
Sudah satu minggu Steven berada di kediaman Bima, sudah waktunya mereka kembali. Windy kembali akan menjalani rutinitas untuk kuliah dan memulai bisnis.
Bima sekeluarga mengantar kepergian Windy, Steven dan Vero. Suara teriak bocah laki-laki terdengar mengejar Windy yang sudah siap pergi.
"Kak Win, cepat pulang jangan lama di sana." Ravi memeluk Windy.
Windy juga membalas pelukan Ravi, bocah ABG yang selalu menjaganya. Terlihat juga dua bocah ABG berlari memeluk Ravi dan Windy sebagai salam perpisahan.
"Kalian saat libur sekolah jangan lupa untuk menemui kak Windy, ingat janji persahabatan." Windy memberikan jari kelingkingnya, Ravi juga mengeluarkan jarinya, diikuti oleh Tian dan Erik.
Windy melambaikan tangan kepada seluruh keluarga, Winda berlari mengejar Steven langsung memegang tangan Stev.
"Kak Steven, jangan lupa kembali, jika tidak kembali Winda yang akan datang." Winda memberikan jari kelingkingnya, Steven juga memberikan jarinya, Bella Billa dan Vira juga berlari memberikan jari kelingkingnya.
Steven tersenyum menudukan kepalanya menyapa seluruh orang yang hadir, Vero juga melambaikan tangannya, selama satu minggu dia merasakan yang namanya keluarga.
Di dalam pesawat Steven cemberut, menatap Windy kesal. Windy tersenyum melihat Stev yang aneh cemberut tidak jelas.
"Ada apa Om?" Windy mencubit pipi Stev.
"Kenapa kamu terlalu dekat dengan para ABG? bukannya kamu akan di jodohkan dengan Ravi?" Stev membuang pandangannya.
Windy tertawa, menceritakan hubungan dengan Ravi hanya sebatas persaudaraan, hubungan Mami dan Ayah Ravi sahabat, Papi dan Mommy Ravi juga bersahabat, jadinya mereka juga bersahabat.
Ravi sosok anak yang ceria, bisa menghibur membuat orang disekitarnya selalu tertawa, dia anak yang baik, penyayang, terkadang juga tegas.
"Puji saja terus."
"Om, kenapa cemburu dengan anak kecil, kurang kerjaan." Windy memeluk lengan Stev.
"Kalau Tian dan Erik siapa?"
Windy menceritakan Tian adik kandungannya, satu Ibu beda Ayah, tapi Tian diangkat oleh Bisma adik Bima. Tian anak yang dewasa, tegas juga tidak banyak bicara, dia penasehat terbaik.
__ADS_1
Steven terdiam, adik kandung. Tian memang putranya Brit yang diambil oleh Bisma, seorang lelaki yang dulunya pria jahat, menikahi wanita polos baik dan keibuan.
"Berapa banyak Brit meninggalkan anak?" batin Steve lucu.
"Erik, anaknya lucu, penurut selalu mengiyakan apapun yang Windy katakan, tiga pria ABG ini tumbuh bersama Windy."
"Ceritakan awal pertemuan kalian, kenapa seluruh orang tinggal di perumahan elit, padahal bisa memiliki Mansion pribadi yang luas." Steven ingin tahu soal kehidupan Windy dengan mengenal keluarga, sahabat dan orang terdekat.
Windy mulai menceritakan pertemuan dengan Ravi yang tidak ada yang istimewa, Ravi anak yang lucu, karena Papinya bekerja bersama dengan Daddy Ravi jadinya Windy bisa kenal Ravi yang baru kembali dari luar negeri.
Pertemuan awal dengan Tian, saat di sekolah. Windy di buli, Tian orang yang membelanya. Windy mengikuti Tian sampai ke panti asuhan, mendekati Tian perlahan, mengenalkan kepada Mami dan Bunda Jum soal Tian, kebetulan kembaran Papinya sudah mengadopsi Tian sejak bayi.
Saat Uncle Bisma dan Aunty Jum menikah, Tian dibawa pulang, akhirnya memiliki Ayah dan Bunda. Pertemuan dengan Erik yang cukup sedih, Erik dibuang ibu kandungnya, hadir di pernikahan Papa Ammar, Aunty Septi, menjadi kehancuran bagi Pernikahan Papa kandungannya.
