MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
KECEPLOSAN


__ADS_3

Kaki kecil berlari menuruni tangga membuat Bima menoleh dan menegurnya.


"Windy jangan berlari menuruni tangga, nanti licin kamu bisa jatuh."


"Iya Papi maaf!" Windy duduk di samping Bima sambil tersenyum manis.


"Ada apa? kamu terlihat sangat bersemangat." Bima mengelus rambut putri kesayangannya.


"Boleh tidak Papi, hari ini Windy bermain bersama Mami." Windy melipatkan tangannya memohon.


"Mami mau main ke sini?" Bima melihat jam dinding yang masih pagi, dan kebetulan ini hari libur.


"Mau datang ke rumah?" rasa penasaran Bima sangat tinggi, melihat kedekatan Windy dan Reva.


"Perempuan gengsi Papi main ke rumah laki-laki, jadi Mami jemput Windy. Kita mau main ke mall, belanja cantik kata Mami."


Bima hanya menggagukan kepalanya, dia meminta Windy bersiap karena mereka yang akan menjemput Reva. Dengan bersorak Windy lompat bahagia mencium pipi Bima dan langsung bersiap-siap.


***


Bima dan Windy tiba di apartemen milik Viana dan Reva, Bima melangkah masuk sambil menggandeng tangan Windy.


"Papi tahu tempat tinggal Mami?" Windy menatap Bima yang menekan bel.


Reva yang masih tidur terbangun, menutup telinganya mendengar bunyi bel. Hari libur menjadi hari bermalas-malasan bagi Reva, dan bangun siang sudah menjadi daftar.


"Berisik banget, pasti Septi. Langsung masuk saja susah banget." Reva teriak sambil duduk di pinggir ranjang.


Reva berjalan keluar kamar menuju pintu, sambil memejamkan matanya. Rambut acak-acakan, baju tidur sapi, Iler masih di pipi. Reva membuka pintu sambil memejamkan matanya.


"Berisik banget Sep, biasanya juga langsung masuk. Ini hari minggu jadwal bangun siang." Reva mengacak rambutnya, mengusap wajahnya dan langsung masuk lagi dan ambruk di sofa.


Bima mengedipkan matanya, melihat penampilan Reva yang amburadul. Windy langsung masuk diikuti Bima, rumah nampak berantakan dan barang berhamburan.

__ADS_1


"Sep, telpon Ivan tanya hari ini Bima jadwalnya ke mana, soalnya gue ada janji sama anaknya."


"Papi ini rumah, tapi mirip gudang." Windy cekikikan melihat rumah yang kacau balau seperti pemiliknya.


Reva mengenali suara yang imut, perlahan Reva membuka matanya dan melihat kearah suara. Reva langsung berdiri melihat wajah Bima yang menggakat kedua alisnya, kepala Bima juga menggeleng.


"Om!" Reva langsung berlari ke kamarnya, harkat dan martabat langsung jatuh. Rusak sudah image Reva Pratiwi di hadapan Bima Bramasta.


Cepat Reva masuk kamar mandi, menggosok gigi dan mandi dengan cepat. Wajah Reva sudah nampak kesal, masih pagi tapi Bima sudah nongol. Reva menduga Bima pasti mendengar ucapannya.


Bima memijit kepalanya melihat apartemen Reva yang mirip gudang, tapi berbeda dengan Windy yang kesenangan melihat pemandangan di bawah dari jendela. Senyum juga selalu nampak diwajahnya, wajah Windy melihat dinding yang kosong tanpa ada foto atau hiasan apapun.


Reva keluar sudah selesai mandi, langsung ke dapur ingin membuat minum tapi kulkasnya kosong. Air mineral saja tidak ada jangankan bahan makanan. Windy yang mengikuti Reva dari belakang hanya tertawa.


"Seharusnya kamu kabarin aunty kalau mau ke sini? setidaknya bisa dandan dulu, bukan masih ileran." Reva kesal berjalan mendekati Bima yang masih duduk di sofa.


"Om di sini tidak ada minum apalagi makan, seharunya Om kasih kabar biar Reva bisa dandan dulu." Reva duduk di samping Bima, sambil melempar sepatunya.


"kamu lebih mementingkan dandan, tidak niat membersihkan rumah." Bima mengerutkan keningnya.


