
Steven duduk di lantai bersama Windy, air mata Steven menetes menyembunyikan wajahnya di balik kedua dengkulnya.
Stev sadar diri dia lancang, mencintai seorang wanita yang usia mereka terpaut cukup jauh, Steven sudah 30 tahun sedangkan Windy 19 tahun, lebih tepatnya 17 tahun.
"Om, maafkan Papi." Windy menundukkan kepalanya.
"Jangan minta maaf Windy, aku sudah bersiap untuk hari ini. Om mengerti sulit bagi kak Bim untuk menerima pria dewasa yang ingin menikahi putrinya yang sedang mengejar mimpi."
"Mimpi Windy menjadi istri Om." Windy meneteskan air matanya.
Steven tersenyum, berdiri memeluk erat Windy, memintanya untuk masuk dan beristirahat, menenangkan diri. Stev tidak akan menyerahkan, setidaknya mereka berdua lega bisa berkata jujur. Apapun keputusan kak Bima Stev yakin ini yang terbaik untuk mereka berdua.
Windy melangkah keluar untuk beristirahat, Wilo menatap Windy, Ghina juga menatap Windy, keduanya mengikuti Windy untuk ke kamar.
Steven juga turun menemui Saka, Bagus yang belum pulang. Vero yang mendengarkan semuanya duduk lemas mengambil minuman langsung meneguknya.
"Ver, kamu putus cinta? jangan mabuk Steven bisa marah."
Steven melangkah masuk ke ruangan khusus yang lebih mirip tempat karaoke, bar, Stev biasanya bersantai mengumpulkan banyak jenis minuman, tapi tidak meminumnya.
"Siapa yang memberikan kalian izin minum di sini?" Steven menatap tajam, mengambil air putih.
"Minuman harus diminum, sayang nanti kadaluwarsa." Saka menambah minumannya.
"Jangan sampai mabuk, kak Bima bisa marah." Steven duduk mendengar cerita Saka.
Glen juga muncul, dia kesal mencari ruangan susah sekali, jauh terpisah dari rumah utama. Glen mengambil minuman bergabung dengan yang lain.
"Ver, berhentilah kamu hampir mabuk." Bagus menyita botol minum Vero, Stev memukul kepala Vero.
"Kak Stev, sakit sekali rasanya ditolak padahal niatnya baik. Carilah wanita lain, jangan melukai diri sendiri." Vero berbicara dengan terputus-putus.
"Kamu pernah patah hati Vero?" Stev menahan tawa.
Steven sudah biasa soal putusnya cinta, tapi soal Windy perjuangan Steven belum berakhir. Steven hanya akan menyerah jika dia dikhianati, tidak dibutuhkan lagi.
"Vero, jalan kamu panjang, jangan mencintai banyak wanita, contohnya Saka, mengambil kehormatan wanita, tapi dia lupa." Bagus tertawa meminum minumannya.
__ADS_1
"Dulu, aku pernah mencintai seorang wanita." Vero tertawa.
"Kita juga tahu wanita, memangnya kamu suka lelaki." Glen tertawa melihat Vero yang mudah mabuk.
"Ternyata dia ...."
"Dia pasti menguras harta kamu, meminta barang mewah?" Saka tertawa melihat Vero yang menangis.
"Pasti dia cantik sekali, seksi?" Bagus juga penasaran.
"Dia memang cantik, body seksi, dadanya besar, dia juga meminta uang setiap hari, karena aku sayang dan cinta, aku turuti semua keinginannya. Masalahnya satu. Tangisan Vero semakin kuat.
"Masalahnya apa?" Steven mengunakan nada tinggi, lelah menunggu cerita Vero.
"Sabar Stev, penasaran banget sepetinya." Saka mengusap punggung Stev.
"Masalahnya, dia menipu dan membohongi aku."
"Kalau sudah menipu sudah pasti bohong Vero." Glen mejitak kepala Vero.
"Dia bukan hanya memanfaatkan, tapi aku yang bodoh, aku sangat bodoh mencintai ...."
"Dia ternyata seorang lelaki." Vero menangis kuat, kepalanya dipukulkan ke meja.
Ohhh, jawab semuanya kompak. Suara terdengar sebentar, saling berpikir soal ucapan Vero.
