MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 MAKAN BERSAMA


__ADS_3

Perlahan mata Stev terbuka, telinganya mendengar suara banyak orang. Langsung melihat ke arah anak-anak yang duduk dilantai sedang bermain ular tangga.


Vero melihat Windy menggenggam tangannya sambil tertawa melihat Winda ingin memukul Mei tidak bisa main.


"Winda tidak boleh seperti itu, mengalah sama yang lebih muda." Reva melotot.


"Sudah Winda katakan dia tidak bisa main, tapi masih memaksa." Winda langsung mengacak ular tangga.


Bella langsung menendang Winda, dia sudah hampir berada di final tapi gagal karena Winda.


Winda langsung memukul Bella, Vira dan Billa langsung ada di tengah mengehentikan.


"Kalian ingin menjadi petinju?" Jum menatap Bella dan Winda.


"Tidak Winda ingin menjadi ... kak Stev bangun." Winda langsung berlari.


Windy langsung melihat ke arah Stev, langsung tersenyum akhirnya Steven bangun. Semuanya tersenyum melihat Stev bangun, melangkah mendekat.


"Bagaimana perasaan kamu Stev? butuh dipanggilkan dokter." Bima tersenyum.


"Tidak kak Bim, Stev hanya berpikir sedang bermimpi panjang, sangat takut bangun harus menerima kalian tidak ada di sini."


"Kami menepati janji." Reva tersenyum.


Suara salam terdengar, semua kepala melihat ke arah pintu.


"Raja Athala." Winda teriak kuat, Vira yang mengantuk langsung berdiri.


Athala tersenyum melangkah masuk menggendong putranya, Reva langsung mengambil putra mahkota Alfaiz yang sangat tampan.


Wilo dan Windy berpelukan saling melepaskan rindu, Atha menyalami seluruh keluarga tersenyum melihat Stev akhirnya kembali.


Atha sangat bersyukur, saat mendapatkan kabar Steven ditemukan Atha langsung memutuskan untuk datang, rencana awal Windy yang ingin berkunjung tapi langsung berubah menjadi Raja yang berkunjung.


"Apa kabar Om Stev?"


"Baik Wil, senang melihat kalian sudah memiliki anak." Steven memberikan selamat kepada Atha dan Wilo.


Windy mengendong pangeran Alfaiz, meletakkan di dekat Steven. Senyuman Stev dan Windy terlihat sangat bahagia saat Faiz tersenyum.


"Tampannya pangeran." Stev mengusap wajah mengemaskan Faiz.


"Bagaimana keadaan kaki kamu Stev?"


Steven langsung terdiam, melihat kakinya yang terbungkus selimut. Langsung menarik kakinya langsung teriak kesakitan.


Faiz langsung terkejut sampai menangis wajahnya merah, Wilo langsung menggendong putranya memberikan asi.


Semuanya panik langsung memanggil dokter, Windy langsung membuka selimut melihat kaki Stev berdarah.


Dokter langsung berlarian, Stev menutup matanya merasakan sakit. Bungkus kaki Stev dibongkar.


"kenapa bisa berdarah?" Dokter menatap seluruh keluarga.

__ADS_1


"Salah saya dok, di dalam tv jika kaki diamputasi tidak ada rasa sakit, jadinya langsung diangkat." Stev meminta maaf.


Dokter tersenyum melihat Stev menyangka kakinya sudah tidak ada, dokter mejelaskan kaki Stev baik, berfungsi dengan baik hanya saja memperbaiki posisi tulang, membersihkan luka dalam agar tidak bengkak dan cepat kering.


Steven tersenyum mengucapakan terima kasih, Windy memonyongkan bibirnya.


"Ay seharusnya bertanya dulu jika ingin bergerak, namanya habis operasi tetap ada luka, walaupun dipotong." Windy mencubit pelan.


"Iya maaf, tidak tahu. Biasanya dibalut putih, bisa digerakkan."


"Ini dunia nyata Ay, bukan film." Windy menepuk jidat.


Suara tangisan Faiz tidak ingin berhenti, Windy mendekati mengusap kepala Faiz mengambilnya menenangkan. Steven meminta maaf karena mengejutkan.


"Om bule nakal, membuat pangeran menangis." Windy mendiamkan Faiz.


"Pangeran cengeng." Mei melipat kedua tangannya di dada.


Can meminta maaf, menegur Mei bisa saja Meisya di penjara karena menghina pangeran. Atha menatap Windy melihat gadis kecil.


