MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Panggilan ponsel terdengar, Steven cepat menjawab panggilan. Vero mengatakan Windy pergi keluar, sampai detik ini juga belum kembali.


Mendengar kabar Windy pergi dari rumah Steven langsung cepat mencari Windy, menggunakan pelacak di ponsel Windy bukan hal yang sulit untuk Steven menemukan keberadaannya.


Steven melihat mobil Windy menuju arah pulang, Steven juga langsung cepat menuju pulang, mobil keduanya saling beriringan.


Mobil Windy sampai rumah terlebih dahulu, langsung masuk ke dalam rumah. Mobil Steven juga tiba, cepat Steven keluar mobil berlari mengejar Windy yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Windy, darimana kamu, ini sudah malam. Tidak pantas seorang wanita keluar semalam ini." Steven mengejar Windy masuk ke dalam kamarnya.


Steven menatap Windy tajam, Windy cuek saja mengabaikan Steven yang terus mengomel.


"Windy, kamu mendengar Om tidak?" Steven menarik tangan Windy untuk melihat wajahnya.


Terlihat mata Windy yang sembab, Steven langsung khawatir memeluk erat Windy meminta maaf. Dia sudah berkata kasar.


"Maafkan Om Windy." Steven menangkup wajah Windy, meminta maaf atas ucapan yang tidak enak didengar, meminta maaf soal Sarah.


"Om, Windy pergi saja dari rumah ini." Windy berusaha menahan air matanya, melupakan kesedihannya.


"Kenapa? kamu marah, kecewa sama om. Berikan Om kesempatan untuk memperbaiki diri." Steven memeluk Windy.


"Tidak Om Windy hanya ingin keluar dari rumah ini." Windy melepaskan pelukan Steven, mengambil kopernya langsung mengeluarkan seluruh bajunya dari dalam lemari, memasukkan dalam koper.


Steven mendekati pintu, langsung menguncinya. Windy melihat tatapan mata Steven yang marah, Windy duduk diam di pinggir ranjang.


Langkah kaki Steven mendekat, langsung berjongkok di kaki Windy, mencium tangannya. Windy masih mengabaikan Steven yang mencium tangannya.


"Kamu tidak akan pernah bisa keluar dari rumah ini , tanpa seizin aku." Steven menghapus air mata Windy.


"Kenapa Om? Windy tidak punya alasan untuk tinggal di sini, Windy tidak juga memiliki alasan untuk mengatur hubungan Om dengan pacar Om. Om juga tidak punya hak untuk mengehentikan Windy." Tatapan mata Windy tajam.


"Om tidak peduli alasan kamu, intinya kamu yang memulai, kamu tidak bisa mengakhirinya sepihak, setidaknya kamu harus tanggung jawab kepada hati yang sudah terbuka."


"Windy berusaha untuk berdiri, Steven juga berdiri langsung mendorong pelan Windy sampai terguling di ranjang.

__ADS_1


Steven naik ke ranjang, berada di atas tubuh Windy, mengunci habis Windy sampai tidak bisa melarikan diri, tubuh Windy yang kecil langsung hilang hanya dengan pelukan.


"Lepaskan Windy Om, jangan melakukan hal gila om, Papi bisa marah besar." Windy menahan dada Steven.


"Windy, Om tahu batasan, tidak akan pernah merusak wanita dengan alasan apapun, terutama kamu wanita yang Om cintai, wanita yang harus dijaga sampai akhir." Steven tersenyum, mencium kening Windy.


"Om bicara apa? Windy tidak mengerti." Windy memalingkan wajahnya, menghindari tatapan mata Steven.


"lihat om Win." Steven menangkup wajah Windy tapi masih terus ditolak.


Melihat Windy yang menolak untuk menatap membuat Steven mengerti, ada sesuatu yang membuat Windy terganggu, sudah pasti hal yang bersangkutan dengan Steven.


Mata Windy terbuka lebar, merasakan bibirnya sudah habis menjadi mainan baru Stev, tangan Win berusaha untuk menahan tubuh kekar Steven yang berkali-kali lipat jauh lebih besar dari tubuh Windy.


Gerakan Steven cepat, Windy merasakan rasa perih dibibirnya yang mendapatkan gigitan kecil, membuat Windy harus membuka mulutnya.