Steven langsung tertawa kuat, menutup kepalanya dengan jaket, tidak kuasa menahan tawanya, Stev jatuh ke lantai, menyentuh perutnya yang merasakan keram terlalu banyak tertawa.
"Maksudnya pacar kamu lelaki, tapi menyambar menjadi perempuan." Glen memperjelas, Vero mengangguk-anggukkan kepalanya.
Glen langsung sadar, melepaskan tawa menatap Saka dan Bagus yang belum juga sadar.
"Pacar Vero, seorang lelaki." Glen tertawa kuat, Saka Bagus saling pandang.
Tawa keduanya langsung pecah, saling memukul merasakan lucu kebodohan Vero yang tidak bisa membedakan jenis kelamin.
Suara tawa memenuhi ruangan, Bima berdiri di depan pintu mendengar suara tawa yang konyol. Bima membuka perlahan melihat Vero yang sudah meracau tidak jelas.
__ADS_1
Glen juga sudah diam, memejamkan matanya, Saka yang masih tertawa menahan buang air kecil langsung berlari menjauh untuk ke kamar mandi, Bagus juga sudah teler tidur di lantai bersama Stev.
"Kalian tahu tidak aku tidak berani menikah? aku takut suatu hari aku gagal melindungi keluargaku, jika aku hidup sendiri, tidak ada yang harus aku lindungi." Stev meneteskan air matanya.
Windy wanita pertama yang membuat nyaman, aman, juga menenangkan. Stev menyadari dia egois, tapi hati yang memilih, dia juga sudah menguji hatinya, mungkin hanya sebuah rasa kagum, tapi Stev terluka saat Windy menjauh, Perasaan ada yang hilang.
"Jika kamu cinta dia langsung nikahi saja, semua wanita sama akan meninggalkan, jika bertemu yang lebih dari kita." Saka duduk kembali, menetesnya air matanya, lanjut minum lagi melupakan lukanya.
"Jangan samakan Windy dengan wanita yang kamu tiduri, dia wanita yang akan aku jaga sampai akhir. Saka kamu selama ini mencintai karena nafsu, jika kamu dikhianati jangan hancurkan diri kamu menatap semua wanita sama, kamu harus bersyukur kepada wanita yang berkhianat, karena kamu lelaki baik, akan mendapatkan yang terbaik." Steven menutup matanya dengan tangannya.
Saka tertawa, jika cinta sejati ada kenapa hubungan Windy dan Steven tidak direstui.
"Saka jaga ucapan kamu, sebagai seorang Ayah menyerahkan putri tercinta bukan hal yang mudah." Stev melempar Saka dengan ponselnya.
"Betul juga, apalagi seorang gadis muda, cantik. Tidak mungkin keluarga Bramasta merestui putri utama menikah dengan aki tua."
"Sialan, aku masih tampan seperti usia 17 tahun." Steven berdiri memukuli kepala Saka.
"Stev, apa aku menodai dia."
"Ghina, tanyakan pada hatimu. Awas jatuh cinta."Steven membantu Bagus berdiri, membawanya ke sofa untuk tidur.
Bima melangkah pergi, menutup pintu pelan, kembali ke kamarnya. Reva mondar-mandir di depan pintu kamar, sesekali menepis air matanya.
Reva merasakan luka Steven dan Windy yang mendapatkan penolakan dari Bima, sikap Bima belum berubah dia masih egois memikirkan dirinya sendiri, tidak mengerti perasaan putrinya.
Reva tidak ingin Windy merasakan pilihan mundur seperti dirinya dulu, menyerah dan memilih pergi.
"Bima! kamu egois" Reva menghentakkan kakinya, tidak menyadari keberadaan Bima.
"Aku pikir kamu mengkhawatirkan aku Va, ternyata sedang mengumpat aku. Astaghfirullah istriku." Bima menggelengkan kepalanya.
"Ay, bukan niat sengaja. Tolong dengarkan mereka dulu."
"Sebaiknya kita tidur, besok langsung pulang." Bima melangkah masuk kamar, mengabaikan Reva yang teriak marah.
"Bima, kamu pria tua, bukan maksudnya Reva pria dewasa tahu rasanya mencintai wanita muda, setidaknya kamu mengerti posisi mereka."
__ADS_1
"Reva, turunkan volume suara kamu. Pendengaran lelaki tua ini masih baik, jangan teriak, kita bicara besok saja."
***