"Sini Mei, kenalan dulu dengan pangeran." Windy memanggil.


"Tidak mau." Mei melangkah pergi memanggil Papanya.


"Anak siapa Win, gemes sekali." Wilo ingin menyentuh tapi takutnya mengamuk.


Vero datang membawa makanan, melihat Mei yang minta digendong. Wilo menatap tajam Vero langsung memukul kepalanya.


"Wilo."


"Iya Ratu, maafkan saya ratu seharunya ada red karpet di bandara."


"Kita mendarat di Mansion Om Stev." Wilo tersenyum melihat Mei yang memaksa minta digendong.


"Siapa Vero? kenapa memanggil kamu Papa?"


"Putriku, anakku." Vero menggendong Mei mencium pipinya.


Wilona terdiam, menatap tajam Vero. Windy hanya tersenyum mengendong Faiz yang mengantuk.


"Dia anak kekasih kamu yang hancur karirnya lalu menghilang?"


Windy langsung menatap Wilo, Windy baru saja tahu jika Vero mempunyai anak, sedangkan Wilo sudah lama tahu.


"Bagaimana kamu bisa tahu Wil?"


Wilona menceritakan dia pernah tidak sengaja bertemu Vero mencari seseorang, mengejar seorang wanita memaksa untuk mengatakan keberadaan Citra.


"Wanita itu bernama Citra?"


"Kenapa kamu tidak pernah cerita?"


"Bukan tidak mau cerita, memang bukan sesuatu yang harus dibagi."

__ADS_1


"Wilo wanita yang bisa dipercaya dalam memegang rahasia." Vero bersalaman dengan Wilo.


Vero menyapa Faiz, bibir Mei monyong. Dia tidak menyukai Faiz.


"Mei sayang ada apa?" Steven menatap Mei yang cemberut.


"Mei tidak menyukai dia."


Vero tersenyum mengelus kepala Mei, menasehatinya tidak boleh tidak menyukai saudara sendiri. Mei harus menjaga hubungan baik dengan Faiz, Prasetya dan Bramasta.


"Kenapa Papa? kakak Mei hanya kak Mou."


"Saat Mei pergi ke kerajaan Cana, langsung disambut baik, karena ada keluarga kita di sana, saat kamu jalan ke manapun ada keluarga juga jadi Papa tidak mengkhawatirkan Mei"


"Ohhh, Mei harus menganggap siapapun keluarga, jadinya di manapun Mei berada ada tempat singgah dan disambut baik."


"Pintar, cara bicara Mei lebih pintar dari Papa yang berputar-putar." Wilona mengusap kepala Mei.


Semuanya makan bersama di lantai, kumpul seluruh keluarga yang paling ditunggu.


Steven tersenyum melihat anak-anak berkumpul berbagi makanan, Windy yang sibuk menidurkan Faiz.


Can menyiapkan makanan untuk anak-anak, dibantu oleh Wilo yang bercerita terlihat kompak.


Stev memejamkan matanya, membuka lagi melihat Winda dan Bella bertengkar.


"Makan bukan bertengkar, apapun yang dilakukan bertengkar, main pukul mirip preman. Jika sudah merasa kuat jangan main pukul sesama saudara, cari lawan lebih kuat."


"Bella duluan kak Wildan." Winda menahan Air matanya.


"Menangis, selalu menangis kamu sudah besar Winda." Wildan menghela nafas menghentikan makanannya langsung melangkah keluar.


Winda langsung duduk diam menghentikan makanannya, Bima meminta Winda lanjut makan.


"Winda lanjut sayang." Bima langsung melangkah keluar mengejar Wildan.


Windy menidurkan Faiz di samping Steven, Reva melarang Windy mengejar Wildan biarkan Papinya yang bicara, manusia dingin bertemu manusia kulkas.


"Winda, Vira twins B, mulai hari ini kalian harus belajar apapun yang kalian perdebatan jangan main pukul, jangan mengucapakan hal yang menyakitkan. Kalian semakin dewasa, jadi sikap juga harus dewasa."


"Iya kak."


"Kalian boleh manja, tapi jangan main pukul, Wildan saat marah menakutkan." Steven tersenyum melihat Vira dan twins.


"Iya Billa takut, mata kak Wildan tajam sekali."


Bima memanggil Wildan berbicara berdua, Bima tidak marah Wildan tegas, tapi harus menjaga sikap di depan banyak orang tua.


Wildan meminta maaf, dia akan menjaga sikap dan menghormati orang yang lebih tua.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***


__ADS_2