"Balas Win." Steven mengehentikan gerakan melihat bibir Windy yang berwarna merah.


Windy merasa kembali gigitan kecil, perlahan mata Windy tertutup menikmati permainan di bibirnya, perlahan juga ada balasan, Steven tersembunyi memejamkan matanya, memeluk erat tubuh Windy.


"Maafkan Om Win, izinkan Om berjuang untuk menghalalkan kamu." Steven berdiri dari tubuh Windy, duduk di pinggir ranjang.


"Om, Windy tidak yakin kita bisa bersama."


"Kenapa sayang, Om akan berjuang sampai akhir untuk mendapatkan restu, kamu tidak perlu mengejar cinta Om bule lagi, karena Om yang akan berjuang." Steven mencium kening Windy.


"Bagaimana jika Papi terlibat dengan kecelakaan kak Stevie? Om pasti akan membenci Windy dan Papi." Windy memeluk erat Steven.


Mendengar ucapan Windy membuat Steven cukup kaget, tidak tahu Windy mendapatkan informasi dari siapa, bahkan Steven juga belum menyelidiki keseluruhannya.


Windy melangkah mengambil sebuah map, Steven langsung membukanya, menatap tajam laporan yang baru saja Windy tunjukkan.


Stev menutup map menatap Windy sambil tersenyum mengelus rambutnya. Windy tahu mendapatkan seorang Stev, tidaklah mudah.


"Win, kasus ini masih diselidiki, Om tahu kak Bim orang baik, tidak mungkin melakukan kejahatan, jika benar melakukan pasti ada alasan yang memberikan pilihan sulit." Steven menenangkan Windy.

__ADS_1


"Status kita apa Om?" Windy tersenyum melihat Steven, sudah hilang niatnya untuk melupakan Steven, menyerah mengejar cinta Om bulenya.


"Status kita pacaran, kamu tidak keberatan pacaran dengan Om-om." Steven menatap Windy yang tersenyum malu-malu.


"Windy cinta Om sejak kecil, sampai sekarang."


"Jadi ucapan kamu saat di pantai beberapa tahun yang lalu ingin menikahi Om seriusan?" Steven menekan hidung Windy.


"Iya om, Windy serius."


Steven tertawa bersama Windy, langsung memeluknya. Sayangnya harapan Windy menikah cepat tidak akan mudah mendapatkan restu.


Stev yakin banyak rahasia yang masih tertutupi, Steven akan menunggu, menyiapkan mentalnya untuk mengetahui semua kebenaran.


"Om cinta Windy?" Windy melihat wajah Stev yang mengagukan kepalanya.


"Om mempunyai banyak pacar, hari ini Om di apartemen sedang berduaan dengan siapa?" Windy menatap tajam Steven.


Tatapan mata Windy tajam, Steven mengakui jika dia memiliki banyak pacar, tapi tidak pernah menduakan, wanita yang memilih untuk menyerah, memojokkan Stev yang tidak punya waktu, setiap bulan pasti ganti lagi.


Stev tidak pernah mendekati wanita manapun, tapi bisa memiliki banyak pacar hanya sekedar hiburan dari rasa lelah.


Steven pernah serius dalam hubungan, sampai hampir menikah, tapi berakhir di hotel, pacarnya tidur dengan lelaki lain.


Menerima kenyataan diselingkuhi Stev tidak patah hati, apalagi terluka, mungkin belum saatnya Steve berlabuh.


"Mulai saat ini Om tidak akan menerima orang baru untuk hadir, jika masa lalu datang seperti saat di restoran, Windy jangan langsung marah, kita bicarakan baik-baik." Steven merapikan rambut Windy.


Windy tersenyum mendengar janji Steven, tidak akan pernah menduakan cinta, hanya setia kepada satu wanita. Stev meminta Windy merahasiakan hubungan mereka, sampai Stev mendapatkan restu untuk menikah.


Windy setuju, berjanji akan bertanya terlebih dahulu baru marah.


Senyuman Steven terlihat, tapi langsung menatap Map yang Windy bawa, pasti salah satu dari Saka atau Bagus yang menjatuhkannya.


Steven tidak ingin bertanya langsung dengan Windy, tidak ingin melibatkan wanita yang dia cintai.

__ADS_1


***


MAAF TULISAN BANYAK SALAH, SUDAH DIPERBAIKI🙏


__ADS_2