sudah menyelamatkan baby B, tanpa kamu mungkin ada air mata kesedihan." Jum mengusap air matanya.
"Bunda, apa yang Erik lakukan hanya sebuah pengabdian diri sebagai seorang dokter, jika Erik berjuang menyelamatkan nyawa orang lain, apalagi keluarga kita." Senyuman Erik terlihat, mencium kening putrinya.
"Ini bukan pertama kalinya, saat kelahiran Wira kamu juga yang menyelamatkannya. Mungkin selama ini Kak Windy diam, karena kamu selalu menyembunyikan kebaikan, untuk hari itu terima kasih Dek, saat mengatakan Wira tidak bisa diselamatkan, kamu menangis tidak ingin berhenti berjuang. Kamu menciptakan kebahagiaan dalam keluarga kami." Windy mengusap air matanya, memeluk putranya.
"Saat kelahiran Asih Aka, Erik juga ada di sana, dia yang memberikan kebahagiaan karena dua bayi keluar dalam keadaan baik-baik saja. Terima kasih kak Erik, kami bangga memiliki seorang dokter dalam keluarga ini." Kasih tidak bisa menutup betapa takutnya dirinya saat melahirkan prematur, apalagi anaknya terkena racun.
"Kenapa kalian bicara seperti itu? Erik jadinya tidak enak." Suara tawa Erik terdengar tidak enak hati.
"Kak nanti jaga kita juga ya?" Winda tersenyum.
"Aku bukan dokter kandungan Winda, kalian membutuhkan bantuan dokter Nisa." Erik menundukkan kepalanya.
"Apapun itu, jaga kami." Vira tersenyum menyadari jika Erik menangis.
__ADS_1
"Erik juga mengucapkan terima kasih atas cinta kalian, aku bukan siapa-siapa bahkan tidak ada ikatan dengan keluarga ini, aku hanya anak jalanan. Mami orang pertama yang memeluk Erik, usapan tangan Mami sangat lembut mengatakan dengan pelan ...." Erik mengusap air matanya.
"Dunia ini kejam, sedangkan kita selalu dipaksa untuk berjuang. Genggam tangan Aunty, ayo Aunty tunjukkan jalan untuk kamu, berusaha untuk menjadi diri sendiri juga menjadi jembatan kebahagiaan banyak orang." Reva tertawa melihat Erik yang berhasil menjadi jembatan kebahagiaan bukan hanya keluarganya tapi banyak orang.
"Terima kasih Mami, saat itu Mami tidak meminta Erik berjanji, tidak meminta menjadi yang terbaik, tapi menjadi diri sendiri. Mami mengajari Erik arti berjuang, juga bisa tertawa bangga sebagai Erik, bukan lelaki yang perfect." Erik mengakui dia sangat bahagia.
"Anggap saja, Erik membayar kebaikan kak Windy saat kecil dulu menyelimuti Erik yang kedinginan, lalu memeluk erat. Kak Tian yang berada di depan Erik untuk melindungi, bahkan aku selalu digendong dipunggung karena jika bermain selalu terluka, Ravi yang selalu menggenggam tangan, tidak ingin melepaskan selalu bersama, bahkan menjadi mata dan telinga untuk diriku. Kalian semua orang baik, berhak untuk bahagia, sama aku juga bahagia memiliki Billa, juga buah cinta kami Elang dan Embun. Terima kasih untuk kesempatan, tidak akan pernah Erik lupakan siapa diriku." Erik memeluk putranya yang mengerti perasaannya.
"Papa, nanti Elang yang akan menjaga Papa. Tunggu Elang besar."
"Iya sayang, Elang juga harus mengigat semua pesan Papa."
"Iya Papa, jika papa berdiri menjaga banyak orang, Elang akan berdiri menjaga Papa."
"Elang bercita-cita menjadi apa sayang?" Windy menatap anak tampan Erik.
"Dia ingin menjadi burung mommy, menjaga Papanya." Wira langsung lompat berlari memeluk kakeknya, menghindari pukulan Windy.
Semua orang tertawa melihat tingkah Wira, saat serius selalu berubah tawa hanya karena kekonyolan Wira.
"Elang ingin menjadi dokter, orang pertama yang akan aku suntik dia." Elang menunjuk Wira yang menjulurkan lidahnya.
"Iya apapun cita-cita kalian Papa dukung."
"Asih ingin menjadi pengganguran saja seperti Aunty Vira, Winda, Bella, Mommy, Aunty Binar, mereka semua pengangguran."
Winda menatap tajam, Vira lebih tajam lagi. Sejak kapan pengangguran menjadi cita-cita.
"Ning ingin menjadi ...." Bening lama berpikir.
"Kamu menjadi maid saja."
"Maid, apa itu? mermaid duyung, Ning tidak punya ekor. Ning ingin menjadi tulang sampah saja."
Asih langsung tertawa, semua orang juga tertawa, mungkin niat Bening tulus untuk mengurangi sampah, tanpa jasa mereka mungkin kita akan berantakan oleh sampah.
__ADS_1
"Aka ingin menjadi apa?"
Semua orang diam melihat Raka, perlahan dia menutup bukunya langsung melihat semua keluarga.
"Apa Aka memiliki kebebasan untuk menentukan cita-cita?"
"Tentu sayang?" Kasih mengusap kepala putranya.
"Berarti Mommy harus memiliki anak lagi, karena Raka berpikir jika Aka, kak Wira, Bintang bahkan dua calon bayi tidak bisa memiliki cita-cita, karena ada bisnis keluarga yang harus kami teruskan. Sejak kecil kami harus mempersiapkan diri untuk itu. Benarkan Daddy?"
"Wira setuju dengan Aka, Bintang yang baru lahir saja langsung memiliki gelar penerus Tian Bramasta."
"Berarti kalian yang laki-laki harus berubah menjadi wanita." Asih tertawa.
Ar tersenyum melihat Raka yang pikirannya sangat luas, dia sudah memikirkan ke depan padahal usianya masih muda.
"Abi, bagaimana nasib rambut Winda ini?"
Bella langsung tertawa melihat rambut Vira dan Winda yang mengembang, sampai sakit perut.
"Tertawa saja, kamu tunggu saat Winda melahirkan botak rambut kamu. Jika tidak memikirkan bayi yang kamu kandung, sudah lama Winda Jambak." Tatapan Winda marah.
"Bersyukur kamu Bel kita masih bisa kontrol emosi jika tidak habis kamu kita patahkan tulang belulang. Kamu tidak tahu sakitnya di tarik rambut." Nada bicara Vira juga menunjukkan kekesalan.
"Iya maaf, soalnya sakit sekali ingin melahirkan." Bella tertawa lucu, dia sadar saat menyakiti Vira dan Winda.
Ar merapikan rambut Winda, mungkin mereka harus ke salon untuk merapikan kembali.
"Arrggg ...." Winda teriak kuat, membangunkan Bulan Bintang.
"Ada apa Winda?"
"Tidak ada, sepertinya anak Winda ingin teriak, karena kesal.
"Winda gila." Vira tertawa.
__ADS_1
***
BELUM REVISI 3-----