"Bereskan rumah kamu Reva, setelahnya baru kita ke mall, saya memesan makanan siap saji. Kamu belum sarapan, wajah kamu masih muka bantal."


"Siap!" Reva melangkah berdiri membersihkan rumah.


Windy membantu Reva merapikan barang, canda dan tawa terus terdengar. Bima berdiri melihat Reva dan Windy yang tertawa lepas, Windy berlari memeluk Bima, Reva mendekat dengan tangannya yang penuh busa sabun. Tangan Reva menyentuh hidung Bima yang mancung.


"Reva, cepat selesai pekerjaan kamu." Bima membersihkan hidungnya yang penuh busa.


"Om ganteng!" Reva berbalik dan melanjutkan mencuci piring.


Bima mendekat dan membantu menyusun piring, mereka berdua berbincang soal keluarga Reva. Bima bertanya tempat tinggal orang tua Reva, dan banyak hal yang mereka ceritakan. Bima terus mengikuti Reva yang berkeliling apartemen untuk dibersihkan sambil membantu Reva.


"Kenapa Om banyak tanya soal keluarga? mau melamar Reva, pasti Reva terima Om. Tahun ini kita harus menikah."

__ADS_1


"Kamu perempuan Reva jangan terlalu sering bicara yang berlebihan, apa yang kamu tahu soal cinta. Banyak pria yang mengejar cinta kamu, dari kalangan bawah sampai atas, kamu hanya perlu menunjuk memilih yang terbaik."


"Makanya Om Reva bosan, mereka hanya mengagumi kecantikan, prestasi, status dan jabatan. Reva hanya ingin pasangan yang biasa, jika Reva memilih dari bawah, Reva takut jika suatu hari meremehkan dia atau dia yang memanfaatkan Reva."


"Lalu kenapa Om Reva, kita beda usia, beda status." Bima menatap wajah Reva yang sudah menatapnya.


"Karena om tahu siapa Reva, wanita dari kalangan bawah, dan tahu alasan Reva menjadi pemimpin VCLO yang tidak bisa Reva jelaskan pada orang lain. Sulit Om untuk menjalani, melewati suatu hubungan dengan yang baru dan minta dimengerti."


"Saya duda beranak satu Reva, bagaimana tanggapan orang tua kamu." Bima melihat Reva yang pergi melangkah masuk kamarnya.


Reva keluar membawa selimut, melihat Windy yang sudah tertidur di sofa memasangkannya bantal dan selimut.


"Jangan buat status menjadi alasan Om, yang harus Om sadari diawal, ada Reva tidak dihati Om. Masih ada Brit, Viana atau wanita lainnya." Reva tersenyum menunjuk setiap inci dada Bima.


Bima hanya terdiam mendengar ucapan Reva, dia sangat menyadari ketakutan saat mulai mengkhawatirkan Reva, takut dengan reaksi orangtua Reva, takut Reva menolak anaknya tapi selama ini Bima tidak menyadari jika dia menyatakan ketertarikan.


"Apa aku mencintai Reva?" Bima bergumam pelan.


"Om mau tahu jawabannya? gampang!" Reva yang mendengar ucapan Bima tersenyum lucu melihat Bima yang binggung.


"Caranya!" Bima tidak pernah menyatakan cinta pada wanita dan sangat menghindari wanita dan selalu menolak wanita yang mulai mendekatinya.


"Kapan Om mulai melihat mata Reva? kapan Om kecewa dan kesal saat melihat Reva bersama pria lain? kapan Om mengawasi dan mengkhawatirkan Reva."


"Dari awal aku sudah melihat mata kamu, dan saat melihat kamu bersama Ivan di bawah hujan menjadi hari yang menyebalkan, dan aku selalu mengawasi kamu saat kuliah di luar negeri dan juga...." Bima langsung membalikkan badannya menghindari tatapan Reva, Bima mengumpat dirinya sendiri yang membocorkan rahasianya.


"Reva tidak mendengar yang Om katakan," Reva melangkah ke pintu mengambil makanan pesanan Bima yang lama datangnya. Reva juga menahan tawa melihat Bima yang keceplosan, hari ini menjadi hari yang paling membuat Reva bahagia. Walaupun Bima tidak menyatakan secara langsung, Reva cukup tahu jika dirinya yang ada di hati dan pikiran Bima.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2