Erik tidak diterima, bahkan diusir, dihina. Mami Reva yang mengambil Erik, Ravi juga mengikat persahabatan dengan Erik, jadinya mereka berempat bersahabat. Erik anak yang baik, selalu mengalah bahkan mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Tian dan Ravi.
"Persahabatan kalian unik, juga saling melengkapi. Walaupun berbeda usia."
"Lalu bocah kecil yang mengikat perjanjian tadi juga bersahabat?" Stev menatap wajah Windy yang tersenyum.
"Mereka lima orang lahir di tanggal yang sama, bertepatan dengan pernikahan Papi Mami."
"Wow hebat."
Vira lahir saat pernikahan Papi Mami Windy, satu tahun ulang tahun Vira, Bella Billa memaksa lahir di siang hari, setelahnya saat malam Wildan Winda juga lahir.
"Keluarga yang unik, kedua orangtuanya bersahabat, lanjut kalian juga sahabat, lahir anak juga bersahabat, jadinya kumpul satu perumahan agar tetap menjaga persahabatan." Steven tersenyum.
"Berarti Ravi kakaknya Vira, orang tuanya Rama dan Viana, Bastian kakaknya si kembar Bella Billa, Ayah Uncle Bisma, Bundanya Aunty Jum. Erik putranya Ammar dan Septi, sedangkan Wildan dan Winda adiknya Windy, orang tua mereka Bima dan Reva." Vero menggakat kepalanya, mendengarkan cerita Windy.
"Betul."
Steven tersenyum mengagukan kepalanya mengerti sejarah persahabatan Windy dan para bocah lelaki. Kepala Windy bersandar di dada Steven tersenyum melihat lelaki yang dicintainya.
__ADS_1
"Win, bagaimana pertemuan kamu dan Reva?"
Windy mengigat saat pertama melihat wanita cantik, menemuinya di taman menyapanya mendengarkan keluh kesah Windy, Reva juga yang mengantar Windy mencari kediaman Papinya.
Doa Windy dikabulkan untuk menjadikan Reva Ibunya, dia memiliki sosok Mami yang sangat luar biasa baiknya, sayang juga penuh canda dan tawa.
"Pertemuan dengan Mami tidak disengaja?"
"Iya, Mami dulunya suka berantem, banyak pacar."
"Mami banyak pacar, tapi memilih menikahi seorang duda beranak satu." Steven tersenyum kecil.
"Mami dulunya kerja di cafe, Papi sering di sana untuk bersantai. Mami taruhan uang bersama pengunjung cafe, jika Mami bisa membuat Papi jatuh cinta, dia bisa mendapatkan uang banyak."
Windy tertawa bersama Steven, seorang palygirl ditolak oleh seorang Duda, perjuangan Reva membuahkan hasil bukan hanya menjadi pacar, tapi ibu.
Steven menggeleng kepalanya, Reva selalu taruhan, Stev tidak mungkin menjomblo bahkan berkali-kali diminta orang tua pacarannya untuk melamar, Stev belum bisa. Dia harus menunggu usia 30an baru boleh menikah.
Berkat Reva, Stev bisa menunggu Windy, bukan wanita lain tapi putri Reva. Stev menantikan hari bisa menikahi Windy.
Tangan Stev, mengusap kepala Windy yang sudah tertidur di dadanya. Memimpikan mereka menjadi pasangan suami istri, menikah, memiliki anak.
Steven tersenyum, dia belum mendapatkan restu dari Bima, perjalanannya bersama Windy masih sangat panjang.
Mata Stev terpejam, tangannya masuk memeluk tubuh Windy. Selama di kediaman orang tua Windy, Stev tidak mendapatkan waktu untuk berduaan. Ternyata walaupun bertemu setiap hari ada rasa rindu.
"Om mencintai kamu Win, begini rasanya jatuh cinta, berat menahan rindu, tapi berpelukan seperti ini dosa." Batin Steven berusaha untuk tidur.
Vero melihat Windy dan Steven tidur, memotret keduanya untuk diabadikan. Vero menjadi nyamuk hubungan keduanya, juga akan menyimpan setiap moment kebersamaan keduanya.
"Kamu orang baik Windy, keluarga kamu juga sangat baik, kak Vero doakan kalian berjodoh. Berikan kak Stev kebahagiaan, membentuk rumah tangga baru, agar dia tidak kesepian lagi, memiliki keluarga lagi."
***
__ADS_1